Teilen

Bab 32 - Terlambat

last update Zuletzt aktualisiert: 24.12.2025 21:39:03

Satu minggu berlalu. Rumah Baskara berubah menjadi tempat yang mengerikan. Elian tidak lagi pergi ke kantor. Ia mengurung diri di rumah, menolak makan, dan hanya mau meminum obat penenangnya dalam dosis yang mengkhawatirkan.

​Bi Lastri mencoba membawakan nampan makanan ke kamarnya. "Tuan, makanlah sedikit. Nyonya Rinjani pasti sedih melihat Tuan seperti ini."

​Mendengar nama itu, Elian mendongak. Wajahnya kuyu, janggut tipis mulai tumbuh tidak teratur di dagunya. Matanya merah dan cekung.

​"Dia tidak akan sedih. Dia membenciku. Aku menyebutnya pelayan. Aku menyebutnya perabotan."

​Tiba-tiba, Elian berdiri dan menyambar nampan itu, melemparnya ke arah pintu. PRANG! Bubur ayam itu berhamburan di lantai.

​"KELUAR! JANGAN SEBUT NAMANYA LAGI!" teriaknya.

​Namun, semenit kemudian, Elian jatuh terduduk di lantai dan menangis terisak-isak, memeluk lututnya sendiri. Penyakit temperamentalnya telah mencapai titik di mana ia tidak bisa membedakan antara amarah dan kesedihan. Ia merindukan Rinjan
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 82

    Setelah suasana berhasil ditenangkan sejenak—dengan bantuan tim keamanan yang akhirnya mampu menggiring orang-orang Hendra keluar dari area lobi utama—Elian kembali ke ruangannya.​Ya, Elian sadar betul. Ia tidak boleh menunjukkan kemarahan berlebihan. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak kembali menjadi 'monster' mengerikan yang meledak-ledak seperti dulu. Amarah hanya akan membutakan logika, dan itu adalah hal yang sangat diinginkan oleh pamannya.​"Berpikir, Elian... Berpikir. Ini bisa diselesaikan dengan mudah. Hendra hanya sedang mencoba menghancurkan gedung ini, menghancurkan tempat fisik, bukan menghancurkan kamu," gumam Elian pada dirinya sendiri. Sebuah tawa kecil yang terdengar meremehkan lolos dari bibirnya. Ia tahu, gedung bisa dibangun kembali, tapi martabat adalah hal yang berbeda.​Pintu ruangan terbuka perlahan. Maya melangkah masuk dengan wajah yang pucat pasi dan gurat kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. ​"

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 81

    Siang itu, di sebuah butik kelas atas tempat para sosialita berkumpul, sebuah rekaman suara dan foto-foto Boy yang sengaja diambil dari sudut yang salah mulai tersebar di grup-grup WhatsApp.​"Loh, itu si Boy kan? Desainer yang katanya 'main' sama laki? Kok bisa ya, dia jalan sama cewek cantik gitu? Maya kan itu sekretarisnya Elian?" bisik seorang wanita bermahkota berlian sambil menunjukkan ponselnya.​"Apa jangan-jangan mereka main bertiga ya? Iiih, serem, gila ya! Wajar sih wajah kayak gini seleranya laki-laki, tapi kok ceweknya diajak juga? Kasihan ya si Maya, jangan-jangan cuma dijadikan tameng biar si Boy kelihatan normal," timpal yang lain dengan nada jijik yang dibuat-buat.​Gosip itu menyebar seperti api di atas bensin. Tidak hanya di kalangan sosialita, tapi sampai ke telinga para tetangga di sekitar apartemen Maya dan lingkungan studio Boy.​Di Studio Boy​Boy sedang asyik mencocokkan warna kain pada manekin saat ia menyadari beberapa karyawannya berbisik-bisik di pojokan s

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 80 - Baskara Global Syndicate" (BGS)

