MasukDi distrik lampu merah yang gelap, sebuah tangan terulur menyelamatkan Ann dari jurang kehancuran—namun di baliknya tersembunyi luka lama dan niat yang tak sepenuhnya murni. Ann, seorang gadis yang kehilangan ingatan setelah menyaksikan ledakan mobil yang menewaskan orang tuanya, diculik dan dijual ke dunia kelam itu. Ia dibeli oleh Mikhael, pria brutal dari arena bawah tanah yang mengaku mengenalnya. Tapi Mikhael bukan lagi pria lembut dari masa lalunya—ia kini dingin, penuh kemarahan, dan dihantui dendam. Di tempat ini, tak ada keselamatan tanpa sesuatu yang harus dikorbankan. Saat Ann mencoba kabur dari jerat Mikhael, ia justru terperangkap lebih dalam dalam jaringan gelap perdagangan manusia, narkoba, dan misi rahasia militer di kawasan dunia bawah tanah. Di antara kebencian, ketakutan, dan harapan yang samar, tumbuh perasaan yang tak bisa mereka tolak—cinta yang lahir di tempat paling kelam.
Lihat lebih banyak“Siapa nama kamu tadi?”
“Yuna.”“Okey, Yuna. Ini seragam kerja kamu malam ini dan ini bayarannya. Ingat! Tidak boleh keluar dari ruangan itu sebelum jam empat pagi. Kalau ada yang grepe-grepe, layani saja, mereka orang berduit, tidak pelit, kamu butuh duit ‘kan?”Yuna mengiyakan seraya meneguk ludah saat mendapatkan puluhan titah dari perempuan bergincu merah. Orang-orang di sini memanggilnya dengan sapaan Mami. Tangan Yuna meraih bungkusan yang berisi kostum, juga meraih amplop berisi bayaran untuk pekerjaan nekatnya malam ini.“Ayo, cepat! Ganti baju kamu dan masuk ke ruangan itu.”Si Mami pergi, meninggalkan Yuna sendiri di dalam ruangan ganti. Hanya dia sendiri di sini. Yuna sudah terlambat. Perempuan pekerja lain sudah memulai pekerjaan mereka duluan di ruangan Club VVIP di lantai 25. Lantai teratas sebuah hotel bintang lima.Yuna mengernyitkan kening melihat kostum yang ia keluarkan dari bungkusan. Sebuah Mini dress berwarna merah, berbentuk baju pelayan di serial anime-anime m3-sum. Sangat terbuka dan ketat. Kostum itu dilengkapi bando berbentuk daun telinga kelinci yang mencuat tinggi, berwarna merah menyala, mengkilat-kilat diterpa cahaya.Yuna meremas amplop bayaran ke dada dengan erat, rasa gugup menyerang sebelum memulai pekerjaan. Jika tidak terdesak uang, dia tidak akan nekat menerima pekerjaan ini. Pekerjaan murahan kata sebagian orang.Setelah menata make up, memoles gincu tebal, dan mengenakan kostum minim seperti kostum f3-tish om om hidung belang, Yuna mengutuk dirinya di depan cermin. Dia terlihat konyol.“Seperti penari striptis,” rutuknya menghina penampilannya sendiri.Yuna keluar kamar ganti, berjalan terseok ulah sepatu berhak tinggi yang ia kenakan. Di ujung lorong, tepat di depan pintu berwarna perak metalik, dua penjaga bertubuh tegap dan besar menyambutnya.“Kode akses?” tanya salah satunya.“550196.”Yuna menjawab dengan lancar. Dia memilikinya dan sudah hapal. Kode angka itu adalah kode akses khusus bagi para pekerja yang akan masuk ke dalam ruangan Club.“Silahkan! Dan jangan membuat kericuhan di dalam,” pesan si Penjaga pintu. Yuna mengangguk gugup. Tidak mengerti akan maksud kata ‘kericuhan’ seperti apa yang akan ia perbuat di dalam.Yuna masuk ke dalam ruangan, disambut ruangan dingin dan lampu yang berkelap-kelip. Perempuan-perempuan muda berkostum sama dengannya berjalan dari meja ke meja menata minuman. Alunan musik lembut mengalun. Pria-pria berjas duduk di sofa, saling berbincang serius. Ruangan belum ramai, separuh sofa belum terisi.