LOGINDikehidupan sebelumnya, ia membutuhkan waktu berbulan-bulan pelatihan untuk menahan tekanan ini, sementara Luna melakukannya secara alami. Semakin banyak pertanyaan muncul, dan semakin sedikit jawaban yang ia miliki.
Bagian dalam kuil sangat gelap. Asterion menyalakan obor yang tergeletak di lantai, obor itu masih bisa menyala, cukup untuk penerangan mereka berdua. “Jangan jauh-jauh dariku!” seru Asterion memperingatkan. “Aku tau,” jawab Luna. Ia segera memposisikan dirinya di belakang Asterion, mengikuti setiap langkahnya agar tidak terpisah. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat yang ingin mereka tuju. Asterion bisa melewati segala jebakan yang ada di depan matanya, bahkan mengalahkan beberapa penjaga yang menghalangi mereka, sampai akhirnya Asterion dan Luna tiba di bagian utama dari reruntuhan itu. Di sana tidak hanya ada sebuah cahaya redup aneh yang menerangi ruangan, tapi juga terdapat sebuah buku yang melayang di atas sebuah altar. “Akhirnya,” gumam Asterion senang. Buku Itu adalah kitab yang selama ini dicari oleh Asterion. Kitab Ilahi. Jantung Asterion berdetak keras, akhirnya ia berhasil mendapatkan kitab itu. Belum sempat Asterion bergerak, ia mendengar suara nyaring yang familiar di telinganya. TAK. Sekejap kemudian, puluhan tombak energi menembus udara, menuju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Asterion segera menghalangi tombak itu dengan energi spiritualnya, dan menghempaskan tombak-tombak itu ke tanah. Asterion melirik ke arah Luna, rupanya gadis itu tidak sengaja menginjak jebakan. Untung saja ia cepat bereaksi, jika tidak tubuhnya sudah berlubang oleh tombak itu. Luna menatapnya dengan perasaan bersalah “Maaf,” ucap gadis itu. “Hati-hatilah,” jawab Asterion santai. “Kamu tunggu aku disini.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Asterion mulai bergerak zig-zag, menghindari titik-titik tertentu. Langkahnya presisi, seolah menari di antara kematian. Beberapa menit kemudian, ia sudah berdiri tepat di depan altar. Kitab itu bergetar pelan, seolah ia hidup. Saat tangan Asterion hampir menyentuh buku itu, cahaya keemasan yang menyelimuti buku itu tiba-tiba meledak. Tekanan spiritual melonjak berkali-kali lipat, suara kuno bergema di kepalanya. “Siapa yang berani menyentuh warisan para dewa?” Asterion sedikit terkejut. Ini adalah ujian kesadaran. Dulu ia terlambat dan tidak pernah melewati ujian ini, tetapi bukan berarti ia akan gagal. Ia sudah memperkirakan akan ujian ini sebelumnya. “Aku bukan datang untuk memohon kekuatan.” Asterion mengucapkan kalimat itu dengan lantang. Aura niat membunuh samar keluar dari dirinya. “Aku datang untuk mengambilnya.” lanjutnya lagi Setelah Asterion mengatakan itu, udara di sekitarnya berubah, suasana menjadi sangat sunyi, lalu tekanan meningkat tajam. Sebuah Ilusi muncul, tubuhnya kembali ke momen kematiannya, dimana sebuah pedang menusuk dadanya. Rasa kecewa dan marah akan pengkhianatan merasuk kedalam hatinya, saat itulah suara tuannya bergema lagi. “Kau hanya alat.” Kalimat itu terngiang ngiang di kepalanya seperti sebuah kaset rusak. Kepalanya sakit, Kemarahan Asterion mulai menguasainya, kesadarannya perlahan memudar. Namun di tengah kegelapan, ia seolah mendengar suara Luna di kejauhan. “Sadarlah!” Teriakan Luna membuahkan hasil, Asterion mulai mendapatkan kembali kesadarannya, ia kembali mengingat tujuannya datang ke sana. Ilusi itu hampir saja membuatnya lepas kendali. Ia