LOGINSelepas kepergian Tuan Kenzo, Aluna benar-benar pergi ke kamar nya, lebih tepatnya kamar milik Tuan Kenzo yang saat ini harus ditinggali oleh Aluna juga atas perintah Tuan Damian. Dengan perasaan sedikit kesal dalam dirinya, Aluna masuk dan menutup kembali pintu itu dengan sedikit keras sehingga terdengar benturan pintu itu tertutup. "Apakah Nyonya Muda sedang kesal saat ini?" Tanya salah satu maid di mansion itu setelah mendengar bantingan pintu Aluna. "Seperti nya Nyonya Muda kesal karena Tuan tidak mau memberikan nya kabar." Kata maid yang lain nya. Semua percakapan mereka di dengar dengan jelas oleh Bik Tutik. "Sudah kembali kerja saja, jangan ikut campur urusan antar majikan, itu bukan urusan kita. Kerja aja yang benar jika tidak ingin Tuan marah." Kali ini suara Bik Tutik yang terdengar seperti sedang mengintrupsi tawanan nya. Sebenarnya Bik Tutik tidak terlalu suka dengan dua pelayanan baru yang Tuan Damian tempatkan di mansion itu untuk menjadi mata-mata Tuan Kenzo da
Setelah Aluna menyapa dan menyentuh surai panjang milik Luki yang menjuntai menutupi telinga kuda itu, ajaib nya Kuda itu kini meringkik pelan dan mengendus-endus tangan Aluna. Setelah beberapa saat, Luki tampak terlihat lebih tenang."Tenang aja Luki, besok aku akan mengajak mu melihat sunset lagi ya? sekarang kamu cukup tenang, jangan lagi bandel ya! menurutlah pada Pak Tomo atau pada Tuan mu itu." Kata Aluna yang sedikit menyenggol nama Tuan Kenzo secara tersirat.Si Luki yang seperti mengerti perkataan Aluna, sontak mengibas-ngibaskan surai di kepalanya dan mengeluarkan suara khas para kuda.Setelah memberi nasihat dan arahan pada Kuda Andalusia itu dan Aluna sudah memastikan jika kini Luki sudah mulai tenang, Aluna berdiri kembali dengan posisi siap di samping Tuan Kenzo. Tubuh Aluna yang 170 cm itu sebenarnya tergolong tinggi untuk ukuran seorang perempuan. Bahkan jika Aluna mendaftar anggota pengibar bendera di istana merdeka saat 17 Agustusan, jelas Aluna akan lolos seleksi be
Tepat setelah panggilan di tutup oleh Tuan Kenzo, Aluna datang dari arah loundry dan melangkah mendekat ke arah Bik Tutik. "Kenapa Bik? Siapa yang telpon?" Tanya Aluna penasaran. "Tuan Kenzo, Nyonya." Jawab Bik Tutik dan Aluna hanya menunjukkan respond ber oh ria saja dengan suara rendah tanpa berminat tahu apa yang isi obrolan mereka di Telpon. "Nyonya, diminta ke Istal sama Tuan." Lanjut Bik Tutik mengikuti langkah Aluna menuju meja makan. "Untuk apa?" tanya Aluna heran, pasal nya baru tadi dirinya ke sana dan sekarang dia di suruh ke sana sama sang pemilik istal. Apakah ada sesuatu yang sudah Aluna lakukan tadi hingga membuat kesalahan? Aluna masih bertanya-tanya tanpa ada jawaban pasti untuk menenangkan dirinya. "Saya juga tidak tahu, Nyonya." Aluna diam sejenak, menimbang apakah dirinya perlu ke sana atau tidak. "Aku tidak mau pergi ke sana Bik, tadi kan aku sudah dari sana." Jawab Aluna melontarkan kalimat penolakan. "Jangan Nyonya, lebih baik Nyonya ke sana saj
Setelah dirasa cukup membawa Luki jalan-jalan keliling istal beberapa kali putaran, akhirnya Aluna pun membawa Luki kembali ke dalam kandang nya. Di sana sudah ada Pak Tomo yang siap mengambil alih kuda Andalusia itu dari tangan Aluna.. "Sudah berkudanya Nyonya?" Tanya Pak Tomo dengan sopan, dirinya sedari awal melihat Aluna bisa menjinakkan Luki dan bahkan bisa menunggangi Luki dengan begitu gagah nya, sejak saat itu Pak Tomo dan penjaga istal lain nya juga merasa kagum dengan Nyonya mereka. Aluna terlihat kalem dan anggun dari luar, tapi siapa yang sangka jika tubuh kecil ramping nya itu bisa dengan mudah nya menjinakkan Kuda Andalusia yang biasanya hanya akan patuh pada Tuan Kenzo saja., "Sudah Pak, terima kasih ya... Tolong jaga Luki baik-baik Pak Tomo." Ujar Aluna berpesan kepada Pak Tomo sebelum benar-benar meninggalkan area Istal. "Baik Nyonya." Aluna kembali ke mansion, kali ini dia tidak langsung kembali ke kamarnya atau lebih tepatnya kamar Tuan Kenzo. Aluna justru
