แชร์

Kembalilah, Eve
Kembalilah, Eve
ผู้แต่ง: Elyo_Caster

Bab 1

ผู้เขียน: Elyo_Caster
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-02 17:49:59

Rintik hujan membasahi sebuah makam yang berada di halaman rumah seorang pria bernama Hans.

Makam yang terpahat nama Eve, yang merupakan istri tercintanya.

Makam semakin basah bersamaan dengan tubuh Hans yang masih mematung di samping makam kecil istrinya.

"Sayang, aku pergi dulu ke dalam. Besok pagi—tidak, nanti malam aku ke sini lagi setelah menyelesaikan pekerjaanku."

Hans bangkit dari sana, berlalu masuk ke rumahnya dengan membawa sisa-sisa tanah makam di sekujur pakaiannya.

***

"Jane, kamu mau ke mana lagi sekarang?" tanya seorang wanita paruh baya.

"Aku ada kerja paruh waktu seperti biasa."

"Oh ya, tapi bukannya hari ini kau libur kerja paruh waktu? Jane, kau tidak menjual barang haram itu lagi, kan?"

"Tentu saja tidak, Bu. Aku sudah bilang, kan, tidak akan menjual barang haram itu lagi."

Jane yang kesal segera pergi meninggalkan ibunya seorang diri di meja makan.

Jane membawa mobil tua peninggalan ayahnya menyusuri jalanan. Asap rokok mengebul di dalam mobil seolah melampiaskan kesengsaraan yang Jane pendam.

Di perjalanan yang Jane ambil secara acak, ia tanpa sengaja memasuki kawasan rumah orang kaya yang biasanya tertutup oleh pagar tinggi, namun hari ini terbuka lebar dengan banyak mobil yang terjajar.

"Wah, langka sekali. Kawasan ini terbuka untuk umum. Apakah para orang kaya itu sedang membuat pesta rakyat?"

Dengan santainya Jane memarkirkan mobil butut ayahnya di ujung jalan, menyelipkan tubuh kurusnya di antara para tukang pengantar bunga bertuliskan "Turut Berduka Cita" yang mulai memenuhi gerbang masuk.

Para penjaga tidak bisa mengecek para tukang pengantar karena begitu banyak titipan yang datang, membuat Jane bisa masuk lebih dalam.

"Oh, ternyata rumah besar itu yang sedang membuat acara."

Jane bergumam pelan dengan sedikit tawa mengejek.

Jane berpikir siapa pun yang mati di sana, mereka akan tetap kaya dan hidup bahagia. Tidak sama dengan kehidupan dia dan ibunya.

Jane mulai menatap satu per satu para sendok emas yang mulai menangis, entah itu akting atau apa, Jane tidak peduli.

Jane juga baru tahu jika orang yang mati itu dimakamkan di halaman rumah besar tadi, bukan di pemakaman umum seperti ayahnya.

Di area makam, Hans tak henti menangis. Mata berwarna hijaunya seolah berubah menjadi merah karena air mata yang tak mau berhenti.

"Eve, aku mencintaimu. Kembali kepadaku, sayang. Aku akan memberimu segalanya."

Isak sedih berkecamuk di dada Hans. Dia tidak bisa hidup tanpa Eve. Dia mencintai wanita itu sampai rasanya tubuhnya lumpuh atas kenyataan bahwa Eve sudah pergi.

"Eve, apa kau tidak mencintaiku? Aku sakit, Eve. Kenapa kamu tidak menyembuhkanku? Di sini sakit, Eve."

Hans mengayunkan tangannya, memukul dadanya sendiri, seakan memberi tahu semua orang betapa remuk jiwanya.

Dari tempat Jane berdiri, suara pilu Hans menerobos masuk ke telinga Jane. Bahkan untuk seorang yang sembrono seperti Jane, ia bisa mengetahui dengan mutlak betapa hancurnya pria yang sejak tadi menunduk ke tumpukan tanah makam.

Langit pun merasakan pilu dari keputusasaan Hans hingga meleburkan air di balik awan yang gelap.

Semua manusia berpakaian hitam mulai berhamburan, masuk ke dalam mobil bersama para bodyguard mereka. Menciptakan jalan yang cukup lapang untuk Jane menatap pria tadi.

