Share

7. Kabur?

last update Tanggal publikasi: 2026-05-30 22:51:39

Tuan Kenzo pergi meninggalkan Aluna begitu saja saat makanan miliknya sudah habis. Tanpa menghiraukan Aluna yang masih berkutat dengan makanan nya sendiri.

"Nyonya kenapa makanan nya hanya diaduk-aduk saja? Apakah Nyonya muda tidak menyukai nya? Saya akan buatkan yang baru untuk nyonya." Kata Bik Tutik yang melihat Aluna tampak tak selera.

"Ah tidak perlu bik, ini enak. Aku hanya tidak berselera makan saja." Jawab Aluna, merasa tidak enak hati.

"Habiskan!" Suara Bariton itu tiba-tiba muncul membuat Aluna seketika terdiam, bagaimana bisa Tuan Kenzo kembali masuk ke dalam rumah dan melihat penolakan Aluna akan makanan yang telah disiapkan Bik Tutik.

"Apa ini rencanamu agar kau sakit dan membiarkan Kakek Tua itu akan menghukum ku?"

"Apa? Tidak-aku hanya..." Aluna menghentikan kalimat nya saat melihat tatapan Tuan Kenzo yang mengintimidasi dan awan gelap sedang menyelimutinya, seolah siap menerkam kapan saja.

"Baiklah akan aku habiskan." Lirih Aluna pada akhirnya. Dia mencoba memasukkan sarapan itu sesendok demi sendok. Meskipun terasa sulit untuk di telan, namun Aluna tak ingin memancing kemarahan Tuan Kenzo.

Akhirnya dengan susah payah Aluna sudah menghabiskan makanan nya dan membereskan meja makan itu lalu beranjak ke dapur.

Sedangkan Tuan Kenzo setelah mesatikan Aluna memakan sarapan nya, dia langsung pergi kembali. Awalnya Tuan Kenzo kembali hanya ingin mengambil laptop nya yang ketinggalan, namun tak disangkanya dia justru melihat darama di meja makan tadi.

"Bik maaf... Apakah boleh aku meminjam ponsel bibik?" Tanya Aluna ragu-ragu setelah menyuci piring kotor milik nya.

"Boleh Nyonya, apakah Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Bik Tutik kembali setelah memberikan ponsel miliknya.

"Tidak bik, aku hanya ingin memesan ojek online saja, soalnya aku harus ke kampus hari ini. Dan ponsel ku tengah rusak, nanti sepulang dari kampus rencananya mau mampir untuk membaikinya." Terang Aluna.

"Maaf Nyonya tapi ojek online tidak bisa masuk ke sini." Mendengar perkataan Bik Tutik, Aluna sempat tertegun dan menghentikan jari nya yang tengah berselancar di layar ponsel milik perempuan parunbaya di hadapan nya itu.

"Kenapa begitu bik?" Tanya Aluna tak percaya.

"Perumahan di sini sangat privat Nyonya, tidak sembarang orang bisa keluar masuk, apalagi ojek online, biasanya mereka hanya akan berhenti di gerbang depan saja."

"Lalu bagaimana caranya aku keluar? Maksudku, aku harus ke kampus hari ini."

"Kenapa Anda tidak meminta Tuan untuk mengantar Nyonya tadi? Atau paling tidak kalian berangkat bersama." Jelas Bik Tutik.

"Itu tidak akan mungkin terjadi Bik, mana berani aku meminta diantar oleh Tuan Kenzo, lagian Tuan juga tidak akan mau dan pasti akan sangat merepotkan nya." Terang Aluna.

"Ah benar juga... sepertinya Tuan hanya butuh penyesuaian diri saja Nyonya. Anda harus sabar menghadapi Tuan Kenzo karena sebenarnya Tuan adalah orang yang biak." Nasihat Bik Tutik sudah seperti seorang ibu bagi Aluna. Dan Aluna sendiri hany bisa menganggukkan kepalanya saja.

"Kalau begitu biar nanti saya minta tolong salah satu penjaga untuk mengantar Nyonya hingga ke pintu masuk yang di depan sana."

"Terima kasih, bibi... "

Aluna segera kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk ke kampus, begitu sampai di dapur ternyata Bik Tutik sudah menunggu.

"Ayo Nyonya, Pak Eko sudah menunggu."

Lelaki berusia sekitar 40 tahuan dengan kulit gelap dan rambut yang sudah mulai memutih tampak sedang menunggu di samping golf car.

"Mari Nyonya silahkan!" Sapa Pak Eko dengan membungkuk memberikan hormat.

"Terima kasih Pak... "

"Pulanglah sebelum Tuan kembali Nyonya!" Perkataan Bik Tutik menghentikan langkah Aluna yang akan menaiki golf car.

"Memang nya Tuan kemana Bik?"

"Apakah Tuan tidak memberitahu Nyonya?" Tanya Bik Tutik yang merasa sedikit heran. Melihat Aluna yang hanya menggelengkan kepala membuat Bik Tutik hanya menghelakan nafasnya dengan pelan.

