로그인Namun Nathan tetap terlihat santai. “Saya sudah bilang, itu hanya bantuan kecil.”Ekspresi Nathan nyaris tidak berubah sedikit pun saat berhadapan dengan Alaric. Hal itu justru membuat Alaric semakin sulit membaca dirinya.Jika Nathan benar-benar datang ke Solara demi membalas dendam, kenapa dia bisa setenang ini?Tatapan matanya sama sekali tidak menunjukkan kebencian ataupun niat membunuh. Tidak ada tekanan, maupun kemarahan tersembunyi. Semua terasa terlalu tenang.“Cukup basa-basinya,” suara Haye tiba-tiba terdengar dari sudut ruangan.Pria tua itu masih duduk sambil memegang botol anggur. “Alaric, aku tidak percaya kau datang jauh-jauh kemari hanya untuk mengucapkan terima kasih.”Matanya menyipit samar. “Katakan saja tujuanmu.”Kalimat itu langsung membuat suasana menjadi hening.Alaric tampak canggung sesaat. Jari-jarinya bergerak pelan di samping tubuhnya sebelum akhirnya dia menarik napas dalam-dalam.Setelah beberapa detik terdiam, ia akhirnya berbicara. “Tuan Nathan… Saya t
Tiga hari berlalu dalam sekejap.Selama tiga hari itu, Nathan dan Bonang hampir tidak melakukan apa pun selain menemani Haye minum alkohol sepanjang waktu.Bonang merebahkan tubuhnya sambil menghela napas panjang. “Nathan, sudah tiga hari, taktikmu yang katanya memberi rasa aman untuk mengendalikan situasi itu sepertinya gagal total.”Ia menoleh malas. “Alaric bahkan belum muncul juga.”Bonang benar-benar mulai bosan, lingkungan tempat tinggal Haye terlalu sederhana. Ditambah lagi tidak ada hiburan apa pun di desa itu. Yang paling membuatnya tersiksa, tidak ada wanita. Jika Seraphyne ikut datang, mungkin suasananya masih sedikit lebih hidup.Nathan sendiri mengernyitkan dahi. “Secara logika ini memang aneh,” ia menatap langit-langit rumah kayu. “Aku sudah menyelamatkan putrinya. Bagaimanapun dia pasti datang untuk berterima kasih.”Namun sampai sekarang, tidak ada kabar sedikit pun dari Keluarga Ryodan. Setelah terakhir kali mereka mengutus dua samurai untuk mengikuti dirinya, semuany
“Aku juga mendengar kau mengirim putrimu belajar di Northern,” nada suara Hugo semakin rendah. “Sepertinya kau sudah lupa darah apa yang mengalir di tubuhmu sendiri.”Jantung Alaric langsung berdebar keras, perasaan buruk mulai merambat naik.Dan benar saja—“Putrimu sudah tercemar,” tatapan Hugo berubah dingin tanpa emosi. “Dia harus dibawa ke Kuil Dewa Arwah untuk disucikan.”DUARRR—!Kalimat itu menghantam kepala Alaric Ryodan seperti petir. Tubuhnya menegang, wajahnya langsung pucat. Hal lain mungkin masih bisa dia terima.Kehilangan posisi kepala keluarga? Ia masih bisa menahannya.Namun mengirim Aveline ke Kuil Dewa Arwah, itu bukan sesuatu yang bisa dia terima begitu saja. Karena dia tahu lebih baik daripada siapa pun apa arti disucikan di tempat itu. Begitu seorang wanita masuk ke dalam kuil, maka hidupnya akan berakhir, ia tidak akan pernah kembali lagi.“Kakek, saya mohon pertimbangkan kembali—”“Cukup,” Hugo langsung memotongnya.Tidak memberi ruang sedikit pun untuk memban
Zeigan Morveth, master pedang yang telah mengasah tekniknya hingga mencapai tingkat kesempurnaan. Tidak ada seorang pun yang benar-benar mengetahui seberapa kuat dirinya. Dan selama puluhan tahun terakhir, ia selalu berada di sisi Hugo sebagai penjaga pribadinya.Keberadaan Zeigan inilah yang menjadi alasan mengapa Hugo tetap dianggap sebagai pilar utama Keluarga Ryodan meskipun usianya sudah sangat tua dan dirinya tidak lagi ikut campur dalam urusan keluarga. Selama Zeigan masih berada di sisinya, tidak ada seorang pun yang berani menggoyahkan posisi Hugo.Saat Alaric baru saja duduk, terdengar ketukan pelan dari luar.Tok.Pintu kayu perlahan terbuka.Aeron melangkah masuk, namun begitu melihat suasana di dalam ruangan, terutama ketika pandangannya jatuh pada Alaric, sorot matanya langsung berubah tipis. Ada keterkejutan sekaligus tekanan yang samar mengeras di wajahnya.“Kalian datang di waktu yang tepat, duduklah,” Hugo mengangkat tangan dengan tenang.Tidak ada yang berani memban
