Share

Bab 174

Author: Imgnmln
last update publish date: 2024-05-15 22:14:19

“Wah, bukannya ini Nathan? Kapan kamu dibebaskan, bukankah kamu dipenjara?”

Mobil berhenti dan jendela mobil diturunkan, lalu seorang pemuda yang mengenakan anting-anting di telinganya menjulurkan kepala.

Orang ini adalah Leo, teman kuliahnya Nathan, saat kuliah keadaan ekonomi keluarga Leo juga lumayan, mereka punya sebuah pabrik kecil, dan setelah beberapa tahun lulus, dia terlihat semakin mapan.

“Nathan, kamu menghadiri acara reuni dengan berpakaian seperti ini, bukankah ini terlalu lusuh?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1950

    Begitu kalimat itu selesai terucap, tubuhnya kembali bergerak.WHOOSSHH!Kali ini kecepatannya bahkan lebih cepat dari sebelumnya. Lengan Severian berubah menjadi bayangan samar saat ia mengayunkan tangannya seperti bilah pedang. Celah ruang di depannya langsung bergetar. Tekanan tajam yang tercipta dari serangan itu memekik nyaring dan membelah udara menuju Nathan.Nathan tidak mundur, ia mengangkat tangan kanannya lalu merapatkan dua jari. Cahaya keemasan langsung berkumpul di ujung jarinya. Dalam sekejap, energi spiritual yang sangat padat berubah menjadi bilah cahaya memanjang seperti pedang sungguhan.Nathan mengayunkannya ke depan.DUUAAAR!Dua serangan yang terbentuk dari energi murni saling bertabrakan dan menghasilkan suara benturan logam yang memekakkan telinga. Percikan energi berhamburan ke segala arah.Namun pada detik berikutnya, wajah Severian sedikit berubah. Karena tebasan yang ia lepaskan ternyata hancur terlebih dahulu.Bilah energi milik Nathan menerobos pertahanan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1949

    “Pukulan Naga Penghancur!”BAAAANG!Nathan melayangkan pukulannya tanpa ragu. Energi yang terkumpul di tinjunya langsung berubah menjadi bayangan kepalan raksasa sebelum menghantam telapak tangan Severian dengan kekuatan penuh.DUUAAAARR!Ledakan dahsyat mengguncang seluruh kawah.Dinding batu di sekeliling mereka bergetar hebat seolah tak mampu menahan benturan itu, sementara gema ledakannya memantul berkali-kali hingga terdengar seperti ribuan petir yang meledak secara bersamaan.Orang-orang yang berada di atas refleks menutup telinga. Beberapa bahkan merasakan gendang telinga mereka berdengung keras.Gelombang kejut yang dihasilkan dari benturan tersebut melesat ke segala arah sebelum menghantam dinding kawah dan memantul kembali ke atas seperti gelombang tsunami tak kasatmata.Para ahli yang berdiri di bibir kawah langsung kehilangan keseimbangan. Mereka bahkan tidak sempat bereaksi sebelum tubuh mereka terlempar mundur. Sebagian menghantam bebatuan dengan keras hingga memuntahkan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1948

    Setelah beberapa saat, Severian menarik kembali kesadaran spiritualnya lebih dulu. Tatapannya terhadap Nathan berubah sedikit lebih serius. “Menarik…” Ia menyipitkan mata. “Tubuhmu memang berbeda dari manusia biasa, tetapi tetap saja mustahil seseorang seusiamu mencapai tingkat seperti ini melalui jalur normal.”Nathan tersenyum tipis. “Kalau begitu kita punya pendapat yang sama.”Mendengar itu, Severian mengangkat alis.Nathan melanjutkan, “Sekarang aku mengerti kenapa kau bersikeras bertarung di tempat ini.”Ia melirik lautan magma yang bergolak di bawah kawah. “Begitu meninggalkan tempat ini, bukan hanya kekuatanmu yang menurun. Tubuhmu juga akan kehilangan dukungan energi yang selama ini mempertahankan kondisimu.”Tatapan Nathan semakin tajam. “Dengan kata lain, kau bukan penguasa Solara yang tak terkalahkan. Kau hanya seekor harimau yang memilih hidup di dalam kandang.”“Sayangnya, dunia luar tidak mengetahui kenyataan itu. Kau hanya jago kandang.”Mata Severian berkilat dingin,