"Tuan sedang pergi ke pabrik yang berada di pinggiran kota Bandung Nyonya."

"Pukul berapa Tuan biasanya pulang?"

"Sore, kadang sampai malam. Jadi saya harap Nyonya pulang sebelum Tuan kembali, agar Nyonya tidak terkena masalah." Bik Tutik menasehati Aluna, layaknya seorang ibu.

"Baik bibik siap. Kalau begitu aku pergi dulu ya bik."

...

Di kampus Aluna langsung menemui dosen pembimbing nya, kali ini dia harus segera menyelesaikan target yang sempat tertinggal lantaran mengurus ayahnya yang sakit lalu meninggal kan nya untuk selamanya.

Aluna menuju perpustakaan tempat dimana dirinya sudah membuat janji sebelumnya dengan Dosen Arga.

Seorang dosen yang terkenal killer, masih muda nan tampan yang menjadi incaran semua mahasiswa perempuan mulai dari S1 hingga S2 seperti Aluna saat ini.

Sayang nya selama ini Aluna tak pernah tertarik sedikitpun dengan Pak Arga yang kini menjadi dosen pembimbing nya.

Aluna hanya menghormatinya sebagai seorang dosen yang telah membimbingnya, tidak pernah lebih.

"Konsepmu sudah sangat bagus Aluna, tinggal kamu kembangkan lagi bagian Arsitektur Berkelanjutan nya. Agar sesuai dengan isu lingkungan yang saat ini sedang terjadi, dan coba nanti kamu bikin sketsa dan juga solusinya seperti apa, buat dua opsi agar bisa menjadi bahan pembanding dan pertimbangan. Seminggu dari sekarang kembali temui saya untuk melanjutkan perkembangan Tesis mu ini."

"Baik Pak. Terima kasih banyak, kalau begitu saya pamit dulu. Permisi." Ucap Aluna dengan sopan.

"Ya silahkan."

Aluna meninggalkan lingkungan kampus, ia mencari ojek yang mangkal dekat kampus nya. Tujuan nya kali ini adalah konter HP untuk memperbaiki ponselnya.

"Ini sih harus saya cek dulu mbak rusak nya kenapa? Tidak bisa langsung selesai hari ini." Tukas abang konter setelah melihat kerusakan ponsel milik Aluna.

"Kira-kira berapa lama ya bang?"

"Paling lambat besok pagi mbak. Nanti sore kalau memang sudah selesai saya kabari."

"Ya sudah kalau gitu bang, tolong baiki ya. Kalau bisa secepatnya."

Aluna hanya bisa pasra saat ponselnya tak bisa dirinya bawa pulang saat itu juga. Kali ini Aluna kembali menaiki ojek, tujuan nya ke rumah kecil miliknya untuk mengambil motor dan beberapa barang-barang miliknya.

Motor adalah salah satu kendaraan yang Aluna miliki agar bisa pergi kemana saja dengan bebas. Meskipun saat ini dirinya sudah menjadi istri dari seorang pengusaha kaya, namun semua tak seindah yang orang lain lihat.

Bahkan keberadaan nya saja tak pernah diakui.

"Ayah... begitu banyak kenangan di rumah ini, berat rasanya harus meninggalkan rumah ini. Tapi saat ini Aluna sudah menjadi seorang istri yang harus ikut kemana suami membawa Aluna. Meskipun sebenarnya Aluna tak tau bagaimana sebenarnya pernikahan yang sedang Aluna jalani saat ini, Aluna akan mencoba bahagia agar Ayah bisa tenang di sana."

Aluna terdiam duduk di sofa ruang tamu memeluk bingkai foto mendiang ayahnya.

Larut dalam kenangan, tanpa Aluna sadari dirinya tertidur di sofa itu tanpa direncanakan, dirinya terbangun saat mendengar suara pintu sedang di dobrak dari arah luar membuat Aluna terkejut.

"Apa kamu mencoba kabur dari ku? Dan membuat ku berada dalam masalah hah?" Suara lantang dan tatapan nyalang dari lelaki yang baru beberapa hari telah resmi menjadi suaminya itu membuat Aluna yang belum sepenuh nya sadar dari tidurnya merasa terkejut juga rasa takut.

Otak nya belum sempat mencerna apa yang terjadi, sebelum akhirnya tangan nya ditarik paksa oleh Tuan Kenzo membuat tubuh Aluna terseret.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   108

    "Kita mau kemana Tuan?" Tanya Aluna yang merasa keheranan saat kuda yang di tungganginya itu mulai keluar dari area berkuda tempatnya berkeliling tadi. "Kenapa tidak panggil "Mas" Lagi?" Kata Tuan Kenzo yang justru berbalik bertanya pada Aluna, bukan nya menjawab pertanyaan Aluna sebelum nya. Aluna sendiri sampai merasa malas mendengar pertanyaan Tuan Kenzo tadi, bahkan dia sampai memutar bola matanya dengan malas tanpa sepengetahuan Tuan Kenzo. "Lupa." jawab Aluna singkat dan benar-benar malas dibuat nya. "Sekarang?" tanya Tuan Kenzo kembali, seolah benar-benar mengejar jawaban dari Aluna. "Huhf... " Aluna membuang nafasnya dengan berat, merasa muak dengan pertanyaan tak bermutu Tuan Kenzo. "Mas Kenzo sayang, kita mau ke mana?" tanya Aluna kembali dengan nada yang di buat-buat selembut mungkin dan dengan senyum yang di paksakan mengembang. Tepat di saat itu juga dia membalikkan kepalanya menghadap ke arah Tuan Kenzo sehingga keduanya sempat saling tatap sebelum akhirnya

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   107.

