로그인Sementara itu, suasana di Ordo Tempest justru berubah menjadi jauh lebih tegang.Tetua Eksel telah kembali dalam keadaan terluka. Setelah menemui Harland, ia menceritakan semua yang terjadi, termasuk kekuatan Nathan yang ternyata telah melampaui puncak Sovereign tingkat menengah.Mendengar laporan tersebut, wajah Harland seketika menggelap. Belum sempat mereka berbicara lebih jauh, seorang wanita bergegas masuk ke ruangan dengan wajah penuh kecemasan.“Eksel!” Tatapannya langsung tertuju kepada Tetua Eksel. “Aku dengar kau terluka. Separah apa lukamu? Bagaimana bisa kau sampai kalah dari anak muda itu?”Tetua Eksel menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Kakak Ipar.”Harland memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Sorot matanya semakin dingin ketika melihat betapa cemasnya sang istri terhadap Tetua Eksel, tetapi ia tetap menahan emosinya.Ia lalu mengambil sebuah pil berwarna hijau dari dalam wadah. “Minum ini. Elixir Pemurnian akan membantu menstabilkan kondisimu. Setelah itu, be
Nathan juga menghentikan langkahnya. Di hadapan mereka terbentang sebuah kerangka utuh yang memancarkan cahaya putih kebiruan dari dalam kegelapan laut. Cahaya itu begitu jelas hingga membuat tulang-tulang tersebut tampak seperti terbuat dari kristal.Nathan mendekat dengan hati-hati. Semakin dekat ia mengamati, semakin aneh pemandangan itu terasa. Kerangka tersebut benar-benar menyerupai tulang manusia, tetapi permukaannya bening dan berkilau seperti kristal yang dipoles.“Ini tulang manusia atau memang terbentuk dari kristal?” Bonang menyentuh salah satu bagian kerangka dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.Kerangka itu masih dalam keadaan lengkap. Tulang-tulang jari, lengan, kaki, hingga ruas tulang belakangnya terlihat jelas. Yang membuat mereka semakin bingung adalah keberadaan jasad tersebut di dasar laut dan cahaya yang terus terpancar dari setiap tulangnya.Nathan kemudian mengamati bagian tengkorak, ada sesuatu yang berbeda. Permukaan tengkorak itu dipenuhi garis-garis aneh y
Setelah berpamitan, Nathan meminta Rael dan Velisa kembali ke Ordo Sancta. Keduanya pun mengucapkan salam perpisahan kepada Haland sebelum Nathan, Bonang, dan Kieran bersiap meninggalkan Pulau Eron menuju Moniyan.Namun, baru beberapa langkah dari pulau, Nathan tiba-tiba berhenti. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di permukaan laut yang tenang, sebuah kilatan cahaya samar terlihat sesaat sebelum menghilang kembali.Nathan menyipitkan mata. “Bonang, lihat ke sana.”Ia menunjuk ke arah cahaya tersebut.Bonang mengikuti arah jarinya dan memandang permukaan laut cukup lama. “Apa yang harus kulihat?”“Kau tidak melihat cahaya yang berkedip di sana?” Nathan semakin heran.Bonang menggelengkan kepala. “Cahaya? Aku tidak melihat apa-apa.”Ia kemudian menoleh kepada Kieran. “Kieran, kau melihat sesuatu?”Kieran ikut memperhatikan arah yang ditunjuk Nathan, tetapi akhirnya menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”Bonang kembali menatap Nathan. “Sudah kubilang, kau mungkin salah lihat.”Namun Natha
Sementara itu, di pegunungan dekat pantai, pemimpin Tujuh Astral akhirnya berhasil mencapai daratan. Tubuhnya penuh luka dan napasnya tersengal-sengal, tetapi setidaknya ia berhasil lolos dari wilayah laut yang telah berubah menjadi medan pembantaian.Ia ingin segera kembali ke markas Ordo Astrum dan melaporkan satu hal kepada Osric. Kekuatan Nathan telah berubah jauh melampaui perkiraan mereka.Baru saja ia hendak melanjutkan perjalanan, beberapa sosok tiba-tiba muncul dan menghadang jalannya.Langkah pemimpin Tujuh Astral terhenti. Ia perlahan mengangkat kepala. Saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya, wajahnya seketika berubah pucat.“Da... Damian?”Ketakutan langsung terpancar dari sorot matanya.Pemimpin Ordo Ignis telah muncul tepat di hadapannya. Ordo Ignis menyimpan dendam terhadap Sembilan Pilar Agung sejak lama. Kini, setelah dirinya terluka parah dan terjebak sendirian di tempat terpencil, bertemu Damian beserta orang-orangnya jelas bukan pertanda baik.“Sebagai kartu