bukan orang yang sama lagi, apapun akan ia lakukan demi membalas semua perlakuan yang ia terima. Asterion tertawa pelan. “Kau pikir semua ini bisa menghentikan aku.” Ia melangkah maju, mengumpulkan energi spiritual yang ada dalam dirinya dan mengarahkannya pada inti ilusi yang menyerangnya. Ilusi itu pun pecah seperti kaca. Ia kembali di tempat terakhir ia berdiri. Cahaya yang menyelimuti kitab itu bergetar hebat, namun sesuatu yang aneh terjadi. Kitab itu tidak langsung pergi ke arah Asterion, sebaliknya, cahaya yang menyelimuti kitab itu berputar menuju belakangnya, dan mengarah pada Luna. Asterion membeku, Luna juga tampak bingung saat cahaya emas menyelimutinya. Energi spiritualnya melonjak liar. Udara bergetar. Ukiran kuno di dinding menyala satu per satu. Suara kuno kembali berbicara. “Darah yang hilang … akhirnya kembali.” Asterion menegang. “Apa maksudnya …?” tanya Asterion kebingungan. Luna memegang dadanya. “Aku … mendengar sesuatu ….” Cahaya di tempat itu tiba-tiba meredup. Kitab ilahi itu jatuh perlahan, kali ini ke tangan Asterion. Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan ruang kosong dan dua orang yang saling pandang dengan ekspresi bingung. “Kau ….” Belum sempat Asterion mencerna apa yang terjadi, energi hangat mengalir ke dalam tubuhnya, banyak informasi yang memenuhi pikirannya. Mulai dari teknik pernapasan, seni manipulasi energi, dasar kekuatan spiritual tingkat tinggi, dan beberapa teknik rahasia lain yang baru ia ketahui. Lebih cepat, lebih jelas, dan lebih kuat dibanding kehidupan sebelumnya. Asterion menutup mata sesaat. Ketika membuka mata kembali, tatapannya berubah. Lebih tajam. Lebih dalam. Ia sekarang jauh lebih kuat dibanding versi dirinya pada usia ini di kehidupan pertama. Namun pikirannya tidak tenang, karena satu fakta tidak bisa diabaikan. Kenapa Kitab itu juga bereaksi pada Luna? “Kau baik-baik saja?” tanyanya Asterion. Luna mengangguk pelan. Menandakan dirinya baik-baik saja. “Tadi… seperti ada seseorang mengenalku.” Luna mengatakannya dengan nada bingung. Kalimat itu membuat Asterion merinding. Sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, tiba-tiba saja tanah yang mereka pijak mulai bergetar. Debu dan bebatuan kecil jatuh dari langit-langit. Asterion langsung waspada. “Sssttt … ada yang datang,” ucap Asterion pelan. Ia mulai menajamkan pendengarannya. Dari jauh ia bisa mendengar suara langkah berat yang terdengar dari pintu masuk kuil. Asterion menarik Luna untuk bersembunyi, mereka berdua mengintai dari balik pilar di sudut ruangan. Asterion mematikan obor yang mereka bawa, seketika ruangan itu gelap gulita, tidak ada cahaya sedikitpun. “Jangan bersuara,” bisik Asterion di telinga Luna. Gadis itu menurut, walau ia tidak bisa melihat apapun sekarang. Tak berselang lama, beberapa sosok muncul. Mereka mengenakan armor hitam dan simbol dari kerajaan Morf. Mereka bukan orang biasa. Asterion menyipitkan mata, ia masih bisa melihat walau dalam kegelapan. Pasukan kerajaan? Batinnya bertanya-tanya. “Sial! Kita kehilangan buku itu,” ucap salah seorang dari mereka. Asterion segera memakai jurus penyamaran untuk menghilangkan jejak keberadaannya dan juga Luna. Untuk sekarang ia tidak bisa mengambil resiko yang lebih besar. Rupanya orang-orang itulah yang dulu mengambil kitab ilahi sebelum ia sampai. “Apa yang harus kita katakan pada Tuan Morf Kapten?” tanya yang lain. Pria itu menatap sekeliling, seolah mencari jejak