“Kamu Yuna? Yang gantiin Sisi? Kok lama amat, sih. Cepat layani para tamu!”Seorang pria bermake-up mencolok, berkemeja flamboyan warna biru mengkilap, menyambut Yuna dengan wajah menggerutu.“Maaf.” Yuna berucap lirih dan menunduk. Dia semakin gugup.“Cepat ke bar!” titah pria itu lagi. Gadis berusia 22 tahun itu mendekat ke bar, tersenyum kikuk pada pria yang sedang mengaduk minuman.“Anak baru?” sapa laki-laki itu ramah, mereka sebaya.“Iya, baru, tapi freelance, cuma seminggu, gantiin teman. Apa pekerjaanku?”Pria muda di balik bar menata Margarita, Long island, dan Koktail ke atas nampam.“Bawa ke meja paling ujung. Nomor 11, hati-hati, yah. Kalau ada yang lancang ganggu kamu dan kamu ngga suka, kamu bisa tolak baik-baik. Mereka di sini, bukan type pemaksa kalau ngga lagi sedang mabuk.” Yuna mengangguk paham. Si Bartender maklum pada Yuna yang masih baru.Sebelum menerima pekerjaan sebagai hostes di ruang Club VVIP, Yuna sudah tahu aturan main dan resikonya. Dia sudah menyiapkan nyali. Sisi, teman satu kost, pemilik asli pekerjaan ini, sudah memperingatkan Yuna tentang bagaimana genitnya dunia malam.“Sekali kau masuk, tempat itu akan menyeretmu semakin jauh ke dalam.” Demikan Sisi berpesan. Yuna menyanggupi segala resiko ketika tawaran pekerjaan itu diberikan. Dia bersedia menggantikan Sisi sementara, mendaftarkan diri ke agensi dan akan mengambil pekerjaan ini seminggu penuh untuk mengumpulkan uang.Sebenarnya, Yuna bukan perempuan pengganguran. Siang hari, dia memiliki pekerjaan lain, bekerja di sebuah perusahaan pinjaman online sebagai operator penagih utang. Sayangnya, gajinya tidak besar, tidak mencukupi jumlah uang yang sedang Yuna butuhkan.“Minumannya, Tuan.” Yuna menata minuman di meja nomor 11. Di sofa ada tiga orang berjas saling berbincang. Rerata berwajah serius dan berambut klimis. Mereka bukan kalangan biasa. Topik bahasan mereka tentang tender milyaran, Yuna sempat menguping pembicaraan.“Terima kasih, sayang.” Salah satu dari tiga pria berjas menyapa Yuna. Pria berusia 50 tahunan dan bersikap sopan.“Sama-sama, Tuan.” Yuna membalas dengan senyum ramah semampunya, lantas pamit pergi untuk melanjutkan pekerjaan.Yuna bisa bernapas dengan lega, ternyata tidak terlalu menakutkan di sini. Orang-orang di sini tidak lancang dan mereka dari kalangan berkelas. Meski berpakaian minim seperti ini, Yuna belum menemukan tanda-tanda akan mendapatkan pelecehan.Atau mereka belum terlalu mabuk untuk melakukan hal itu?Malam semakin larut, tamu-tamu berdatangan memenuhi ruangan. Musik yang disajikan mulai menghentak, atmosfer ruangan mulai panas. Para hostes yang satu profesi dengan Yuna mulai kelimpungan melayani tamu. Sebagian dari mereka bahkan tidak kembali lagi ke bar. Mereka sudah duduk tenang di sofa, menemani tamu dengan segala keramah-tamahan yang saru demi lembaran uang tip atau jika mereka beruntung akan dibawa ke kamar.Berbeda dengan Yuna, dia masih bolak-balik mengantarkan minuman ke beberapa meja. Menurutnya hal ini jauh lebih aman ketimbang tenggelam dalam dekapan pria. Bayaran menjadi hostes untuk mengantar minuman dan membantu memilihkan menu, sudah cukup bagi dirinya.Tepat di meja 18, perhatian Yuna terfokus pada tamu yang satu itu. Dia terlihat amat berbeda. Seorang pria berjas, duduk sendirian di sudut gelap. Masih muda, berparas serius dan … rupawan, menurut Yuna. Tamu itu memesan segelas air mineral dan soda, seperti sedang tidak berniat untuk mabuk. Yuna yang mengantarkan pesanannya.