LOGIN"Gimana, Kak? Om Antonio udah baikkan?" tanya Sonya duduk disamping Saka di bangku taman sekolah."Papa masih belum mau buka mata," jawab Saka. "Sonya, lo tahu sesuatu tentang Papa?"Untuk kali pertama dalam hidupnya, Saka menyadari betapa sedikit ia mengenal pria yang membesarkannya. Selama ini, Antonio selalu tampil rapi dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Namun, di ruang ICU kemarin, saat perawat mengganti perban, Saka melihatnya—deretan tato legam yang merayap di punggung dan lengan ayahnya. Sebuah peta rahasia dari dunia yang tak pernah ia sentuh.Sonya duduk di samping Saka, mengabaikan tatapan penasaran murid lain yang berlalu-lalang. "Menurutmu sendiri gimana?""Papa cuma pakai kedok sebagai pengusaha logistik. Dia menyembunyikan hal yang jauh lebih kelam di sana," gumam Saka."Dan kamu keberatan?" tanya Sonya tenang.Saka menatap gadis di sampingnya. Sonya yang dulu ia anggap rapuh, kini justru menjadi orang yang paling berani menasihatinya."Kak, siapapun d
"Sonya..." Saka berbisik, suaranya tercekat saat menatap pakaian gadis itu yang basah kuyup oleh darah merah pekat yang mulai mengering. Horor terpancar jelas dari matanya."Saka... Om Antonio..." Sonya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, bahunya berguncang hebat karena sisa trauma. "Ada apa sebenarnya? Kenapa bisa seperti ini? Apa Papa dirampok?" cecar Saka, tangannya gemetar saat memegang pundak Sonya, menuntut jawaban yang masuk akal.Sonya terdiam. Ingatannya kembali ke pelabuhan—pemandangan mayat yang bergelimpangan, senjata api, dan bagaimana Antonio bertarung layaknya monster yang haus darah. Jelas sekali pria itu bukan orang sembarangan. Apa aku harus mengatakannya? Apa aku harus membongkar sisi gelap pria itu sekarang? batin Sonya. "Tidak..." ucap Sonya tegas, ia memilih menyimpan rahasia itu demi martabat Antonio di mata anaknya."Apa Papa menyembunyikan hal lain lagi?" gumam Saka, mulai curiga dengan keheningan Sonya y
Sore itu, begitu pintu depan terbuka, Antonio langsung berdiri dari kursi kerjanya. Ia sengaja menunda semua demi anaknya. "Saka, kamu sudah pulang? Bagaimana tadi... di sekolah?" tanya Antonio, suaranya mengandung nada kecemasan yang tertahan setelah Saka kabur dari rumah. "Baik, Pa," jawab Saka singkat. Ia memberikan senyum simpul—hanya sebuah formalitas agar sang ayah tidak bertanya lebih jauh."Kamu masih marah pada Papa?" Tanya Antonio menahan bahu Saka saat anak itu hendak ke kamarnya.Saka terdiam sejenak, menatap anak tangga di depannya dengan tatapan kosong. "Aku nggak bisa marah lama-lama sama Papa. Memangnya aku bisa apa tanpa Papa?" Saka menoleh sedikit, menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh luka tersembunyi. "Aku harus sadar diri, kan? Kalau bukan karena Papa, aku hanyalah anak yang ditelantarkan. Mungkin kalau bukan karena pertolongan Papa belasan tahun lalu, aku sudah ada di dalam tanah bersama Mama.""Jangan bersikap seperti ini pada Papa, Saka... Papa mel
Keesokan harinya, Lana keluar kamar dengan mata bengkak. Ia tidak menuju meja makan. Ia langsung menuju pintu depan."Lana, sarapan dulu..." panggil Rinjani lirih.Lana berhenti sebentar, tangannya mencengkeram tali tas sekolahnya kuat-kuat. "Aku nggak mau satu meja sama pembohong," jawabnya singkat tanpa menoleh pada Elian yang duduk mematung di kursi makan.Setelah Lana pergi, Elian mencoba berdiri, namun langkahnya limbung. Keinginannya untuk mengejar Lana terkubur begitu saja."Jangan dipaksa, Elian," ucap Rinjani sambil membereskan piring yang sama sekali tidak disentuh."Berikan dia waktu. Berikan kita waktu.""Bagaimana dengan Saka?" tanya Elian parau."Biarkan dia menjadi urusan Antonio untuk saat ini. Kamu sudah cukup mengacaukan hidupnya belasan tahun lalu. Jangan ditambah lagi sekarang."Sementara itu, di sekolah, Lana bertemu dengan Saka di koridor yang sepi. Keduanya berhenti. Jarak yang biasanya hanya sejengkal, kini terasa seperti jurang ribuan kilometer.Lana m
