Share

003 Putus

Penulis: TISSA
last update Tanggal publikasi: 2026-02-25 02:38:43

Setibanya di kelas Vania hanya banyak melamun. Sesekali ia hanya membuang nafas berat.

Mutia dan Esti yang memahami sikap Vania langsung bertanya

"Lu kenapa Van"

"Iya, gak biasanya lu ngelamun begini, lagi ada masalah ya?"

Vania pun cerita apa yang ia alami kemarin. perihal pacarnya tidak membalas pesannya, dan kejadian tadi pagi.

"Gak biasanya dia gak bales chat gue, dulu dia gak pernah bersikap dingin ke gue."

"Yaudah lu yang sabar ya Van. Gimana kalau hari ini kita nge mall aja, Siapa tau bisa nenangin pikiran lo"

"Iya bener tuh kata Esti"

Vania pun tersenyum

"Makasih ya, kalian udah baik banget ke gue"

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, para murid pun berhamburan keluar gerbang. Tak terkecuali dengan Vania dan Cs. Vania dan teman nya mereka langsung menuju mall.

Sesampainya di mall mereka makan ramen, Beli ice cream, dan main capit di team zone. Sampai akhirnya Vania memeregoki pacarnya jalan dengan cewe lain. Vania pun sempat foto pacarnya dengan wanita itu. Sebagai bukti agar dia tidak mengelak.

"Bentar guys, hah itukan Zean"

Vania seakan tidak percaya dan shock dengan apa yang baru dia lihat.

"Masa sih Van, Salah orang kali Van"

Esty mencoba menenangkan Vania

"Coba liat foto cowo nya Van, gue mau mastiin itu beneran dia apa bukan"

Vania pun menunjukan foto dia dan kekasihnya Zean. Sontak Mutia dan Esty pun kaget, dan mencoba menenangkan Vania.

"Lu yang sabar ya Van"

"Iya gue gapapa kok ty, mut. Makasih ya udah mau temenin gue hari ini. Tapi kita pulang sekarang aja yuk, gue capek banget"

Akhirnya mereka bertiga pulang. Esty dan Mutia paham betul perasaan Vania. Sesampainya dirumah Vania pun merebahkan dirinya di atas kasur kesayangannya. Tak bisa dipungkiri hatinya terasa sangat sedih.

"Hari ini gue ulang tahun, dia gak inget sama sekali. Dan dia malah jalan bareng cewe lain. Gue kurang apa sih zean. Tega teganya lo giniin gue".

Vania pun menangis. Ia bukan menangisi perihal di tinggal oleh laki-laki itu. Ia hanya sedih mengapa dirinya diperlakukan seperti itu. Abis manis sepah dibuang. Walapun dirinya cantik, ia akan tetap merasa jelek karena diselingkuhi.

Vania pun mengirim pesan kepada Zean

"Hai sibuk ya?"

"Inget gak inget hari ini hari apa?"

"Hari apa?"

"Gue ulang tahun"

"Duh maaf ya aku lupa ngucapin ultah ke kamu, Selamat ulang tahun ya cantikku, wish u all the best,"

"Kemana aja, sampe gak bales chat gue?"

"Maaf aku sibuk sayang"

"Sibuk apa, sibuk jalan sama cewe barunya kah?"

"Hmmm"

"Iya kan?, gue udah tau semuanya, gue kurang apa Zean"

Vania pun send foto Zean dan perempuan itu. Zean seperti kucing tertangkap basah mencuri ikan. Dia tidak bisa mengelak lagi saat ia melihat foto dirinya sedang merangkul wanita itu.

"Oke gue jujur sekarang. Gue lakuin ini karena lo gak bisa di pake, lo gak bisa di ajak seneng-seneng. Sekarang ada dia. Dia bisa gue ajak ngapain aja"

Jleb hati Vania langsung ter iris mengetahui jawaban dari Zean. Ternyata dia tidak benar-benar tulus kepada Vania, ternyata Zean cinta nya bohong, hanya karena nafsu belaka. Tetapi Vania ia tidak ingin melakukan hal yang tidak-tidak yang kelak akan merugikan dirinya sendiri

"Oke, gue mau putus, jangan pernah lo hubungin gue lagi"

Vania hanya bisa menangis di kamarnya, ia merasa ia hanya punya Zean, ia selalu bercerita dan menghabiskan waktu bersama zean. Namun kini kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui. Zean tidak benar-benar mencintainya.

