Share

Bab 4

Author: Yeni
Saat mobil itu tiba-tiba melaju dengan tidak stabil, jantungku seakan melompat ke tenggorokan.

Aku mengulurkan tangan untuk merebut setir, tetapi Claudia mendorongku dengan kasar.

"Lepasin kalau kamu nggak mau mati!" peringatku dengan suara keras.

Claudia benar-benar tidak melepaskan tangannya sedikit pun, dan dia menginjak pedal gas sedalam mungkin.

Suara dentuman keras dan suara Vincent terdengar secara bersamaan.

"Bella!"

Aku menahan rasa sakit yang menusuk di kaki, berusaha menjawab teriakan itu.

"Vincent ... aku di sini ...."

Terdengar suara gemeresik di sampingku, tetapi setelah sekian lama tidak ada yang menjawabku.

Aku berusaha keras membuka mata, penglihatanku kabur karena darah, tapi aku hanya melihat mobil itu sudah kosong.

Hanya tersisa aku sendirian.

Orang yang tadi meneriakkan namaku itu tidak menyelamatkanku.

Saat kesadaranku mulai tenggelam, aku jatuh ke dalam mimpi.

Bermimpi tentang tahun itu ketika Vincent mengejarku hingga ke Kanada.

Aku ditahan dan tidak dilepaskan oleh atasanku saat itu, lalu dengan mata memerah Vincent bersikeras ingin balapan liar taruhan mobil dengan orang lain. Kalau menang, dia akan membawaku pergi.

Aku duduk di kursi penumpang sebagai navigator, tetapi kecelakaan tetap terjadi. Dia tidak bisa mengendalikan tenaga saat melakukan drift, dan mobil menembus pagar pembatas lalu berguling ke bawah jurang.

Dalam kekacauan itu, dia mempertaruhkan nyawa untuk mendekapku dalam pelukannya. Dia tidak melepaskan tangan meski tubuhnya bersimbah darah, hingga akhirnya mobil terhenti di tepi jurang, hampir saja terjatuh.

Dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorongku keluar.

Namun, dirinya sendiri ikut merosot bersama badan mobil yang hancur, setengah tubuhnya menggantung di luar tebing, hampir saja hancur berkeping-keping.

Tim penyelamat mengangkatnya, dia pun berbaring lemah di pelukanku. Dalam keadaan tidak sadar dia masih ingat untuk membawaku pulang ke negara asal.

"Bella, mereka cuma mau kamu menghasilkan uang, tapi aku ingin kamu aman .... Kelak betapa pun bahayanya, aku akan ... akan selalu melindungimu, ikutlah denganku, ya?"

Baru saja aku ingin setuju, gambaran itu tiba-tiba terdistorsi dan berubah bentuk.

Aku tersentak bangun.

Begitu membuka mata, aku sudah berada di rumah sakit.

Orang di samping tempat tidur segera menggenggam tanganku. "Bella, kamu sudah sadar!"

Perawat yang mengganti obat juga ikut tersenyum. "Anda akhirnya sadar, Pak Vincent menjaga Anda sehari semalam sampai matanya merah. Kami yang melihatnya ingin jadi adiknya agar bisa merasakan kasih sayang seperti itu."

Aku sedikit bingung. "Adik?"

"Benar, bukannya Anda adiknya Vincent?" Perawat itu berkata sambil merapikan barang-barang, "Tadi pagi istri Vincent juga datang menjenguk Anda, istrinya menangis tersedu-sedu dan berpesan agar aku segera memberitahunya begitu Anda sadar."

Prang! Suara gelas pecah terdengar, Vincent langsung meremukkan gelas di tangannya, dia melotot tajam ke arah perawat itu.

Perawat itu terkejut, dia terdiam dengan canggung dan bergegas pergi.

Aku juga benar-benar tersadar karena suara itu, kepingan ingatan yang hancur tiba-tiba menyatu kembali.

Punggung Vincent yang menjauh sambil menggendong Claudia, serta saat aku yang hampir mati mengulurkan tangan meminta tolong, namun diabaikan olehnya seolah aku tidak ada.

Aku menatap Vincent, kepanikan di matanya tidak bisa disembunyikan.

Aku menarik sudut bibirku, suaraku rendah dan serak, "Nggak ingin menjelaskan sesuatu?"

Vincent tertegun sejenak, lalu terburu-buru menggenggam tanganku. "Bukan begitu Bella, ini sebuah kesalahpahaman .... Saat itu kondisi Claudia juga sangat buruk, makanya aku ...."

"Baiklah, aku percaya kamu."

Aku memotong ucapannya, tidak terdengar emosi sedikit pun dalam nadaku.

