ログイン"Kenapa kamu datang tidak memberi tahu ku terlebih dahulu hah? Ayo Lun sini turun!" Ajak Daffa pada Aluna saat menyapa tamunya yang sudah duduk di ruang tamu megah itu. "Apa aku harus melapor setiap ingin menemuimu?" Tanya lelaki yang duduk dengan angkuhnya itu. "Ah tidak juga... Sudahlah, bicara denganmu juga tetap akan salah. Ada apa kemari?" Tanya Daffa lagi saat kini posisinya sudah duduk di depan tamu lelaki nya itu. Tak mendapat jawaban dari lawan bicaranya, dan Daffa tahu kemana arah pandangan lawan nya itu. Menyadari jika lelaki itu sedang menatap Aluna bak mangsa yang siap diterkam kapan saja. "Kenapa melihat nya seperti itu? Apa kamu tertarik? Lebih baik urungkan niat mu itu. Aluna ayo sini kenalkan ini teman saya, nama nya Tuan Kenzo. Namanya cukup dikenal di luar sana, seharusnya kamu tidak asing lagi dengan nama itu." Jelas Daffa memperkenalkan Aluna pada Tuan Kenzo. Aluna hanya tersenyum kaku saja. Jelas dirinya mengela siapa itu Tuan Kenzo, bahkan kini Aluna tingga
Daffa melihat kearah putra dan Aluna yang tampak begitu lugas membersamai Arya, sehingga keduanya terlihat begitu akrab meskipun baru bertemu beberapa jam yang lalu. "Sepertinya Den Arya cocok dengan Nona Aluna Tuan." Ujar Bik Inah yang datang membawakan secangkir kopi untuk Tuan nya, hal itu memecah fokus Daffa yang sedang mengamati anak dan gurunya. "Bibi benar, tidak biasanya Arya akan langsung akrab dengan orang, apalagi senurut itu dengan orang baru. Sepertinya Aluna orang yang tepat buat menjaga dan mendidik Arya kedepannya." Jelas Daffa membenarkan perkataan art nya itu. "Semoga Nona betah ya Tuan, karena jarang sekali Den Arya mau dengan orang baru. Jika Nona sampai tidak betah, nanti Tuan akan kembali kesusahan mencari pengganti yang cocok dengan Den Arya." "Bibi benar. Setelah ini saya akan bicarakan masalah kontrak kerja. Saya harus mengingat Aluna dengan kontrak kerja supaya tidak kehilangan dia begitu saja untuk menjaga Arya." Terang Daffa yang disetujui oleh Bik Inah
"Tidak Tuan ... itu milik Nyonya, sepertinya Nyonya lupa membawanya ke kamar karena terburu-buru tadi." Jelas Bik Tutik yang tau kemana arah pandangan Tuannya."Jadi dia sakit? dia sakit tapi masih sempat menyiapkan sarapan. Dan semalam... Ahhh... Aku masih tak menyangka." Batin Tuan Kenzo bergumam, bertanya-tanya seorang diri. "Bik tolong bersihkan kamar utama dan ganti sepertinya" Titah Tuan Kenzo pada Bik Tutik yang sedang lewat di samping nya. ... Aluna yang pergi ke kampus menyempatkan diri berhenti di sebuah apotik, kali ini tujuan nya buka untuk membeli obat karena badanya yang sakit. Melainkan untuk memberi sebuah obat pencegahan kehamilan. Sebelum masuk ke dalam apotik, Aluna memasang penutup kepala yang ada di hoodie nya. Aluna tidak ingin jika ada yang mengenalinya.Beberapa saat kemudian, Aluna keluar dengan membawa pil KB yang akan dikonsumsi nya secara rutin mulai saat ini. Hal ini Aluna lakukan karena tidak ingin hamil terlebih dahulu sebelum Tuan Kenzo bisa meneri
"Sarapan dulu Nyonya, Anda belum makan dari tadi malam, tunggu sebentar ya, biar saya ambilkan masakan yang tadi Nyonya masak." Kata Bik Tutik, dan dengan cekatan mengambilkan sepiring nasi lengkap dengan laiknya di meja makan dan membawanya kembali pada Aluna. "Ini Nyonya, sarapan dulu jika ingin minum obat, jangan hanya makan roti saja, itu tidak akan membuat Anda kenyang." Bik Tutik menyodorkan sepiring nasi itu tadi. Dengan malas Aluna pun terpaksa menerimanya. "Sayang sekali, Tuan tidak menyukai makanan manis, jadi tidak pernah ada selai di sini." Sambungnya kembali sembari menatap Aluna yang menyantap makanan nya dengan terpaksa. Aluna baru sadar jika dirinya belum ada makan dari kemarin siang. Walaupun di tidak minat makan saat ini, namun tubuhnya harus mendapatkan nutrisi dengan baik. Dia harus sehat dan kuat supaya bisa melalui hari-hari menghadapi Tuan Kenzo. Setelah memakan setengah dari makanan nya, Aluna kemudian meminum obatnya dan kembali ke kamarnya. "Nyonya kenap
Merasa tak percaya dengan apa yang dirasakan nya, Tuan Kenzo kembali mencoba. Namun hasil nya nihil. Hal itu justru membuat Aluna semakin merintih kesakitan. Otot-otot di lengan Tuan Kenzo nampak terlihat sangat jelas. Beberapa urat di dahinya pun juga mulai bermunculan. Detik berikutnya dengan gerakan yang perlahan Tuan Kenzo kembali mencoba... Lagi dan lagi hal itu membuat Aluna kembali menjerit kesakitan. Namun jeritan itu seolah tak didengar oleh Tuan Kenzo. Akhirnya dengan kekuatan penuh dan setelah berjuang cukup keras, milik Tuan Kenzo menerobos setengah jalan. Hal itu membuat Aluna merasa tubuhnya terasa dibelah dan dirobek, sedang Tuan Kenzo kini diam sejenak, lalu detik berikut nya dengan sekali dorongan... "Aaaakkkhhh....!! " Aluna menjerit panjang kali ini. Dia memejamkan mata merasakan tubuhnya yang terasa benar-benar terbelah. Tuan Kenzo masih diam, memberikan ruang pada Aluna yang masih menegang. Tangan Aluna yang mencengkam seprei dengan kuat sebagai pegangan akan
Brakkk... Belum sempat Aluna memejamkan matanya saat dia naik ke atas kasur miliknya. Pintu kamar Aluna tiba-tiba terbuka dengan suara yang cukup kencang membuat Aluna terkejut. Sosok tinggi berdiri di ambang pintu dengan kemeja hitam yang khas melekat pas di tubuh nya yang besar. Walaupun Aluna sudah sempat mematikan lampu utama yang ada di kamar nya dan hanya menyisahkan lampu tidur yang temaram. Namun, Aluna masih bisa melihat dan mengenali dengan jelas siapa pemilik tubuh besar itu. "Tuan?" Aluna terdiam sambil menatap lelaki yang tampak marah itu."Keluar!" Ujar lelaki itu dengan intonasi agak tinggi. "Untuk apa? Aku akan tidur, agar tidak mengganggu Tuan di luar!" Jawab Aluna dengan posisi duduk, tapi kakinya masih tertutup selimut. Sedangkan sosok itu justru mendekat ke arah Aluna tanpa menghiraukan perkataan Aluna tadi. Begitu sampai di dekat Aluna, Tuan Kenzo menarik paksa tangan Aluna hingga tubuh itu hampir saja terjatuh. Beruntung Aluna masih bisa menahan keseimbangan







