เข้าสู่ระบบNayla mengetuk pintu ruangan Adit kemudian masuk membawa sebuah amplop putih di tangannya. "Mas, ini surat pengajuan cuti aku," ucap Nayla sambil menyodorkannya pada Adit. "Kamu udah mutusin untuk berangkat?" tanya Adit ketika menerima surat itu.Nayla mengangguk. Adit hanya tersenyum, tapi bukan senyuman yang menenangkan seperti biasanya. "Semoga kamu bisa menikmati liburan ini ya, Nay.""Makasih, Mas. Kalau ada apapun yang perlu aku kerjain jangan sungkan ya, Mas. Aku tetap bawa laptop kemana-mana.""Aman, kamu fokus aja dulu untuk liburan. Hari ini mau pulang bareng?""Hari ini udah janjian sama Nugie, Mas. Dia mau ajak dinner sekalian bahas soal perjalanan nanti, maaf ya Mas.""It's oke, Nay, gak perlu minta maaf. Apa yang bikin kamu akhirnya mutusin untuk berangkat?""Aku keinget yang Mas bilang malam itu. Mungkin perjalanan ini bisa bikin aku lebih mengenal Nugie, jadi aku mau coba."Adit cuma mengangguk kecil. Lagi-lagi hatinya terganggu karena saran yang dia buat sendiri. T
“Halo Nugie? Ini Tante Ina.”Nugie yang siang itu baru selesai meeting dengan klien tiba-tiba mendapatkan telepon yang tidak terduga."Tante Ina? Gimana Tante ada yang bisa Nugie bantu?" balas Nugie dengan nada sopan.“Apa kamu bisa mampir ke rumah sebentar, Gie? Ada hal penting yang mau Om dan Tante sampaikan. Ini soal Nayla," suara Ina terdengar penuh kekhawatiran. Begitu mendengar nama Nayla dan nada suara Ina yang tidak ceria seperti biasanya, wajah Nugie langsung berubah serius. Tanpa berpikir lama Nugie langsung menuju mobilnya dan mengendarainya secepat mungkin menuju rumah Ina.Nada bicara Ina tadi membuat Nugie semakin khawatir terjadi sesuatu pada Nayla. Tapi rasanya Nayla baik-baik saja, karena mereka masih saling mengirim pesan tadi pagi sebelum berangkat ke kantor. Berbagai pertanyaan langsung memenuhi kepala Nugie, ada hal penting apa yang kira-kira akan disampaikan Ina padanya.Setengah jam kemudian Nugie pun sampai dirumah bergaya Jepang, hasil karyanya itu. Segera sa
Hari-hari berat di Elevation akhirnya resmi berakhir. Edisi khusus ulang tahun ke-20 itu akhirnya rilis ke pasar dan diterima dengan sangat baik. Penjualan mencetak rekor, tiga kali lipat lebih banyak dari biasanya. Pak Rino tersenyum puas dan tidak berhenti memuji Adit dan seluruh timnya. Sangking bahagianya, Pak Rino bahkan langsung mengirimkan beberapa salinan kepada rekan-rekannya agar mereka bisa segera membacanya. Dia juga memesankan pada Adit untuk memberikan satu majalah pada setiap karyawannya agar mereka menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Puas dengan hasil yang ada, Pak Rino mengajak karyawannya untuk makan di hotel bintang lima sekaligus merayakan ulangtahun Elevation hari itu. Tentu saja ini hal baru yang membuat semua karyawan kaget bercampur senang. Jika biasanya mereka hanya diberikan nasi kotak atau tumpengan di kantor, kali ini benar-benar berbeda. “Pak Rino keliatan puas sekali ya, Mas,” bisik Nayla pada Adit yang duduk di sebelahnya saat acara makan malam itu
Hari itu Adit dan Fajar tidak terlihat di kantor meskipun hari sudah menjelang siang. Nayla sempat bertanya-tanya kemana kedua pemimpin tim itu. Menjelang sore akhirnya Adit dan Fajar baru menginjakkan kaki di kantor, terlihat raut kecewa di wajah mereka berdua. Nayla tidak tahan untuk mengirim pesan pada Adit. 'Semuanya baik-baik, Mas?' Tidak ada balasan dari Adit. Jam pulang kerja, beberapa tim mulai meninggalkan kantor. Wajah mereka tampak lebih lelah dari biasanya. Materi untuk edisi ulang tahun ini harus rampung besok, begitulah pesan Adit. Nayla akhirnya memberanikan diri untuk mendatangi Adit ke ruangannya. "Masuk, Nay," ucap Adit saat melihat Nayla mengetuk pintunya. "Permisi, Mas. Are you ok, Mas? Tadi aku kirim pesan, tapi..." "Sory saya belum sempat cek HP. Sibuk banget. I'm fine kok. Kamu udah mau pulang? Mau bareng atau dijemput Nugie?" "Gak kok, aku cuma mau mastiin aja karena tadi Mas dan Mas Fajar kelihatan serius." Adit menghela nafas panjang.
Pukul 17.00 WIB tepat Nayla bersiap untuk meninggalkan ruangannya. Dia bertekad untuk mengajak Adit pulang tepat waktu hari itu. "Mau kemana Kak Nay? Pulang? Tumben," kata Widya sambil melirik jam tangannya. "Baru jam lima lho ini." "Iya hari ini mau ontime, sampe besok ya Wid," balas Nayla kemudian melangkah ke ruangan Adit. Adit masih tampak sibuk dengan laptopnya ketika Nayla masuk ke ruangannya. "Mas, udah beres?" "Nay? Udah waktunya pulang?" Adit tampak kaget ketika melihat Nayla sudah berdiri di hadapannya lengkap dengan semua barang bawaannya, siap untuk pulang. Nayla mengangguk. "Ayo, Mas. Hari ini gak usah lembur dulu." Tidak bisa menolak, Adit pun membereskan meja kerjanya dan mereka melangkah keluar bersama. Pemandangan yang langka membuat semua tim yang masih di kantor melemparkan tatapan bingung dan kaget. Dua orang yang paling sering menjadi penghuni terakhir kantor, hari ini pulang tepat waktu. "Kita mau jalan dulu, Nay? Makan malam?" tanya Adit sebelum menyal
Kantor Elevation benar-benar terlihat sibuk belakangan ini. Edisi ulang tahun ini membuat wajah tim-tim menjadi lebih serius dari biasanya. Adit ingin semuanya sempurna, dan setiap kali ada yang tidak sesuai dengan harapannya, dia tidak segan-segan menolaknya dan meminta untuk segera diperbaiki.Kondisi itu sangat berat bagi karyawan-karyawan yang ritme kerjanya selalu santai dan tenang selama ini. Mereka langsung kewalahan dengan kondisi belakangan ini. Wajah-wajah stress sudah mulai menghiasi ruang kerja Elevation yang biasanya damai. Adit rutin mengadakan rapat dengan tim intinya. Kali ini dia menjaga semua informasi hanya pada orang-orang kepercayaannya. Dia tidak mau kesalahan yang sama terulang. Sementara itu Fajar juga mendapat tugas khusus untuk mencari dalang dari kebocoran informasi kemarin. "Permisi, Mas," Nayla mengetuk pintu ruangan Adit. Di tangannya dia membawa sebuah kotak makanan dan kemudian memberikannya pada Adit."Ada titipan dari Tante Ina buat Mas Adit. Katany