Share

Bab 53 -

Author: Pipin
last update publish date: 2026-01-03 22:26:49

"Boy... aku harus apa? Bagaimana kalau Rinjani benar-benar kehilangan anak kami?" bisik Elian dengan suara parau yang bergetar hebat.

​Boy hanya bisa terdiam, air matanya jatuh tak terbendung. Ia ingin menghibur, namun kenyataannya terlalu pahit untuk ditelan. Tak lama, pintu ruang tindakan terbuka. Dokter Zidan keluar dengan wajah yang menunjukkan duka mendalam.

​"Janinnya... tidak bisa diselamatkan,pak Elian. Pendarahan hebat akibat tekanan mental yang ekstrem membuat dinding rahimnya meluruh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 281 - Terima kasih, Sayang.

    Malam harinya, kediaman utama keluarga Baskara yang tadinya riuh rendah kini telah senyap. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, menyisakan pendar temaram di sudut-sudut ruangan. Di dalam kamar utama yang hangat, Elian masih duduk di kursi goyang kayu, mendekap salah satu anak kembar Saka di dadanya. Tangan kecil bocah itu mencengkeram erat kemeja Elian, sementara Elian terus menepuk-nepuk pelan punggung sang cucu dengan ritme konstan, menidurkannya dengan penuh kasih sayang.Rinjani membuka pintu kamar dengan sangat perlahan, nyaris tanpa suara. Langkah kakinya terhenti sejenak di ambang pintu, terpaku menatap pemandangan indah di hadapannya. Ada binar kebahagiaan dan kedamaian yang begitu tulus di wajah suaminya—pemandangan yang dulu sempat ia pikir tidak akan pernah bisa ia saksikan lagi.Rinjani melangkah mendekat, lalu berbisik lirih, "Capek, Sayang?"Elian mendongak, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Meskipun badannya terasa kaku dan lelah luar biasa pascaoperasi besar

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 280 - Keluarga

    Dua tahun telah berlalu sejak malam mencekam yang hampir merenggut fondasi terbesar keluarga Baskara. Kini, suasana di kediaman utama tidak lagi sepi dan menegangkan, melainkan dipenuhi riuh rendah tawa dan langkah-langkah kecil yang menggemaskan. "Lagi-lagi Mami nggak didengar, ya?!" bentak Lana—yang kini sudah berubah menjadi wanita karier mandiri—kepada putra kecilnya yang super aktif. Lana yang sudah rapi mengenakan setelan kantor modisnya terpaksa harus berlari ke sana kemari di atas high heels-nya, mencoba menangkap sang anak demi mendapatkan sebuah pelukan sebelum berangkat kerja. Namun, bocah lelaki itu lagi-lagi menghindar sambil tertawa cekikikan, sengaja membuat maminya gemas. "Pa... Ma... Lihat anak ini, nakal banget," rengek Lana manja, kembali memunculkan sifat aslinya jika sudah di depan orang tuanya. Elian Baskara yang duduk di sofa panjang hanya tertawa renyah. Wajahnya kini jauh lebih segar, meski gurat-gurat lelah pasca sakit masih tersisa sedikit. Dengan gemas,

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 279 - Lilin kehidupan yang redup

    "Aku janji, Pa..." bisik Eran, menatap lurus ke dalam mata Elian dengan keyakinan penuh. Ia menggenggam tangan Lana, menuntunnya untuk duduk bersama di atas panggung pelaminan yang megah bak singgasana raja.Pesta terus berjalan. Alunan musik romantis mengudara, dansa pertama pengantin baru yang memukau, hingga sesi foto dan bersalaman dengan ratusan tamu undangan yang datang silih berganti. Tak terasa, Elian melewati semua prosesi melelahkan itu begitu saja. Luapan rasa bahagia dan haru melihat putri bungsunya telah sah menjadi seorang istri seolah menjadi obat bius alami, mengubur rasa sakit yang membakar paru-parunya untuk sementara waktu.Di sudut area VIP, Antonio melangkah mendekati Elian. Di samping pria paruh baya itu, Karin ikut tersenyum lega melihat momen sakral tersebut berlalu tanpa ada air mata kesedihan."Kamu hebat, Elian," ujar Antonio, menepuk pundak sahabat lamanya itu dengan tatapan penuh rasa hormat. Sebagai sesama pria tangguh, Antonio tahu berapa besar harga yan

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 278 - Senyuman (palsu) di Pelaminan

