Share

Menuju Kota Pelabuhan

Author: Santi Yukino
last update publish date: 2026-07-25 12:50:47

Setelah orang-orang itu pergi, Asterion mengajak Luna untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Sekarang tujuan mereka adalah kota pelabuhan di ujung barat kekaisaran.

Sebuah kota yang sangat ramai, dan dipenuhi oleh hiruk pikuk manusia dengan segala kebisingannya. Butuh waktu setengah bulan perjalanan hingga mereka bisa mencapai kota pelabuhan itu. Selama perjalanan Asterion terus melatih dirinya, sementara Luna sibuk membiasakan diri dengan suasana baru di sekitarnya. 

Sebelum mencapai kota, mereka singgah di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Asterion ingin mencari informasi sekaligus melihat situasi di dalam kota saat ini. 

“Ingat kata-kataku, di depan orang lain kau harus memanggilku kakak, oke?” ucap Asterion mengingatkan. 

Luna memutar matanya malas, ia sudah sering mendengar kalimat itu keluar dari mulut Asterion. “Aku tau,” jawabnya malas. 

Asterion memelototinya. Luna segera meralat ucapannya. “Aku tau, kakak,” ucapnya dengan penuh penekanan. Asterion mengangguk puas. Mereka berdua segera memasuki kedai dan duduk di sudut ruangan. Tak berselang lama, seorang gadis pelayan datang menghampiri meja mereka.

“Permisi, ingin memesan apa Tuan?” tanya Gadis itu dengan nada sopan, sambil menyodorkan papan menu pada Asterion.

“Biar aku saja!” Seru Luna. 

Belum sempat Asterion menjawab, Luna lebih dulu merebut papan menu itu dan mengamati dengan seksama. Sementara Asterion hanya bisa melongo. Baru setengah bulan mereka bersama tetapi sifat Luna sudah mulai terlihat berubah drastis. Dulu ia terlihat dingin dan pendiam, tetapi sekarang ia lebih terlihat ceria dan tidak tau malu sama sekali.

“Aku mau ini dan ini.” Tunjuk Luna pada beberapa menu makanan. Asterion melirik sebentar ke arah menu sebelum menatap ke arah dompetnya sendiri. Tangannya sedikit gemetar menatap sisa uangnya yang mulai menipis. 

“Apa kau dengar britanya?” ucap seorang pria yang duduk tak jauh dari tempat Asterion. Pria Itu kemudian menajamkan pendengarannya, bagaimanapun ia kesana memang untuk mencari informasi. 

“Aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, bagaimanapun Pihak Nathan yang mulai duluan, aku yakin malam ini mereka pasti akan habis,” jawab pria lain yang bertubuh lebih pendek.

Mendengar nama Nathan disebut Asterion langsung tertarik. Ia memang ke kota pelabuhan untuk mencari rekannya yang bernama Nathan. Ia tidak bisa menahan diri untuk ikut dalam percakapan tersebut. 

“Lebih baik kita pergi dan jangan sampai ikut campur, kelompok “Serigala” itu sangat kejam.”

“Umn … permisi Tuan, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian,” ucap Asterion menyela, ternyata ia sudah memposisikan dirinya di antara kedua pria asing itu.

Kedua pria itu pun menoleh, menatap ke arah Asterion dengan tatapan remeh yang terlihat jelas, mata mereka menatap dari atas sampai bawah, kemudian saling berbisik. 

“Kau lihat? Sepertinya dia orang luar,” bisik pria pertama. 

“Dia terlihat gampang ditipu,” balas pria kedua yang lebih pendek, “Ada urusan apa kau dengan kami?” tanyanya pada Asterion dengan nada bicara yang dibuat galak. 

Asterion memasang wajah polos, dan senyum ramah.

“Tidak ada, aku dan adikku kebetulan akan pergi ke kota pelabuhan sore ini,” jawab Asterion sambil menunjuk ke arah Luna yang sedang asik dengan makanannya. 

