LOGINSetelah selesai berkenalan dengan wali kelas, dan teman-teman sekelasnya. Mereka pun berhamburan pulang setelah bunyi bel.
"Bye Van, Bye ti. gue pulang duluan ya udah di jemput" Mutia melambaikan tangannya kepada Vania dan Hesti. Tak lama kemudian Hesti juga di jemput. "Gue duluan ya Van" "Iya hati-hati" "Lo juga" "Bye" "Bye" Vania pun ke parkiran menuju mobilnya. Tanpa disengaja saat hendak membuka pintu ia menyenggol motor seseorang, yang tak lain itu adalah Azkara. Dan menyebabkan helemnya jatuh berguling-guling. "Duh maaf gue gak sengaja" "Mangkanya pake mata" Vania pun kesal dan bete karena dari tadi azkara selalu ketus. Azkara pun meletakkan buku yang ia baca di atas jok motor miliknya, dan mengambil helemnya yang sudah jatuh berguling guling itu. Saat ia hendak mengambil helemnya Vania mendesak agar ia mau menggeser motornya. "Aduh, ini motor butut bisa di pinggirin dulu gak?" "Apa lu bilang tadi? Motor butut? Lu gak tau apa ni motor kesayangan gue" "Bodo amat, siapa suruh naro motor mepet mepet segala" Azkara pun minggirin motornya tanpa menjawab bacotan vania. Ia malas jika harus membuang-buang waktu hanya untuk berdebat. Saat hendak menaiki motornya ia berfikir untuk langsung melajukan motornya menuju arah jalan pulang saja. Tanpa ia sadari buku yang ia taruh di atas jok pun terjatuh, tersenggol tas nya saat ia hendak menaiki motor. Vania yang melihat buku itupun sontak turun kembali dari mobilnya. Kemudian mengambil buku tersebut. "Dasar ulat, rasain gue ambil kan buku lo, mangkanya jadi orang gausah rese" Vania tersenyum smirik, dan melanjutkan menyetir sampai rumah. ==== Sesampainya dirumah Vania di taya oleh bi asih perihal di sekolah. "Gimana hari ini non, cerita dong sama bibi" Kebiasaan bi asih setiap pulang sekolah pasti menanyakan ada cerita apa hari ini. Dan vania pun menceritakan ia di ospek, mendapatkan teman baru, dan ia pun kesal sama seorang cowok. Bi asih pun terkekeh mendengarkan cerita vania bagian pulang. "Gaboleh gitu non, nanti naksir" "Gak ah bi, mana mungkin aku naksir cowo aneh kaya dia" Bi Asih hanya menggeleng- gelengkan kepala saja. "Yaudah non. Makan dulu ya, abis makan nanti bisa istirahat" "Iya Bi Asih Cantik" Bi asih pun hanya tersenyum menanggapi kelakuan majikannya. Setelah selesai makan, Vania kembali ke kamarnya ia pun mengabari zean pacarnya bahwasannya ia telah pulang sekolah. Hai, aku udah pulang nih, kamu udah pulang apa belum Hi juga sayang, aku bentar lagi pulangnya Kenapa? Aku ada kegiatan diluar. Nanti aku kabari lagi ya.. Sampai pukul 12 malam Vania menunggu balasan dari Zean pacarnya. Tapi tak kunjung ia balas. Lantaran zean pergi dengan pacar barunya ke mall. Sampai pulang tengah malam dan ia pun kelupaan mengabari Vania. === Kring kring kring kring, jam beker vania berdering. Dan Bi Asih pun membangunkan Vania dan mengantarkan sarapan seperti biasanya. Kalau kalian tanya papahnya vania kemana. Papahnya sangat sibuk, kadang dinas luar. Dan kalaupun dirumah akan pergi lagi ke kantor paginya. Vania pun bersiap ke sekolah. Ia pun berpamitan ke Bi Asih namun ia tidak seceria