Share

3. Kembali Ke Masa Lalu

Author: Murlox
last update Last Updated: 2025-07-12 00:49:56

"Tidak mungkin aku kembali ke lima tahun lalu?" gumamnya, suaranya serak masih shok. "Ini... ini tidak mungkin, kan?"

Ia berlari kembali ke arah kediamannya, hatinya berdebar tak karuan. Pintu gerbang Paviliun bUlu Ilahi, taman-taman, para pelayan yang berlalu-lalang—semua persis seperti lima tahun yang lalu.

Ia melihat dirinya di cermin di kamarnya. Wajahnya lebih muda, lebih kurus, bekas kelelahan dan noda hitam di bawah matanya masih sama seperti dulu. Ia adalah dirinya yang berusia dua puluh tahun.

Itu berarti Feng Longwei tidak mati. Ia telah kembali. Kembali ke masa lalu, lima tahun sebelum penghianatan Feng Jinan, lima tahun sebelum ia dikirim ke medan perang, lima tahun sebelum semua penderitaan itu. Sebuah kesempatan kedua. Regresi ke masa lalu.

"Surga mengasihaniku... Aku Feng Longwei tak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga ini." ucapnya dengan nada yang bergetar dalam ratapan kegembiraan.

Kali ini, Feng Longwei tidak lagi naif dan lemah seperti dulu. Setelah melalui kehidupan yang menyedihkan, api kemarahan dan tekad telah membakar jiwanya seketika.

Ia telah melihat kegelapan dunia, merasakan pahitnya pengkhianatan, dan mengerti betapa kejamnya takdir.

Wajah mereka yang menindasnya, seringai keji Feng Jinan yang menghianatinya, terukir jelas dalam ingatannya.

"Para bajingan sialan," geram Longwei, tangannya mengepal erat, tatapannya muram. "Aku akan mengingat ini. Semua penderitaan yang kalian sebabkan padaku. Kali ini, segalanya akan berbeda."

Tanpa sadar setelah memupuk tekad dalam dirinya, Longwei membangkitkan sesuatu yang tak akan pernah ia bayangkan sebelumnya. Sebuah antarmuka transparan muncul di depan matanya.

[Setelah melalui kehidupan yang dipenuhi penderitaan di kehidupan pertama, membangkitkan tekad kuat setelah terlahir kembali. Sistem Tekad Baja telah aktif!]

Suara mekanis tanpa emosi bergema di dalam benak Feng Longwei. Matanya terbuka sedikit karena terkejut. Beberapa informasi tentang sistem mengalir dalam pikirannya, membawa sensasi hangat dna dingin yang menyatu.

"Sistem!? Aku tak menyangka ada sesuatu seperti ini di dunia ini. Surga tak hanya memberiku kesempatan hidup, tapi juga kekuatan yang tiada tara!" seru Longwei antusias.

"Dengan begini, aku mungkin akan menjadi lebih kuat, berbeda dengan diriku yang dulu, lemah dan dianggap sebagai lelucon."

Kesempatan kedua dan berkah berupa sistem. Ia tidak akan lagi menjadi pangeran sampah yang mudah diinjak-injak. Ia tidak akan lagi menjadi korban dari segala penindasan dan penghianatan.

Kali ini, ia akan mengambil kendali atas takdirnya sendiri. Mengembalikan penderitaan yang dulu pernah ia rasakan kepada mereka yang pantas menerimanya.

Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana ia akan menggunakan kesempatan kedua ini? Haruskah ia membalas dendam segera, atau membangun kekuatannya secara diam-diam? Ia tahu ia harus belajar, menjadi kuat, dan membuktikan bahwa ia bukan lagi si lemah yang dulu.

Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Feng Longwei menatap bulan yang bersinar terang. Sebuah senyuman tipis, penuh tekad, terukir di bibirnya.

Sampah tak berguna yang baru saja kembali ke masa lalu, kini memiliki kesempatan untuk menulis ulang takdirnya. Dan kali ini, ceritanya tidak akan berakhir dengan kehancuran.

...

Fajar menyingsing, memercikkan rona keemasan di ufuk timur, namun di dalam kamar Longwei, remang-remang pagi masih setia mendekap. Perlahan, kelopak matanya terbuka.