Jane terpaku sesaat. Wajah maskulin Hans yang basah karena hujan bagaikan hasil seni di museum nasional. Begitu mahal dan menarik.

Astaga, bagaimana bisa ada pria seperti itu di dunia ini?

Kiranya itulah yang terlintas di benak Jane.

Seorang satpam yang melihat Jane terpaku diam di bawah hujan menghampirinya. Dari pakaian yang Jane kenakan, dia bukan kelompok kelas atas, kemungkinan dia pengantar bunga.

"Permisi, Nona. Untuk karangan bunga kami sudah tidak menerimanya lagi. Jika Anda sudah mengantarkan bunga, mohon untuk meninggalkan area ini."

Jane tak bisa menolak. Dia hanya mengangguk untuk pergi. Namun, untuk sekali lagi Jane menatap mahakarya Tuhan, dewa, roh leluhur, atau apa pun itu yang begitu lihai memahat pria setampan itu.

Ketika Jane pergi, perlahan satu per satu mobil mewah di sana mulai meninggalkan tempat. Menyisakan beberapa pihak keluarga inti dan penjaga rumah saja.

"Hans, cucuku, mari kita kembali ke dalam rumah. Eve akan marah jika kamu sampai sakit."

Hans mengunci mulutnya, enggan untuk membalas. Tubuhnya merosot memeluk nisan.

"Kakak, mari masuk dulu. Hujan semakin lebat."

Hans tak bergeming. Ucapan sang adik dan neneknya terbang terbawa angin.

"Nenek, masuklah dulu. Biar Theo yang menemani Kakak di sini."

Wanita tua yang dipanggil nenek menghela napas. Ia pun masuk ke dalam rumah dengan seluruh pengawal, menyisakan dua kakak beradik.

Theo masih berdiri di posisinya, menatap sendu kakaknya yang masih menangis di makam kakak iparnya.

Theo sangat mengetahui betapa besar rasa cinta Hans kepada Eve. Theo begitu menghormati Hans. Apa pun akan Theo lakukan untuk membuat kakaknya hidup lebih baik.

Theo menunggu dengan sabar hingga akhirnya Hans tidak sadarkan diri di atas makam istrinya.

Dengan tenang Theo memberi isyarat kepada para bawahannya yang tak jauh dari tempat mereka berdiri untuk mengurus sang kakak.

Di lain sisi, Jane tampak seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Bibirnya terangkat, ingatannya menarik mundur kejadian di wilayah orang kaya tadi.

Debar yang Jane rasakan sangat berbeda saat melihat paras Hans. Bahkan dari jarak yang tidak begitu dekat, Jane bisa merasakan pipinya memanas. Ah, rasanya seperti ia menemukan soulmate-nya.

Untuk pertama kalinya di hidup Jane, ia bisa melihat dan merasakan arti cinta dari seorang pria.

Saat Hans menangis keras, jantung Jane malah berbunga-bunga. Itu aneh tapi menyenangkan.

Pria yang Jane kenal tidak ada yang menggambarkan cinta yang tulus kepada wanita.

Tapi Hans membuat sudut pandang Jane berpindah. Pria itu sangat berbeda.

Jane kembali ke rumah dan mendapati ibunya sedang termenung di meja makan. Tanpa ambil pusing, Jane berlalu masuk ke kamarnya.

Baru saja Jane menghempaskan tubuh kakunya, suara ketukan di pintu terdengar.

"Jane, Ibu masuk, ya."

Jane tak menjawab. Dia hanya memejamkan mata tanpa perlu menatap ibunya yang sudah duduk di atas kasurnya.

"Jane, Ibu minta maaf untuk perkataan Ibu tadi siang kepadamu. Ibu minta tolong untuk tidak pergi tanpa kabar. Ibu sangat takut jika kamu pergi tanpa Ibu tahu mau ke mana kamu pergi."

Jane mulai jengah dengan drama yang ibunya buat. Ibunya selalu seperti ini setelah dirinya keluar dari penjara karena kasus penjualan narkoba dua tahun lalu.