biasanya. "Tumben ya, non vania gak seceria biasanya, apa karena papahnya belum pulang ya, tapi biasanya juga engga, biasa aja ?" Asih pun hanya menerka nerka sendiri "Ah nanti aku tanya deh ke non Vania langsung" Ia pun lanjut berkutat dengan pekerjaannya, ia menyapu halaman, lalu membersihkan rumah dan memasak. === Sesampainya disekolah Vania di sambut oleh kakak bantara di gerbang. Yang tak lain dan tak bukan adalah Eriko dan Daniel. Kebetulan mereka yang bertugas piket bantara karena setiap hari rabu merekalah yang bertugas memastikan para siswa memakai kacu. "Hai van, kamu mana kacunya" Eriko mengetuk kaca mobil vania, Vania pun membukakan kaca dan memperlihatkan kacunya sambil tersenyum manis "Ada kok kak" "Yaudah bagus, anak pinter" "Nil, kenapa pagi ini jadi seger banget ya" "Hahah iyalagi pasti karena abis liat wajahnya Vania kan" "Wooo iyaaalah, tau aja lu" Mereka pun mendadak semangat kalau soal gadis itu, peristiwa itu tanpa sengaja di saksikan oleh Ayu dan Abel. Mereka cemburu ketika menyaksikan pacar mereka genit ke cewek lain. "Bel, liat tuh pacar kamu genit ke si anak baru itu" "Ih, pacar kamu juga tuh, ikut ketawa" "Iya bener-bener deh mereka, awas aja. Mereka harus di kasi pelajaran bel" "Iya bener yu" Sesampainya di parkiran Vania mendadak kebelet buang air kecil. Dan ia pun menuju koridor. Sesampainya disana ia pun telah di tunggu oleh Abel dan ayu "Heh lu jadi cewe gausah kecentilan di depan cowo orang ya" "Maaf kak. Maksud kakak kecentilan gimana ya kak?" "Lu gausah sok lugu ya. Yang di gerbang tadi, itu pacar kita" "Aku gak centil ya kak, tapi aku emang menarik. kalau pacar kakak naksir ya bukan salah aku dong" Vania memainkan rambutnya, ia berharap duo macan itu kebakaran jenggot karena sudah melabraknya sepagi ini. "Jangan kurang ajar kamu ya, bicara yang sopan sama kaka kelas" "Emang kakak sopan, ngelabrak aku sepagi ini? 2026 masih aja pikirin cowok. Kesekolah belajar yang bener" Karena sakit hati oleh perkataan Vania. Abel pun mendorong vania, dan vania pun terjatuh kepinggir bak mandi. Vania sontak menyiram mereka karna kesal. "Duh jadi basah huhuhu" abel merengek dan mengadu ke pacarnya Eriko namun pacarnya hanya menenangkan "Sudah-sudah, aku minta maaf ya sayang. Aku janji gak kayak gitu lagi. Di hati aku cuma kamu. Pacar aku yang comel, dan gemoy" "Bener ya?, awas aja kalau kamu bohong" "Iya janji" Walapun Eriko sering sumringah tiap melihat Vania, ia hanya suka sebatas adik kelas saja. Tidak lebih. Tetap di hatinya hanya abel. === Vania kesal dan bete karena ulah duo macan tadi. "Masih pagi udah banyak aja cobaannya, ketemu duo macan. Mana gue masih sebel chat gue gak di bales-bales sama zean" "Apa lu liat liat, dasar ulet" Vania yang sedang kesal berpapasan dengan Azkara membuatnya semakin kesal bertubi tubi. "Gue liat karna gue punya mata. Elu tuh aneh. Masih pagi ngedumel sendiri. Kesurupan lu" "Udah ah berisik" "Elu yang berisik, Ngapain lu disini" "Ya suka suka gue lah, lu yang ngapain. Ketemu lu mulu perasaan skolah ini gede, tapi berasa sempit" "Yeu ini kelas gue kocak" Azkara nyolot sambil