“Apa kau kesana mencari pekerjaan?” tanya Pria pertama penasaran. Ia menilai dari pakaian compang camping yang dipakai oleh Asterion juga dari logatnya yang terkesan pelancong, Asterion terlihat seperti pemuda miskin yang sedang mencari peruntungan di kota besar. 

“Ya! Benar sekali,” jawab Asterion membenarkan.

Mendengar jawaban Asterion yang polos pria kedua langsung menatapnya dengan tatapan malas, sementara pria pertama menatapnya dengan tatapan kasihan.

“Hah … sebaiknya kau kembali besok saja. Malam ini dua geng paling ditakuti akan bertarung, kita yang orang biasa ini saja memilih untuk menghindar. Apalagi pemuda kurus sepertimu. Kusarankan kau bawa saja adikmu ke penginapan di pinggir kota, lalu lusa baru masuk kota.” Pria pertama memberikan nasihat. 

“Sudahlah, kenapa kau pedulikan sampah seperti mereka,” ucap Pria kedua dengan nada sinis. 

Asterion menahan ekspresi di wajahnya. Ia sebenarnya sangat ingin memukul kepala pria pendek di sisi kirinya itu, tetapi ia harus tetap berakting. “Begitu ya, baiklah, aku akan mengingat nasehatmu Tuan,” ucap Asterion.

“Kakak apa kau sudah selesai? Makananmu sudah mulai dingin!” seru Luna. Gadis itu sudah menghabiskan dua mangkuk sup tanpa rasa bersalah. 

“Ya aku kesana,” jawab Asterion sambil memasang wajah tersenyum. Tetapi begitu ia berbalik, senyumnya seketika hilang, digantikan dengan wajah dingin seperti biasa.

Kedua pria tadi pun kembali berbincang tanpa mempedulikan Asterion. Tetapi tatapan mata pria pendek itu terlihat mencurigakan, terutama saat ia menatap Luna. Asterion menyadarinya, tetapi ia tidak begitu memperdulikannya. 

Asterion teringat akan cerita Nathan, dimana ia pernah mengatakan jika dulunya ia adalah pemimpin sebuah geng di kota pelabuhan, namun gengnya kalah saat berseteru dengan geng lain yang lebih kuat. Semua kawannya tewas, hanya tinggal ia sendirian, terusir dan tidak boleh menginjakkan kakinya di kota pelabuhan lagi. Ia berkelana kesana kemari sebelum akhirnya bertemu dengan Tuan mereka dan masuk dalam kelompok bayangan.

Setelah mereka selesai makan, Asterion menyewakan satu kamar penginapan untuk Luna dan mewanti wanti agar gadis itu tidak keluar kemana-mana. Malam ini ia akan pergi sendirian ke kota Pelabuhan untuk mencari Nathan. Waktunya sangatlah cocok. Jika ia membantu Nathan dan membuatnya berhutang budi, mungkin Nathan akan sangat berguna di masa depan, karena ia adalah ahli pedang genius. Sayangnya ia justru tewas dalam misi pembunuhan anggota kerajaan. Nathan adalah orang yang menjunjung tinggi keadilan, ia yakin Nathan memang sengaja mengalah ketika ia melawan pengawal kerajaan. Jika tidak ia tidak akan mungkin kalah dengan semudah itu.

“Kau yakin aku tidak ikut pergi?” tanya Luna. Ia duduk di tepi ranjang penginapan sambil mengayunkan kakinya yang putih. 

“Tidak perlu,” jawab Asterion, “anak kecil sebaiknya tidak ikut dalam hak berbahaya,” lanjutnya lagi. 

Luna memasang wajah masam, ia tidak ingin ditinggal sendirian di tempat asing. Asterion meliriknya dan memberikan sebuah peluit kecil. Itu adalah peluit kecil yang ia buat sendiri dan ia memasukan sihir ke dalam peluit itu. 

“Pegang ini, jika kau dalam bahaya tiup saja, aku akan langsung datang.” Asterion mengusap kepala Luna pelan.

“Baiklah.” Luna akhirnya mengalah.

