LOGINDian sedang berbaring malas di sofa beledu. Suasana tenang itu pecah saat Jessica, sahabat sosialitanya, melangkah masuk tanpa mengetuk pintu, membawa sepotong cokelat artisan mahal di tangannya.
"Dian, bangun! Tidur terus kerjaan kamu. Kamu dengar kabar nggak sih? Sepupu kamu, Elian, sekarang dimasukkan ke pusat rehabilitasi mental!" ucap Jessica dengan nada bicara yang penuh gosip.Dian langsung terduduk tegak, matanya yang tadi mengantuk kini berkilat tajam. "Elian? Masuk pusat rehabilitasi? Wah, ini kesempatan emas buat aku!"Dian tertawa sinis sambil merapikan rambutnya. "Ini waktunya aku masuk ke perusahaan itu dan mengambil alih kendali. Aku ini lulusan bisnis, punya pengalaman. Beda jauh sama istrinya yang kampungan itu. Aku yakin, si Rinjani itu bahkan nggak tahu apa itu spreadsheet atau laporan audit. Hahaha!"Jessica menyesap minumannya, menatap Dian dengan ragu. "Kamu yakin? Bukannya hubungan kalian nggak begitu dekat? Walaupun EliSuasana di ruangan pribadi Dian—sebuah ruangan semi-basement yang ia sulap menjadi markas komando rahasianya di gedung Baskara Group—tampak tenang namun mencekam. Hanya ada suara detak jam dinding mewah dan pendar cahaya dari deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham serta berita nasional yang masih memajang wajah Darmono.Dian bersandar di kursi kulitnya, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya yang lentur. Ponsel di atas meja bergetar berulang kali, menampilkan nama Darmono. Dian hanya meliriknya lewat sudut mata, membiarkannya mati, lalu bergetar lagi."Hahaha! Bagus... menggila lah kalian," gumam Dian dengan tawa kecil yang terdengar sangat merdu namun berbisa. Ia sangat menikmati pemandangan Darmono yang sedang dikuliti media. "Aku suka kekacauan ini. Rasanya jauh lebih menghibur daripada menonton drama di televisi."Dian menegakkan duduknya, menatap layar monitor yang menampilkan potongan berita tentang Elian."Apa aku perl
Sudah tiga hari Darmono tidak bisa membedakan mana siang dan mana malam. Kantornya terkepung, ponselnya panas karena panggilan yang tak henti-henti, dan kini, ketenangannya benar-benar direnggut hingga ke depan pintu rumah pribadinya.Pagi itu, saat Darmono mencoba keluar untuk sekadar menghirup udara segar, puluhan lampu flash kamera langsung menyambar wajahnya seperti petir. Barisan wartawan dari berbagai media—mulai dari televisi nasional hingga akun gosip underground—sudah memasang pagar betis di depan gerbang rumahnya."Komisaris Darmono! Apa benar ada aliran dana dari Keluarga Baskara sehingga Anda membebaskan seorang pembunuh?!" teriak seorang wartawan pria sambil menyodorkan mikrofon melewati celah pagar."Pak Darmono! Kenapa Elian Baskara dibawa ke tempat tidur mewah di Pusat Rehabilitasi, sementara rakyat kecil yang mencuri ayam langsung masuk sel pesing? Di mana letak keadilan?!" sahut wartawan lain dengan nada menghakimi.Darmono h
Rinjani hanya bisa mematung di atas kursi rodanya, menatap kosong ke arah pintu lorong rumah sakit tempat Elian baru saja digiring oleh dua petugas berpakaian sipil. Ia tidak menangis lagi—air matanya sudah kering—yang tersisa hanyalah kepasrahan yang menyesakkan dada. Ia tahu, meskipun Elian menyelamatkannya, hukum tetaplah hukum, dan tangan suaminya kini benar-benar telah ternoda darah. Di sisi lain kota, di dalam sebuah ruangan interogasi yang remang dengan aroma kopi pahit dan asap rokok yang tertinggal, Kombes Darmono duduk berseberangan dengan Elian. Lampu neon di atas mereka berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang gelisah di wajah Elian yang masih tercoreng sisa mesiu dan darah Adrian.Darmono melepaskan topinya, menghela napas berat sambil melemparkan map berisi foto-foto tempat kejadian perkara ke atas meja besi."Elian, kasusmu ini bukan sekadar pertikaian keluarga biasa. Ini pembunuhan di markas besar perusahaan rahasia. Skalanya terlalu besar, dan media sudah mulai m
