LOGINTuan Kenzo pergi meninggalkan Aluna begitu saja saat makanan miliknya sudah habis. Tanpa menghiraukan Aluna yang masih berkutat dengan makanan nya sendiri.
"Nyonya kenapa makanan nya hanya diaduk-aduk saja? Apakah Nyonya muda tidak menyukai nya? Saya akan buatkan yang baru untuk nyonya." Kata Bik Tutik yang melihat Aluna tampak tak selera. "Ah tidak perlu bik, ini enak. Aku hanya tidak berselera makan saja." Jawab Aluna, merasa tidak enak hati. "Habiskan!" Suara Bariton itu tiba-tiba muncul membuat Aluna seketika terdiam, bagaimana bisa Tuan Kenzo kembali masuk ke dalam rumah dan melihat penolakan Aluna akan makanan yang telah disiapkan Bik Tutik. "Apa ini rencanamu agar kau sakit dan membiarkan Kakek Tua itu akan menghukum ku?" "Apa? Tidak-aku hanya..." Aluna menghentikan kalimat nya saat melihat tatapan Tuan Kenzo yang mengintimidasi dan awan gelap sedang menyelimutinya, seolah siap menerkam kapan saja. "Baiklah akan aku habiskan." Lirih Aluna pada akhirnya. Dia mencoba memasukkan sarapan itu sesendok demi sendok. Meskipun terasa sulit untuk di telan, namun Aluna tak ingin memancing kemarahan Tuan Kenzo. Akhirnya dengan susah payah Aluna sudah menghabiskan makanan nya dan membereskan meja makan itu lalu beranjak ke dapur. Sedangkan Tuan Kenzo setelah mesatikan Aluna memakan sarapan nya, dia langsung pergi kembali. Awalnya Tuan Kenzo kembali hanya ingin mengambil laptop nya yang ketinggalan, namun tak disangkanya dia justru melihat darama di meja makan tadi. "Bik maaf... Apakah boleh aku meminjam ponsel bibik?" Tanya Aluna ragu-ragu setelah menyuci piring kotor milik nya. "Boleh Nyonya, apakah Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Bik Tutik kembali setelah memberikan ponsel miliknya. "Tidak bik, aku hanya ingin memesan ojek online saja, soalnya aku harus ke kampus hari ini. Dan ponsel ku tengah rusak, nanti sepulang dari kampus rencananya mau mampir untuk membaikinya." Terang Aluna. "Maaf Nyonya tapi ojek online tidak bisa masuk ke sini." Mendengar perkataan Bik Tutik, Aluna sempat tertegun dan menghentikan jari nya yang tengah berselancar di layar ponsel milik perempuan parunbaya di hadapan nya itu. "Kenapa begitu bik?" Tanya Aluna tak percaya. "Perumahan di sini sangat privat Nyonya, tidak sembarang orang bisa keluar masuk, apalagi ojek online, biasanya mereka hanya akan berhenti di gerbang depan saja." "Lalu bagaimana caranya aku keluar? Maksudku, aku harus ke kampus hari ini." "Kenapa Anda tidak meminta Tuan untuk mengantar Nyonya tadi? Atau paling tidak kalian berangkat bersama." Jelas Bik Tutik. "Itu tidak akan mungkin terjadi Bik, mana berani aku meminta diantar oleh Tuan Kenzo, lagian Tuan juga tidak akan mau dan pasti akan sangat merepotkan nya." Terang Aluna. "Ah benar juga... sepertinya Tuan hanya butuh penyesuaian diri saja Nyonya. Anda harus sabar menghadapi Tuan Kenzo karena sebenarnya Tuan adalah orang yang biak." Nasihat Bik Tutik sudah seperti seorang ibu bagi Aluna. Dan Aluna sendiri hany bisa menganggukkan kepalanya saja. "Kalau begitu biar nanti saya minta tolong salah satu penjaga untuk mengantar Nyonya hingga ke pintu masuk yang di depan sana." "Terima kasih, bibi... " Aluna segera kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk ke kampus, begitu sampai di dapur ternyata Bik Tutik sudah menunggu. "Ayo Nyonya, Pak Eko sudah menunggu." Lelaki berusia sekitar 40 tahuan dengan kulit gelap dan rambut yang sudah mulai memutih tampak sedang menunggu di samping golf car. "Mari Nyonya silahkan!" Sapa Pak Eko dengan membungkuk memberikan hormat. "Terima kasih Pak... " "Pulanglah sebelum Tuan kembali Nyonya!" Perkataan Bik Tutik menghentikan