megang buku di tangannya. Vania pun salfok melihat buku lagi. "Hmm ternyata ada banyak juga ya buku dia" Vania hanya mampu bergumam dalam hati dan melengos ke kelasnya. Ia sudah kehabisan tenaga sedari pagi ada saja masalah bertubi-tubi menimpanya.Hari pun berganti pagi, mereka pun berkutat pada aktifitas masing-masing. Langit yang mendung disertai bau hujan yang bercampur dengan tanah, tidak memudarkan semangat mereka untuk menjalani kehidupan. Sesampainya di sekolah Vania dan para murid lainnya melaksanakan apel pagi sebelum memasuki kelas masing-masing. Sorot mata Vania tengah mencari Azkara. tatapannya menyusuri barisan para murid. namun ia tak menemukan azkara. "Kemana ya tuh bocah" Vania hanya mampu bergumam dalam hati. Raut wajahnya berganti menjadi datar seolah sedang kehilangan semangat hidupnya. "Van, liat tuh Kenzo kayaknya ngeliatin ke arah sini deh" Esty yang sedari tadi memperhatikan Kenzo merasa tertohok ketika Kenzo balik menatapnya. Sehingga ia menoel Vania karena salting. "Ngeliatin lu kali ty" Jawab Vania ngasal Esty pun tersipu malu. Karena ia memang naksir kepada Kenzo. "Tapi kenzo ganteng banget ya Van, mungkin gak kalau dia bisa jadi milik gue." "Ya mungkin aja Ty. Di dunia ini gak ad
Vania terus menunggu di depan gerbang, dan benar saja Azkara melewatinya. Vania langsung tancap gas mengikuti Azkara diam-diam. "Loh kok arahnya kesini" "RSJ Harapan Jaya?" Vania mengeja nama rumah sakit tersebut. Vania pun heran mengapa Azkara berhenti di RSJ. Ia pun bertanya-tanya di dalam hati. "Siapa yang sakit jiwa?" "Hah jangan-jangan bener dugaan gue, si ulet nih yang konslet akibat kebanyakan belajar hehe" Vania pun terkekeh sendiri. Diam diam vania masih mengikuti Azkara. Karena ia masih sangat penasaran. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di depan sebuah ruangan. Ia mencoba menguping pembicaraan Azkara di samping ruangan tersebut. "Huuuu huu hu hu" Tangis Vita "Mah Azka datang, mamah please jangan sedih lagi." "Kamu janji sama mamah, kalau kamu bisa dapetin nilai terbaik. Kalau perlu kamu harus jadi juara umum disekolah" "Iya mah, Azka usahain yah. Tapi mamah janji jangan sedih lagi". Azkara memeluk wanita paruh baya itu. Dalam hatinya ia sangat merasa
Vania terus terusan merasa sedih karena perkataan papahnya tadi. Ia pun memutuskan untuk pergi ke TPU tempat dimana mamahnya di makamkan. Ia bercerita banyak sekali ia mencurhkan isi hatinya di makam mamahnya. "Mah aku kangen banget sama mamah. Mamah tau gak, aku sekarang udah SMA. Aku sekarang udah berubah mah. Aku gak pernah berantem lagi, aku berusaha jadi lebih baik. Walapun belum seperti keinginan papah." Vania hanya getir menahan tangis, tapi air mata itu tetap saja tumpah. Ia terus menangis sampai tidak terasa waktu menunjukan pukul 18.00 Wib. Vania meninggalkan makam mamahnya dengan lunglai. Ia pun duduk sebentar di taman kota. Tanpa sengaja Azkara melihatnya "Itu Vania bukan ya? Tumben dia sendirian, mana mukanya kusut banget lagi. kayak kanebo kering." "Woi" Azkara menepuk pundak Vania berharap dia kaget "Ulet, ngapain lo disini, lo ngikutin gue ya?" "Ulet.. ulet. Siapa yang lo bilang ulet" "Ya, elo lah. Siapa lagi?" "Kalau gue ulet, berarti lu tai nya" "Ih nyeb