"Kalian kira bisa kabur gitu saja, hah?!" raung Adrian. Wajahnya yang basah kuyup tampak benar-benar gila.Dengan satu sentakan kuat, Adrian menarik kaki Rinjani hingga wanita itu tergelincir hebat. Kepalanya membentur lantai, dan sebelum ia sempat bereaksi, Adrian sudah berada di atasnya dengan mata yang haus darah.Jleb! Jleb!"AAAGHHH!" Rinjani menjerit histeris. Dua tusukan cepat mendarat di paha dan betisnya. Darah segar merembes keluar, bercampur dengan air sprinkler yang terus mengguyur lantai."Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tidak ada satu pun orang yang bisa memilikimu!" Adrian mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, mengarah tepat ke dada Rinjani.BRAAAKKK!Pintu jati setebal sepuluh sentimeter itu hancur berantakan, bukan karena didobrak, tapi karena hantaman tenaga yang luar biasa. Sesosok pria berdiri di sana—tubuhnya dibalut seragam putih pusat rehabilitasi yang sudah compang-camping dan basah oleh hujan,
Keesokan paginya, suasana kantor Baskara Group terasa mencekam sejak jam pertama. Rinjani melangkah masuk ke ruangannya, namun langkahnya terhenti di depan meja Maya.Maya tidak ada di sana. Kursinya kosong, namun tasnya masih tersampir. Yang mengerikan adalah, di atas meja Maya terdapat sebuah vas berisi mawar yang sudah mati dan hangus terbakar, dengan sebuah amplop hitam terselip di antaranya."Maya? Maya!" panggil Rinjani panik.Ia segera berlari ke ruangannya sendiri, namun saat ia membuka pintu, jantungnya serasa berhenti berdetak.Di kursi kebesaran Elian, Adrian duduk dengan santai sambil menyilangkan kaki. Di depannya, di atas meja kerja, Maya duduk bersimpuh di lantai dengan mulut yang diplester dan tangan terikat. Wajah Maya basah oleh air mata, matanya membelalak ketakutan saat melihat Rinjani."Selamat pagi, Rinjani. Aku suka dekorasi ruangan ini, sangat... maskulin. Persis seperti Elian yang kaku," sapa Adrian dengan nada ya
Sesampainya di lobi apartemen, Maya masih menyunggingkan senyuman kecil. Rasanya beban di pundaknya sedikit terangkat hanya karena mendengar ocehan tidak masuk akal dari pria di sampingnya ini. "Mau langsung pulang, Mas?" tanya Maya sambil membetulkan letak tasnya. "Kenapa? Lo mau ngajak gue nginep? Duh, jangan macem-macem ya, May. Gini-gini gue masih sanggup bikin Maya Junior kalau lo nekat. Nggak usah aneh-aneh deh pikiran lo!" ucap Boy yang jemarinya sudah menari lincah di atas layar ponsel. Maya memutar bola matanya, hampir tidak percaya dengan tingkat kepercayaan diri pria ini. "Lagi apa sih, Mas? Serius banget." "Lagi pesan taksi online lah! Lo kira gue lagi asyik chatting-an sama bini orang? Gue kan jomblo berkualitas," sahut Boy tanpa menoleh. "Ya sudah, Mas. Makasih ya sudah nganterin aku pulang. Hati-hati di jalan," ucap Maya tulus. "Iya, iya. Ya udah sono, balik ke kandang. Istirahat yang bener, jangan sampai besok muka lo makin mirip cucian kusut," ucap Boy mel







