Share

Bab 94

Author: Waterverri
last update Huling Na-update: 2025-09-18 17:54:24

Saat pelayan datang dengan ramah menawarkan tiramisu atau panna cotta sebagai hidangan penutup, mereka saling bertatapan, senyum terukir di bibir keduanya, lalu kompak menggeleng sopan.

"Sudah cukup, Mas. Grazie, kata Irwan pada pelayan, matanya tidak lepas dari Maya. Rasanya memang sudah cukup manis malam ini, tidak perlu tambahan lagi.

Mereka berjalan keluar restoran menuju tempat parkir valet, bergandengan tangan. Langkah mereka terasa lebih ringan, lebih sinkron, seolah beban tak kasat mata yang biasa mereka pikul sedikit terangkat malam itu.

Mobil melaju pelan menembus jalanan Jakarta yang masih ramai meski sudah hampir tengah malam. Lampu-lampu kota berkilauan seperti bintang-bintang buatan, menerangi wajah Maya yang bersandar nyaman di kursinya. Tangan Irwan sesekali meraih tangan Maya di antara perpindahan gigi, menggenggamnya sejenak sebelum kembali ke kemudi.

Setibanya di rumah, mereka berjalan beriringan memasuki kamar tidur. Tanpa banyak bicara, mereka berganti pakaian dan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 507

    Air mata mulai mengalir di pipinya. Jari-jarinya mencengkeram ujung daster tidurnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih."Aku ngerti... aku wis ngerti sampeyan kudu... nglakoni karo Bu Maya ning ngarep Pak Irwan," Ratih terisak pelan, suaranya tersendat-sendat. "Aku wis nerima kuwi... wis ikhlas... mergo butuh kanggo masa depane Dani... tapi iki... iki..." (Aku mengerti... aku sudah mengerti kamu harus... melakukan dengan Bu Maya di depan Pak Irwan. Aku sudah menerima itu... sudah ikhlas... karena butuh untuk masa depan Dani... tapi ini... ini...)Ratih menggelengkan kepalanya kuat-kuat, rambut panjangnya yang terurai berayun liar. Matanya sekarang memancarkan campuran rasa jijik dan pengkhianatan."Aku dudu barang, Mas! Aku dudu boneka!" suaranya mendadak meninggi, sebelum dia cepat-cepat menutup mulutnya sendiri, teringat Dani masih tidur di sampingnya. "Aku bojone sampeyan. Aku ibune anake sampeyan. Dudu... dudu...

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 506

    "Gusti Allah..." Ratih akhirnya berbisik, suaranya serak dan lelah. "Iki mau... koyo ora sampeyan biasane." (Tadi... seperti bukan kamu yang biasanya.)Karyo menatap langit-langit kamar, dadanya masih naik turun cepat. "Opo maksudmu?" tanyanya, meski ia tahu persis apa yang dimaksud istrinya.Dengan usaha yang terlihat menyakitkan, Ratih membalikkan tubuhnya, meringis sedikit merasakan sensitivitas yang masih tersisa. "Aku nganti... pira mau? Lima kali? Enem?" Matanya menyipit curiga. "Sampeyan ngombe jamu, to?" (Aku sampai... berapa tadi? Lima kali? Enam? Kamu minum jamu, kan?)Karyo terdiam sejenak. "Ora," jawabnya jujur."Mboten ngapusi kulo, nggih?" (Tidak membohongi saya, kan?) tanya Ratih lagi, kali ini dengan bahasa Jawa yang lebih halus."Ora, Tih." Karyo menggeleng. "Pancen... Aku butuh ngrasakne iki. Ngrasakne nek aku isih... biso." (Memang... Aku butuh merasakan ini. Merasakan kalau aku masih