“Pintar,” ucap Asterion senang. Ia kemudian berjalan ke arah jendela, membukanya hingga lebar  dan melompat keluar tanpa rasa takut.

Luna hanya bisa melambaikan tangannya dan kembali menutup jendelanya rapat-rapat. Tak lupa ia juga mengunci pintu penginapannya sebelum pergi tidur.

Sementara itu setelah Asterion pergi, beberapa bayangan orang terlihat mengintai penginapan itu dari kejauhan. 

“Kau yakin ini akan baik baik saja?”

“Diamlah! Kau tidak lihat pria tadi? Jika ketahuan mungkin kita bisa mati.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Dua kubu

    Asterion bergerak dengan cepat menembus dinginnya malam, dua bilah pedang pendek sudah siaga di tiap genggaman tangannya. Ia berlari di atas atap-atap rumah tanpa meninggalkan suara sedikitpun. Gerakannya sangat halus hingga angin di sekelilingnya terasa begitu samar, Kemampuannya semakin meningkat dibanding dengan kehidupan lamanya, apalagi ia telah mendapatkan banyak energi spiritual baru. Sementara itu, di sebuah area lapang di sudut kota. Dua kelompok saling berhadapan. Mereka semua berdiri membawa senjata masing-masing. Suasana tegang menyelimuti udara di sekitar mereka. “Hei bajingan kecil. Lebih baik kau menyerah dan bawa kumpulan tidak berguna ini pergi dari kota. Bangsawan jatuh sepertimu yang tidak pernah merasakan kerasnya dunia, mencoba untuk merangkak menjadi gangster? Jangan mimpi.” Berthold sang ketua geng itu melontarkan ejekan. Suara tawa menggelegar di sekitar mereka. “Bukankah kita akan tau siapa pecundangnya jika pedang kita beradu!” ungkap Nathan, ia tak terpro

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Menuju Kota Pelabuhan

    Setelah orang-orang itu pergi, Asterion mengajak Luna untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Sekarang tujuan mereka adalah kota pelabuhan di ujung barat kekaisaran.Sebuah kota yang sangat ramai, dan dipenuhi oleh hiruk pikuk manusia dengan segala kebisingannya. Butuh waktu setengah bulan perjalanan hingga mereka bisa mencapai kota pelabuhan itu. Selama perjalanan Asterion terus melatih dirinya, sementara Luna sibuk membiasakan diri dengan suasana baru di sekitarnya. Sebelum mencapai kota, mereka singgah di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Asterion ingin mencari informasi sekaligus melihat situasi di dalam kota saat ini. “Ingat kata-kataku, di depan orang lain kau harus memanggilku kakak, oke?” ucap Asterion mengingatkan. Luna memutar matanya malas, ia sudah sering mendengar kalimat itu keluar dari mulut Asterion. “Aku tau,” jawabnya malas. Asterion memelototinya. Luna segera meralat ucapannya. “Aku tau, kakak,” ucapnya dengan penuh penekanan. Asterion mengangguk puas. Me

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Kitab Ilahi Didapatkan

    Dikehidupan sebelumnya, ia membutuhkan waktu berbulan-bulan pelatihan untuk menahan tekanan ini, sementara Luna melakukannya secara alami. Semakin banyak pertanyaan muncul, dan semakin sedikit jawaban yang ia miliki.Bagian dalam kuil sangat gelap. Asterion menyalakan obor yang tergeletak di lantai, obor itu masih bisa menyala, cukup untuk penerangan mereka berdua.“Jangan jauh-jauh dariku!” seru Asterion memperingatkan. “Aku tau,” jawab Luna. Ia segera memposisikan dirinya di belakang Asterion, mengikuti setiap langkahnya agar tidak terpisah. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat yang ingin mereka tuju. Asterion bisa melewati segala jebakan yang ada di depan matanya, bahkan mengalahkan beberapa penjaga yang menghalangi mereka, sampai akhirnya Asterion dan Luna tiba di bagian utama dari reruntuhan itu. Di sana tidak hanya ada sebuah cahaya redup aneh yang menerangi ruangan, tapi juga terdapat sebuah buku yang melayang di atas sebuah altar. “Akhirnya,” gumam Ast

