Share

Bab 3

Author: Yeni
Saat aku bangun tidur, rumah masih kosong.

Di ponsel ada pesan dari Vincent:

[Sayang, hari ini terlalu sibuk, cutinya batal. Jangan marah. Besok seberapa pun sibuknya aku akan menemanimu. Aku sudah siapkan hadiah, tunggu aku pulang.]

Namun, tepat di bawah pesan itu, ada foto yang dikirim Claudia satu jam yang lalu.

Foto mereka berdua di tepi kolam air panas, senyumnya menyilaukan.

Aku menggenggam ponsel, nyaris meneleponnya untuk bertanya, sebenarnya dia sibuk bernegosiasi atau sibuk menemani adik angkatnya.

Namun, mengingat rencanaku sendiri, akhirnya aku menahan amarah dan membalas, [Baik].

Kalau dia tidak pulang, itu justru memudahkanku berkemas.

Semua pakaian pemberian Vincent aku kemasi rapi, bersiap untuk disumbangkan ke kawasan kumuh.

Foto-foto bersama yang tergantung di dinding aku lepas dan masukkan ke mesin penghancur. Seratus kartu kecil berisi harapan yang pernah aku tulis untuknya juga aku ambil dan kubakar di balkon hingga menjadi abu.

Keesokan harinya, Vincent akhirnya pulang.

Saat melihatku, dia segera meletakkan kue di tangannya, membuka kedua lengan dan menghampiriku. "Capek sekali, Bella. Perlu pelukan buat isi tenaga."

Dengan tenang aku mundur selangkah, pelukannya pun jatuh ke udara.

Vincent mengangkat alis. "Masih marah? Sudahlah, aku bawa kamu buat lihat kejutan yang kusiapkan."

Belum sempat aku bicara, dia sudah menarikku masuk ke mobil.

Mobil melaju hingga ke sirkuit latihan balap. Saat aku masih bingung, dia menarikku turun.

"Suka?"

Vincent menunjuk mobil di hadapanku.

Itu sebuah Ferrari pesanan khusus, bodinya ditempeli berlian merah muda berkilau hingga membuat mata silau.

Di samping mobil berdiri sekelompok orang berbicara dengan nada penuh iri.

"Katanya modifikasi mobil ini hampir menelan 200 miliar, royal banget orangnya."

"Mahal itu nggak ada artinya. Kalian nggak tahu, berlian di atasnya ini ditempel satu per satu oleh bos kami, Vincent, sampai hampir kena radang kornea."

"Nyonya, cepat coba. Setelah selesai, pinjami kami juga. Tuan benaran manjain Nyonya."

Aku menarik sudut bibir, menampilkan senyum mencela diri sendiri.

Semua orang bilang dia memanjakan istrinya, tetapi siapa yang benar-benar menjadi "istri" di hatinya?

Cinta Vincent memang membara bak musim panas, tetapi panas itu tidak pernah hanya tertuju padaku.

Emosi yang tertahan berhari-hari seakan menemukan jalan keluar saat ini.

Aku duduk di kursi pengemudi, menginjak pedal gas hingga mentok. Ferrari merah muda melesat seperti anak panah.

Aku melaju gila mengitari lintasan, melampiaskan semua kepahitan, amarah, dan ketidakrelaan dalam raungan mesin.

Vincent berdiri di pinggir lintasan, tersenyum tipis, matanya menatapku tanpa berkedip.

Pada putaran keempat puluh, aku melihat Vincent membentuk tanda hati ke arahku. Dalam sekejap aku lengah dan setir tak terkendali. Ferrari menghantam pagar pembatas dengan suara "dug".

Jari kakiku terasa perih. Belum sempat aku sadar, Vincent sudah berlari menghampiri, membuka pintu, dan menggendongku ke ruang istirahat.

"Sakit nggak?" Dia mengerutkan kening sambil mengangkat kakiku dengan hati-hati. Kapas beroles antiseptik dia usapkan perlahan ke luka. "Salahku karena biarin kamu mengemudi selama itu."