“Ini minumannya, Tuan.”Setelah meletakkan gelas, pria itu menyambar lengan Yuna dengan cepat, menariknya hingga menelusup ke dalam pelukan.“Awas!” Pria itu memerintahkan dengan tenang. Suaranya dalam dan penuh tekanan. Yuna tidak menolak pelukan itu sedikit pun, karena dia tahu, ini bukan tindakan cabul, melainkan, sesuatu yang benar-benar kacau sedang terjadi di ruangan ini.Yuna mendengar suara dobrakan keras di pintu masuk ruang VVIP, setelah suara dobrakan, suara lain menyusul, yaitu suara tembakan.Ruangan bergemuruh gaduh dengan tiba-tiba dan tanpa disangka. Ruangan yang tadi riuh dengan gelak tawa dan musik, kini menjelma menjadi medan perang. Musik dari turntable berhenti, berganti menjadi irama kematian. Suara peluru-peluru yang ditembakkan, gelas-gelas pecah, erangan kesakitan, pekikan perempuan ketakutan dan umpatan. Semua suara-suara mengerikan itu bersatu padu di dalam ruangan Club VVIP yang sudah kacau balau. Aroma mesiu menyeruak di seluruh penjuru ruangan. Asap mengepul dari api-api yang menjalar membakar sofa-sofa.“Sembunyi di bawah meja!” Pria itu kembali memberi titah. Yuna lepas dari pelukannya dan menelungkup di bawah meja berbahan stainless.Sementara sang pria asing masih dalam kondisi tegap dan serius. Tangannya menjurus menodongkan senjata ke arah asal peluru yang datang. Pistol ditembakkan. Suara timah panas mendesing-desing memekakkan telinga. Yuna mengucap-ngucap di bawah meja, keringat dingin menanti mautnya.Pria asing itu serius menembak, peluru juga menghujani lokasi mereka bersembunyi. Yuna semakin ketakutan. Sementara, si Pria asing mulai terdesak. Pelurunya nyaris habis. Dia akan melangkah keluar dari persembunyian untuk kabur mengelak, dan Yuna dengan cepat mencengkeram kaki pria itu untuk menahan.“Mas, tolong. Tolong saya, jangan tinggalkan saya.”Si pria menunduk, menatap Yuna lekat dengan manik cokelat gelap yang tajam. Dia meragu, berdebat dengan diri sendiri apakah akan menolong gadis malang ini.“Tolong, keluarkan saya dari sini.” Yuna memohon lagi. Matanya berkaca-kaca memohon belas kasihan.Setelah berdecak sedikit kesal dan menggelengkan kepala, pria asing itu akhirnya mengangguk setuju. Dia merentangkan tangan, Yuna masuk ke dalam pelukan. Tubuh tegap dan kekarnya menjadi perisai peluru untuk tubuh mungil seorang Yuna.“Apakah kita akan selamat keluar dari sini?” rintih Yuna bertanya dalam pelukan si pria setelah melihat ma yat-ma yat korban tembakan bergelimpangan di lantai club.Setelah makan, Ann dengan sigap membantu Mikhael membereskan piring-piring di meja. Mungkin karena ia terbiasa mengurus rumah, gerakannya lincah dan teratur ketimbang gerakan Mikhael yang tampak canggung. “Tidak perlu buru-buru. Sisanya serahkan padaku. Duduk saja di sana.” Mikhael memberi perintah dengan menunjuk sebuah sofa yang tak jauh dari tempat mereka makan. "Tidak apa-apa, kamu berjanji akan meminjamkanku telepon, jadi ini tidak masalah," Ann tersenyum sedikit gembira, tanpa tahu wajah Mikhael yang sudah berubah gelap di sampingnya. Gadis ini… selalu saja menemukan cara untuk mengucapkan kalimat yang membuatnya jengkel. Walaupun Mikhael tahu dia sendiri yang menjanjikannya, tetapi mengucapkan selalu lebih mudah daripada menepatinya. Dan dia sama sekali tidak berniat meminjamkan telepon sialan yang diharap-harapkan gadis itu. “Kamu benar-benar tak sabar menelepon polisi agar mereka segera menjemputmu, ya?" Kata-katanya sarat akan sarkasme. Dingin. Menyesakkan. Mikhael