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Kitab yang Memilih Tuan

    “ … jangan terlalu percaya padaku,” ucap Asterion sambil menatap kosong pemandangan diluar jendela. Ia teringat seberapa kejam apa yang ia lakukan. Ia menghabisi orang lain tanpa pandang bulu, dan semua itu atas perintah dari orang itu. Ia mengira semua yang ia lakukan adalah demi kebenaran dan kelangsungan hidupnya. Jika ia tidak bertindak kejam, maka orang lain akan meremehkannya dan menghancurkannya lebih dulu. Luna menggeleng kecil, walaupun ia tidak bisa melihat raut wajah Asterion sekarang, ia seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Asterion. Dengan percaya diri Luna mendekat ke arah Asterion, memeluk punggung itu dengan lembut, seolah mencoba menenangkan. “Instingku tidak pernah salah,” ucap Luna. Kalimat itu membuat Asterion tidak bisa berkata apa-apa. Ia melepaskan pelukan luna perlahan, dan berbalik menatap kedua mata emasnya dengan penuh rasa penasaran. Entah apa yang ada di dalam kepala gadis itu, ia bahkan mengikutinya tanpa rasa takut sedikitpun. “Sebelum

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Jejak Takdir yang Berubah

    “Gadis itu milik kami,” gumam salah seorang pembunuh. “Jangan harap bisa selamat hidup-hidup.”Asterion menangkap pisau kecil yang dilemparkan dengan tangan kosong, kemudian membengkokkannya dengan sangat mudah. Kekuatan fisiknya sangat kuat, berbanding terbalik dengan kondisi tubuhnya yang tampak seperti remaja biasa.“Kalian ingin membunuhku?” tanya Asterion dengan nada sinis. “Mimpi,” lanjutnya lagi. Tatapan mata para pembunuh itu melebar. Mereka tampaknya tertipu oleh penampilan luar Asterion. Mereka saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya menghilang seperti asap. Suasana kembali sunyi, hanya tersisa hembusan angin malam yang berhembus dingin di atas atap-atap reyot Black Hollow. Asterion berdiri tenang, sementara beberapa sosok berjubah hitam mengepung mereka dari segala arah. Mereka menyembunyikan hawa keberadaan mereka dengan sangat lihai, langkah kaki mereka hampir tanpa suara, ciri khas pembunuh terlatih.“Mau bermain petak umpet denganku?” tanya Asterion mencibir.

  • Kembalinya Sang Pembunuh Bayaran   Kebangkitan di Tanah Buangan

    Bau lembap dan busuk menusuk hidungnya. Asterion membuka mata dengan napas tersendat, seolah paru-parunya baru saja berhenti dipaksa kembali bekerja setelah lama mati. Langit kelabu menggantung rendah di atas kepalanya, tertutup asap tipis dari cerobong-cerobong reyot kawasan kumuh. Suara gaduh memenuhi telinganya. Pedagang berteriak, anak-anak menangis, logam beradu, dan langkah kaki orang-orang yang hidup tanpa harapan.Ia membeku.“ … Ini ….” Tangannya gemetar saat menyentuh tanah berlumpur di bawahnya.Dingin. Nyata, bukan akhirat, bukan mimpi. Ingatan terakhirnya muncul seperti pisau yang ditarik perlahan dari luka lama. Pedang menusuk dadanya. Darah hangat mengalir. Tatapan pria yang ia percaya sepenuh hati, tuannya sendiri. Menatap tanpa emosi saat ia mati. Pengkhianatan.Asterion menarik napas panjang, lalu tertawa pelan. Tawa itu kering dan tanpa kebahagiaan. Ia meraba tubuhnya dengan penuh semangat. Hangat tubuh yang ia rasakan bukanlah kebohongan. “Aku … hidup,” ungkap Ast

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status