“Sudah sampai sejauh ini, kalian pikir masih bisa pergi?”Tatapan Nathan berubah dingin. Ia mengangkat satu tangan ke udara, lalu laut di hadapannya seketika bergemuruh. Gelombang raksasa setinggi lebih dari sepuluh meter bangkit dari permukaan air dan menghantam ke arah pasukan Ordo Astrum yang sedang berusaha mundur.Dalam hempasan gelombang itu, ribuan anak panah air terbentuk. Setiap anak panah dipenuhi Kekuatan Spiritual milik Nathan. Begitu tangannya turun, seluruh anak panah melesat bersamaan, memenuhi langit seperti hujan maut yang tak memberi celah untuk menghindar.Para anggota Ordo Astrum berusaha melawan. Namun, tidak peduli apakah mereka berada di Sovereign tingkat akhir, tak seorang pun mampu menahan serangan tersebut. Tubuh mereka ditembus satu demi satu, lalu jatuh ke laut tanpa sempat memberikan perlawanan berarti.Dalam hitungan detik, permukaan laut berubah merah oleh darah.Pemimpin Tujuh Astral menyaksikan semua itu dengan wajah pucat. Orang-orang yang dibawanya k
Nathan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangannya. Ujung jarinya bergerak ringan sebelum energi dahsyat ditembakkan bertubi-tubi, beradu dengan ribuan pancaran pedang tersebut.BANG! BANG! BANG!Ledakan berturut-turut mengguncang udara dan membuat permukaan laut bergolak hebat. Gelombang besar bermunculan di sekitar mereka, tetapi Nathan bahkan belum menghunus Pedang Aruna. Ia memilih menghadapi Tetua Eksel dengan tangan kosong.Tetua Eksel mempersempit tatapannya. Semakin lama pertarungan berlangsung, semakin jelas baginya bahwa pemuda di hadapannya bukan lawan yang bisa diukur dengan tingkat kultivasi biasa.“Hanya kemampuan seperti ini yang kau miliki?” Nathan menatapnya dengan senyum mengejek. “Berani-beraninya kau mengejarku demi membalaskan dendam.”Tanpa menunggu jawaban, Nathan merentangkan tangan kanannya ke permukaan laut. Air laut seketika terangkat.Seberkas air membubung ke udara dan berkumpul di telapak tangan Nathan sebelum memadat menjadi sebuah tombak panjan
Nathan mengerutkan kening. Tanpa zirah emasnya, dia menyambut serangan itu dengan tangan kanannya yang terkepal, cahaya keemasan yang suci berkilauan di atasnya."Pukulan Naga Penghancur!"BAAM!Sebuah ledakan dahsyat terjadi.Tubuh Sancho terdorong mundur beberapa langkah, tetapi Nathan terlempar
Saat penutup kepala itu tersingkap, yang terlihat bukanlah wajah seorang pahlawan atau master agung. Wajah itu kurus, dihiasi oleh bopeng-bopeng bekas penyakit atau luka lama, memberikan kesan seseorang yang telah melalui banyak kesulitan. Itu adalah wajah Bonang, pria yang sama yang pernah memberi
"Ketua Sancho," kata Kaidar dengan nada hormat yang dibuat-buat. "Saya kini ditugaskan secara khusus untuk membantu Anda. Saya adalah wakil ketua aliansi yang baru." Ia menunjukkan sebuah token giok putih yang mewakili statusnya.Malvin menatap tangan Kaidar yang terulur sejenak, lalu menjabatnya d
Sosok di kursi itu tertawa, suara tawanya terdengar terlalu keras, terlalu rapuh. "Ayah, Guru telah mencapai surga. Namun sebelum pergi, beliau mewariskan seluruh ilmunya padaku!" Ryuki bangkit, gerakannya kaku. "Lihat! Aku telah menembus tahap Villain! Sebentar lagi, Ayah, sebentar lagi! Tidak aka