"Ibu, bisakah kamu diam? Aku lelah sejak tadi."

"Jane, maaf. Ibu hanya tidak mau kamu terjerumus di tempat kotor itu lagi."

Wajah Jane memerah. Badannya yang sedang terlentang sekarang berdiri dengan amarah.

"Tempat kotor? Ibu, apa kau lupa dari mana uang yang kau cari untuk memberiku seonggok roti? Apa kau pikir menjadi PSK itu bersih?"

"A-aku tidak bermaksud—"

Belum selesai ibunya berbicara, Jane sudah menariknya keluar kamar, lalu membanting pintu dengan kasar dan terus-menerus memaki kehidupan yang sangat kotor ini.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kembalilah, Eve   Bab 6

    Denting jam di kamar mewah memberi kesan sunyi. Theo berdiri di balkon kamarnya, lengan baju tergulung hingga siku. Entah sudah batang rokok ke berapa yang ia hisap sejak pulang ke rumah kakaknya. Langit malam begitu gelap, membuat cahaya kecil bisa saja begitu menyilaukan. Pemandangan kawasan hutan terbentang luas di depan mata Theo. Dia tidak di situ untuk termenung. Ada sesuatu yang ia tunggu. Ketukan pintu mengalihkan fokus Theo sejenak. “Permisi, Tuan Theo. Saya Anton, izin berbicara.” “Masuk.” Theo masih di posisinya, tidak bergerak seinci pun. Anton melangkah cukup dekat ke arah tuannya. “Tuan, kami sudah mengecek. Ada mobil tua berwarna silver yang terparkir cukup jauh dari gerbang utama, tapi lumayan dekat ke arah hutan.” Theo membuang puntung rokok yang baru ia hisap, lalu menginjaknya hingga serbuk tembakau terurai di lantai. “Tunggu dan lihat seberapa berani mereka melangkah.” “Baik, Tuan Theo.” Telepon berdering dari saku Anton, sebuah panggilan masuk. Theo mem

  • Kembalilah, Eve   Bab 5

    Warna jingga bertebaran di langit sore. Hans baru kembali dari tidur lelapnya. Selimut tersampir di ujung kasur, jari-jemari Hans meraba sisi samping, mencari seseorang yang seharusnya ada di sampingnya. Mata yang masih setengah mengantuk ia paksa untuk melihat sekeliling. "Eve, kamu di mana?" Hening. Hanya ada Hans sendiri. Angin sore tertiup menerpa kaca jendela, memberi hawa sendu yang tak tertahankan. "Eve di luar." "Eve di luar." "Eve di luar!" Teriakan Hans bergema kuat. Para penjaga rumah segera bergerak ke arah kamar tuannya. Semua mata melihat Hans berlari kocar-kacir keluar dari rumah megahnya menuju rumah kecil gundukan tanah istrinya. Namun, tak ada satu pun yang berani menghalangi. "Eve, kenapa tidak tidur di dalam? Kenapa tidur di sini?" Hans tidak menangis seperti biasanya. Ia hanya ingin tahu kenapa Eve harus tidur di luar. Hans duduk sambil menyelonjorkan kaki panjangnya, memainkan bunga di atas tanah. Suaranya terkadang menjadi kekanak-kanakan, tak lama kem

  • Kembalilah, Eve   Bab 4

    Silau matahari menusuk ke dalam sela-sela jendela, tidak mampu menyaingi kegelapan yang mencekam di ruang tamu. Belaian lembut di tubuh kecil Gerbil berbanding terbalik dengan raut wajah Theo yang kasar. Suara sepatu pantofel melempar gema. Pria paruh baya berpakaian formal melangkah mendekat ke arah Tuannya. "Permisi, Tuan Theo. Rekaman CCTV sudah selesai kami telusuri. Ada seorang wanita muda yang menerobos masuk ke area kamar Tuan Hans. Wanita ini masuk lewat pintu belakang menuju hutan. Sepertinya ada salah satu penjaga yang membantunya. Kami akan segera cari dan membawa mereka berdua hidup ataupun mati ke bawah kaki Tuan Hans dan Tuan Theo." Asap putih mengebul pekat, abu rokok berjatuhan di atas asbak. Hening yang tidak wajar sedang terjadi. Entah apa yang Theo pikirkan, namun yang jelas itu akan berakhir tidak baik. "Tidak perlu terburu-buru, Anton. Bawakan saja aku mesin penjaga rusak itu nanti. Ada hal yang harus ia tebus nanti." "Baik, Tuan Theo." "Bawa Gerbil kembali

