Share

Bab 32

Author: MXXN
last update Last Updated: 2025-08-28 09:02:42

Pak Karyo melangkah menuju cermin kecil di kamarnya, merapikan kemeja putih yang diberikan Bu Maya padanya. Jari-jarinya yang kasar mengancingkan kancing terakhir dengan hati-hati. Jantungnya berdegup kencang, lebih keras dari biasanya. Malam ini berbeda. Bukan lagi di hotel dengan Bu Maya yang setengah sadar -kali ini mereka akan melakukannya di rumah, dengan Bu Maya yang sepenuhnya sadar.

"Iki wes wayae, Karyo. Ojo gupuh." (Ini sudah saatnya, Karyo, Jangan gugup.) Dia berbisik pada bayangannya di cermin, menyisir rambutnya yang mulai beruban dengan jari-jarinya.

Tangannya turun ke celananya, merasakan gundukan yang sudah mulai terbentuk hanya dengan membayangkan Bu Maya. Matanya yang indah, kulitnya yang halus, suara desahannya di hotel kemarin. "Sopo sing ngiro wong lanang koyo aku iso ngeloni wong wedok sugih koyo Bu Maya." (Siapa yang sangka lelaki seperti aku bisa n1dur1n perempuan kaya seperti Bu Maya.)

Senyum kecil muncul di wajahnya, tapi seketika
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 38

    Kuat banget, pikir Maya sambil merasakan tangan kasar itu membalikkan tubuhnya dengan mudah. Irwan... nggak pernah bisa kayak gini. Perbandingan yang muncul tanpa sengaja itu membuatnya semakin basah. Tubuhnya kini telentang, rambutnya terurai berantakan di bantal. Pak Karyo menindihnya dengan tubuh berotot yang berkilau oleh keringat, satu tangannya masih mencengkeram rambut Maya di dekat kulit kepala, sementara tangan lainnya menekan bahu wanita itu ke kasur, menahannya tetap di tempat."Emang majikan suka ya, dientot pembantunya?" Pak Karyo semakin berani, semua kepatuhan formal yang biasa dia tunjukkan semakin memudar. Dia menekan tubuh Maya ke kasur dengan satu tangan di tengkuknya—tidak menyakiti, namun jelas menunjukkan siapa yang kini mengendalikan situasi."Ah! Jangan... ngomong gitu..." Maya protes lemah, tapi tubuhnya justru semakin bereaksi. Pinggulnya bergerak liar menyambut setiap dorongan. Tangannya yang tadinya mencoba mendorong dada Pak Karyo kini

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 37

    Ronde kedua jauh lebih intens. Maya bisa merasakan perubahan dalam sikap Pak Karyo—tidak lagi ragu atau menahan diri seperti sebelumnya. Tangannya yang kasar mencengkeram pinggang Maya lebih kuat, matanya menatap langsung tanpa sikap menunduk yang biasa terlihat. Setiap gerakan tubuhnya menunjukkan kepercayaan diri yang tumbuh setelah pengalaman mereka di hotel."Rupane pas lagi ngrasakne enak... bedho tenan karo pas ngongkon-ngongkon aku." (Wajahnya waktu lagi merasakan kenikmatan... beda banget sama waktu nyuruh-nyuruh aku.)Pak Karyo mengamati bagaimana bibir Maya yang biasanya terkatup rapat saat memberi perintah kini terbuka, mengeluarkan desahan-desahan yang membuatnya semakin bergairah."Pengen weruh dheweke ngaku... ngaku nek kontolku luwih apik... ojo mung desah tok." (Pengen lihat dia mengaku... mengaku kalau kontolku lebih bagus... jangan cuma desah aja.)Sesuatu dalam dirinya haus akan pengakuan—tidak hanya reaksi tubuh, tapi pengakuan