    "Kita mau kemana Tuan?" Tanya Aluna yang merasa keheranan saat kuda yang di tungganginya itu mulai keluar dari area berkuda tempatnya berkeliling tadi. "Kenapa tidak panggil "Mas" Lagi?" Kata Tuan Kenzo yang justru berbalik bertanya pada Aluna, bukan nya menjawab pertanyaan Aluna sebelum nya. Aluna sendiri sampai merasa malas mendengar pertanyaan Tuan Kenzo tadi, bahkan dia sampai memutar bola matanya dengan malas tanpa sepengetahuan Tuan Kenzo. "Lupa." jawab Aluna singkat dan benar-benar malas dibuat nya. "Sekarang?" tanya Tuan Kenzo kembali, seolah benar-benar mengejar jawaban dari Aluna. "Huhf... " Aluna membuang nafasnya dengan berat, merasa muak dengan pertanyaan tak bermutu Tuan Kenzo. "Mas Kenzo sayang, kita mau ke mana?" tanya Aluna kembali dengan nada yang di buat-buat selembut mungkin dan dengan senyum yang di paksakan mengembang. Tepat di saat itu juga dia membalikkan kepalanya menghadap ke arah Tuan Kenzo sehingga keduanya sempat saling tatap sebelum akhirnya

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   107

    "Kita mau kemana Tuan?" Tanya Aluna yang merasa keheranan saat kuda yang di tungganginya itu mulai keluar dari area berkuda tempatnya berkeliling tadi. "Kenapa tidak panggil "Mas" Lagi?" Kata Tuan Kenzo yang justru berbalik bertanya pada Aluna, bukan nya menjawab pertanyaan Aluna sebelum nya. Aluna sendiri sampai merasa malas mendengar pertanyaan Tuan Kenzo tadi, bahkan dia sampai memutar bola matanya dengan malas tanpa sepengetahuan Tuan Kenzo. "Lupa." jawab Aluna singkat dan benar-benar malas dibuat nya. "Sekarang?" tanya Tuan Kenzo kembali, seolah benar-benar mengejar jawaban dari Aluna. "Huhf... " Aluna membuang nafasnya dengan berat, merasa muak dengan pertanyaan tak bermutu Tuan Kenzo. "Mas Kenzo sayang, kita mau ke mana?" tanya Aluna kembali dengan nada yang di buat-buat selembut mungkin dan dengan senyum yang di paksakan mengembang. Tepat di saat itu juga dia membalikkan kepalanya menghadap ke arah Tuan Kenzo sehingga keduanya sempat saling tatap sebelum akhirnya Alun

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   106

    Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke ma

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   104

    Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke ma

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   103

    Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke ma

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   8. Salah Paham

    "Akkh ... sakit ... tolong lepaskan!" Pinta Aluna yang meringis menahan perih di pergelangan tangan nya."Masuk..!" Satu kata penuh ketegasan juga kemarahan yang memuncak."Aauu ..." Tubuh ramping Aluna terlempar begitu saja di kursi penumpang. Tak lama tubuh besar lain nya ikut masuk dengan nafas

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   6. Bukan Nyonya Sungguhan

    Aluna tak bisa tidur dengan tenang. Setiap perkataan yang Tuan Kenzo lontarkan padanya terus berputar dalam benak Aluna. Gadis itu merasa terhina, di hadapan Tuan Kenzo dirinya seolah tidak punya harga diri. Aluna berfikir jika hal ini terjadi karena pernikahan balas budi yang hanya bertahan di a

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   5. Malam Pertama atau Bukan?

    Malam semakin larut, Aluna dan Tuan Kenzo berpamitan untuk kembali ke mansion meninggalkan kediaman Tuan Damian.Di depan Tuan Damian Aluna dan Tuan Kenzo bersikap layaknya seorang pasangan suami istri pada umum nya, meskipun Aluna sendiri tahu jika hal itu hanya penuh dengan kepura-puraan saja. Me

  • Kesandung Cinta Tuan Mafia   4. Makan Malam

    Setelah tau akan menikah dengan Tuan Kenzo, saat ingin berangkat ke Gedung Gama untuk melangsungkan pernikahan nya, orang-orang suruhan Tuan Kenzo sudah datang untuk mengambil barang-barang milik Aluna untuk dibawa nya ke mansion. Sehingga barang-barang milik Aluna sudah tertata rapi di dalam kam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status