ログインPagi sang surya bangunkan mimpi, embun pagi yang telah menghilang akan cahaya mentari yang kini mulai menyinari bumi dengan kehangatan sinarnya. Membangunkan setiap insan yang terlelap dari mimpi malamnya.
Hari Minggu yang seharusnya Aluna nikmati dengan begitu santai nya. Hari Minggu yang seharusnya Aluna nikmati dengan begitu santai nya, hari libur yang baginya begitu indah karena terbebas dari tugas dan materi kuliah yang membuat nya terasa penat. Tapi sayang nya, hari indah itu kini sirna begitu saja saat Aluna mendengar pintu rumah nya sedang di ketuk, pertanda ada tamu yang datang. Aluna membuka pintu rumahnya segera, dan dua orang bodyguard dengan penampilan seperti kemarin berdiri di depan pintu dengan tatapan datar dan wajah kakunya. "Pukul 5 sore ini, di Gedung Gama. Tuan tidak suka orang yang terlambat." Bodyguard itu berkata dengan suara datar tanpa ekspresi sembari menyerahkan sebuah kotak di tangan nya. "Pakai ini Nona" sambung bodyguard itu lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Aluna, kedua bodyguard itu melangkah pergi meninggalkan halaman rumah Aluna yang masih berdiri menatap kotak bingkisan di tangan nya kini. Setelah dirasa cukuo, Aluna masuk dan menutup pintu rumah nya kembali, Aluna meletakkan bingkisan tadi di atas meja, kemudian membukanya dengan perlahan. Tampak sebuah gaun pengantin berwarna putih terlipat rapi di dalam kotak itu. Aluna menatap gaun itu dengan tatapan nanar, disentuhnya dengan tangan gemetar. Matanya kembali mengembun, ia teringat pada pendiang sang ayah. Jika saja pernikahan yang akan di hadapinya ini adalah sebuah perbikahan normal yang terjadi karena adanya cinta, mungkin Aluna akan sangat bahagia melihat gaun indah di hadapan nya kini. Sebuah gaun pengantin yang terbuat dari bahan satin sutra, berkilau ditimpah cahaya chandelier yang masih menyalah. Aluna mengangkat kepalanya yang tadi menunduk cukup lama memandangi kilau gaun pengantin yang ada di tangan nya itu. Mata indah dengan bulu mata lentik nya itu memancarkan sebuah tekat dan keyakinan yang kuat. "Aku tidak bisa mundur lagi, aku harus kuat, aku tidak ingin ayah sedih nantinya melihatku yang tak menerima pernikahan ini. Ayah, Ayah jangan khawatir, Aluna akan baik-baik saja dan bahagia nantinya, terlepas bagaimanapun latar belakang nya, tetap saja dia akan menjadi suami Aluna. Aluna akan berbakti dan menjadi istri yang baik agar Ayah tidak kecewa pada Aluna." monolog Aluna menguatkan dirinya sendiri. *** Pukul 16.45, sore ... Aluna tiba di Gedung Gama tempat keluarga Mahesa menunggunya. Gedung yang biasanya digunakan oleh orang-orang kelas atas untuk mengadakan acara itu, kini tampak ramai. Para bodyguard yang cukup banyak telah berjaga diarea gedung. Para Bodyguard itu segera membentuk barisan dan memberi jalan pada Aluna. Gaun indah nya ia angkat agar tidak menyentuh tanah, Aluna menatap takjub dengan rangkaian bunga yang sudah tertata rapi di setiap penjuru gedung dan jalan masuk menuju pintu utama. Kedua bodyguard yang berjaga di depan pintu utama kini sedang memeriksa Aluna menggunakan metal detektor. Memastikan setiap yang masuk dan menghadiri acara keluarga Mahesa tidak ada yang membawa benda bahaya. Aluna melangkah berjalan menyusuri karpet warna merah dengan rangkaian bunga di kanan kirinya. Aluna terus melangkahkan kakinya dengan dada yang berdegup dengan kencang. Tanpa ada keluarga yang mendampingi, Aluna memantapkan langkahnya melewati setiap mata yang menatapnya dengan takjub. Tak jauh di depan nya tampak keluarga Mahesa yang bersiap menyambutnya. Tak banyak, hanya Tuan Damian bersama asisten pribadinya serta Tuan Kenzo yang menatapnya dengan nyalang. Tak ada senyum sedikitpun untuk menyambut Aluna sebagai calon istrinya. Tatapan tak bersahabat lah yang justru Aluna terima, Aluna menundukkan pandangan nya, tak kuasa melihat tatapan membunuh dari laki-laki yang akan menjadi suaminya hari ini. Dada Aluna bergemuruh. Ujung jemarinya terasa dingin, sama dingin nya