Cahaya yang samar membelai pupilnya, sejenak ia tertegun seolah menyadari sesuatu, menatap langit-langit kayu yang sudah usang. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Setelah sekian lama… aku baru merasakan tidurku begitu nyenyak... Entah mengapa, rasa takut itu kini memudar. Mungkin itu yang membuatku bisa tidur setenang ini." gumamnya, suaranya serak namun dipenuhi kelegaan yang mendalam.

Jari-jemarinya yang kurus terangkat, menelusuri garis-garis kasar pada telapak tangannya.

Memang, sedari awal semenjak regresi, tidur adalah satu-satunya pelarian yang Longwei temukan. Setelah memejamkan mata sejenak, tanpa sadar dirinya tertidur lelap.

Namun malam ini berbeda. Tidak ada lagi mimpi buruk yang menjeratnya, ataupun bayangan keputusasaan yang menghantui. Hanya kegelapan yang damai, yang memulihkan jiwanya yang compang-camping.

Di hadapannya, sebuah antarmuka transparan berpendar, mengambang di udara seolah menyambut paginya yang tenang.

Sebuah desing singkat, mirip gema mekanis yang hanya bisa ia dengar, bergema di benaknya. Longwei tahu, hanya dia, sang pemilik takdir yang terpilih—yang dapat merasakan keberadaan sistem ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   154. Menunggu Jawaban

    Kata-kata itu langsung menimbulkan kegaduhan di antara prajurit kekaisaran.Beberapa orang bahkan saling berpandangan dengan wajah tidak percaya.‘Tuanku?’Istilah itu terasa sangat aneh.Mong Chuyun sedikit mengernyit.“Tuanmu?” ulangnya pelan.Ia mengingat informasi yang ia ketahui tentang kota Linglong.“Setahuku, kota ini berada di bawah komando Long Huibong,” ujar Mong Chuyun. “Dia adalah komandan garnisun kekaisaran di wilayah ini.”Ia menatap Tian Moran lebih dalam.“Apakah dia yang kau maksud?”“Jika benar begitu, maka tidak ada alasan bagi Long Huibong untuk menutup gerbang dan menahan rombongan kaisar di luar.”Namun reaksi Tian Moran membuat semua orang semakin bingung.Pria itu perlahan menggelengkan kepala.Satu gerakan sederhana.Namun dampaknya seperti batu yang dilempar ke tengah danau.Semua orang terdiam.“Kalau bukan Long Huibong… lalu siapa?” gumam salah satu perwira kekaisaran.Jendral Mo Fuchen yang sudah berdiri tegak kembali maju beberapa langkah. Wajahnya masi

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   153. Bukan Pengecualian

    Tekanan yang menyebar dari tubuh Tian Moran belum juga mereda.Udara di depan gerbang kota Linglong terasa berat, seolah-olah ruang di sekitarnya ditekan oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Prajurit-prajurit kekaisaran yang berada di barisan depan bahkan mulai berkeringat dingin. Beberapa dari mereka menundukkan kepala tanpa sadar, berusaha menahan tekanan kultivasi yang tak mampu mereka lawan.Jendral Mo Fuchen berdiri beberapa puluh langkah dari gerbang. Ia telah berhasil menahan tubuhnya agar tidak mundur lebih jauh, tetapi kedua kakinya masih terasa berat seperti ditanam ke tanah.Tangannya yang menggenggam pedang sedikit bergetar.Bukan karena takut.Melainkan karena tubuhnya secara naluriah merasakan bahaya.Mo Fuchen mengerutkan kening dalam-dalam. Pikirannya berputar cepat, mencoba mengingat sesuatu yang samar di ingatannya.“Tekanan seperti ini… bukan milik kultivator biasa,” gumamnya dalam hati.Ingatan lama tiba-tiba muncul di benaknya.Beberapa waktu lalu, jaringan inte

