Share

Kembang Api di Pengujung Malam
Kembang Api di Pengujung Malam
Author: Feisha

Bab 1

Author: Feisha
Melihat situasi itu, sahabatku, Chloe Hardana, ikut mendekat dan menggandeng lenganku. Wajahnya penuh rasa bersalah.

"Rosa, aku tahu kau nggak bisa menerimanya dalam waktu singkat. Tapi kau nggak bisa punya anak. Daripada melahirkan dari wanita lain, lebih baik biar aku saja."

"Kau pernah bilang, apa yang menjadi milikmu juga milikku."

"Sejujurnya, lima tahun lalu, pada malam setelah kau mengucapkan kata-kata itu, aku sudah bersama Evans."

Aku terpaku di tempat.

Lima tahun lalu, pada hari pernikahanku dengan Evans, Chloe hadir sebagai pendamping pengantin.

Di tepi pantai, kami pernah berjanji untuk saling menemani seumur hidup.

Saat itu, Chloe terlilit utang, aku dengan murah hati memberikan maharku untuk melunasi utangnya.

Dia berkali-kali menolak. Agar Chloe mau menerimanya, aku hanya bisa berkata bahwa apa yang menjadi milikku juga miliknya.

Tidak kusangka, malam itu juga dia justru tidur dengan pria yang paling kucintai.

Seluruh isi tubuhku serasa membeku. Aku sampai lupa bagaimana caranya aku pergi dari sana.

Lima tahun kebersamaan itu, kini terasa seperti sebuah lelucon.

Saat Evans pulang, rumah sudah berantakan.

Tidak terjadi pertengkaran seperti yang kubayangkan. Dia menghampiri, lalu memelukku seperti setiap kali kami bertengkar dulu, seraya membujukku lembut di telinga, "Ada yang terluka? Lihat dirimu, sudah sebesar ini masih seperti anak kecil saja."

Sambil bicara, Evans mengecup telingaku.

Sesaat, aku hampir mengira semua yang terjadi siang tadi hanyalah mimpi buruk.

Sekarang mimpi itu telah berakhir, kami kembali menjadi pasangan yang saling mencintai.

Namun, detik berikutnya, kata-katanya kembali menyeretku ke mimpi buruk itu.

"Chloe bilang beberapa malam ini bayinya terus rewel. Aku bakal pergi ke vila di utara kota buat menemani mereka berdua."

"Tenang saja, yang paling kucintai tetap kau. Chloe cuma ibu dari anakku, nggak lebih."

"Kalau kau benar-benar nggak bisa menerimanya, ke depannya kalian bakal tinggal berjauhan, satu di selatan dan satu di utara, tanpa saling mengganggu."

"Kenapa?"

Aku menatapnya dan berkata dengan penuh penekanan, "Kenapa pada hari pernikahan kita lima tahun lalu, kau tidur dengannya?"

Evans mengusap rambutku dan berkata lembut, "Awalnya cuma karena mabuk ...."

"Kemudian ... aku sadar, meskipun kalian sahabat, kalian benar-benar berbeda saat di ranjang. Kau terlalu kaku, Rosa."

"Kau juga suka sekali merajuk. Setiap kali selesai bertengkar denganmu, Chloe yang selalu menemaniku."

Saat mengatakannya, wajah Evans dipenuhi kenangan.

Pikiranku melayang ke tahun kedua hubungan kami. Saat itu, Evans mabuk sepulang dari jamuan bisnis. Pukul lima pagi, dia menolak beristirahat di hotel terdekat dan bersikeras meminta seseorang mengantarnya pulang.

Ketika kutanya alasannya, dia bilang dia takut tanpa sengaja bersentuhan dengan wanita lain saat mabuk.

Waktu itu Evans berjanji padaku bahwa seumur hidup ini dia hanya menginginkanku dan tidak akan pernah terlibat dengan wanita lain selain aku. Namun, sekarang, dia justru berselingkuh dengan sahabatku sendiri.

Memikirkan itu, hatiku begitu hancur. Aku bahkan lupa cara menangis.

Tiba-tiba ponsel Evans berdering.