keberadaan seseorang. Namun nihil, ia tidak menemukan apa-apa. “Untuk sekarang kita kembali dulu.” Perintahnya. Semua orang disana mengangguk paham, setelahnya mereka pergi meninggalkan tempat itu. Suasana kembali sunyi, cahaya samar yang sebelumnya hadir bersama para orang itu pun menghilang. Ruangan itu kembali gelap gulita. Asterion menghela napas pelan. “Sepertinya perjalanan kita akan lebih sibuk dari yang kupikir,” ucapnya setelah memastikan semuanya aman. “Kau kenal mereka?” tanya Luna. Asterion memungut obor yang sempat ia buang, kemudian menyalakannya kembali. “Hehe ….” Asterion tertawa. “Bukan sekedar kenal,” ucapnya dengan tatapan dingin. “Aku bahkan sangat menantikan untuk bertemu mereka lagi,” Lanjutnya. Mata Asterion berubah tajam, Luna merasakan kebencian yang sangat dalam dari tatapan mata Asterion. Sebenarnya siapa orang-orang itu?Asterion bergerak dengan cepat menembus dinginnya malam, dua bilah pedang pendek sudah siaga di tiap genggaman tangannya. Ia berlari di atas atap-atap rumah tanpa meninggalkan suara sedikitpun. Gerakannya sangat halus hingga angin di sekelilingnya terasa begitu samar, Kemampuannya semakin meningkat dibanding dengan kehidupan lamanya, apalagi ia telah mendapatkan banyak energi spiritual baru. Sementara itu, di sebuah area lapang di sudut kota. Dua kelompok saling berhadapan. Mereka semua berdiri membawa senjata masing-masing. Suasana tegang menyelimuti udara di sekitar mereka. “Hei bajingan kecil. Lebih baik kau menyerah dan bawa kumpulan tidak berguna ini pergi dari kota. Bangsawan jatuh sepertimu yang tidak pernah merasakan kerasnya dunia, mencoba untuk merangkak menjadi gangster? Jangan mimpi.” Berthold sang ketua geng itu melontarkan ejekan. Suara tawa menggelegar di sekitar mereka. “Bukankah kita akan tau siapa pecundangnya jika pedang kita beradu!” ungkap Nathan, ia tak terpro
Setelah orang-orang itu pergi, Asterion mengajak Luna untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Sekarang tujuan mereka adalah kota pelabuhan di ujung barat kekaisaran.Sebuah kota yang sangat ramai, dan dipenuhi oleh hiruk pikuk manusia dengan segala kebisingannya. Butuh waktu setengah bulan perjalanan hingga mereka bisa mencapai kota pelabuhan itu. Selama perjalanan Asterion terus melatih dirinya, sementara Luna sibuk membiasakan diri dengan suasana baru di sekitarnya. Sebelum mencapai kota, mereka singgah di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Asterion ingin mencari informasi sekaligus melihat situasi di dalam kota saat ini. “Ingat kata-kataku, di depan orang lain kau harus memanggilku kakak, oke?” ucap Asterion mengingatkan. Luna memutar matanya malas, ia sudah sering mendengar kalimat itu keluar dari mulut Asterion. “Aku tau,” jawabnya malas. Asterion memelototinya. Luna segera meralat ucapannya. “Aku tau, kakak,” ucapnya dengan penuh penekanan. Asterion mengangguk puas. Me
Dikehidupan sebelumnya, ia membutuhkan waktu berbulan-bulan pelatihan untuk menahan tekanan ini, sementara Luna melakukannya secara alami. Semakin banyak pertanyaan muncul, dan semakin sedikit jawaban yang ia miliki.Bagian dalam kuil sangat gelap. Asterion menyalakan obor yang tergeletak di lantai, obor itu masih bisa menyala, cukup untuk penerangan mereka berdua.“Jangan jauh-jauh dariku!” seru Asterion memperingatkan. “Aku tau,” jawab Luna. Ia segera memposisikan dirinya di belakang Asterion, mengikuti setiap langkahnya agar tidak terpisah. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat yang ingin mereka tuju. Asterion bisa melewati segala jebakan yang ada di depan matanya, bahkan mengalahkan beberapa penjaga yang menghalangi mereka, sampai akhirnya Asterion dan Luna tiba di bagian utama dari reruntuhan itu. Di sana tidak hanya ada sebuah cahaya redup aneh yang menerangi ruangan, tapi juga terdapat sebuah buku yang melayang di atas sebuah altar. “Akhirnya,” gumam Ast