seperti ujung jemari kakinya yang kini mulai melangkah mendekat ke arah panggung pelaminan. Aluna berjalan dan berhenti di depan lelaki yang tadinya menatap nya dengan tajam, tak ada senyum sedikitpun. Tatapan nya dingin dan angkuh seolah tak pengaruh sedikitpun dengan kehadiran Aluna. Prosesi pernikahan berjalan cukup lama bagi kedua mempelai yang sama-sama merasa enggan dengan pernikahan itu. Banyak rekan bisnis dari keluarga Mahesa yang datang mengucapkan selamat dan do'a terbaik untuk kedua mempelai. Aluna hanya bisa membalas semua ucapan itu dengan senyuman kaku, entah harus bahagia atau tidak, entah harus mengamini setiap doa yang di dengarnya dari para tamu. Aluna kini tak banyak berharap lebih, hanya ingin menjalani hidup nya dengan normal, pasrah akan kelanjutan hidupnya."Kalian menginap di sini kan?" Tanya mama Rita memastikan saat meeeka telah selesai sarapan."Iya Ma." Jawab Bara kali ini, sedangkan Naya memilih diam karena dirinya sendiri juga tidak tau menahu soal itu. Awalnya Naya mengira meeeka hanya datang berkunjung saja, tidak menyangka jika ternyata harus menginap.Sedangkan Bara begitu selesai menjawab pertanyaan mamanya langsung menoleh ke arah Naya, seolah paham akan kebingungan yang sedang Naya rasakan."Nanti malam jika Papa sudah datang, Bara ingin bicara sesuatu yang penting." Kata Bara menyambung kalimatnya, Naya tau maksud tersirat dari perkataan Bara itu."Pasti Kak Bara ingin memberitahu orang tuanya soal pernikahan itu. Huahhh... Kok aku jadi dah dig dug begini ya? Aku takut jika ternyata mereka tidak merestui dan tidak menerimaku dengan baik." batin Naya merasa gugup juga khawatir akan respond kedua orang tua Bara nantinya. Belum lagi keluarga besar Bara nanti.Selama ini Naya memang diterima dengan baik di keluarga itu, tapi h
Tuan Kenzo kembali ke mansion nya saat dia sendiri tidak bisa menuntaskan apa yang seharus nya di tuntaskan saat di club tadi. Tuan Kenzo mansuk ke kamarnya dan melihat Aluna yang sedang tertidur dengan pulas nya, tidak sengaja selimut yang Aluna gunakan saat tidur, sedikit tersingkap sehingga memperlihatkan paha mulus Aluna dengan kaki jenjang nya. "Siaalll ..." Umpat Tuan Kenzo kembali saat melihat hal itu, dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menenangkan gejolak dalam dirinya. Tuan Kenzo sengaja berendam air dingin untuk menetralkan kondisi tubuhnya yang sedang te gang itu. Cukup lama di dalam kamar mandi, akhirnya Tuan Kenzo keluar dengan hanya menggunakan handuk saja yang melilit di pinggang nya. "Haciuuu..." Tuan Kenzo tiba-tiba bersin beberapa kali dan tanpa sengaja membangunkan Aluna dalam tidur nya. "Mas ... sudah pulang?" Tanya Aluna dengan suara seraknya yang menyadari keberadaan Tuan Kenzo di sana. Wajahnya yang masih kusut, rambut sedikit berantakan kh
"Hemm ..." Aluna melongo mendapat jawaban acuh dari Tuan Kenzo yang saat ini sudah berjalan mendahuluinya. Aluna sampai saat ini tak percaya, bagaimana bisa dirinya menikah dengan laki-laki seperti itu. Setiba nya di meja makan, seolah tidak terjadi apa-apa. Aluna mengambilkan makan untuk Tuan Kenzo yang masih beraikap lebih dingin dari biasanya, namun tak Aluna sadari. Selama makan, tidak ada yang mengeluarkan suara hingga hanya terdengar suara denting alat makan yang saling beraduh. Bagi Aluna, waktu makan terasa begitu lama di tengah kesunyian yang tak terbantahkan. "Astaga ... bisa mati kutu aku kalau terus-terusan begini." Batin Aluna yang menyadari kesunyian tak biasa itu. "Apa dia benar-benar marah? tapi untuk apa? apa karena aku mendatangi Mas Daffa? Hah ... mana mungkin karena hal itu." Batin Aluna yang terus bertanya-tanya tak karuan. Setelah selesai makan, Tuan Kenzo langsung beranjak dari duduk nya dan pergi tanpa menghiraukan keberadaan Aluna. Aluna sendiri m
