LOGINSebuah anugrah yang muncul entah dari mana setelah ia terlempar kembali ke masa lalu. Sebelumnya, pikirannya terlalu diselimuti keputusasaan untuk memahami hal ini. Namun kini, dengan benak yang lebih jernih, ia mencoba memprosesnya.
[Sadar akan kehidupan masa lalu yang pedih, Anda akhirnya memutuskan untuk merubah segalanya dengan tekad kuat. Selamat, Anda memperoleh Imbalan atas tekad baja yang Anda pupuk!] Feng Longwei menahan napas. Kalimat itu, begitu lugas dan tanpa basa-basi, menusuk ke inti jiwanya. Tekad bulat? Ya, memang. Tekad untuk tidak lagi menjadi pecundang, untuk tidak lagi menyerah pada takdir kejam yang menunggunya di kehidupan sebelumnya. Ia mengepalkan tangan, otot-ototnya menegang. Dan kemudian, muncul notifikasi kedua, yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. [Imbalan: Peningkatan Kekuatan Fisik dan Delapan Meridian Utama Terbuka!] Seketika setelah pemberitahuan itu muncul, Longwei merasakan sensasi aneh menjalar di sekujur tubuhnya. Seperti ada sesuatu yang mengembang dari dalam, memenuhi setiap inci ruang di balik kulitnya. Ia tak merasakan sakit, sama sekali tidak. Justru sebaliknya, sebuah gelombang kehangatan yang perlahan bercampur dengan dingin yang menyegarkan, mengalir dalam nadinya. Rasanya seperti ada sungai energi yang baru lahir di dalam dirinya, mengukir jalur-jalur baru yang sebelumnya tak pernah ada. Sensasi itu berlanjut, semakin intens, sampai Longwei merasakan perutnya bergejolak. Sebuah desakan kuat muncul di kerongkongannya. Ia menunduk, dan tanpa sempat mencegahnya, cairan hitam pekat menyembur dari mulutnya. Baunya busuk, sangat memuakkan, seperti limbah yang telah lama menumpuk. "Urgh!" erangnya, memuntahkan lebih banyak lagi. Cairan hitam itu membasahi lantai kayu di depannya, meninggalkan genangan menjijikkan. Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, ekspresinya antara ngeri dan jijik. "Tiba-tiba memuntahkan begitu banyak kotoran… Aku tak tahu tubuhku menyimpan sesuatu seburuk ini selama ini." Namun, setelah semua itu berakhir, sebuah perubahan drastis menyelimuti dirinya. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan, seolah beban bertahun-tahun telah terangkat. Setiap otot, setiap sendi, terasa lebih lentur dan bertenaga. Dan yang paling mencengangkan, sebuah energi yang melimpah ruah berdenyut di dalam dirinya, eksistensi energi Qi yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Membuka Delapan Meridian Utama. Ia tahu apa artinya itu. Di kehidupannya dulu, ia tak begitu tahu tentang konsep meridian, dantian dan energi spiritual. Tapi sekarang ia mengerti setelah mengalami secara langsung. Meridian—jalur-jalur energi vital dalam tubuh yang, jika terbuka, akan memungkinkan seseorang untuk merasakan dan mengendalikan energi spiritual di sekitarnya. Dan kini, ia bisa merasakannya. Sensitivitasnya terhadap energi di udara, yang sebelumnya tak kasat mata, kini meningkat secara eksponensial. Ia bisa merasakan denyut halus, seperti bisikan angin di antara dedaunan, energi yang mengalir di sekelilingnya. Ini adalah sebuah perubahan besar, sebuah transformasi yang tak pernah ia bayangkan di kehidupannya yang dulu. Di masa lalu yang pedih itu, hanya untuk sekadar makan sesuatu yang layak saja, ia harus bermimpi. Bertahan hidup adalah satu-satunya tujuan. Namun sekarang, Feng Longwei mengepalkan tangannya lagi, kali ini dengan tekad yang membara. Dia berjanji pada dirinya sendiri, pada bayangan masa lalu yang telah ia kubur, bahwa dia akan mengubah takdirnya. Menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Ini