Dia menatap layar yang menampilkan kata klien. Evans tidak langsung mengangkatnya, melainkan berkata kepadaku, "Sudahlah, kau sudah melampiaskan amarahmu. Kalau masih kesal, pergilah belanja. Chloe dan anak itu masih menungguku."

"Anak itu masih sangat kecil, dia nggak bisa tanpa ayah."

"Rosa, aku yakin kau juga nggak mau anak itu bernasib sepertimu, 'kan?"

Mataku membelalak marah.

Evans jelas tahu ayahku kabur dengan selingkuhannya saat aku berusia tiga tahun. Kehilangan kasih sayang ayah menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku. Namun, dia sengaja mengucapkan kata-kata yang menusuk seperti ini.

"Evans ... kita cerai saja."

Aku hampir mengerahkan seluruh tenagaku hanya untuk mengucapkan kalimat itu.

Namun, setelah mendengarnya, Evans justru tertawa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 8

    Sementara itu, Chloe terus dikurung oleh Evans di vila di utara kota.Adapun anak yang dulu begitu Evans anggap sebagai harta paling berharga, telah dia kirim ke luar negeri.Anak itu tidak bersalah, tetapi Chloe iya.Setiap hari, Evans menyiksa Chloe di vila itu dan membohonginya dengan mengatakan bahwa anaknya telah meninggal.Pada awalnya, Chloe masih berharap asisten pria itu akan kembali menyelamatkannya. Namun, setelah mengetahui bahwa pria tersebut telah berganti identitas dan menghilang tanpa jejak, Chloe pun benar-benar putus asa.Siksaan fisik dan batin yang terus-menerus membuat kondisi mental Chloe akhirnya terganggu.Saat aku melihatnya lagi, tubuhnya sudah kurus hingga nyaris tidak dikenali. Evans hanya menjatuhkan segelas teh, tetapi Chloe langsung merangkak menghampiri dan menjilat teh yang tumpah di lantai sampai bersih.Kemudian, dia mendongak dan tersenyum kepada Evans."Evans, lihat, aku sudah membersihkan lantainya sampai benar-benar bersih.""Bolehkan aku bertemu

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 7

    Baru tiga bulan yang lalu, dia bertubi-tubi menghancurkanku, bahkan hampir membuatku kehilangan nyawa. Bagaimana mungkin aku bisa begitu saja memaafkannya?Aku tanpa ragu langsung menutup pintu, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepadanya.Namun, Evans terus menunggu di depan pintu, sampai akhirnya paman yang pulang kerja melihatnya.Begitu mengenali wajah Evans, paman langsung bergegas menghampirinya dan memukulnya.Evans terjatuh ke tanah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tetapi dia masih keras kepala."Paman! Asal Rosa mau memaafkanku, sekalipun Paman memukuliku sampai mati, aku rela menerimanya!""Hari-hari tanpa Rosa membuat hidupku lebih buruk daripada kematian.""Tolong percayalah, aku benar-benar mencintai Rosa."Paman malas mendengarkannya dan langsung menyuruh orang mengusirnya.Beberapa hari berikutnya, Evans terus-menerus muncul di depan rumah, bahkan mencoba menggunakan kenangan masa lalu untuk meluluhkan hatiku.Setiap kali aku keluar rumah, dia langsung mengha

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 6

    Evans sangat ingin makan sup dan juga sangat merindukan Rosa.Rumah itu masih persis seperti tiga bulan lalu. Bahkan kotak pangsit yang belum habis pun masih tergeletak di sana.Setelah tiga bulan, permukaan pangsit itu sudah tidak lagi berbentuk jelas, tetapi isinya masih tampak menggembung.Seolah digerakkan oleh sesuatu yang tidak kasatmata, Evans melangkah maju dan mengambil satu pangsit.Ujung jarinya tiba-tiba terasa perih. Saat itulah dia baru melihat dengan jelas bahwa di antara pangsit yang sudah membusuk itu terdapat tumpukan pecahan kaca.Ternyata dulu Rosa tidak berbohong. Isian pangsit itu benar-benar berisi pecahan kaca.Namun, apa yang sudah dia lakukan?Dalam lamunannya, Evans seakan melihat Rosa berdiri tidak jauh darinya, dia tersenyum sambil berkata, "Evans, supnya sudah siap."Evans bergegas mendekat. Namun, yang diraihnya hanyalah kehampaan.Tiba-tiba wajahnya terasa basah dan gatal. Saat tangannya menyentuh pipi, Evans baru sadar telapak tangannya telah dipenuhi a