langkah Aluna yang akan menaiki golf car. "Memang nya Tuan kemana Bik?" "Apakah Tuan tidak memberitahu Nyonya?" Tanya Bik Tutik yang merasa sedikit heran. Melihat Aluna yang hanya menggelengkan kepala membuat Bik Tutik hanya menghelakan nafasnya dengan pelan. "Tuan sedang pergi ke pabrik yang berada di pinggiran kota Bandung Nyonya." "Pukul berapa Tuan biasanya pulang?" "Sore, kadang sampai malam. Jadi saya harap Nyonya pulang sebelum Tuan kembali, agar Nyonya tidak terkena masalah." Bik Tutik menasehati Aluna, layaknya seorang ibu. "Baik bibik siap. Kalau begitu aku pergi dulu ya bik." ... Di kampus Aluna langsung menemui dosen pembimbing nya, kali ini dia harus segera menyelesaikan target yang sempat tertinggal lantaran mengurus ayahnya yang sakit lalu meninggal kan nya untuk selamanya. Aluna menuju perpustakaan tempat dimana dirinya sudah membuat janji sebelumnya dengan Dosen Arga. Seorang dosen yang terkenal killer, masih muda nan tampan yang menjadi incaran semua mahasiswa perempuan mulai dari S1 hingga S2 seperti Aluna saat ini. Sayang nya selama ini Aluna tak pernah tertarik sedikitpun dengan Pak Arga yang kini menjadi dosen pembimbing nya. Aluna hanya menghormatinya sebagai seorang dosen yang telah membimbingnya, tidak pernah lebih. "Konsepmu sudah sangat bagus Aluna, tinggal kamu kembangkan lagi bagian Arsitektur Berkelanjutan nya. Agar sesuai dengan isu lingkungan yang saat ini sedang terjadi, dan coba nanti kamu bikin sketsa dan juga solusinya seperti apa, buat dua opsi agar bisa menjadi bahan pembanding dan pertimbangan. Seminggu dari sekarang kembali temui saya untuk melanjutkan perkembangan Tesis mu ini." "Baik Pak. Terima kasih banyak, kalau begitu saya pamit dulu. Permisi." Ucap Aluna dengan sopan. "Ya silahkan." Aluna meninggalkan lingkungan kampus, ia mencari ojek yang mangkal dekat kampus nya. Tujuan nya kali ini adalah konter HP untuk memperbaiki ponselnya. "Ini sih harus saya cek dulu mbak rusak nya kenapa? Tidak bisa langsung selesai hari ini." Tukas abang konter setelah melihat kerusakan ponsel milik Aluna. "Kira-kira berapa lama ya bang?" "Paling lambat besok pagi mbak. Nanti sore kalau memang sudah selesai saya kabari." "Ya sudah kalau gitu bang, tolong baiki ya. Kalau bisa secepatnya." Aluna hanya bisa pasra saat ponselnya tak bisa dirinya bawa pulang saat itu juga. Kali ini Aluna kembali menaiki ojek, tujuan nya ke rumah kecil miliknya untuk mengambil motor dan beberapa barang-barang miliknya. Motor adalah salah satu kendaraan yang Aluna miliki agar bisa pergi kemana saja dengan bebas. Meskipun saat ini dirinya sudah menjadi istri dari seorang pengusaha kaya, namun semua tak seindah yang orang lain lihat. Bahkan keberadaan nya saja tak pernah diakui. "Ayah... begitu banyak kenangan di rumah ini, berat rasanya harus meninggalkan rumah ini. Tapi saat ini Aluna sudah menjadi seorang istri yang harus ikut kemana suami membawa Aluna. Meskipun sebenarnya Aluna tak tau bagaimana sebenarnya pernikahan yang sedang Aluna jalani saat ini, Aluna akan mencoba bahagia agar Ayah bisa tenang di sana." Aluna terdiam duduk di sofa ruang tamu memeluk bingkai foto mendiang ayahnya. Larut dalam kenangan, tanpa Aluna sadari dirinya tertidur di sofa itu tanpa direncanakan, dirinya terbangun saat mendengar suara pintu sedang di dobrak dari arah luar membuat Aluna terkejut. "Apa kamu mencoba kabur dari ku? Dan membuat ku berada dalam masalah hah?" Suara lantang dan tatapan nyalang dari lelaki yang baru beberapa hari telah resmi menjadi suaminya itu membuat Aluna yang belum sepenuh nya sadar dari tidurnya merasa terkejut juga rasa takut. Otak nya belum sempat mencerna