"Mampus aku... bisa-bisaya malah terpesona lihat badan nya. Pasti setelah ini dia akan menghukumku karena pergi ke tempat Mas Daffa tadi." Batin Aluna yang masih membelakangi Tuan Kenzo kali ini yang sedang berganti pakaiannya. "Masih ingat pulang?" Suara Bariton itu menyadarkan Aluna dalam lamunan nya. Aluna tahu betul maksud dari perkataan Tuan Kenzo yang seakan sengaja sedang menyindirnya saat ini. "Tentu saja. Kan aku hanya sebentar saja ke sana untuk melihat keadaan Arya. Jika Tuan marah dan ingin menghukum ku silahkan saja." Tantang Aluna yang memang sudah pasrah jika Tuan Kenzo akan menghukumnya kali ini. Tuan Kenzo tidak menjawab, laki-laki itu hanya jalan mendekat ke arah Aluna dan berdiri tepat di hadapan Aluna, membuat Aluna senam jantung tak karuan. Tatapan Tuan Kenzo yang begitu sukit di artikan membuat Aluna serba salah menerka apa yang sebenarnya kan di lakukan oleh lelaki itu. "Cih..." Tuan Kenzo hanya berdecih, menatap acuh ke arah Aluna lalu berjalan melewat
"Mas, ini demam Arya sudah mulai turun. Dia juga sudah makan dan minum obat, aku pamit pulang dulu ya mas? nanti kabari aku tentang kondisi Arya." Kata Aluna berniat pamit pulang dari kediaman Tuan Daffa. Tuan Daffa menatap ke arah anaknya yang kini sedang tertidur pulas. Siang tadi setelah di kompres Aluna, Arya tampak sedikit membaik. Aluna membangunkan nya untuk makan dan minum obat, Tuan Daffa sedikit terkejut karena Arya begitu nurut dengan Aluna. Sebelumnya Tuan Daffa sudah membujuknya sekuat tenaga, tapi hasil nya nihil. Arya sama sekali tidak mau makan dan minum obat, Tuan Daffa hingga kehilangan akal sehatnya untuk membujuk Arya. Bersama dengan Aluna, anak itu tampak begitu penurut, membuat Tuan Daffa keheranan "Biar saya antar Lun!" Tawar Tuan Daffa. "Tidak perlu mas, aku bawa motor sendiri tadi. Mas Daffa di rumah saja, terus pantau perkembangan Arya." Jawab Aluna dengan ramah. Dirinya tidak menyangka jika akan mendapatkan tawaran seperti itu. Yang Aluna takutkan,
Aluna kini sudah berada di kediaman Tuan Daffa, memenuhi permintaan lelaki itu. Dan tentu nya setelah melalui perdebatan yang begitu alot dengan Tuan Kenzo, Aluna yang kali ini benar-benar tidak peduli apakah telah menyinggung Tuan Kenzo atau tidak, yang jelas Aluna tidak bisa diam saja jika hal itu berkaitan dengan nyawa seseorang. Jika memang dirinya telah membuat Tuan Kenzo marah, maka Aluna siap menghadapi kemarahan dan hukuman dari suaminya itu setelah ini. "Tuan, Nona Aluna sudah datang." lapor Bik Inah yang kini masuk ke kamar Arya dengan membawa serta Aluna. Tuan Daffa yang memang sudah menunggu kehadiran Aluna akhirnya bisa bernafas dengan lega begitu melihat Aluna di kamar itu. "Mas, gimana kondisi Arya? apa demak nya sudah turun?" Tanya Aluna dengan raut wajah khawatir, dia memang mengkhawatirkan kondisi murid les nya itu. Lelaki itu menoleh ke arah Aluna "Belum juga turun dari kemarin, dokter sudah memeriksanya dan memberinya suntikan penurun panas. Awalnya sempat tur
Tuan Kenzo tampak semakin marah tak terkendali, namun alih-alih melampiaskan nya pada Aluna dan menghukum gadis itu, Tuan Kenzo justru berdiri dari duduknya dan kembali pergi meninggal kan mansion itu dengan wajah nya yang sangar namun tak bisa Aluna tebak akan sikap Tuan Kenzo yang tak terbaca itu
"Akkh ... sakit ... tolong lepaskan!" Pinta Aluna yang meringis menahan perih di pergelangan tangan nya."Masuk..!" Satu kata penuh ketegasan juga kemarahan yang memuncak."Aauu ..." Tubuh ramping Aluna terlempar begitu saja di kursi penumpang. Tak lama tubuh besar lain nya ikut masuk dengan nafas
Tuan Kenzo pergi meninggalkan Aluna begitu saja saat makanan miliknya sudah habis. Tanpa menghiraukan Aluna yang masih berkutat dengan makanan nya sendiri. "Nyonya kenapa makanan nya hanya diaduk-aduk saja? Apakah Nyonya muda tidak menyukai nya? Saya akan buatkan yang baru untuk nyonya." Kata Bik
Aluna tak bisa tidur dengan tenang. Setiap perkataan yang Tuan Kenzo lontarkan padanya terus berputar dalam benak Aluna. Gadis itu merasa terhina, di hadapan Tuan Kenzo dirinya seolah tidak punya harga diri. Aluna berfikir jika hal ini terjadi karena pernikahan balas budi yang hanya bertahan di a