“ … jangan terlalu percaya padaku,” ucap Asterion sambil menatap kosong pemandangan diluar jendela. Ia teringat seberapa kejam apa yang ia lakukan. Ia menghabisi orang lain tanpa pandang bulu, dan semua itu atas perintah dari orang itu. Ia mengira semua yang ia lakukan adalah demi kebenaran dan kelangsungan hidupnya. Jika ia tidak bertindak kejam, maka orang lain akan meremehkannya dan menghancurkannya lebih dulu. Luna menggeleng kecil, walaupun ia tidak bisa melihat raut wajah Asterion sekarang, ia seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Asterion. Dengan percaya diri Luna mendekat ke arah Asterion, memeluk punggung itu dengan lembut, seolah mencoba menenangkan. “Instingku tidak pernah salah,” ucap Luna. Kalimat itu membuat Asterion tidak bisa berkata apa-apa. Ia melepaskan pelukan luna perlahan, dan berbalik menatap kedua mata emasnya dengan penuh rasa penasaran. Entah apa yang ada di dalam kepala gadis itu, ia bahkan mengikutinya tanpa rasa takut sedikitpun. “Sebelum
“Gadis itu milik kami,” gumam salah seorang pembunuh. “Jangan harap bisa selamat hidup-hidup.”Asterion menangkap pisau kecil yang dilemparkan dengan tangan kosong, kemudian membengkokkannya dengan sangat mudah. Kekuatan fisiknya sangat kuat, berbanding terbalik dengan kondisi tubuhnya yang tampak seperti remaja biasa.“Kalian ingin membunuhku?” tanya Asterion dengan nada sinis. “Mimpi,” lanjutnya lagi. Tatapan mata para pembunuh itu melebar. Mereka tampaknya tertipu oleh penampilan luar Asterion. Mereka saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya menghilang seperti asap. Suasana kembali sunyi, hanya tersisa hembusan angin malam yang berhembus dingin di atas atap-atap reyot Black Hollow. Asterion berdiri tenang, sementara beberapa sosok berjubah hitam mengepung mereka dari segala arah. Mereka menyembunyikan hawa keberadaan mereka dengan sangat lihai, langkah kaki mereka hampir tanpa suara, ciri khas pembunuh terlatih.“Mau bermain petak umpet denganku?” tanya Asterion mencibir.
Bau lembap dan busuk menusuk hidungnya. Asterion membuka mata dengan napas tersendat, seolah paru-parunya baru saja berhenti dipaksa kembali bekerja setelah lama mati. Langit kelabu menggantung rendah di atas kepalanya, tertutup asap tipis dari cerobong-cerobong reyot kawasan kumuh. Suara gaduh memenuhi telinganya. Pedagang berteriak, anak-anak menangis, logam beradu, dan langkah kaki orang-orang yang hidup tanpa harapan.Ia membeku.“ … Ini ….” Tangannya gemetar saat menyentuh tanah berlumpur di bawahnya.Dingin. Nyata, bukan akhirat, bukan mimpi. Ingatan terakhirnya muncul seperti pisau yang ditarik perlahan dari luka lama. Pedang menusuk dadanya. Darah hangat mengalir. Tatapan pria yang ia percaya sepenuh hati, tuannya sendiri. Menatap tanpa emosi saat ia mati. Pengkhianatan.Asterion menarik napas panjang, lalu tertawa pelan. Tawa itu kering dan tanpa kebahagiaan. Ia meraba tubuhnya dengan penuh semangat. Hangat tubuh yang ia rasakan bukanlah kebohongan. “Aku … hidup,” ungkap Ast