Namun detik berikutnya—“Aku ingin kau membawa Aveline kemari.”Senyum di wajah Seiji langsung membeku.Suasana ruangan mendadak sunyi.Beberapa detik kemudian, Seiji perlahan menutup kembali kotak kayu itu lalu melemparkannya kembali ke arah Raizen.Brak!Kotak kayu mendarat di meja.“Tuan Kedua…” Nada suara Seiji berubah dingin. “Saya tidak ingin ikut campur dalam konflik internal Keluarga Ryodan. Saya harap Anda mengerti batas itu.”Ia langsung berdiri. “Saya masih memiliki urusan lain, permisi.”Setelah berkata demikian, Seiji segera berbalik dan berjalan keluar tanpa memberi kesempatan Aeron untuk menahan. Ia memang tamak, namun bukan bodoh. Pertarungan perebutan kekuasaan dalam keluarga sebesar Keluarga Ryodan adalah jurang mematikan. Siapa pun yang ikut terlibat terlalu dalam akan berakhir menjadi korban.Melihat Seiji pergi terburu-buru, ekspresi Aeron langsung berubah muram. “Pengecut!”Brak!Tangannya menghantam meja. “Benar-benar pengecut tidak berguna.”Raizen mengerutkan
Hugo Ryodan memiliki satu keistimewaan yang bahkan tidak dimiliki Alaric sendiri. Ia dapat berhubungan langsung dengan Kuil Dewa Arwah. Sebagai kepala keluarga, Alaric sebenarnya hanya boneka pengelola di permukaan.Keluarga Ryodan memang berada di bawah perlindungan Kuil Dewa Arwah, tetapi bahkan dirinya sendiri hampir tidak pernah mendapat kesempatan memasuki kuil. Untuk menginjakkan kaki di sana saja terasa lebih sulit daripada mendaki langit.Namun Hugo berbeda. Pria tua itu bisa datang ke kuil kapan saja untuk bersembahyang, bahkan berbicara langsung dengan para petinggi Kuil Dewa Arwah. Itulah alasan mengapa pengaruhnya tidak pernah benar-benar hilang.Alaric langsung berdiri. “Aku tidak bisa terus menunggu,” tatapannya berubah tajam. “Siapkan mobil, kita pergi ke kediaman leluhur sekarang juga.”“Baik!”Para bawahan segera bergerak terburu-buru.Alaric tahu dirinya harus menemui Hugo sebelum Aeron berhasil mempengaruhi pria tua itu lebih jauh. Kalau tidak, semua yang telah ia b
“Ini bukan mimpi. Kita berada di dalam lukisan ini, yang dipenuhi dengan energi spiritual. Ke depannya, kita bisa berkultivasi di dalam lukisan ini,” suara Nathan terdengar dari belakang mereka, menambah rasa penasaran.“Nathan, sebenarnya apa yang sedang terjadi?” Sarah segera bertanya, wajahnya p
“Bisa membantu Martial Shrine merupakan kehormatan bagi Keluarga Farhon kami,” jawab Leorio sambil membungkuk dengan rendah hati.“Semuanya, ikuti aku dan berhati-hatilah!” Ging berkata lalu menambahkan kepada Leorio. “Leorio, ikutlah di sampingku. Jika ada apa-apa, beritahulah terlebih dahulu.” M
Beberapa menit kemudian, Manticore yang besar itu tergeletak tak berdaya, diserang habis-habisan hingga mati oleh beruang kutub."Ini ...." Mulut Squala ternganga lebar, tertegun melihat seekor beruang kutub mampu membunuh hewan buas yang sudah dia panggil."Polar, bagus sekali!" Sarah tersenyum, m
"Bagaimana, apakah serbuk dari bunga Amarilis sudah menyebar ke seluruh pulau?" tanya Squala kepada tiga pria bertopeng dan berjubah hitam itu."Tuan Muda Ryodan, serbuk bunga itu sekarang sudah menyebar ke seluruh pulau, tapi demi tidak menimbulkan kecurigaan mereka, kami tidak banyak menyebar ser