"Papa dan Mama nggak ada niat buat pisah, kan?" tanya Lana cemas, suaranya bergetar saat mendekati kedua orang tuanya.Ia menatap Elian dan Rinjani bergantian, mencari kepastian di tengah suasana yang mendadak terasa berat."Lana, kemarilah..." ujar Elian lirih.Lana melangkah mendekat. Entah kenapa, ada rasa sesak yang aneh di dadanya, seakan sebuah badai besar baru saja menghantam fondasi rumah yang selama ini ia anggap kokoh. Masalah ini terasa jauh lebih rumit dari sekadar pertengkaran biasa."Ada apa, Pa?" tanya Lana dengan nada menuntut kejelasan."Duduk di sini, Sayang. Papa akan menceritakan semuanya," ucap Elian sembari menepuk tempat di sampingnya.Lana hanya menurut, meski jemarinya kini saling bertautan dengan gelisah. Elian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya sebelum mulai membuka kotak pandora yang telah ia kunci rapat selama belasan tahun."Dulu, jauh sebelum kehidupan kita
"Duh, Pa, Mama mana sih? Sudah dua hari nggak pulang-pulang?" tanya Lana. Matanya mulai berkaca-kaca. Setiap pesan yang ia kirim dan telepon yang ia tujukan pada ibunya, tak satu pun yang mendapat balasan."Sabar, Sayang. Mama pasti pulang," jawab Elian pelan."Papa nggak menyembunyikan apa pun, kan? Papa dan Mama lagi nggak berantem, kan?" desak Lana.Melihat betapa kacaunya sang ayah belakangan ini, ia merasa ada yang sangat tidak beres. Ayahnya bahkan tidak berangkat kerja dan terus-menerus mengurung diri di kamar dengan tatapan kosong."Pa, jujur sama aku.""Papa belum bisa mengatakan apa pun, Lana.""Jadi bener, Papa dan Mama berantem? Tapi kenapa Mama menghindari aku juga, Pa? Memangnya aku salah apa? Apa semua gara-gara aku? Kalau iya, aku minta maaf. Tapi suruh Mama pulang, Pa... aku kangen banget," isak Lana mulai pecah.Elian hanya bisa mengusap kepala putrinya dengan lembut, sebuah gerakan yang justru terasa menyakitkan karena ia tahu kebenaran yang ia simpan bisa men
"Pria itu lagi? Kenapa dia bisa mengikuti sampai ke rumah baru ini?" gumam Rinjani pada dirinya sendiri. Rinjani menyibakkan sedikit gorden kamar. Di luar sana, di bawah remang lampu jalan yang seolah enggan menerangi kegelapan, siluet itu kembali berdiri. Pria dengan mantel panjang gelap itu tid
"Mencintaiku?" Rinjani tertawa getir, suaranya pecah di antara deru angin desa yang kering. "Atau kau cuma butuh wadah untuk meluapkan segalanya lalu menghancurkannya sesukamu? Kau sudah mengatakan banyak hal, Elian, dan semua itu adalah kebohongan yang dibungkus kemewahan. Aku membencimu! Pergi da
"Kamu suka kamar ini?" tanya Elian saat mereka melangkah masuk. Ruangan itu terasa luas dengan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk. Dindingnya yang putih cerah memberikan kesan bersih dan damai."Lebih hidup," jujur Rinjani. Ia bisa merasakan energi positif yang jauh berbeda dar
Di dalam kamar tamu, Rinjani bergerak dengan sangat tenang. Tidak ada air mata yang jatuh, yang ada hanya gerakan jemari yang cekatan melipat pakaian-pakaian lamanya—pakaian yang ia bawa sebelum ia "dibeli" oleh Elian.Ia tidak menyentuh satu pun gaun sutra, tas bermerek, atau sepatu mewah pemberi