(Sorry oot: Siapa disini yang pernah kenal cowok kayak Zean? Hati-hati ya jaga diri kamu baik-baik)

Bi asih yang merasa janggal oleh sikap Vania ingin mencoba mencari tahu keadaan majikannya itu bagaimana.

"Non.. non baik-baik aja kan.."

"Iya Bi Aku gapapa, aku mau istirahat dulu bi"

Sahut Vania dari dalam kamarnya.

===

Hari ini adalah hari minggu Vania pun pergi maraton untuk melupakan hari-hari buruknya.

Saat sedang berlari kecil Vania melihat seseorang yang seperti ia kenal.

"Kok rasanya gue kyak kenal yah, wah Itu mah si ulet"

Vania seperti orang gila yang sedang ngomong sendiri.

"Ngapain dia disitu, apa dia beli bunga buat pacarnya ya"

Vania pun memperhatikan Azkara memilih bunga segar dengan raut wajah berseri-seri.

"Ternyata dia bisa romantis juga ya, gue pikir dia cuma orang yang kaku"

"Ah bodo amatlah, ngapain mikirin dia"

Vania pun lanjut maraton, lalu pulangnya pakai gojek karena kecapekan.

"Vania-vania sok-sok an banget mau meraton pulangnya aja naik gojek"

Iapun tersenyum geli melihat tingkah lakunya sendiri.

Sesampainya dirumah Vania bertemu dengan Papahnya yang baru saja pulang. Ia pun menyalami tangan papahnya.

"Vania, gimana sekolahnya?"

"Baik pah, gak gimana-gimana"

Vania menjawabnya dengan nada datar, karena ia memang tidak memiliki kedekatan emosional dengan papahnya. Ia cenderung lebih dekat dengan Bi Asih ketimbang papahnya sendiri.

"Vania, sini dulu papah mau cerita"

"Ya cerita aja pah"

Bi asih pun yang melihat Vania memberikan kode agar lebih nurut kepada papahnya. Vania pun menghirup nafas dalam dan menuju papahnya.

"Van, Kamu setuju gak kalau papah punya pendamping lagi?"

"Apaan sih pah, kan dari dulu aku bilang engga ya engga"

"Sampe kapan kamu mau terus begini, move on Vania, mamah kamu udah engga ada dari lama"

Jleb, kata kata itu menusuk hati Vania

"Tanpa mamah baru aja papah bisa lupa hari ulang tahun aku, apalagi dengan adanya dia. Papah bisa lupa kalau aku anak papah"

Herman shock mendengar penuturan anaknya.

"Kamu ya Vania, gak bisa dibilangin. Nilai kamu pas-pasan. Bandel, sering bikin masalah mau jadi apa kamu"

"Liat anaknya temen-temen papah, semuanya berprestasi, gak kayak kamu. Cuma bisa ngelawan orangtua. Papah mengambil keputusan ini demi kebaikan kamu juga, biar ada yang pantau kamu, dan ngajarin kamu. ".

Herman tau jika hanya mengandalkan Bi Asih ia kurang tegas kepada Vania. Sementara Herman jarang berada dirumah. Hal inilah yang membuatnya ingin mencari pendamping. Selain dirinya juga butuh di temani, ia juga ingin anaknya berubah.

Walapun Vania sudah jarang membuat masalah seperti waktu SMP. Namun ia ingin memastikan anaknya tumbuh lebih baik dan terarah. Tentunya tanpa kurang kasih sayang seorang ibu.

Vania, menangis dan berlari menuju kamarnya. Tak ia sangka kalimat itu keluar juga dari mulut papahnya sendiri.

"Vania gak butuh ibu pah, Vania cuma butuh papah"

Herman pun merasa bersalah, sementara vania hanya bisa menangis di kamarnya sambil memeluk foto mamahnya.