adalah awal dari segalanya, pikirnya. ... Baru saja Longwei membiarkan kehangatan dan kekuatan baru meresap ke dalam setiap sel tubuhnya, tiba-tiba saja sebuah benturan keras mengoyak ketenangan pagi. Suara pecahan keramik yang memekakkan telinga, langsung membuat Longwei tersentak dari lamunannya. Jantungnya berdebar, bukan lagi karena ketakutan, melainkan antisipasi. Ia tahu persis siapa biang keladi di balik kegaduhan itu. "Longwei, keluarlah dan sambut kakakmu yang baik hati ini!" sebuah suara yang familier, nadanya terdengar mengejek dan angkuh, menggaung di halaman depan. Suara itu adalah racun bagi telinga Longwei. 'Bajingan itu. Tak sedikitpun berubah dari biasanya. Dia tahu aku hampir mati setelah dia melemparku ke danau, dan sekarang dia datang lagi menggangguku di pagi hari seolah tak ada apa-apa.' ia mendecih dalam hati, matanya menyipit dengan tatapan muram. Ingatan akan rasa dingin yang menusuk tulang, kepanikan saat paru-parunya terisi air, dan wajah Feng Liang yang tersenyum puas saat ia tenggelam, kembali melintas. Namun kali ini, alih-alih ketakutan, yang ia rasakan hanyalah kemarahan dan benci.Kata-kata itu langsung menimbulkan kegaduhan di antara prajurit kekaisaran.Beberapa orang bahkan saling berpandangan dengan wajah tidak percaya.‘Tuanku?’Istilah itu terasa sangat aneh.Mong Chuyun sedikit mengernyit.“Tuanmu?” ulangnya pelan.Ia mengingat informasi yang ia ketahui tentang kota Linglong.“Setahuku, kota ini berada di bawah komando Long Huibong,” ujar Mong Chuyun. “Dia adalah komandan garnisun kekaisaran di wilayah ini.”Ia menatap Tian Moran lebih dalam.“Apakah dia yang kau maksud?”“Jika benar begitu, maka tidak ada alasan bagi Long Huibong untuk menutup gerbang dan menahan rombongan kaisar di luar.”Namun reaksi Tian Moran membuat semua orang semakin bingung.Pria itu perlahan menggelengkan kepala.Satu gerakan sederhana.Namun dampaknya seperti batu yang dilempar ke tengah danau.Semua orang terdiam.“Kalau bukan Long Huibong… lalu siapa?” gumam salah satu perwira kekaisaran.Jendral Mo Fuchen yang sudah berdiri tegak kembali maju beberapa langkah. Wajahnya masi
Tekanan yang menyebar dari tubuh Tian Moran belum juga mereda.Udara di depan gerbang kota Linglong terasa berat, seolah-olah ruang di sekitarnya ditekan oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Prajurit-prajurit kekaisaran yang berada di barisan depan bahkan mulai berkeringat dingin. Beberapa dari mereka menundukkan kepala tanpa sadar, berusaha menahan tekanan kultivasi yang tak mampu mereka lawan.Jendral Mo Fuchen berdiri beberapa puluh langkah dari gerbang. Ia telah berhasil menahan tubuhnya agar tidak mundur lebih jauh, tetapi kedua kakinya masih terasa berat seperti ditanam ke tanah.Tangannya yang menggenggam pedang sedikit bergetar.Bukan karena takut.Melainkan karena tubuhnya secara naluriah merasakan bahaya.Mo Fuchen mengerutkan kening dalam-dalam. Pikirannya berputar cepat, mencoba mengingat sesuatu yang samar di ingatannya.“Tekanan seperti ini… bukan milik kultivator biasa,” gumamnya dalam hati.Ingatan lama tiba-tiba muncul di benaknya.Beberapa waktu lalu, jaringan inte