Sisa kata-kata Vincent pun tertahan di tenggorokannya.

Dia mengira aku akan menangis, mengamuk, atau bertanya dengan suara keras mengapa dia menyelamatkan Claudia lebih dulu, dan mengapa dia membiarkan orang lain salah paham tentang hubungan kami.

Namun, aku tidak melakukannya, aku tenang seperti genangan air mati.

Dia membuka mulutnya, matanya penuh dengan rasa bersalah, ingin mengatakan sesuatu lagi.

Namun, aku memejamkan mata. "Aku mengantuk."

Dia menggenggam tanganku cukup lama, hingga akhirnya berkata, "Bella, ini semua salahku, seharusnya aku nggak biarkan Claudia menyetir, aku sudah memarahinya. Kalau kamu marah, kamu boleh memukul atau memaki aku, jangan dipendam di dalam hati."

Aku menarik tanganku dengan dingin, nada bicaraku tidak membawa emosi apa pun.

Aku benar-benar mengantuk.

Vincent seketika panik, perasaan kehilangan yang tidak bisa digenggam itu seperti lubang hitam yang ingin menghisap seluruh dirinya.

Namun, sebelum dia sempat mengucapkan penyesalan yang pantas, dia dipanggil keluar oleh dokter yang datang memeriksa ruangan.

Dia pun pergi sambil menoleh ke belakang berkali-kali.

Setelah dia pergi, mataku tiba-tiba memerah.

Hanya saja kali ini, tidak ada lagi air mata yang bisa jatuh.

Hatiku mungkin sudah mati sejak saat aku menyadari bahwa Vincent membohongiku.

Aku mengangkat tangan untuk mengusap sudut mataku yang kering, aku hanya ingin tidur nyenyak, lalu saat bangun nanti aku akan meninggalkan pria ini.

Baru saja memejamkan mata, tempat tidur di sebelah mulai berisik karena pertengkaran.

"Nangisin apa kamu!" Suara seorang wanita terdengar membentak. "Kakak di ranjang sebelah itu seorang pedagang senjata, sekarang kakinya patah dan nggak akan bisa menyetir lagi selamanya, dia saja nggak nangis. Kamu cuma terkilir, apa yang perlu diratapi!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 19

    "Balap mobil? Salju setebal ini bagaimana bisa balapan? Lagian kamu sudah hampir membeku kaku, apa benar masih punya tenaga untuk menyetir?"Hal yang dipikirkan Vincent itu adalah balap mobil.Aku sangat mencintai balap mobil, jika dia bertanding melawan Alex dan menang, apakah aku akan memberinya satu kesempatan?Vincent menatapku dengan mantap, meski seluruh tubuhnya tidak berhenti gemetar."Aku akan bertanding melawan Alex. Kalau aku menang, bisa nggak kamu kasih aku satu kesempatan?"Aku mengucapkan dua kata dengan tenang, "Nggak akan."Vincent tertawa mengejek diri sendiri. "Meski nggak akan, aku tetap ingin bertanding. Bella, mau nggak kamu jadi navigatorku? Anggap saja ini sebagai hadiah terakhir untukku."Aku sudah mulai agak marah, karena Alex tidak bisa balapan mobil.Namun, tidak disangka, Alex justru menjawab "baiklah" dengan tegas.Aku menatapnya dengan heran. "Jangan dipaksakan kalau nggak bisa, ini nggak akan ubah apa pun. Aku nggak akan tanggung jawab kalau terjadi sesu

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 18

    Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari samping.Vincent melihat ke arah sumber suara, lalu membuka mulutnya karena terkejut."Alex, kok kamu ada di sini?"Alex merangkul bahuku. Saat dia merasa aku tidak memberontak, dia mempererat genggamannya."Aku ini tunangannya, kenapa aku nggak boleh ada di sini?"Begitu kata-kata itu terucap, Vincent seketika merasa seperti tersambar petir, otaknya berdengung hebat sampai tidak bisa mendengar suara apa pun. "Tunangan? Mana mungkin? Bella ... kok bisa dia jadi tunanganmu?"Matanya memerah, bibirnya gemetar.Aku menarik tangan Alex dan mengangkat tautan jemari kami ke depan wajah Vincent."Kenapa nggak mungkin? Aku belum pernah nikah dan belum punya anak, apa sulit menerima kenyataan kalau aku punya tunangan?"Bibir Vincent bergumam tidak jelas, matanya dipenuhi dengan rasa tidak percaya.Perkataanku seperti pisau tumpul yang menusuk jantungnya.Jakunnya naik-turun. "Nggak boleh, aku nggak izinkan. Aku mencintaimu, kamu cuma boleh jadi milikk