"Mah, apa papah bakal lupain kita"

Vania berkata lirih, Namun herman mengikutinya dan mendengarkan itu hatinya terasa pilu. Tapi ia sudah mantap dengan keputusannya ia pasti memilihkan ibu sambung yang terbaik untuk Vania.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   013 Class meeting

    Pagi yang cerah menyapa dengan hangat, menghadirkan semangat baru di wajah para siswa dan siswi. Tak tampak lagi kegelisahan yang kemarin sempat mengisi hati, kini berganti dengan tawa ringan dan langkah santai. Hari itu terasa berbeda, lebih bebas, lebih menyenangkan.Class meeting menjadi jeda yang dinanti, tanpa aturan yang mengekang. Mereka datang dengan ringan, tanpa beban buku maupun bayang-bayang pelajaran dan ujian. Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi, namun suasana sudah hidup oleh canda dan kebersamaan.Beragam perlombaan menjadi warna dalam kebahagiaan hari itu. Bukan sekadar ajang bersaing, tetapi juga ruang untuk mempererat tali persahabatan. Kegiatan ini menjadi penyegar setelah lelahnya ujian, menghadirkan kembali energi dan kekompakan dalam setiap kelas.Di bawah langit pagi yang cerah, mereka tak hanya merayakan kebebasan, tetapi juga kebersamaan yang semakin erat."Guys siapa aja yang mau ikutan tanding voly" Esty pun menanyakan kepada para gadis gadis di kelasnya."Gua

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   012 Mid Test part 2

    Di hari-hari pertama, pikiran terasa penuh.Rumus bercampur dengan hafalan, semuanya seperti berebut tempat di kepala. Sedikit saja lupa, rasa panik langsung datang.Tapi hari demi hari berlalu.Ujian demi ujian mulai terasa biasa saja.Bukan karena soalnya menjadi lebih mudah, tapi karena mereka mulai terbiasa dengan rasa tegang itu. Mereka belajar mengatur napas, fokus pada satu soal, dan tidak lagi terlalu takut jika menemukan pertanyaan yang sulit.Mereka mulai paham ujian bukan hanya tentang nilai, tapi tentang bagaimana tetap tenang saat dihadapkan pada tekanan.Kini, saat kertas soal dibagikan, mereka tidak lagi sekacau dulu. Masih ada rasa debaran di hati, tapi tidak lagi melumpuhkan.Mereka tersenyum kecil, lalu mulai mengerjakan.Karena mereka tahu,ini hanya satu langkah kecil dari perjalanan panjang yang sedang mereka tempuh.Awalnya tetap saja terasa menegangkan. Suara bel yang menandakan dimulainya ujian terdengar seperti alarm bahaya.Kertas soal dibagikan, dan jantung

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   011 Mid Test

    Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi para murid karena mereka akan mengikuti ujian. Di kelas yang berbeda dengan siswa yang berbeda, suasana terasa hampir sama hening, tegang, dan penuh harap. Vania pun ikut merasakan getaran di hatinya. apakah ia akan membanggakan papahnya, atau malah sebaliknya. Dengan langkah kaki yang getar Vania memasuki ruangan ujian yang telah disediakan oleh guru. namun betapa terkejutnya ia melihat ternyata ia satu kelas dengan Azkara. Namun Azkara duduk di pojok kiri paling depan. Sedangkan ia duduk di pojok kanan paling belakang, dan yang tak kalah mengejutkan kenzo berada di kelas yang sama. ia duduk di barisan nomor dua. dan letak mejanya juga berada di nomor dua. Sambil menunggu guru pengawas masuk. Para murid melanjutkan hafalan yang tidak selesai dirumah, bibir mereka bergerak pelan seolah membaca catatan yang tak terlihat. Di sudut lain, ada yang menatap kosong ke meja, mencoba menenangkan diri meski jantung berdebar lebih cepat dari bias

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   010 Last Weekend

    Akhir pekan terakhir sebelum ujian terasa berbeda. Suasana yang biasanya santai berubah menjadi penuh kesungguhan. Para murid duduk dengan buku-buku terbuka, mencatat, mengulang pelajaran, dan saling bertanya satu sama lain. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya, seakan mengingatkan bahwa hari penentuan sudah dekat.Di balik lelah dan tekanan, tersimpan harapan besar. Mereka berjuang bukan hanya untuk nilai, tetapi juga untuk membuktikan usaha yang telah dilakukan selama ini. Malam menjadi lebih panjang, pagi terasa lebih cepat datang. Namun semangat tidak surut—justru semakin kuat. Di akhir pekan itu, setiap halaman yang dibaca dan setiap soal yang dikerjakan menjadi langkah kecil menuju impian mereka meraih hasil terbaik.Vania merasa sudah agak jenuh belajar sendiri ia pun menghubungi Azkara agar bisa belajar bersama. "Lo gue jemput aja Van""Gapapa gue pergi sendiri aja. Ka""Udah gapapa, gue aja yang jemput" "Yaudah deh kalau gitu, gue siap-siap dulu ya" "Iya gue abi