Gerakannya begitu lembut seolah takut memecahkan kaca, rasa khawatir di matanya begitu pekat.

Namun, aku hanya merasa sekujur tubuhku dingin, juga merasa sedikit mual.

Ternyata cinta memang bisa diperankan sedemikian nyata.

Vincent yang melihatku melamun pun meraih pergelangan tanganku dan menunduk hendak menciumku.

Saat itu, pintu ruang istirahat didorong terbuka dengan keras.

Tanpa mengangkat kepala, Vincent meraih botol air mineral di meja dan melemparkannya ke arah pintu.

"Keluar!"

Aku menoleh. Di ambang pintu berdiri Claudia.

Baru saat itu Vincent melihat jelas wajahnya, rautnya berubah. "Claudia? Kok kamu datang?"

Claudia menutup dahi yang memerah terkena lemparan, menggigit bibir dengan wajah memelas. Pakaiannya berlumur noda tanah, terlihat sangat berantakan.

"Aku datang ambil kursi bayi pesanan khusus. Aku capek jalan, lalu mampir istirahat. Maaf, aku sudah ganggu kalian!"

Dia pun berbalik dan lari keluar dengan emosi runtuh.

Vincent terdiam beberapa detik, lalu dengan cepat mengecup pipiku. "Aku akan melihat lukanya, beberapa menit saja. Aku di dekat pintu. Kalau ada apa-apa, panggil aku."

Dia pun membawa kotak P3K dan pergi, bahkan tidak meninggalkan satu plester pun untukku.

Beberapa menit berlalu. Aku perlahan membuka pintu. Di luar kosong, mana ada yang katanya "di dekat pintu".

Rasa kecewa di hatiku hanya berkilat sesaat sebelum aku tekan kembali.

Seharusnya sejak awal aku sudah menebaknya, bukan?

Aku bersandar pada dinding, terpincang-pincang berjalan menuju Ferrari itu.

Aku sangat menyukai mobil ini. Melihat langit akan hujan, aku ingin memarkirkannya ke garasi.

Namun saat mendekat, aku tiba-tiba berhenti.

Suara percakapan samar bocor dari celah jendela mobil yang tidak tertutup rapat.

Di kaca jendela belakang terpantul dua bayangan yang bertumpuk. Vincent mengernyit sambil merawat luka Claudia dengan hati-hati.

Bodi mobil berguncang, Claudia dengan berani duduk di pangkuan Vincent.

Dengan sabar Vincent menahan tangan Claudia yang bergerak. "Jangan main-main, kamu baru melahirkan. Selain itu, ini mobil Bella .... "

"Nggak apa-apa, aku sudah pulih … sudah dua bulan … kamu nggak mau tahu rasanya di bawah sana?"

Tidak lama kemudian, napas Vincent menjadi terputus-putus.

Bunyi-bunyi ambigu itu terbawa angin keluar. Aku seperti terpaku di tempat, seluruh darahku membeku.

Kunci mobil di tanganku jatuh ke tanah dengan bunyi "klang".

Aku pun tersentak sadar dan ingin kabur. Namun, orang-orang di dalam mobil sama sekali tidak menyadari keributan di luar.

Aku tertawa, dengan tawa yang lebih buruk daripada tangisan.

Melirik bodi mobil yang masih berguncang, aku membungkuk mengambil kunci dan melemparkannya ke selokan di samping.

Saat Vincent mendorong pintu ruang istirahat, aku masih duduk mempertahankan posisiku tadi.

Dia menghela napas lega, menarik kerah bajunya, lalu berlutut di hadapanku. "Bella, ayo pulang."

Aku menunduk dan tepat melihat bekas merah yang masih segar di sisi lehernya.

Anehnya, di dalam hatiku sama sekali tidak muncul gejolak sedikit pun.