Ann terbangun perlahan. Kelopak matanya terasa berat, seperti baru saja menyeberangi mimpi buruk yang terlalu panjang. Ia menggeliat pelan, dan baru sadar bahwa dirinya kini tidak lagi berada di dalam mobil. Tubuhnya didekap erat dan ditutupi oleh jaket hitam yang hangat. "Sudah bangun?" Suara berat Mikhael membawanya kembali ke kenyataan. Mikahel menggendong Ann, mereka menaiki tangga yang cukup panjang. Menuju bagian atas rumah yang tersembunyi ini. Mereka masuk ke kamar dengan pintu besi tebal, seperti sel penjara. Dindingnya dipenuhi senjata—senapan, pistol, peluru. Semua yang selama ini Ann hanya lihat di film. Mikhael meletakkannya di kasur sebelah kanan, lembut tapi berdebu, kasur lembut yang sedikit berdebu karena sudah lama pemiliknya tidak kembali ke sini setelah melakukan pertandingan di area bawah tanah. "Ada banyak orang yang ingin membunuhku." Dia melanjutkan "kau tahu? harga kepalaku sangat mahal, kau bisa mencoba membunuhku lalu menjualnya, maka kau bisa
Kendaraan Jeep itu melaju cepat di jalanan yang mana aktivitas ilegal bukan lagi rahasia, melainkan rutinitas harian. Mereka melaju menembus malam, Deretan bangunan tua, lampu neon kelap-kelip, dan suara bising pasar gelap menjadi latar yang perlahan tertinggal di belakang, tergilas kecepatan. "Menunduk!" Mikhael dengan cepat membanting stirnya ke kanan, gang sempit yang setidaknya cukup untuk mobil jeep ini meneruskan pelarian dari kejaran. Suara tembakan terdengar dari belakang, semakin dekat dengan mereka seiring mobil melaju. Tembakan-tembakan itu terus meyebabkan dentuman logam menghantam bodi mobil— juga dinding-dinding yang tak bersalah. Dia menerobos taman, memaksa pejalan kaki melompat menghindar. Orang-orang berteriak, berlarian, dan beberapa jatuh terguling. Terutama para pemabuk yang baru menginjakkan kaki keluar dari kasino, Mikhael hanya bisa menyalahkan atas ketidakberuntungan mereka sendiri. Gas dipacu untuk berlari lebih laju, Mikhael mencengkeram setir seperti
Lampu kristal berkerlap-kerlip di langit-langit, memantulkan cahaya emas ke meja-meja judi yang dipenuhi chip dan rokok. Musik jazz tua mengalun di latar belakang, berpadu dengan suara dentingan mesin slot dan sorak rendah para penjudi. Di tengah keglamoran kotor itu, suasana terasa berat—karena semua orang di sini membawa senjata, atau membawa dosa yang cukup untuk mengubur hidup mereka sendiri. Mikhael duduk di meja VIP pojok, jauh dari keramaian. Ia menyandarkan tubuh ke sofa kulit hitam dengan malas sambil tangannya memegang kartu-kartu yang menentukan menang—kalahnya. Dengan tangan kiri yang masih memiliki perban, Mikhael melempar dua kartu ke tengah meja. “Flush. Sekop.” ucapnya sedikit bersemangat. Pria di sebelah kirinya mendecak, melempar kartunya ke meja. “Bajingan…” "Aku akan pergi dan kembali lagi ketika pertarungan minggu depan," Mikahel berbicara dengan seorang pria di sebelahnya. "Kamu membelinya? apa yang terjadi tiba-tiba?" "Tidak ada, hanya bosan." "


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.