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 17

    Tidak peduli bagaimana Vincent berteriak memanggil dari belakang, mobil itu sama sekali tidak melambat, malah melaju makin kencang hingga cepat berubah menjadi titik hitam di kejauhan.Setelah bayangan di kaca spion benar-benar menghilang, barulah Alex perlahan menurunkan kecepatan mobil.Aku meliriknya dengan curiga. "Kenapa hari ini kamu ngebut begitu? Mau cepat-cepat renkarnasi lagi?"Alex tidak menanggapi ucapanku, malah tiba-tiba bertanya, "Kalau Vincent datang mencarimu, menangis menyesal dan minta balikan, kamu bakal setuju?"Alisku langsung mengerut, rasanya seperti mendengar sesuatu yang menjijikkan, tapi aku tetap menjawab serius, "Nggak akan, sampai mati pun nggak akan."Setiap kali mengingat apa yang pernah Vincent lakukan padaku, tubuhku terasa dingin sampai aku sering terbangun di malam hari.Alex menangkap ketegasan di mataku, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis.Namun, ekspresi kecil itu tidak luput dariku. "Kok kamu tanya gitu? Kamu mimpiin dia?

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 16

    Malam itu, Alex menyisir semua hal tentang Vincent dan Claudia, lalu menyusun rencana terperinci sebelum fajar.Dia sebenarnya bisa langsung membawaku pergi, tetapi aku berkata, "Kalau begitu, dia akan terus mengejar seumur hidup."Dia pun menahan diri dan menyusun langkah demi langkah.Saat itu barulah dia tahu, fondasi Keluarga Kora jauh lebih dalam dari dugaannya.Dia berpura-pura akan menjalin pernikahan dengan Claudia untuk mengalihkan perhatian, padahal diam-diam menyiapkan orang agar bisa membawaku pergi jauh.Namun, dia tetap datang terlambat.Saat dia menemukanku, kedua kakiku rusak parah akibat kecelakaan. Aku tidak bisa melanjutkan usaha keluarga dan tidak bisa lagi mengendarai mobil kesayanganku.Saat itu aku seperti kehilangan jiwa, tatapanku kosong dan menakutkan.Syukurlah, dia menarikku kembali dari tepi kematian.Dia membawaku ke pusat rehabilitasi terbaik, menemaniku menggenggam setir lagi, menyaksikan aku perlahan menemukan cahaya.Setelah perawatan, meski aku mendap

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 15

    [Sudut Pandang Bella]Tiga tahun kemudian.Di kamp pelatihan balap mobil terbesar di Kota Calabria, sedang diadakan kompetisi balap tiga tahunan.Seluruh keluarga mafia di Atala akan berpartisipasi.Di area istirahat, beberapa pelatih berambut pirang dan bermata biru sedang mengobrol santai sambil menghadap ke arah lapangan latihan."Sudah dengar belum? Kali ini ada orang hebat dari Sisilia. Dalam tiga tahun, dia sudah menyapu bersih semua gelar juara domestik. Ini pertama kalinya dia bertanding ke luar negeri, banyak orang bertaruh dia akan menang, tapi menurutku dia biasa saja.""Pembalap dari Sisilia? Kalau begitu, nggak boleh dianggap remeh."Pelatih tinggi lainnya berdecak, "Jangan lupakan pelatih wanita yang datang dari Sisilia itu. Kudengar dalam tiga tahun dia sudah melatih lima juara wanita, benaran bikin malu kita para pelatih pria."Fransiska yang berdiri di samping mendengar percakapan itu, dia tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu berbalik kembali ke area istirahat t

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 14

    "Febri! Ini balasan untukmu!"Claudia berpegangan di ambang jendela, menatap Febri terjepit di bawah pilar sambil tertawa nyaring penuh keputusasaan.Usai berkata demikian, dia bertumpu pada kedua tangan dan melemparkan diri keluar jendela.Saat dingin rumput membungkus tubuhnya, dia terbaring sambil tertawa hingga berlinang air mata. Dia merasakan euforia karena lolos dari maut.Sementara itu, ruangan itu bersama Febri segera dilahap api yang menjulang.Namun, baru saja bahagia, efek obat menyerang dan dia pingsan.Saat membuka mata lagi, dia mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Dia pun mengembuskan napas lega saat mendapati dirinya masih hidup. Namun detik berikutnya, nyeri hebat bergulung dari dalam tubuhnya.Seperti ada nyeri tumpul yang berdenyut dari dalam sumsum tulang, hanya bergerak sedikit saja rasanya sakit sampai seperti mau mati.Dia memanggil dokter dengan lemah, seorang perawat segera masuk.Claudia menarik napas dalam-dalam, suaranya serak, "Sakit banget … to

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status