    Alunan musik klasik bergema megah di dalam ballroom hotel bintang lima yang didekorasi bak istana dongeng. Ribuan lampu kristal berkilauan, memantulkan kemewahan yang sempurna. Di tengah karpet merah yang membentang menuju panggung pelaminan, Elian Baskara berdiri dengan gagah, mengenakan setelan tuksedo hitam terbaiknya."Selamat buat pernikahan kamu, Sayang. Lihat, cantiknya putri Papa hari ini," bisik Elian, suaranya terdengar sangat lembut di telinga Lana.Tangan Elian yang terasa sedingin es menggandeng erat jemari putrinya. Wajah pria paruh baya itu tampak sangat pucat, kontras dengan kemegahan di sekelilingnya. Namun, ia mati-matian memaksakan sebuah senyuman hangat di bibirnya, menyembunyikan getaran ringan yang terus menjalar di sekujur tubuhnya akibat rasa sakit yang membakar paru-parunya.Di sudut barisan depan, Saka berdiri menatap pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Air matanya tertahan di pelupuk mata. Pemandangan hari ini seketika melempar ingatan Saka ke

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 277 - Waktu

    Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Saka duduk di tepi tempat tidur dengan kepala yang serasa mau pecah. Kamarnya gelap, hanya diterangi kilatan cahaya dari layar ponselnya. Setelah berjam-jam bertarung dengan nuraninya sendiri, tanpa babibu lagi, Saka langsung menekan tombol panggilan untuk menghubungi ibu sambungnya, Rinjani. Ia tahu, di rumah sana, wanita itu pasti sedang terjaga dalam badai air mata yang sama. Panggilan itu diangkat pada nada kedua. Suara Rinjani terdengar begitu parau dan bergetar di seberang telepon, langsung menuntut jawaban setelah Saka membeberkan rencana gilanya bersama Eran tentang obat eksperimental dari Profesor Vance. "Jadi... kemungkinan dia sembuh, itu nol? Dan ini hanya satu-satunya cara kita?" tanya Rinjani dengan suara setelah mungkin agar tidak membangun kan suaminya. "Ma, hanya ini jalan yang aku punya saat ini. Satu-satunya pilihan yang bisa aku dapat dari Papa Antonio," jawab Saka. "Dokter konvensional sudah angkat tangan, Ma. Mereka

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 276 - Secercah Harapan

    "Pa, apa Papa nggak bisa usahain, Pa? Cari di mana pun dokter terbaik di dunia ini buat Papa Elian. Aku mohon, Pa..." Saka memelas saat malam itu memasuki kediaman ayahnya. "Saka, tenangkan dirimu," ucap Antonio, suaranya berat dan tenang. "Kamu kira ini perkara mudah? Kanker stadium akhir bukan musuh di jalanan yang bisa Papa singkirkan dengan senjata atau uang. Bahkan untuk Papa sekalipun, melawan takdir dan penyakit itu bukan hal yang gampang.""Tapi pasti ada jalan kan, Pa?! Papa punya koneksi di seluruh dunia! Papa punya segalanya! Tolong, aku nggak mau kehilangan Papa Elian!" seru Saka frustrasi, air mata kemarahan dan keputusasaan akhirnya lolos dari pelupuk matanya.Antonio terdiam, menatap lurus ke dalam manik mata Saka yang dipenuhi air mata. Di satu sisi, ada secuil rasa iri yang terselip di sudut hati Antonio melihat betapa hancurnya Saka demi pria lain. Namun, di sisi lain, ada rasa hangat yang menyeruak di dadanya. Antonio senang, sangat senang. Akhirnya Saka membuka ha

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 96 -

    ​"Duh, El! Rasanya pengen banget gue sewa tukang santet paling mumpuni se-Asia Tenggara, biar paman lo itu bisulan sebadan-badan! Kesal banget gue, masa karya seni gue dianggap kayak tumpukan koran bekas. Minimal kasih dia gatal-gatal yang nggak sembuh tujuh turunan deh, biar dia nggak sempat mik

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 100 - Uang & cinta

    Setelah jam yang terasa berdetak tanpa henti, akhirnya pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya. ​"Dokter, bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Maya dengan suara gemetar, matanya menatap penuh harap sekaligus ketakutan.​"Kami berhasil mengembalikan ritme jantungnya, tapi kea

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 94 -

    "Jangan pikirkan Cia sekarang. Pikirkan saja bagaimana caranya kita mengganti janin yang sempat hilang itu..."​Rinjani merona hebat, jantungnya berdebar kencang saat napas hangat Elian menerpa kulit lehernya. "Aku berharap bisa memberinya dalam waktu singkat," gumam Rinjani lirih, hampir seperti b

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 90 - Teman Masa lalu

    "Pak Elian, maaf, ada tamu di bawah. Namanya Pak Adam," ucap Maya melalui interkom.​Elian menghentikan aktivitasnya sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit melunak, namun ada seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya. "Suruh dia ke atas sekarang," jawab Elian singkat.​Beg

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status