Aku tidak membiarkannya menggendongku. Dengan bertopang dinding aku berjalan terpincang ke mobil. Saat membuka pintu penumpang depan, aku melihat Claudia duduk di kursi pengemudi.

Vincent segera menjelaskan, "Claudia akan ikut pulang. Dia baru dapat SIM, biar dia latihan di ruas ini. Kemampuan mengemudimu lebih baik dariku, temani di samping dan beri arahan, ya?"

Belum sempat aku menyetujui, Vincent sudah mendorongku ke kursi penumpang depan.

Kalau aku tahu SIM Claudia dibeli, apa pun yang terjadi aku tidak akan naik ke mobil ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 19

    "Balap mobil? Salju setebal ini bagaimana bisa balapan? Lagian kamu sudah hampir membeku kaku, apa benar masih punya tenaga untuk menyetir?"Hal yang dipikirkan Vincent itu adalah balap mobil.Aku sangat mencintai balap mobil, jika dia bertanding melawan Alex dan menang, apakah aku akan memberinya satu kesempatan?Vincent menatapku dengan mantap, meski seluruh tubuhnya tidak berhenti gemetar."Aku akan bertanding melawan Alex. Kalau aku menang, bisa nggak kamu kasih aku satu kesempatan?"Aku mengucapkan dua kata dengan tenang, "Nggak akan."Vincent tertawa mengejek diri sendiri. "Meski nggak akan, aku tetap ingin bertanding. Bella, mau nggak kamu jadi navigatorku? Anggap saja ini sebagai hadiah terakhir untukku."Aku sudah mulai agak marah, karena Alex tidak bisa balapan mobil.Namun, tidak disangka, Alex justru menjawab "baiklah" dengan tegas.Aku menatapnya dengan heran. "Jangan dipaksakan kalau nggak bisa, ini nggak akan ubah apa pun. Aku nggak akan tanggung jawab kalau terjadi sesu

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 18

    Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari samping.Vincent melihat ke arah sumber suara, lalu membuka mulutnya karena terkejut."Alex, kok kamu ada di sini?"Alex merangkul bahuku. Saat dia merasa aku tidak memberontak, dia mempererat genggamannya."Aku ini tunangannya, kenapa aku nggak boleh ada di sini?"Begitu kata-kata itu terucap, Vincent seketika merasa seperti tersambar petir, otaknya berdengung hebat sampai tidak bisa mendengar suara apa pun. "Tunangan? Mana mungkin? Bella ... kok bisa dia jadi tunanganmu?"Matanya memerah, bibirnya gemetar.Aku menarik tangan Alex dan mengangkat tautan jemari kami ke depan wajah Vincent."Kenapa nggak mungkin? Aku belum pernah nikah dan belum punya anak, apa sulit menerima kenyataan kalau aku punya tunangan?"Bibir Vincent bergumam tidak jelas, matanya dipenuhi dengan rasa tidak percaya.Perkataanku seperti pisau tumpul yang menusuk jantungnya.Jakunnya naik-turun. "Nggak boleh, aku nggak izinkan. Aku mencintaimu, kamu cuma boleh jadi milikk

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 17

    Tidak peduli bagaimana Vincent berteriak memanggil dari belakang, mobil itu sama sekali tidak melambat, malah melaju makin kencang hingga cepat berubah menjadi titik hitam di kejauhan.Setelah bayangan di kaca spion benar-benar menghilang, barulah Alex perlahan menurunkan kecepatan mobil.Aku meliriknya dengan curiga. "Kenapa hari ini kamu ngebut begitu? Mau cepat-cepat renkarnasi lagi?"Alex tidak menanggapi ucapanku, malah tiba-tiba bertanya, "Kalau Vincent datang mencarimu, menangis menyesal dan minta balikan, kamu bakal setuju?"Alisku langsung mengerut, rasanya seperti mendengar sesuatu yang menjijikkan, tapi aku tetap menjawab serius, "Nggak akan, sampai mati pun nggak akan."Setiap kali mengingat apa yang pernah Vincent lakukan padaku, tubuhku terasa dingin sampai aku sering terbangun di malam hari.Alex menangkap ketegasan di mataku, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis.Namun, ekspresi kecil itu tidak luput dariku. "Kok kamu tanya gitu? Kamu mimpiin dia?

