Masuk"Kamu suka kamar ini?" tanya Elian saat mereka melangkah masuk. Ruangan itu terasa luas dengan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk. Dindingnya yang putih cerah memberikan kesan bersih dan damai.
"Lebih hidup," jujur Rinjani. Ia bisa merasakan energi positif yang jauh berbeda dari kamar mereka yang lama.Elian meletakkan jam tangannya di atas nakas, menyimpan tasnya, lalu tanpa peringatan ia melingkarkan lengannya di pinggang Rinjani dari belakang."Elian..." Rinjani tersentak kecil."Masih mual?" bisik Elian tepat di telinganya."Tidak, sudah jauh lebih baik.""Baguslah, Nyonya Baskara." Elian membalikkan tubuh Rinjani agar menghadapnya. "Sekarang, datanglah padaku. Mari kita jadikan ini malam pertama yang seharusnya sudah terjadi berbulan-bulan lalu.""Kamu tidak lelah? Kamu baru saja menyetir jauh.""Untukmu, aku selalu punya tenaga lebih," godanya dengan senyum tipis yang mematikan.Begitu pintu kaca studio terbuka, Boy langsung merentangkan tangannya lebar-lebar dengan gaya teatrikal, seolah-olah ia baru saja memenangkan piala Oscar."Duh, lega banget gue! Attention, please! Guys, ini dia... perkenalkan, calon Nyonya pemilik Studio kedua kita! Maya! Yeee! Jangan lupa kalian hapal wajah cantiknya, jangan sampai nanti dia datang terus kalian tagih biaya jahit!" seru Boy heboh pada belasan karyawannya yang masih lembur.Deni hanya mengangkat kacamatanya dengan ujung telunjuk, menatap datar ke arah Boy seolah sudah terbiasa dengan kegilaan bosnya itu. Sementara itu, para karyawan yang lain mulai tersenyum lebar, beberapa bahkan mendekat untuk bersalaman dengan Maya yang wajahnya masih sedikit sembab namun kini dihiasi rona bahagia."Selamat ya, Mbak Maya! Akhirnya Bos kita nggak galau lagi!" celetuk salah satu pegawai. "Duh, sudah, sudah! Jangan bikin calon gue malu," Boy mengibaskan tangannya, lalu menoleh ke arah Deni den
Malam itu, restoran bintang lima tersebut terasa begitu menyesakkan bagi Maya. Di hadapannya, Abil duduk dengan senyum percaya diri, dikelilingi oleh keluarga besar mereka yang tengah sibuk membicarakan detail pertunangan."May," sapa Boy singkat.Ia tidak datang sendiri. Di belakangnya, Elian berjalan dengan tenang, memberikan dukungan moral yang tak terucapkan. Langkah Boy terhenti tepat di samping meja panjang keluarga besar itu."Mas... kamu mau apa ke sini?" tanya Maya. Jantungnya berdegup kencang, antara takut dan bahagia melihat Boy benar-benar muncul. "Lo nggak lihat? Ini tempat makan, ya gue ke sini mau makan malam lah," sahut Boy santai, meski matanya berkilat tajam menatap Abil. "Sekalian, gue mau bilang deh kalau gitu—di depan calon lo, di depan keluarga besar lo—kalau gue nggak setuju sama pertunangan lo sama Abil Labil entah siapa itu namanya!"Meja itu seketika hening. Abil tersentak, wajahnya memerah menahan malu. Ay
"Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya dan berlalu tanpa perasaan.Maya berdiri mematung di tengah lobi, merasakan tatapan orang-orang kantor yang mulai berbisik. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memutar tumit dan berjalan cepat menuju lift. Begitu sampai di ruangan sekretaris yang sepi karena jam istirahat belum berakhir, pertahanannya runtuh total. Maya jatuh terduduk di kursinya, menyembunyikan wajah di balik lipatan tangan di atas meja. Ia menangis sejadi-jadinya, isakan yang menyesakkan dada hingga bahunya terguncang hebat. Semua pengakuan cintanya, semua harapannya, hancur lebur hanya dalam hitungan menit oleh lisan sang ibu dan kepasrahan Boy yang menyakitkan.Di tengah isakannya, ponsel yang tergeletak d
Matahari siang itu terasa menyengat di depan gedung megah Baskara Group, namun suasana di antara Boy dan Maya jauh lebih panas. Sudah dua hari Boy menghilang bak ditelan bumi, meninggalkan Maya dalam kegelisahan yang menyiksa. "Mas... Mas sengaja cuekin aku?" tanya Maya dengan suara bergetar. Langkahnya mencegat Boy tepat di lobi luar.Boy berhenti, namun ia tidak menoleh. Kacamata hitam menutupi matanya yang lelah karena lembur dan kurang tidur. "Gimana pertemuan lo? Lancar? Apa lo bakal langsung tunangan?" tanya Boy, nadanya datar, tanpa embel-embel ceria seperti biasanya."Mas, aku suka sama Mas!" seru Maya akhirnya, pecah sudah pertahanannya. Ia tidak peduli lagi dengan orang-orang kantor yang berlalu-lalang.Boy perlahan membuka kacamatanya, menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo bilang suka sama gue, tapi jalan sama cowok lain di depan mata gue. Maksud lo apa, May? Lo mau pamer kalau lo laku?""Karena Mas nggak bisa kasih apa yang aku mau! Mas nggak pernah
"May, jadi kita ketemuan?" tanya Abil di seberang telepon. Suaranya terdengar penuh harap, namun Maya hanya bisa menatap aspal di depan lobi kantor dengan pandangan kosong."Aku pikir lagi ya, Mas. Soalnya masih banyak kerjaan yang harus diberesin," ucap Maya pelan. Ia segera menutup sambungan telepon itu bahkan sebelum Abil sempat membalas."May, kamu ada masalah?Maya tersentak. Ia menoleh dan mendapati Elian sudah berdiri di sampingnya. Pria itu tampak lebih tenang setelah rapat panjangnya, namun sorot matanya yang tajam tetap bisa menangkap kegelisahan sang sekretaris. Maya diam sejenak, meremas pelan ponsel di tangannya. Ia menghela napas panjang, lalu tertawa kecil—tipe tawa yang digunakan seseorang untuk menutupi rasa sesak."Gini Pak, sebenarnya..." Maya menjeda kalimatnya, menatap ujung sepatunya sendiri. "Sebenarnya saya sedikit berharap pada Mas Boy. Tapi gimana ya, Pak Elian kan tahu sendiri... dia lebih tertarik pada cowok beroto
Sesampainya di ruangan Maya, Boy disambut oleh suara ketukan papan ketik yang terdengar lebih seperti dentuman genderang perang. Maya tidak menoleh sedikit pun, wajahnya kaku, menunjukkan level kekesalan yang sudah mencapai ambang batas."Ada apa, Mas Boy? Enggak ada kerjaan lain apa selain ke sini?" tanya Maya dengan nada dingin yang bisa membekukan air laut. Maya benar-benar murka karena Boy menghilang tanpa kabar kemarin, meninggalkannya menunggu seperti patung di kafe sementara Boy asyik berlibur dengan Elian dan Rinjani.Boy yang awalnya masuk dengan gaya catwalk, langsung mengerem mendadak. Bahunya menciut. "Eh... lo marah, May?""Menurut Mas gimana?" tantang Maya sambil membanting folder dokumen ke meja. BRAK! Ia menatap Boy tajam."Duh, May... itu mata udah kayak mau keluar dari celahnya. Gue kan takut diplototin gitu. Gue kan udah kirim pesan permintaan maaf semalam," ucap Boy dengan suara yang mulai melengking panik, tangannya s