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 36

    Maya bisa merasakan tekstur lembut namun keras, dan aroma khas yang kini tepat di depan hidungnya. Campuran cairan mereka yang lengket terasa hangat di bibirnya yang masih terkatup, sedikit asin ketika tanpa sengaja menyentuh ujung lidahnya. "Nanti Bu Maya saya puasin lagi," Pak Karyo terus membujuk, satu tangannya kini membelai rambut Maya dengan gerakan yang hampir sayang. "Kontolnya saya masukin lagi... penuhin rahim Bu Maya... bikin Bu Maya hamil...." "Omongan soal meteng pancen manjur." (Omongan soal hamil emang manjur.) Pak Karyo tersenyum dalam hati melihat perubahan di mata Maya saat dia menyebut kata "hamil". Seperti sihir, kata itu selalu berhasil mengubah keraguan menjadi tekad. Frasa terakhir itu membuat Maya tersentak. Hamil. Ya, itu tujuannya. Untuk itu dia rela melakukan semua ini. Untuk itu dia membiarkan Irwan terluka. "Yuk, Bu," Pak Karyo terus menggesekkan keja

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 35

    Ruangan itu dipenuhi aroma khas pasca bercinta—campuran keringat, parfum Maya yang mahal, dan aroma maskulin Pak Karyo. Napas keduanya masih terengah, tubuh mereka lengket oleh peluh dan cairan yang mengering. Maya terbaring dengan mata setengah terpejam, seluruh tubuhnya masih bergetar oleh sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia alami. Otaknya masih berkabut, seperti orang yang baru tersadar dari mimpi indah yang terlalu nyata.Pak Karyo masih berada di atasnya, tubuhnya yang kekar menghalangi cahaya lampu di langit-langit. Bulir-bulir keringat menetes dari dahinya, jatuh ke dada Maya yang naik turun mencoba menenangkan napasnya. Matanya mengamati wajah Maya yang memerah, rambut berantakan, dan bibir bengkak—bukti dari ciuman-ciuman kasar yang baru saja mereka bagi. Sebuah perasaan bangga membuncah dalam dadanya."Wis tak gawe puas tenan, Bu Maya sing ayu. Saiki awakmu wis dadi duwekku." (Sudah kubuat puas betul, Bu Maya yang cantik. Sekarang tubuhmu sudah jadi m

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 34

    Maya menggigit bibir, tidak sanggup menjawab. Matanya terpejam, pinggulnya bergerak mencari kontak lebih. Dia memikirkan Irwan yang sekarang ada di bawah, mungkin bisa mendengar suara mereka. Perasaan bersalah bercampur dengan hasrat membuat dadanya sesak. Tapi tubuhnya sudah tidak peduli lagi. Yang diinginkannya hanya sentuhan Pak Karyo.Pak Karyo tersenyum melihat reaksi majikannya, menikmati bagaimana wanita berpendidikan tinggi ini sekarang mengegila tak berdaya di bawahnya. Dengan satu gerakan tegas, Pak Karyo mendorong masuk. Tidak pelan-pelan seperti di hotel, tapi langsung dalam dan penuh. Maya tersentak, matanya terbuka lebar, mulutnya membentuk 'O' sempurna. Sensasi disisi sepenuhnya dalam sekali hentak membuat seluruh tubuhnya gemetar."Sempit banget. Opo tek'e Pak Irwan cilik tho, nganti awakmu rapet koyog ngene?" (Sempit banget. Apa punya Pak Irwan kecil ya, sampai kamu rapat kayak gini?)Maya mencengkeram seprai dengan kedua tangannya, tubuhn

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 33

    "Kenapa Bu Maya pilih yang ini?" tanyanya, meremas payudara Bu Maya lebih kuat, merasakan puting yang mulai mengeras di balik kain tipis itu. "Lingerie yang belum dicuci, masih ada bekas kita kemarin..." Jarinya di bawah sana menekan lembut, membuat Maya tersentak. "Bu Maya suka ya... baunya? Suka inget apa yang kita lakuin?"Maya menelan ludah, mencoba mengendalikan napasnya yang semakin pendek. Tangan Pak Karyo di payudaranya terasa begitu dominan, sementara jari di bawah sana mulai menggoda lebih intens."Se-sebenarnya..." Maya akhirnya bersuara, suaranya nyaris berbisik. "Ini... ini satu-satunya lingerie yang aku punya."Pak Karyo berhenti sejenak, matanya menatap Maya dengan terkejut.Masa? Wong wedok sugih koyo ngene mung duwe siji?Dia mengendurkan cengkeramannya sedikit."Cuma punya satu?" Alisnya terangkat. "Istri orang kaya kayak Bu Maya cuma punya satu lingerie?"Maya menunduk, malunya semakin dalam. "A-aku...

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status