LOGINSuasana di ruangan pribadi Dian—sebuah ruangan semi-basement yang ia sulap menjadi markas komando rahasianya di gedung Baskara Group—tampak tenang namun mencekam. Hanya ada suara detak jam dinding mewah dan pendar cahaya dari deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham serta berita nasional yang masih memajang wajah Darmono.
Dian bersandar di kursi kulitnya, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya yang lentur. Ponsel di atas meja bergetar berulang kali, menampilkan nama"Lagi pula, bukannya Papa selama ini paling tidak suka dengan Om Antonio? Kenapa sekarang Papa seolah-olah berharap aku bertemu dengannya?" tanya Sonya. Abil diam sejenak. Logikanya berteriak bahwa mana mungkin ia mengijinkan putri tunggalnya dekat dengan pria seumurannya, apalagi seorang pria yang dunianya berlumuran darah dan intrik mafia. Itu adalah resep sempurna untuk sebuah bencana. Namun, saat ia merasakan denyut di perutnya—bom waktu yang siap meledak kapan saja—pandangan Abil berubah. Ia tahu usianya mungkin tidak akan lama lagi. Ia tidak ingin meninggalkan Sonya sendirian tanpa perlindungan yang kokoh di dunia yang keras ini, dan dia harus mengakui, kalau Antonio mungkin orang yang tepat. "Mama masih bersikeras untuk tidak setuju, itu jelas. Tapi kalau dari Papa..." Abil menjeda, menarik napas parau. "Papa kasih ijin, Sonya." Sonya terbelalak. "Papa serius?" "Papa sudah melihat banyak hal, Nak. Kesetiaan pria itu sulit didapat, tapi sekali dia memilikinya, dia ak
"Ya ampun, kangen banget sama suasana ini," batin Sonya, setelah mengetahui ayah nya sakit, Sonya memutuskan kembali ke tanah air. Ia menghirup dalam-dalam udara Jakarta yang khas—campuran antara debu, panas, dan aroma kerinduan yang dia simpan mati-matian. Matanya menyapu kerumunan orang di luar gerbang kedatangan Bandara Soekarno-Hatta. Hari ini ia bersikeras tidak ingin dijemput. Ia tahu mamanya, sedang berjibaku di rumah sakit mengurus ayahnya, sementara ia ingin menikmati momen kembalinya ke tanah air sebagai wanita yang lebih dewasa. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Sonya tersenyum kecil melihat baliho beberapa kampus ternama. Pikirannya bercabang antara masa depan akademisnya dan satu nama pria yang selama tiga tahun ini hanya ia berani sebut dalam doa. Sesampainya di paviliun rumah sakit, Sonya melangkah perlahan menuju bangsal VIP. Bau obat-obatan yang menyengat menyambutnya. Di sana, ia melihat sosok pria yang dulu begitu tegap kini tampak lebih kurus di atas ranjang.
"Pa! Tadi aku sudah ajak dia bicara!" seru Saka begitu masuk ke ruang kerja ayahnya. Napasnya masih sedikit memburu, wajahnya menunjukkan kombinasi antara bangga dan frustrasi yang lucu.Antonio yang sedang memeriksa laporan pengiriman barang, sampai meletakkan kacamata bacanya. Ia geleng-geleng kepala melihat tingkah putra angkatnya yang biasanya selalu terlihat tenang dan terkendali, kini mendadak jadi hiperaktif."Dia? Maksud kamu, gadis yang kamu bilang 'cupu' itu?" tanya Antonio sembari berusaha keras menahan tawa. "Iya, Pa. Namanya Karin," Saka duduk di sofa, menyandarkan kepalanya dengan lesu. "Tapi, Pa... Kalau seandainya aku serius dekatin dia, dan ternyata dia benar-benar 'orang biasa', maksudku dia bukan anak rekan bisnis Papa atau bukan dari keluarga kelas atas, Papa bakal kasi ijin kan pa?"Antonio terdiam sejenak. Ia menatap Saka dalam-dalam, mencoba mencari kesungguhan di mata pemuda itu."Maksud kamu, kamu yang baru semester empat ini sudah berani tanya soal izin