  • Kembalilah, Eve   Bab 3

    Kejadian Hans pingsan tiga hari lalu membuat kesehatan Nenek yang sudah menurun semakin merosot. Tubuhnya yang sudah lelah bersandar pada sofa di kamar mendiang putranya, Henry. Ruang bercat ungu violet ini dulunya sangat terang, namun perlahan semakin gelap seperti ruh kamar ini pergi bersama pemiliknya. Nenek mengambil album foto di atas laci, membuka lembaran demi lembaran kebahagiaan keluarganya. Di dalam foto terlihat begitu bahagia. Di sana terdapat foto anak semata wayangnya beserta menantu dan kedua cucu laki-lakinya. "Henry, maafkan Mama. Aku terlambat untuk membantumu. Dulu aku sangat takut kehilanganmu. Sekarang aku takkan membiarkan cucuku terluka sepertimu. Janji Mama padamu, putraku." Di kamar putra tercintanya, Nenek pergi untuk selamanya. --- Di hari yang sama, Hans sedang menaburi bunga di makam Eve. Mulutnya bergerak tanpa jeda, menceritakan harinya yang berat pada batu nisan. Air matanya masih sama meski sudah berkurang. Hans berusaha mengontrol dirinya yang

  • Kembalilah, Eve   Bab 2

    Jane tengah duduk di mobil ayahnya, keningnya berkerut menimbang aksi apa yang akan dia pilih. Gerbang besar yang terbuka lebar kemarin kini bagai brankas raksasa yang tak bisa dibuka. Jane menarik napas. Ia masih ragu untuk mendekat ke arah kompleks orang kaya itu, tetapi hasrat dalam dirinya menggebu di sekujur tubuhnya. Pada akhirnya Jane turun dari mobil. Ia menyeret kakinya secara paksa ke arah penjaga gerbang. "Halo, Pak. Saya mau bertemu dengan keluarga yang kemarin berduka." "Ada keperluan apa Anda kemari? Ah, bukankah Anda pengantar bunga yang kemarin?" Sial, ternyata penjaga itu mengingat wajah Jane yang kemarin ditegur untuk segera pergi. "Ah, iya. Saya mau tanya, apakah ada yang menemukan gelang kaki di sekitar area di dalam? Karena tempat terakhir saya pergi ada di sana." Keringat dingin mengucur di balik punggung Jane. Jane bingung kenapa dia begitu gugup berbohong kepada penjaga gerbang dibandingkan kepada para polisi di penjara dulu. Petugas mengambil walkie-t

  • Kembalilah, Eve   Bab 1

    Rintik hujan membasahi sebuah makam yang berada di halaman rumah seorang pria bernama Hans. Makam yang terpahat nama Eve, yang merupakan istri tercintanya. Makam semakin basah bersamaan dengan tubuh Hans yang masih mematung di samping makam kecil istrinya. "Sayang, aku pergi dulu ke dalam. Besok pagi—tidak, nanti malam aku ke sini lagi setelah menyelesaikan pekerjaanku." Hans bangkit dari sana, berlalu masuk ke rumahnya dengan membawa sisa-sisa tanah makam di sekujur pakaiannya. *** "Jane, kamu mau ke mana lagi sekarang?" tanya seorang wanita paruh baya. "Aku ada kerja paruh waktu seperti biasa." "Oh ya, tapi bukannya hari ini kau libur kerja paruh waktu? Jane, kau tidak menjual barang haram itu lagi, kan?" "Tentu saja tidak, Bu. Aku sudah bilang, kan, tidak akan menjual barang haram itu lagi." Jane yang kesal segera pergi meninggalkan ibunya seorang diri di meja makan. Jane membawa mobil tua peninggalan ayahnya menyusuri jalanan. Asap rokok mengebul di dalam mobil seolah m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status