LOGIN"Kita hadapi ini bersama, tapi tolong jangan pernah pergi dari aku. Itu saja mauku, Om..." bisik Sonya sembari menggenggam tangan pria itu.Antonio menatap netra gadis di depannya, lalu menghela napas panjang. "Kamu benar-benar keras kepala, Sonya."Saat Antonio mencoba berdiri untuk berpindah tempat ke area yang lebih privasi, ia tiba-tiba meringis pelan sembari memegangi pinggangnya. Gerakannya tertahan, dan wajahnya sedikit memucat."Luka baru lagi?" tanya Sonya dengan nada yang mendadak dingin namun sarat akan kekhawatiran. "Peluru?" sambungnya singkat.Antonio hanya mengangguk tipis. Beruntung peluru itu hanya menyerempet bagian pinggang dan sudah berhasil dikeluarkan secara mandiri sebelum ia menemui Sonya. Luka-luka seperti ini sudah menjadi "makanan harian" yang ia santap sejak lama di dunia gelapnya.Sonya mengembuskan napas panjang. "Sampai kapan calon suamiku ini bakal luka terus? Nanti yang membekas di badan Om cuma luka-luka ini, bukan aku," keluh Sonya, mencoba meny
"Papa!" teriak Lana sembari menggebrak pintu. Elian yang tengah serius meninjau laporan di meja kerjanya sampai tersentak dan hampir menjatuhkan pena. "Ya ampun, Lana! Kamu mau bikin Papa masuk rumah sakit karena jantungan?" Elian mengurut dadanya, menatap putrinya yang sudah duduk dengan wajah ditekuk di depannya."Pa, kenapa Eran nggak kerja hari ini?" tanya Lana tanpa basa-basi.Elian menghela napas, mencoba kembali tenang. "Ini hari Minggu, Lana. Dia masih mahasiswa dan butuh hari libur, bukan? Papa bukan mandor yang kejam.""Terus kalau Eran bakal kena bully kalau diistimewakan ?"Diistimewakan?" Elian menaikkan sebelah alisnya. "Kamu pikir karena Eran kenalan kamu, Papa bakal kasih keistimewaan? Di kantor, dia bukan siapa-siapa bagi Papa. Paham?" tegas Elian.Rinjani masuk ke ruangan sambil membawa camilan, tersenyum kecil melihat tingkah suami dan putrinya. Ia duduk di samping Lana dan mengusap bahunya. "Jadi benar, kamu beneran menyukai pria itu?" tanya Rinjani lembut.
Setelah dari ruangan ayahnya,Lana keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru,lorong tadi sudah sepi, membuat nya mencari Eran kesudut lain. "Di mana sih dia? Cepat banget hilangnya!" gumam Lana kesal. "Cari siapa, Tuan Putri?" Lana tersentak. Eran tiba-tiba muncul dari balik pilar besar sambil meletakkan ember pel di tangannya. Pria itu berdiri santai, menatap Lana dengan pandangan menyelidik yang khas. "Nyari lo lah!" jawab Lana jujur, napasnya masih sedikit terengah. "Gue? Buat apa? Lo ada masalah apa lagi sama gue?" tanya Eran sambil melipat tangan di dada. "Bukan masalah. Ini... gue ada hadiah buat lo, sekalian permintaan maaf," ujar Lana sembari menyodorkan kotak hitam yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tasnya. Eran mengernyitkan dahi, menatap kotak itu dengan ragu. "Ini apa? Minta maaf buat apa?" "Karena gue udah bikin lo tertahan di pusat rehabilitasi cukup lama." Eran terdiam sejenak. Ia menatap kotak mahal itu, lalu kembali menatap Lana. Ia sempat
Seminggu berlalu. Eran akhirnya berdiri di depan gedung pencakar langit milik keluarga Baskara. Ia terpaksa menerima tawaran itu, bukan karena ia tunduk pada kekuasaan Elian, melainkan karena realita hidup menghantamnya dengan keras. Belasan lamaran kerja paruh waktu yang ia sebar selama seminggu ini berakhir nihil; sebagian menolak karena status rehabilitasinya, sebagian lagi bahkan tidak memberinya kesempatan bicara. Demi bisa tetap kuliah pagi dan menyambung hidup, ia harus menelan harga dirinya bulat-bulat.Di dalam ruang kerja yang luas dan aromanya tercium seperti kemewahan yang mengintimidasi, Eran duduk berhadapan langsung dengan pria yang menjadi alasan ayahnya di penjara."Siang, Pak Elian," sapa Eran. Suaranya rendah, tanpa nada berlebihan. "Saya tidak menyangka, orang sepenting Anda punya waktu luang untuk mewawancarai langsung orang seperti saya." Ucapannya sopan, namun ada sindiran tipis yang tersirat di sana. Ia tahu betul, untuk posisi Office Boy, seharusnya Elian
Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari kebebasan Eran. Sebelum menjemput pria itu, Lana menyeret sahabat masa kecilnya, Arka, ke sebuah mal mewah.Arka kuliah di kampus kelas atas jurusan Manajemen, sementara Lana dan Eran satu kampus di jurusan yang sama—Manajemen Bisnis."Lana, please! Kita sudah keliling tiga lantai hanya untuk mencari satu benda mekanik ini!" Arka memprotes sambil membenahi tatanan rambutnya di pantulan kaca etalase. "Bisa nggak kita ke store parfum aja? Bau mal ini terlalu 'biasa' buat hidung gue hari ini.""Diem deh, Ka! Ini penting. Eran itu punya ambisi besar. Dia nggak mau cuma jadi orang biasa, dia mau sukses. Dan kamera ini... ini alat dia buat melihat dunia dari sudut pandang beda," sahut Lana sambil menunjuk sebuah kamera profesional seri terbaru.Arka mendekat, matanya menyipit kritis melihat harga yang tertera. "Lo mau beli barang seharga gaji manajer tingkat menengah untuk seorang cowok yang baru keluar rehab? Seriously, Lana? Lo
Berbulan-bulan lamanya, penolakan demi penolakan menjadi asupan harian bagi Lana. Namun, gadis itu memiliki keteguhan hati yang keras kepala. Hingga tiba di hari itu, di sebuah sore yang tenang di taman pusat rehabilitasi, pemandangan di depannya membuat napas Lana tertahan. Eran sedang duduk di bawah pohon besar, tangannya sibuk menggoreskan sketsa di atas kertas. Wajahnya tidak lagi sepucat mayat; ada rona kehidupan yang kembali menghiasi kulitnya. "Eran!" teriak Lana gembira, setengah berlari menghampiri pria itu. Eran mendongak. Matanya yang tajam kini terlihat lebih jernih dan fokus. Ia memperhatikan Lana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lana hari ini tampil berbeda; ia mengenakan gaun floral selutut yang manis, dan rambut panjangnya kini berwarna cokelat terang yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Jantung Lana berdetak tak keruan saat Eran terus menatapnya tanpa kedip. Apakah dia terpesona? batin
"Sonya..." batin Maya perih. Dadanya terasa sesak saat melihat lampu ruang IGD yang masih menyala merah.Kenapa semua jadi begini? Dulu, di tahun-tahun pertama pernikahan, Maya sempat mencoba membuka hati untuk Abil. Namun, setiap kali ia mencoba melangkah mendekat, orang tua Abil selalu saja meng
Abil memacu mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan gila. Ponsel di dasbor terhubung ke speaker mobil, tersambung ke panggilan Maya yang baru diangkat setelah puluhan kali mencoba."Ngapain sih kamu nelpon terus mas? Aku kan udah bilang mau pergi!" suara Maya terdengar ketus da
Di kediaman keluarga Abil dan Maya yang megah namun terasa dingin, Sonya melangkah masuk dengan bahu yang masih merosot. Rumah itu selalu terasa terlalu luas untuk tiga orang yang jiwanya saling menjauh."Ma, aku pulang," ucap Sonya pelan.Maya yang sedang duduk di sofa ruang
"Aku akan memenjarakan pria itu, aku janji."Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkan Elian sebelum ia melangkah pergi. Boy, yang biasanya tidak pernah kehabisan kata-kata dan selalu punya selera humor pedas untuk mencairkan suasana, kini hanya bisa berdiri mematung. Pria kemayu