    Begitu pintu kaca studio terbuka, Boy langsung merentangkan tangannya lebar-lebar dengan gaya teatrikal, seolah-olah ia baru saja memenangkan piala Oscar.​"Duh, lega banget gue! Attention, please! Guys, ini dia... perkenalkan, calon Nyonya pemilik Studio kedua kita! Maya! Yeee! Jangan lupa kalian hapal wajah cantiknya, jangan sampai nanti dia datang terus kalian tagih biaya jahit!" seru Boy heboh pada belasan karyawannya yang masih lembur.​Deni hanya mengangkat kacamatanya dengan ujung telunjuk, menatap datar ke arah Boy seolah sudah terbiasa dengan kegilaan bosnya itu. Sementara itu, para karyawan yang lain mulai tersenyum lebar, beberapa bahkan mendekat untuk bersalaman dengan Maya yang wajahnya masih sedikit sembab namun kini dihiasi rona bahagia.​"Selamat ya, Mbak Maya! Akhirnya Bos kita nggak galau lagi!" celetuk salah satu pegawai. ​"Duh, sudah, sudah! Jangan bikin calon gue malu," Boy mengibaskan tangannya, lalu menoleh ke arah Deni den

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 79 - Pilihan Maya

    Malam itu, restoran bintang lima tersebut terasa begitu menyesakkan bagi Maya. Di hadapannya, Abil duduk dengan senyum percaya diri, dikelilingi oleh keluarga besar mereka yang tengah sibuk membicarakan detail pertunangan.​"May," sapa Boy singkat.​Ia tidak datang sendiri. Di belakangnya, Elian berjalan dengan tenang, memberikan dukungan moral yang tak terucapkan. Langkah Boy terhenti tepat di samping meja panjang keluarga besar itu.​"Mas... kamu mau apa ke sini?" tanya Maya. Jantungnya berdegup kencang, antara takut dan bahagia melihat Boy benar-benar muncul. ​"Lo nggak lihat? Ini tempat makan, ya gue ke sini mau makan malam lah," sahut Boy santai, meski matanya berkilat tajam menatap Abil. "Sekalian, gue mau bilang deh kalau gitu—di depan calon lo, di depan keluarga besar lo—kalau gue nggak setuju sama pertunangan lo sama Abil Labil entah siapa itu namanya!"​Meja itu seketika hening. Abil tersentak, wajahnya memerah menahan malu. Ay

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 78 - Jangan menyerah

    "Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya dan berlalu tanpa perasaan.​Maya berdiri mematung di tengah lobi, merasakan tatapan orang-orang kantor yang mulai berbisik. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memutar tumit dan berjalan cepat menuju lift. Begitu sampai di ruangan sekretaris yang sepi karena jam istirahat belum berakhir, pertahanannya runtuh total. ​Maya jatuh terduduk di kursinya, menyembunyikan wajah di balik lipatan tangan di atas meja. Ia menangis sejadi-jadinya, isakan yang menyesakkan dada hingga bahunya terguncang hebat. Semua pengakuan cintanya, semua harapannya, hancur lebur hanya dalam hitungan menit oleh lisan sang ibu dan kepasrahan Boy yang menyakitkan.​Di tengah isakannya, ponsel yang tergeletak d

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 77 - Takdir Yang tak merestui

    ​Matahari siang itu terasa menyengat di depan gedung megah Baskara Group, namun suasana di antara Boy dan Maya jauh lebih panas. Sudah dua hari Boy menghilang bak ditelan bumi, meninggalkan Maya dalam kegelisahan yang menyiksa. ​"Mas... Mas sengaja cuekin aku?" tanya Maya dengan suara bergetar. Langkahnya mencegat Boy tepat di lobi luar.​Boy berhenti, namun ia tidak menoleh. Kacamata hitam menutupi matanya yang lelah karena lembur dan kurang tidur. "Gimana pertemuan lo? Lancar? Apa lo bakal langsung tunangan?" tanya Boy, nadanya datar, tanpa embel-embel ceria seperti biasanya.​"Mas, aku suka sama Mas!" seru Maya akhirnya, pecah sudah pertahanannya. Ia tidak peduli lagi dengan orang-orang kantor yang berlalu-lalang.​Boy perlahan membuka kacamatanya, menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo bilang suka sama gue, tapi jalan sama cowok lain di depan mata gue. Maksud lo apa, May? Lo mau pamer kalau lo laku?"​"Karena Mas nggak bisa kasih apa yang aku mau! Mas nggak pernah

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status