apa yang terjadi, sebelum akhirnya tangan nya ditarik paksa oleh Tuan Kenzo membuat tubuh Aluna terseret."Mampus aku... bisa-bisaya malah terpesona lihat badan nya. Pasti setelah ini dia akan menghukumku karena pergi ke tempat Mas Daffa tadi." Batin Aluna yang masih membelakangi Tuan Kenzo kali ini yang sedang berganti pakaiannya. "Masih ingat pulang?" Suara Bariton itu menyadarkan Aluna dalam lamunan nya. Aluna tahu betul maksud dari perkataan Tuan Kenzo yang seakan sengaja sedang menyindirnya saat ini. "Tentu saja. Kan aku hanya sebentar saja ke sana untuk melihat keadaan Arya. Jika Tuan marah dan ingin menghukum ku silahkan saja." Tantang Aluna yang memang sudah pasrah jika Tuan Kenzo akan menghukumnya kali ini.Tuan Kenzo tidak menjawab, laki-laki itu hanya jalan mendekat ke arah Aluna dan berdiri tepat di hadapan Aluna, membuat Aluna senam jantung tak karuan.Tatapan Tuan Kenzo yang begitu sukit di artikan membuat Aluna serba salah menerka apa yang sebenarnya kan di lakukan oleh lelaki itu."Cih..." Tuan Kenzo hanya berdecih, menatap acuh ke arah Aluna lalu berjalan melewati Aluna
"Mas, ini demam Arya sudah mulai turun. Dia juga sudah makan dan minum obat, aku pamit pulang dulu ya mas? nanti kabari aku tentang kondisi Arya." Kata Aluna berniat pamit pulang dari kediaman Tuan Daffa. Tuan Daffa menatap ke arah anaknya yang kini sedang tertidur pulas. Siang tadi setelah di kompres Aluna, Arya tampak sedikit membaik. Aluna membangunkan nya untuk makan dan minum obat, Tuan Daffa sedikit terkejut karena Arya begitu nurut dengan Aluna. Sebelumnya Tuan Daffa sudah membujuknya sekuat tenaga, tapi hasil nya nihil. Arya sama sekali tidak mau makan dan minum obat, Tuan Daffa hingga kehilangan akal sehatnya untuk membujuk Arya. Bersama dengan Aluna, anak itu tampak begitu penurut, membuat Tuan Daffa keheranan "Biar saya antar Lun!" Tawar Tuan Daffa. "Tidak perlu mas, aku bawa motor sendiri tadi. Mas Daffa di rumah saja, terus pantau perkembangan Arya." Jawab Aluna dengan ramah. Dirinya tidak menyangka jika akan mendapatkan tawaran seperti itu. Yang Aluna takutkan
Aluna kini sudah berada di kediaman Tuan Daffa, memenuhi permintaan lelaki itu. Dan tentu nya setelah melalui perdebatan yang begitu alot dengan Tuan Kenzo, Aluna yang kali ini benar-benar tidak peduli apakah telah menyinggung Tuan Kenzo atau tidak, yang jelas Aluna tidak bisa diam saja jika hal itu berkaitan dengan nyawa seseorang. Jika memang dirinya telah membuat Tuan Kenzo marah, maka Aluna siap menghadapi kemarahan dan hukuman dari suaminya itu setelah ini. "Tuan, Nona Aluna sudah datang." lapor Bik Inah yang kini masuk ke kamar Arya dengan membawa serta Aluna. Tuan Daffa yang memang sudah menunggu kehadiran Aluna akhirnya bisa bernafas dengan lega begitu melihat Aluna di kamar itu. "Mas, gimana kondisi Arya? apa demak nya sudah turun?" Tanya Aluna dengan raut wajah khawatir, dia memang mengkhawatirkan kondisi murid les nya itu. Lelaki itu menoleh ke arah Aluna "Belum juga turun dari kemarin, dokter sudah memeriksanya dan memberinya suntikan penurun panas. Awalnya sempat tur
"Aku ingin ke tempat Mas Daffa, Arya sedang sakit dan dia tidak mau makan serta minum obat katanya. Mas Daffa memintaku datang karena Arya terus-terusan memanggil namaku. Jadi aku harus segera ke sana sekarang?" Kata Aluna menceritakan semuanya dengan begitu polosnya. Mungkin dia lupa jika Tuan Kenzo adalah laki-laki yang kini telah menjadi suaminya. Meskipun hanya pernikahan kontrak tapi mereka sah secara agama dan negara, apalagi telah tidur bersama dan melakukan hubungan badan beberapa kali, bukan tidak mungkin jika di antara mereka akan timbul rasa suka satu sama lain.Tapi sampai detik ini Aluna bahkan masih mengira jika Tuan Kenzo hanya akan memperlakukan nya layak nya seorang babu, dan tidak pernah ada yang special di hubungan mereka.Aluna menyimpulkan hal itu, karena hingga saat ini selam mereka tinggal bersama dalam satu atap. Tidak ada niatan Tuan Kenzo untuk menurunkan foto-foto Tuan Kenzo dengan mendiang istrinya, bahkan mungkin Tuan Kenzo tidak berfikir untuk memajang f