Rombongan Kaisar Feng Zhuqu bergerak perlahan melintasi jalan utama yang mengarah ke Provinsi Guangli. Perjalanan panjang dari ibu kota telah memakan waktu beberapa hari, dan sebagian besar prajurit terlihat letih meskipun tetap menjaga formasi. Bendera kekaisaran berkibar di barisan depan, menjadi tanda jelas bagi siapa pun yang melihat bahwa penguasa tertinggi negeri itu sedang melakukan perjalanan.Menjelang senja pada hari keempat, tembok kota Linglong akhirnya terlihat di kejauhan.Kota itu dikenal sebagai pusat penting di wilayah provinsi Guangli. Jalur perdagangan dari utara dan selatan bertemu di sana, membuatnya selalu ramai oleh pedagang, prajurit, dan utusan dari berbagai daerah. Biasanya, begitu rombongan kerajaan mendekat, gerbang kota akan segera dibuka, para pejabat lokal bergegas keluar untuk menyambut, dan jalan utama akan dipenuhi warga yang ingin melihat sang kaisar.Namun kali ini tidak demikian.Gerbang kota Linglong tertutup rapat.Dua daun gerbang kayu raksasa y
Di dalam sekte Pedang Langit. Berita tenggelamnya kekaisaran Dinasti Yan oleh pemberontakan dan serangan monster sudah menyebar luas hingga menjadi topik para murid dan tetua sekte.Di aula Paviliun Pedang Giok, para tetua serta ketua sekte berkumpul dalam diskusi serius.Saat itu Huang Buren, pemimpin sekte Pedang Langit tampak terdiam namun ekspresinya serius. Dalam benaknya ia tak menyangka Dinasti Yan akan menemui akhir yang mengerikan."Ketua sekte, masalah ini sudah melewati batas. Dinasti Barat keterlaluan sekali dalam melancarkan serangan ke daratan timur ini. Sampai menggunakan sihir kegelapan hingga memanggil monster dari dunia lain. Benar-benar tak bisa diampuni." ucap tetua Hong Yun.Huang Buren berdiri dari kursinya, ia berjalan ke arah jendela paviliun dan menatap langit biru di kejauhan."Sekte Pedang Langit kita memiliki ikatan dengan Dinasti Yan. Tentu saja masalah ini tak bisa diabaikan begitu saja. Kirim beberapa murid dan tetua untuk menyelidiki situasi di istana k
Kota Linglong di provinsi Guangli bagaikan oase tenang di tengah badai kehancuran. Jauh dari neraka kehancuran, jalan-jalan batu yang rapi masih dipenuhi pedagang keliling dan warga yang beraktivitas seperti biasa. Pohon-pohon willow menjuntai lembut di tepi sungai kecil, angin sepoi membawa aroma bunga liar. Namun ketenangan itu retak sejak fajar menyingsing. Kabar kehancuran ibu kota kekaisaran menyebar lebih cepat dari api melalap jerami.Awalnya, tak seorang pun percaya. "Mustahil Dinasti Yan jatuh begitu saja," Kata para penduduk di kedai teh. Tapi ketika Long Huibong, memperketat penjagaan benteng—prajurit berzirah lengkap berpatroli dua kali lipat, gerbang kota ditutup rapat—kenyataan itu meresap seperti racun. Rumor bergulir liar di restoran pinggir jalan, di mana para pria bersantap mi panas sambil mendengarkan bisik-bisik kerumunan."Ini tak bisa dipercaya," kata seorang pandai besi berotot lebar, meletakkan mangkuknya dengan keras. "Bahkan jika Dinasti Barat menyerang ibu
Istana kekaisaran berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung. Langit di atas reruntuhan istana tertutup pusaran awan hitam pekat, pusatnya menganga seperti lubang raksasa tak berujung. Dari celah dimensi itu, monster-monster ganas berhamburan keluar bagai banjir.Mereka merayap ke segala arah, merobek dinding kota, menerkam siapa saja yang masih bernapas. Jeritan warga memenuhi udara, bercampur raungan haus darah monster yang tak pernah putus. Reruntuhan istana kini menjadi sarang iblis, api dan asap hitam menyala di puing-puing, menerangi mayat-mayat berserakan. Benteng ibu kota, benteng pertahanan terkuat Dinasti Yan, telah runtuh. Gerbang timur hancur berkeping-keping, jalan masuk kota dipenuhi darah prajurit yang bertumpuk. Kapten Wei tergeletak di antara mereka, pedangnya patah, dada robek oleh tombak. Para prajurit Dinasti Yan yang tersisa tercerai-berai, tanpa komando jenderal utama, tak ada perintah yang jelas. Sebagian bertarung mati-matian, ada pula yang lari ke gan