Setibanya di kelas Vania hanya banyak melamun. Sesekali ia hanya membuang nafas berat. Mutia dan Esti yang memahami sikap Vania langsung bertanya "Lu kenapa Van" "Iya, gak biasanya lu ngelamun begini, lagi ada masalah ya?" Vania pun cerita apa yang ia alami kemarin. perihal pacarnya tidak membalas pesannya, dan kejadian tadi pagi. "Gak biasanya dia gak bales chat gue, dulu dia gak pernah bersikap dingin ke gue." "Yaudah lu yang sabar ya Van. Gimana kalau hari ini kita nge mall aja, Siapa tau bisa nenangin pikiran lo" "Iya bener tuh kata Esti" Vania pun tersenyum "Makasih ya, kalian udah baik banget ke gue" Setelah bel pulang sekolah berbunyi, para murid pun berhamburan keluar gerbang. Tak terkecuali dengan Vania dan Cs. Vania dan teman nya mereka langsung menuju mall. Sesampainya di mall mereka makan ramen, Beli ice cream, dan main capit di team zone. Sampai akhirnya Vania memeregoki pacarnya jalan dengan cewe lain. Vania pun sempat foto pacarnya dengan wanita it
Setelah selesai berkenalan dengan wali kelas, dan teman-teman sekelasnya. Mereka pun berhamburan pulang setelah bunyi bel. "Bye Van, Bye ti. gue pulang duluan ya udah di jemput" Mutia melambaikan tangannya kepada Vania dan Hesti. Tak lama kemudian Hesti juga di jemput. "Gue duluan ya Van" "Iya hati-hati" "Lo juga" "Bye" "Bye" Vania pun ke parkiran menuju mobilnya. Tanpa disengaja saat hendak membuka pintu ia menyenggol motor seseorang, yang tak lain itu adalah Azkara. Dan menyebabkan helemnya jatuh berguling-guling. "Duh maaf gue gak sengaja" "Mangkanya pake mata" Vania pun kesal dan bete karena dari tadi azkara selalu ketus. Azkara pun meletakkan buku yang ia baca di atas jok motor miliknya, dan mengambil helemnya yang sudah jatuh berguling guling itu. Saat ia hendak mengambil helemnya Vania mendesak agar ia mau menggeser motornya. "Aduh, ini motor butut bisa di pinggirin dulu gak?" "Apa lu bilang tadi? Motor butut? Lu gak tau apa ni motor kesayangan gue" "Bodo amat, s
Mentari pagi sudah mulai bersinar, menembus celah celah tirai kamar Vania. Hari begitu cerah seakan merestui lembar baru anak kelas 1Tuk tuk tuk.. suara ketukan pintu terdengar begitu cepat"non.. bangun non.."Wanita paruh baya itu pun membangunkan Vania dari tidurnya. Ia pun meletakan sarapan di samping nakas sambil mengetuk pintu kamar vaniaIa adalah Bi Asih, pembantu kepercayaan keluarga vania. Sejak Vania lahir ia sudah di asuh oleh Bi Asih.Hoammmmh....Iya biiiiVania pun beranjak dari tempat tidur dan membiarkan Bi Asih masuk mengantarkan sarapan.Makasih ya bi, bibi emang yg terbaik.Vania memeluk Bi Asih. Walapun Bi Asih adalah pembantunya ia sangat menyayangi Bi Asih layaknya Mama kandungnya sendiri."Hmm non mah bisa aja. Yaudah kalau gitu saya kebawah dulu ya non, mau siapin yang lain""Iya bi" Vania tersenyum dan segera siap siap dan memakan sarapan yang telah di antarkan Bi Asih.Pagi ini menunjukan Pukul 07.05, Vania berpamitan dengan Bi Asih. Sementara papa nya sudah