Dalam hati Tuan Kenzo dia tersenyum puas melihat Aluna yang kesal padanya. Iseng nya lagi dia justru semakin mengerjai Aluna dengan berpura-pura tidak tahu apa yang membuat Aluna sulit berjalan. Padahal melihat Aluna saja, Tuan Kenzo selalu teringat dengan permainan panas yang dilakukan nya semalam hingga membuat Aluna lemas tak berdaya bahkan seperti makhluk tak bertulang."Jadi kamu benar tidak akan membawa Luki Jalan-jalan kali ini?" Tanya Tuan Kenzo kembali memastikan dan Aluna juga menganggukkan kepala nya dengan sedikit melirik tajam ke arah Tuan Kenzo."Baiklah, kalau begitu. Tetap diam di sini jangan kemana-mana karena aku ingin sedang ingin berkuda." Perintah Tuan Kenzo dengan tegas. Aluna tentu saja membuka mulut nya tak percaya. Dia masih tidak habis fikir dengan maksud Tuan Kenzo, mungkin laki-laki itu memang sengaja ingin mengerjainya. Aluna ingin protes, tapi sayangnya hal itu tidak bisa di lakukannya, karena Tuan Kenzo yang sudah lebih dulu pergi menaiki Luki dan memba
"Bibi ..." Panggil Aluna saat duduk di meja makan, perempun paruh baya itu hanya tersenyum sedari tadi, membuat Aluna merasa aneh.Bik Tutik berjalan ke arah Aluna dengan membawa roti bakar yang biasanya Aluna makan setiap paginya hanya untuk mengganjal perut nya sebelum sarapan dengan makanan berat."Tumben hari ini Tuan tidak ke pabrik...?" Kata Bik Tutik mengabaikan pertanyaan Aluna sebelum nya dan justru kembali melontarkan pertanyaan yang entah di tujukan pada siapa."Dia yang nggak ke pabrik? kenapa nanya nya ke aku?" Batin Aluna merasa heran dengan sikap Bik Tutik sedari Aluna menyapanya tadi."Aku tidak tahu Bik, mungkin sedang tidak ada kegiatan." Jawab Aluna asal, sebagai bentuk menghargai Bik Tutik yang sudah bertanya padanya."Tuan tampak terlihat sangat segar hari ini." Kata Bik Tutik tiba-tiba membuat Aluna semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan Bik Tutik yang sebenarnya."Hah, dia habis menyiksaku hingga aku hampir mati lemas semalam, tapi dia justru segar pagi
Tuan Kenzo tampak semakin marah tak terkendali, namun alih-alih melampiaskan nya pada Aluna dan menghukum gadis itu, Tuan Kenzo justru berdiri dari duduknya dan kembali pergi meninggal kan mansion itu dengan wajah nya yang sangar namun tak bisa Aluna tebak akan sikap Tuan Kenzo yang tak terbaca itu
"Akkh ... sakit ... tolong lepaskan!" Pinta Aluna yang meringis menahan perih di pergelangan tangan nya."Masuk..!" Satu kata penuh ketegasan juga kemarahan yang memuncak."Aauu ..." Tubuh ramping Aluna terlempar begitu saja di kursi penumpang. Tak lama tubuh besar lain nya ikut masuk dengan nafas
Aluna tak bisa tidur dengan tenang. Setiap perkataan yang Tuan Kenzo lontarkan padanya terus berputar dalam benak Aluna. Gadis itu merasa terhina, di hadapan Tuan Kenzo dirinya seolah tidak punya harga diri. Aluna berfikir jika hal ini terjadi karena pernikahan balas budi yang hanya bertahan di a
Malam semakin larut, Aluna dan Tuan Kenzo berpamitan untuk kembali ke mansion meninggalkan kediaman Tuan Damian.Di depan Tuan Damian Aluna dan Tuan Kenzo bersikap layaknya seorang pasangan suami istri pada umum nya, meskipun Aluna sendiri tahu jika hal itu hanya penuh dengan kepura-puraan saja. Me