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 5

    Sepanjang perjalanan, yang dipikirkan Evans hanyalah bagaimana cara menghadapi Rosa.Namun, saat mendorong pintu vila terbuka, dia langsung terpaku.Yang menyambutnya adalah bau debu yang menyengat. Vila itu kosong melompong. Semua barang masih tertata seperti tiga bulan lalu. Bahkan, bercak darah di lantai pun masih tersisa.Rosa tidak ada di sini?Lalu, dia pergi ke mana?Tidak heran, meski asistennya sering melaporkan keadaan Rosa, dia tidak pernah sekali pun mengirim foto.Evans merasa dirinya seolah terjebak dalam kabut tebal.Dia mengeluarkan ponsel lalu menelepon asistennya."Sekarang juga. Detik ini juga. Datang ke vila di selatan kota."Meski asistennya sudah menyanggupi dengan patuh, Evans menunggu di vila dari siang hingga malam, tetapi bayangan asistennya pun tidak terlihat.Saat Evans menelepon lagi, yang terdengar hanya nada sibuk.Dia segera memerintahkan orang untuk melacak keberadaan asistennya, tetapi ternyata orang itu sudah naik pesawat menuju luar negeri setengah j

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 4

    Sesaat sebelum kesadaranku benar-benar lenyap, aku melihat sosok yang sudah bertahun-tahun tidak kutemui.Dia memelukku erat dengan wajah penuh kepedihan, lalu menggendongku keluar dari ruang rawat.Setelah sibuk sepanjang pagi, kondisi Chloe akhirnya berhasil distabilkan.Barulah Evans teringat pada Rosa yang tadi dia tinggalkan di ruang rawat.Dia mengusap pelipisnya dengan lelah.Awalnya, Evans mengira Rosa akan menerima keberadaan anak itu.Bagaimanapun, Rosa tidak bisa punya anak, dan Chloe adalah sahabatnya.Terlebih lagi, di lingkungan mereka, hal seperti ini bukan sesuatu yang aneh.Namanya juga laki-laki, wajar kalau tidak bisa menahan godaan.Lagi pula, dia juga tidak berniat menceraikan Rosa. Bahkan, Evans merasa sudah menemukan solusi yang sempurna, satu tinggal di utara, satu di selatan.Tidak disangkanya, Rosa bukan hanya menolak menerimanya, bahkan sampai meminta cerai.Omong kosong macam apa itu?Hanya karena Evans punya satu anak lagi, bukan berarti dia sudah tidak men

  • Kembang Api di Pengujung Malam   Bab 3

    Isian pangsit itu penuh dengan serpihan kaca.Setiap kali menelannya, tenggorokanku terasa seolah ditusuk ribuan jarum.Menahan rasa sakit yang luar biasa, aku memuntahkan pangsit itu lalu menatap Chloe."Menaruh serpihan kaca di dalam pangsit, apa ini yang kau sebut permintaan maaf?"Melihat wajahku yang penuh kesakitan, Evans menoleh ke arah Chloe dengan tatapan bingung.Air mata Chloe seketika jatuh.Tubuhnya melemas saat bersandar ke pelukan Evans."Aku nggak melakukannya ....""Evans melihat sendiri saat aku membuat pangsit itu. Mana mungkin ada serpihan kaca?""Rosa, aku benaran datang buat meminta maaf. Kenapa kau harus mengarang kebohongan murahan seperti ini buat memfitnahku? Apa benar kau baru bisa memaafkanku setelah aku dan bayiku mati?"Hanya dengan beberapa kalimat, Chloe berhasil membuat Evans langsung menjatuhkan vonis kepadaku."Rosa, kau benar-benar membuatku kecewa.""Hari ini, apa pun yang terjadi, kau harus meminta maaf pada Chloe."Pikiranku tiba-tiba melayang ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status