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 16

    Malam itu, Alex menyisir semua hal tentang Vincent dan Claudia, lalu menyusun rencana terperinci sebelum fajar.Dia sebenarnya bisa langsung membawaku pergi, tetapi aku berkata, "Kalau begitu, dia akan terus mengejar seumur hidup."Dia pun menahan diri dan menyusun langkah demi langkah.Saat itu barulah dia tahu, fondasi Keluarga Kora jauh lebih dalam dari dugaannya.Dia berpura-pura akan menjalin pernikahan dengan Claudia untuk mengalihkan perhatian, padahal diam-diam menyiapkan orang agar bisa membawaku pergi jauh.Namun, dia tetap datang terlambat.Saat dia menemukanku, kedua kakiku rusak parah akibat kecelakaan. Aku tidak bisa melanjutkan usaha keluarga dan tidak bisa lagi mengendarai mobil kesayanganku.Saat itu aku seperti kehilangan jiwa, tatapanku kosong dan menakutkan.Syukurlah, dia menarikku kembali dari tepi kematian.Dia membawaku ke pusat rehabilitasi terbaik, menemaniku menggenggam setir lagi, menyaksikan aku perlahan menemukan cahaya.Setelah perawatan, meski aku mendap

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 15

    [Sudut Pandang Bella]Tiga tahun kemudian.Di kamp pelatihan balap mobil terbesar di Kota Calabria, sedang diadakan kompetisi balap tiga tahunan.Seluruh keluarga mafia di Atala akan berpartisipasi.Di area istirahat, beberapa pelatih berambut pirang dan bermata biru sedang mengobrol santai sambil menghadap ke arah lapangan latihan."Sudah dengar belum? Kali ini ada orang hebat dari Sisilia. Dalam tiga tahun, dia sudah menyapu bersih semua gelar juara domestik. Ini pertama kalinya dia bertanding ke luar negeri, banyak orang bertaruh dia akan menang, tapi menurutku dia biasa saja.""Pembalap dari Sisilia? Kalau begitu, nggak boleh dianggap remeh."Pelatih tinggi lainnya berdecak, "Jangan lupakan pelatih wanita yang datang dari Sisilia itu. Kudengar dalam tiga tahun dia sudah melatih lima juara wanita, benaran bikin malu kita para pelatih pria."Fransiska yang berdiri di samping mendengar percakapan itu, dia tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu berbalik kembali ke area istirahat t

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 14

    "Febri! Ini balasan untukmu!"Claudia berpegangan di ambang jendela, menatap Febri terjepit di bawah pilar sambil tertawa nyaring penuh keputusasaan.Usai berkata demikian, dia bertumpu pada kedua tangan dan melemparkan diri keluar jendela.Saat dingin rumput membungkus tubuhnya, dia terbaring sambil tertawa hingga berlinang air mata. Dia merasakan euforia karena lolos dari maut.Sementara itu, ruangan itu bersama Febri segera dilahap api yang menjulang.Namun, baru saja bahagia, efek obat menyerang dan dia pingsan.Saat membuka mata lagi, dia mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Dia pun mengembuskan napas lega saat mendapati dirinya masih hidup. Namun detik berikutnya, nyeri hebat bergulung dari dalam tubuhnya.Seperti ada nyeri tumpul yang berdenyut dari dalam sumsum tulang, hanya bergerak sedikit saja rasanya sakit sampai seperti mau mati.Dia memanggil dokter dengan lemah, seorang perawat segera masuk.Claudia menarik napas dalam-dalam, suaranya serak, "Sakit banget … to

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status