MasukAluna menghabiskan waktu sorenya di arena menembak, Bik Tutik dan para penjaga yang menjaga tempat itu pun di buat nya terkejut melihat permainan Aluna yang begitu memukau itu bahkan keahlian nya melebihi keahlian Tuan mereka yang selama ini mereka kira tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Tuan Kenzo dalam hal menembak. Hari ini, di sore hari dengan tudung langit senja yang kemerahan, semua yang berada di tempat itu di buat tercengang bukan main. Nyonya muda yang mereka kira selama ini hanyalah gadis polos yang sederhana juga lemah lembut, ternyata memiliki keahlian di luar prediksi BMKG hehe... "Wahh ... astaga ... Nyonya ..." Bik Tutik bersorak dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa, yang jelas di pikiran nya Nyonya mudanya itu sangat hebat. "Kenapa Bibi menatap ku seperti itu?" Tanya Aluna keheranan lantaran melihat tatapan Bik Tutik yang tampak keheranan saat melihat Aluna yang baru saja selesai menembak. "Nyonya muda keren sakali ..." Kata Bik Tutik yang masih bel
Aluna menghabiskan waktu sorenya di arena menembak, Bik Tutik dan para penjaga yang menjaga tempat itu pun di buat nya terkejut melihat permainan Aluna yang begitu memukau itu bahkan keahlian nya melebihi keahlian Tuan mereka yang selama ini mereka kira tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Tuan Kenzo dalam hal menembak. Hari ini, di sore hari dengan tudung langit senja yang kemerahan, semua yang berada di tempat itu di buat tercengang bukan main. Nyonya muda yang mereka kira selama ini hanyalah gadis polos yang sederhana juga lemah lembut, ternyata memiliki keahlian di luar prediksi BMKG hehe... "Wahh ... astaga ... Nyonya ..." Bik Tutik bersorak dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa, yang jelas di pikiran nya Nyonya mudanya itu sangat hebat. "Kenapa Bibi menatap ku seperti itu?" Tanya Aluna keheranan lantaran melihat tatapan Bik Tutik yang tampak keheranan saat melihat Aluna yang baru saja selesai menembak. "Nyonya muda keren sakali ..." Kata Bik Tutik yang masih belum j
Aluna menghabiskan waktu sorenya di arena menembak, Bik Tutik dan para penjaga yang menjaga tempat itu pun di buat nya terkejut melihat permainan Aluna yang begitu memukau itu bahkan keahlian nya melebihi keahlian Tuan mereka yang selama ini mereka kira tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Tuan Kenzo dalam hal menembak. Hari ini, di sore hari dengan tudung langit senja yang kemerahan, semua yang berada di tempat itu di buat tercengang bukan main. Nyonya muda yang mereka kira selama ini hanyalah gadis polos yang sederhana juga lemah lembut, ternyata memiliki keahlian di luar prediksi BMKG hehe... "Wahh ... astaga ... Nyonya ..." Bik Tutik bersorak dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa, yang jelas di pikiran nya Nyonya mudanya itu sangat hebat. "Kenapa Bibi menatap ku seperti itu?" Tanya Aluna keheranan lantaran melihat tatapan Bik Tutik yang tampak keheranan saat melihat Aluna yang baru saja selesai menembak. "Nyonya muda keren sakali ..." Kata Bik Tutik yang masih belum j
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke man
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke man
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke man
Setelah tau akan menikah dengan Tuan Kenzo, saat ingin berangkat ke Gedung Gama untuk melangsungkan pernikahan nya, orang-orang suruhan Tuan Kenzo sudah datang untuk mengambil barang-barang milik Aluna untuk dibawa nya ke mansion. Sehingga barang-barang milik Aluna sudah tertata rapi di dalam kam
Dunia ibarat roda yang terus berputar. Kadang akan membawa kita kepuncak kebahagiaan tanpa duga dan bisa juga membawa kita pada jurang nestapa.Setelah kehilangan Ayah nya dan kini menikah dengan laki-laki arogan bermarga Mahesa, yang menjadi satu-satunya penerus di keluarga itu.Dunia Aluna seketi
Pagi sang surya bangunkan mimpi, embun pagi yang telah menghilang akan cahaya mentari yang kini mulai menyinari bumi dengan kehangatan sinarnya. Membangunkan setiap insan yang terlelap dari mimpi malamnya. Hari Minggu yang seharusnya Aluna nikmati dengan begitu santai nya. Hari Minggu yang seharus
"Harus Kenzo katakan berapa kali agar Kakek bisa paham, sampai kapanpun Kenzo tidak akan mau menikah lagi. Sekalipun perempuan itu pilihan kakek." Ucap laki-laki berbadan tinggi besar yang kini sedang duduk tegak di sebuah sofa yang menghadap langsung dengan laki-laki paruhbaya yang dipanggilnya ka