Krekk ...Suara pintu terbuka, namun tak sedikit pun membangunkan Aluna yang masih tertidur di atas sofa, sedangkan Tuan Kenzo yang kini sudah berada di dalam kamar meneliti setiap garis tegas di wajah Aluna yang masih terpejam Bukan membangunkan Aluna, tapi Tuan Kenzo duduk diam menatap wajah ayu Aluna yang tampak tertidur, meskipun tidak ada gejolak apapun dalam hati Tuan Kenzo saat menatap Aluna seperti saat ini, namun Tuan Kenzo juga tidak tahu kenapa dirinya begitu betah menatap Aluna yang tengah tertidur.Hampir dua jam lamanya, Tuan Kenzo hanya duduk diam menatap Aluna tanpa ada yang di katakan ataupun yang di lakukan nya. Hingga tiba dimana Aluna mulai menggeliatkan tubuh nya dan di sana Aluna begitu terkejut saat mendapati Tuan Kenzo yang tengah duduk dengan angkuh nya, dan sedang menatap ke arahnya.Aluna takut, takut jika tiba-tiba Tuan Kenzo memarahinya hingga bahkan menghukumnya, dirinya sendiri juga tidak mau berada dalam situasi yang menyebalkan itu. Tapi sayang nya A
Sesuai permintaan dari Tuan Damian, akhirnya membuat Aluna tidak bisa keluar dan pindah dari kamar Tuan Kenzo. Entah apa nanti yang akan di lakukan oleh Tuan Kenzo saat mengetahui jika Aluna sudah pindah tinggal satu kamar dengan nya. Aluna hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat, rasanya dia sedang berada di antara dua jurang yang siap kapan saja menerkamnya saat dia terjatuh. Aluna menatap seisi kamar, meskipun ini bukan kali pertama baginya masuk ke kamar Tuan Kenzo, namun tetap saja rasanya begitu asing. Apalagi saat ini dia sedang menatap ke sebuah dinding yang terpampang dengan begitu jelas foto pernikahan Tuan Kenzo bersama mendiang Laras, yang di cetak begitu besar membuat hadirnya tampak nyata. Aluna bisa melihat jika Tuan Kenzo begitu mencintai Laras, terlihat dari senyum manis nya yang selama ini tidak pernah di tunjukkan pada siapapun, termasuk Aluna yang saat ini sudah menjadi istrinya. "Astaga ... takdir macam apa yang aku jalani saat ini? kenapa begitu memper
Tuan Kenzo tampak semakin marah tak terkendali, namun alih-alih melampiaskan nya pada Aluna dan menghukum gadis itu, Tuan Kenzo justru berdiri dari duduknya dan kembali pergi meninggal kan mansion itu dengan wajah nya yang sangar namun tak bisa Aluna tebak akan sikap Tuan Kenzo yang tak terbaca itu
"Akkh ... sakit ... tolong lepaskan!" Pinta Aluna yang meringis menahan perih di pergelangan tangan nya."Masuk..!" Satu kata penuh ketegasan juga kemarahan yang memuncak."Aauu ..." Tubuh ramping Aluna terlempar begitu saja di kursi penumpang. Tak lama tubuh besar lain nya ikut masuk dengan nafas
Tuan Kenzo pergi meninggalkan Aluna begitu saja saat makanan miliknya sudah habis. Tanpa menghiraukan Aluna yang masih berkutat dengan makanan nya sendiri. "Nyonya kenapa makanan nya hanya diaduk-aduk saja? Apakah Nyonya muda tidak menyukai nya? Saya akan buatkan yang baru untuk nyonya." Kata Bik
Aluna tak bisa tidur dengan tenang. Setiap perkataan yang Tuan Kenzo lontarkan padanya terus berputar dalam benak Aluna. Gadis itu merasa terhina, di hadapan Tuan Kenzo dirinya seolah tidak punya harga diri. Aluna berfikir jika hal ini terjadi karena pernikahan balas budi yang hanya bertahan di a