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   009

    Keyla selaku ibunya kenzo memang sibuk dengan pekerjaannya. Hal itulah yang membuat Kenzo sering ditinggal. Ia bercerai dengan suami pertamanya lantaran sudah merasa tidak ada kecocokan dalam rumah tangganya. Demi menghidupi Kenzo, Keyla kerja banting tulang. Meskipun ia dengan berat hati karena terus meninggalkan putra semata wayangnya. Namun tetap harus ia lakukan demi masa depan putranya. "Mamah, kok baru pulang sih ma""Aduh anak mamah. Kan mamah kerja, sayang." "Iya tapi emang harus selarut ini?""Yakan kamu tau sendiri, kadang jam meeting mama yang gak nentu. Dan juga kadang kejebak macet dijalan" "Kamu kapan ujiannya sayang?" "Senin mah" "Yaudah kamu yang semangat ya nak. Ntar selesai ujian mamah mau ngenalin kamu sama seseorang""Hadeh" Kenzo hanya memutar bola matanya dengan malas. Walapun ia sendiri belum tahu pasti maksud mamahnya. Ia hanya saja cukup lelah untuk menanyakan perihal tersebut. Lagipula baginya mamah Keyla sudah lama sendiri. Ia hanya tidak ingin menjad

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   008 Di Cerca Seribu Pertanyaan

    Vania menghampiri Azkara. "Lu kemana aja, Kok gak dateng kemaren. inget loh bentar lagi kita ujian" "Iya kemaren gue izin, nemenin mamah gue" "Emangnya mamah lo kenapa?" "Mamah gue sakit" Vania terdiam. ia ingat betul saat mengikuti Azkara diam-diam ke RSJ, namun ia berpura-pura tidak tahu perihal mamanya Azkara. "Ooh, Mamah lo sakit apa ka?" "Udah lo gak perlu khawatir. Sekarang udah gapapa kok" "Syukurlah kalau gitu." "Oh iya bentar lagi kita ujian, lo udah siapin diri Van?" "Hmm udah si, Tapi mungkin gue sebisanya aja" "Mau belajar bareng gak?" "Mau-mau. kapan ka?" "Nanti sepulang sekolah juga boleh" "yeyy.." Vania kegirangan. karena ia merasa bosan kalau hanya belajar sendiri. ===== Setelah sepulang sekolah mereka belajar bareng. kali ini mereka belajar di halaman rumah Vania. Disana terdapat kursi dan meja serta taman mini yang ada pohon hiasnya. Azkara dan Vania berdiskusi tentang pelajaran mereka. Mereka membuat list apa saja bagian yang

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   007 Perhatian Seorang Ken

    Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 menandakan bahwa sudah waktunya proses belajar mengajar selesai. Semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas. Vania memastikan agar Mutia tidak lupa untuk membangunkan Esty yang juga sahabatnya itu "Mut, jangan lupa kita harus bangunin Esty dulu"Mutia dengan

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   006 Salah Sasaran

    Hari pun berganti pagi, mereka pun berkutat pada aktifitas masing-masing. Langit yang mendung disertai bau hujan yang bercampur dengan tanah, tidak memudarkan semangat mereka untuk menjalani kehidupan. Sesampainya di sekolah Vania dan para murid lainnya melaksanakan apel pagi sebelum memasuki ke

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   005 Rahasia kelam si ulat buku

    Vania terus menunggu di depan gerbang, dan benar saja Azkara melewatinya. Vania langsung tancap gas mengikuti Azkara diam-diam. "Loh kok arahnya kesini" "RSJ Harapan Jaya?" Vania mengeja nama rumah sakit tersebut. Vania pun heran mengapa Azkara berhenti di RSJ. Ia pun bertanya-tanya di dalam

  • Kesandung Cinta Si Ulat Buku   004 Tiba-tiba keliling Kota

    Vania terus terusan merasa sedih karena perkataan papahnya tadi. Ia pun memutuskan untuk pergi ke TPU tempat dimana mamahnya di makamkan. Ia bercerita banyak sekali ia mencurhkan isi hatinya di makam mamahnya. "Mah aku kangen banget sama mamah. Mamah tau gak, aku sekarang udah SMA. Aku sekarang u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status