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 505

    Ratih tersentak saat jari-jari Karyo menemukan kelembabannya, memainkan dengan ketepatan yang membuatnya terkesiap. "Mas—ahh!""Ssst!" Kini gantian Karyo yang memperingatkan, matanya melirik ke arah Dani yang masih tertidur. "Ora nganti Dani tangi." (Jangan sampai Dani bangun.)Tubuh Ratih melengkung saat jemari Karyo mempermainkannya, menggodanya dengan ritme yang semakin cepat hingga napasnya terputus-putus. Ratih mencengkeram seprai, matanya terpejam rapat, bibirnya digigit kuat-kuat menahan suara."Mas... Mas... aku—" bisik Ratih terputus-putus sebelum tubuhnya menegang. Gelombang pertama menghantamnya, membuatnya gemetar dan menahan jeritan dengan menggigit bantal.Karyo tersenyum puas, matanya berkilat dalam keremangan. Tanpa jeda, tanpa memberi Ratih waktu pulih, ia melanjutkan permainannya, kini menambah intensitas dan kecepatan."Isih pingin?" (Masih ingin?) tantang Karyo dengan sua

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 504

    Kata-kata Ratih menghantam Karyo seperti air dingin yang menyadarkan. Dia menatap Dani, putranya yang polos, yang tidak tahu bahwa masa depannya kini bergantung pada kepatuhan ayahnya sebagai pemuas nafsu orang lain. Pipinya terasa panas, airmata yang mendesak keluar ditahannya mati-matian.Berapa harga seorang ayah? Berapa harga sebuah beasiswa? Berapa harga harga diri?"Kabeh lamunanku... racun," (Semua lamunanku... racun,) bisik Karyo, mengakui kebenaran pahit itu akhirnya.Matanya bergerak dari Dani ke Ratih, melihat istrinya dalam cahaya baru. Di tengah kehancurannya, di antara serpihan mimpi-mimpinya yang berhamburan, Ratih masih berdiri tegak—menawarkan kekuatan yang tak pernah ia sadari sebelumnya."Tapi kowe..." (Tapi kamu...) Suara Karyo tercekat, tertahan oleh gumpalan emosi di kerongkongannya. "Kowe isih nyoto, Tih. Kowe dudu lamunan." (Kamu masih nyata, Tih. Kamu bukan lamunan.)Karyo

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 503

    Hari telah beranjak malam. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh, dan rumah mewah itu telah hening. Maya dan Irwan sudah beristirahat di kamar utama bersama Karya yang baru saja tertidur pulas setelah sesi menyusui terakhir. Hanya lampu-lampu remang yang menyala di beberapa sudut, memberikan penerangan minim yang menciptakan bayangan-bayangan panjang di sepanjang lorong.Di kamar tamu yang kini menjadi tempat tinggal keluarga Karyo, Ratih duduk di tepi ranjang dengan punggung bersandar pada bantal. Daster tidurnya yang sederhana sedikit tersingkap di bagian paha, tapi dia tidak ambil pusing—fokusnya terpaku pada layar ponsel yang ia scroll dengan ibu jari. Sesekali bibirnya mengulas senyum tipis, mungkin melihat foto-foto teman dari kampung yang menghiasi timeline media sosialnya.Di sampingnya, Dani tertidur pulas. Bocah berusia empat tahun itu berbaring menyamping dengan tangan kecilnya mengepal di dekat wajah. Napasnya teratur

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 502

    Di teras belakang yang dibatasi pintu kaca besar, Karyo mengepel lantai keramik dengan gerakan monoton. Kain pel di tangannya bergerak maju-mundur dengan ritme teratur, tapi matanya tak sekalipun meninggalkan pemandangan di balik kaca itu.Istrinya, Ratih, sedang mengajari Maya cara memegang Karya—anaknya sendiri, darah dagingnya, yang tidak bisa ia akui di depan umum.Karyo menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Matahari Jakarta semakin terik, tapi bukan panas yang membuatnya berkeringat. Ada rasa panas lain yang menjalar dari dalam—campuran rasa rindu, cemburu, dan kemarahan yang tertahan.Tangannya berhenti bergerak. Kain pel terabaikan di lantai saat matanya terpaku pada adegan di balik kaca. Dua perempuan dan seorang bayi. Istrinya, wanita yang pernah ia cumbui, dan anak biologisnya sendiri. Sebuah keluarga yang nyata sekaligus tidak nyata.Pikirannya mulai melayang.Dalam peng

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status