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1947

    Di antara kerumunan tersebut berdiri Seiji. Begitu melihat sosok Nathan muncul, wajahnya langsung menegang.Nathan pun sempat menoleh ke arahnya. Tatapan keduanya bertemu sepersekian detik.Tubuh Seiji langsung membeku. Jantungnya berdegup kencang ketika teringat kembali penghinaan dan kekalahan yang pernah dialaminya. Hampir tanpa sadar, ia melangkah mundur lalu bersembunyi di balik beberapa tokoh bela diri yang berdiri di dekatnya.Sementara itu, Nathan hanya tersenyum tipis sebelum mengalihkan pandangannya ke arah kawah.Orang-orang yang berdiri di bibir kawah menatap Nathan dengan ekspresi tercengang. Semakin mereka menyaksikan kemampuan pemuda itu, semakin sulit mereka mempercayai apa yang sedang terjadi di depan mata mereka.Mereka semua adalah tokoh penting dunia bela diri Solara dan bukan orang lemah. Untuk mencapai lokasi setinggi itu, hampir seluruh orang yang hadir harus menghabiskan energi besar sambil memanjat tebing curam yang mengelilingi kawah. Namun Nathan hanya membu

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1946

    Sejauh mata memandang, lereng Gunung Arjana dipenuhi manusia. Kerumunan itu begitu padat hingga tampak seperti gelombang hitam yang menutupi seluruh pegunungan.Di area bawah gunung, Valen telah berdiri siaga sejak lama. Pria itu terus melemparkan pandangannya ke arah koridor jalan masuk dengan ekspresi yang sangat tegang.Ketakutannya bukan didasari oleh kecemasan atas hasil pertarungan nanti, melainkan sebuah rasa ngeri jika Nathan memutuskan untuk tidak datang. Jika duel yang telah memicu histeria massal di seluruh Solara ini batal terlaksana hanya karena salah satu pihak melarikan diri, maka Valen dipastikan akan menjadi target utama dari pelampiasan amarah publik.Saat melihat kendaraan Nathan muncul dari kejauhan, bahunya akhirnya mengendur. Napas yang sedari tadi tertahan perlahan keluar. “Tuan Nathan, ternyata Anda benar-benar datang tepat waktu.”Nathan turun dari kendaraan lalu merapikan lengan bajunya sebelum tersenyum santai. “Aku selalu menghargai waktu, terlebih ketika h

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1945

    Haye yang baru memasuki ruangan melangkah maju dan menghentikan Valen. “Karena ini duel resmi, mengapa kalian yang menentukan waktu sekaligus lokasi? Waktunya boleh mengikuti keinginan kalian, tetapi tempat pertarungan seharusnya ditentukan oleh pihak kami.”Mendengar itu, sudut mata Valen berkedut. Dia tahu Severian tidak akan meninggalkan kawah Gunung Arjana. Jika lokasi duel dipindahkan, kemungkinan besar pertarungan tidak akan pernah terjadi.Karena itu dia segera mencoba memancing emosi lawannya. “Apa kalian takut pergi ke kawah Gunung Arjana?”Haye hendak membalas, tetapi Nathan lebih dulu mengangkat tangan. “Sudahlah, tidak perlu membuang waktu dengan permainan seperti itu.”Ia menatap Valen dengan tenang. “Waktu dan tempat tetap mengikuti keinginan kalian.”Kemudian Nathan melambaikan tangan dengan tidak sabar. “Sekarang pergilah.”Valen langsung merasa lega. Ia khawatir Nathan berubah pikiran, sehingga segera meninggalkan vila tanpa menunda satu detik pun.Setelah utusan itu

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1038

    “Lantas, tidak bisa naik ke atas juga?” ujar Beverly, terlihat sedikit kaget saat tirai cahaya itu muncul.“Beverly, mundurlah dulu. Aku akan memeriksanya,” pinta Nathan, tak mengetahui apa yang sedang terjadi, sambil perlahan mengulurkan tangan ke arah tirai cahaya itu. Saat telapak tangannya meny

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1004

    Zayn mendengar perkataan itu, matanya seketika menyala penuh harapan dan keteguhan. Dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, dia berkata. “Nathan, karena Tuan Sentinel sudah mengakui kesalahannya, lupakan saja, lagipula dia tidak berbuat apa yang menyakiti kita.”Tak satu pun dari mereka yan

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1032

    “Kalian berdua, maaf, tapi kalian yang tiba-tiba muncul dan membuatku tidak sempat mengerem,” Sopir itu segera meminta maaf, berusaha meredakan situasi.Namun, salah satu dari mereka tidak mau mengalah dan mendorong sopir taksi itu, sementara yang lainnya diam-diam mengamati Nathan yang masih berad

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1016

    Melihat pemandangan itu, raut wajah Nathan berubah serius. Otot-ototnya menegang, dan dia segera menyempurnakan kekuatan Naga Ilahi dalam dirinya. Cahaya keemasan yang menyelimuti tubuhnya pun semakin menyala, menandakan kesiapan untuk menghadapi serangan maut.“Nathan, kamu terlalu meremehkanku!”

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status