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   152. Rombongan Kaisar

    Rombongan Kaisar Feng Zhuqu bergerak perlahan melintasi jalan utama yang mengarah ke Provinsi Guangli. Perjalanan panjang dari ibu kota telah memakan waktu beberapa hari, dan sebagian besar prajurit terlihat letih meskipun tetap menjaga formasi. Bendera kekaisaran berkibar di barisan depan, menjadi tanda jelas bagi siapa pun yang melihat bahwa penguasa tertinggi negeri itu sedang melakukan perjalanan.Menjelang senja pada hari keempat, tembok kota Linglong akhirnya terlihat di kejauhan.Kota itu dikenal sebagai pusat penting di wilayah provinsi Guangli. Jalur perdagangan dari utara dan selatan bertemu di sana, membuatnya selalu ramai oleh pedagang, prajurit, dan utusan dari berbagai daerah. Biasanya, begitu rombongan kerajaan mendekat, gerbang kota akan segera dibuka, para pejabat lokal bergegas keluar untuk menyambut, dan jalan utama akan dipenuhi warga yang ingin melihat sang kaisar.Namun kali ini tidak demikian.Gerbang kota Linglong tertutup rapat.Dua daun gerbang kayu raksasa y

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   151. Kekhawatiran

    Di dalam sekte Pedang Langit. Berita tenggelamnya kekaisaran Dinasti Yan oleh pemberontakan dan serangan monster sudah menyebar luas hingga menjadi topik para murid dan tetua sekte.Di aula Paviliun Pedang Giok, para tetua serta ketua sekte berkumpul dalam diskusi serius.Saat itu Huang Buren, pemimpin sekte Pedang Langit tampak terdiam namun ekspresinya serius. Dalam benaknya ia tak menyangka Dinasti Yan akan menemui akhir yang mengerikan."Ketua sekte, masalah ini sudah melewati batas. Dinasti Barat keterlaluan sekali dalam melancarkan serangan ke daratan timur ini. Sampai menggunakan sihir kegelapan hingga memanggil monster dari dunia lain. Benar-benar tak bisa diampuni." ucap tetua Hong Yun.Huang Buren berdiri dari kursinya, ia berjalan ke arah jendela paviliun dan menatap langit biru di kejauhan."Sekte Pedang Langit kita memiliki ikatan dengan Dinasti Yan. Tentu saja masalah ini tak bisa diabaikan begitu saja. Kirim beberapa murid dan tetua untuk menyelidiki situasi di istana k

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   150. Bayangan Ancaman

    Kota Linglong di provinsi Guangli bagaikan oase tenang di tengah badai kehancuran. Jauh dari neraka kehancuran, jalan-jalan batu yang rapi masih dipenuhi pedagang keliling dan warga yang beraktivitas seperti biasa. Pohon-pohon willow menjuntai lembut di tepi sungai kecil, angin sepoi membawa aroma bunga liar. Namun ketenangan itu retak sejak fajar menyingsing. Kabar kehancuran ibu kota kekaisaran menyebar lebih cepat dari api melalap jerami.Awalnya, tak seorang pun percaya. "Mustahil Dinasti Yan jatuh begitu saja," Kata para penduduk di kedai teh. Tapi ketika Long Huibong, memperketat penjagaan benteng—prajurit berzirah lengkap berpatroli dua kali lipat, gerbang kota ditutup rapat—kenyataan itu meresap seperti racun. Rumor bergulir liar di restoran pinggir jalan, di mana para pria bersantap mi panas sambil mendengarkan bisik-bisik kerumunan."Ini tak bisa dipercaya," kata seorang pandai besi berotot lebar, meletakkan mangkuknya dengan keras. "Bahkan jika Dinasti Barat menyerang ibu

  • Kembalinya Sang Penguasa Dengan Sistem   149. Pelarian Dalam Kegelapan

    Istana kekaisaran berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung. Langit di atas reruntuhan istana tertutup pusaran awan hitam pekat, pusatnya menganga seperti lubang raksasa tak berujung. Dari celah dimensi itu, monster-monster ganas berhamburan keluar bagai banjir.Mereka merayap ke segala arah, merobek dinding kota, menerkam siapa saja yang masih bernapas. Jeritan warga memenuhi udara, bercampur raungan haus darah monster yang tak pernah putus. Reruntuhan istana kini menjadi sarang iblis, api dan asap hitam menyala di puing-puing, menerangi mayat-mayat berserakan. Benteng ibu kota, benteng pertahanan terkuat Dinasti Yan, telah runtuh. Gerbang timur hancur berkeping-keping, jalan masuk kota dipenuhi darah prajurit yang bertumpuk. Kapten Wei tergeletak di antara mereka, pedangnya patah, dada robek oleh tombak. Para prajurit Dinasti Yan yang tersisa tercerai-berai, tanpa komando jenderal utama, tak ada perintah yang jelas. Sebagian bertarung mati-matian, ada pula yang lari ke gan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status