Keesokan hari nya, Saka melangkah di antara deretan rak buku perpustakaan kota yang menjulang tinggi. Harusnya dia sedang berada di gym atau nongkrong di kafe rooftop bersama teman-temannya, tapi entah magnet apa yang menyeret langkahnya ke tempat sunyi penuh debu buku ini.Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang ia cari. Gadis itu duduk di pojok, hampir tenggelam di balik tumpukan referensi setebal bantal."Karin!" sapa Saka, mencoba memberikan senyum terbaiknya yang biasanya bisa membuat mahasiswi satu fakultas histeris.Karin mendongak, mengerutkan dahi. Ia menatap Saka dari ujung rambut hingga ujung sepatu mahalnya dengan tatapan kosong. Ia mencoba memutar otak, mencari di laci memorinya apakah ia pernah punya teman—atau mungkin musuh—seperti pria di depannya ini. Tapi nihil. Seingatnya, dunianya hanya berisi buku dan dosen pembimbing."Kamu... siapa?" tanya Karin pelan.Suara itu lembut, tenang, dan sangat tipis. Saka merasa jantungnya seperti baru saja disiram air es di
"Ngomong-ngomong, kamu benar-benar tidak mau satu kampus dengan Saka?" tanya Elian. "Papa dengar jurusannya cukup bagus di sana."Lana menggeleng cepat, nyaris tersedak air putihnya. "Nggak, Pa! Ampun deh. Di sana saingannya gila-gilaan. Isinya anak pejabat semua, koneksinya ngeri. Lana mau cari suasana yang lebih... manusiawi.""Kamu kan juga pintar, Sayang," Elian berusaha memulihkan kepercayaan diri putrinya. Bagaimana tidak, SMA tempat Lana lulus adalah sekolah favorit di mana ia masuk murni karena kemampuan otaknya, meski semua orang tahu itu adalah sekolah milik mendiang kakeknya sendiri."Ah, aku mau yang sedikit lebih tenang, Pa. Nggak mau jadi pusat perhatian cuma gara-gara marga Baskara," keluh Lana manja.Tepat saat itu, ponsel Lana bergetar di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan nama yang baru saja mereka bicarakan."Pa, Kak Saka telpon!" ujar Lana antusias. Ia segera menggeser tombol hijau dan menyalakan pengeras suara."Halo, Kak! Tumben banget nih nelpon jam
Setelah menyelesaikan doa di makam orang tua Elian di kota, perjalanan berlanjut menuju desa kelahiran Rinjani.Lana turun lebih dulu, tampak antusias dengan kamera DSLR di tangannya. Ia sibuk menangkap gradasi warna langit senja dan hamparan sawah yang masih tersisa, membiarkan kedua orang tuanya berjalan pelan di belakang."Kamu pernah kabur dan meninggalkanku di sini cukup lama," gumam Elian, matanya menatap sebuah sudut jalan di mana dulu ia pernah merasa dunianya runtuh karena ditinggalkan "perabot"-nya."Kita pernah saling menjauh sejauh mungkin, tapi akhirnya tetap ditarik kembali ke tempat yang sama, bukan? Kamu ingat? Di tanah ini, yang dulunya berdiri gubuk tua Nenek... tempat kamu dengan sombongnya memintaku menjadi istri kontrakmu?"Elian terkekeh, tawa yang kini terdengar renyah tanpa beban arogansi. "Ya, aku pria bodoh yang mengira uang bisa membeli segalanya. Dan sekarang, lihatlah... justru kamu yang menjadi duniaku, Rinjani. Aku yang 'kontrak' seumur hidup padamu
"Mama..." sapa Maya pelan, langkahnya terasa berat saat mendekati ibunya yang duduk di kursi tunggu koridor rumah sakit."Maya..." gumam Bu Santi. Matanya merah dan bengkak, sisa tangis yang pecah sejak tadi pagi masih terlihat jelas di wajahnya yang letih."Bagaimana dengan P
"Pak Elian, maaf, ada tamu di bawah. Namanya Pak Adam," ucap Maya melalui interkom.Elian menghentikan aktivitasnya sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit melunak, namun ada seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya. "Suruh dia ke atas sekarang," jawab Elian singkat.Beg
"Sayang, kamu pulang cepat hari ini. Bagaimana di kantor?" tanya Rinjani lembut, sembari menyambut Elian yang baru saja melepas jasnya dengan raut wajah yang lebih lelah dari biasanya."Ini tentang sepupuku, Cia. Dan ayahnya," jawab Elian singkat sembari menghela napas panjang.
Di dalam ruang kerjanya yang kedap suara, Hendra menempelkan ponsel ke telinga dengan raut wajah masam. Suara di seberang sana—suara istrinya, Vera—terdengar tajam dan menuntut. "Mas, kamu nggak balik lagi ke Singapura? Kamu lupa kamu masih punya keluarga di sini?" tegas Vera.







