Share

Bab 67 -

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2026-01-08 19:11:24

Suasana di ruangan pribadi Dian—sebuah ruangan semi-basement yang ia sulap menjadi markas komando rahasianya di gedung Baskara Group—tampak tenang namun mencekam. Hanya ada suara detak jam dinding mewah dan pendar cahaya dari deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham serta berita nasional yang masih memajang wajah Darmono.

​Dian bersandar di kursi kulitnya, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya yang lentur. Ponsel di atas meja bergetar berulang kali, menampilkan nama
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 281 - Terima kasih, Sayang.

    Malam harinya, kediaman utama keluarga Baskara yang tadinya riuh rendah kini telah senyap. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, menyisakan pendar temaram di sudut-sudut ruangan. Di dalam kamar utama yang hangat, Elian masih duduk di kursi goyang kayu, mendekap salah satu anak kembar Saka di dadanya. Tangan kecil bocah itu mencengkeram erat kemeja Elian, sementara Elian terus menepuk-nepuk pelan punggung sang cucu dengan ritme konstan, menidurkannya dengan penuh kasih sayang.Rinjani membuka pintu kamar dengan sangat perlahan, nyaris tanpa suara. Langkah kakinya terhenti sejenak di ambang pintu, terpaku menatap pemandangan indah di hadapannya. Ada binar kebahagiaan dan kedamaian yang begitu tulus di wajah suaminya—pemandangan yang dulu sempat ia pikir tidak akan pernah bisa ia saksikan lagi.Rinjani melangkah mendekat, lalu berbisik lirih, "Capek, Sayang?"Elian mendongak, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Meskipun badannya terasa kaku dan lelah luar biasa pascaoperasi besar

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 280 - Keluarga

    Dua tahun telah berlalu sejak malam mencekam yang hampir merenggut fondasi terbesar keluarga Baskara. Kini, suasana di kediaman utama tidak lagi sepi dan menegangkan, melainkan dipenuhi riuh rendah tawa dan langkah-langkah kecil yang menggemaskan. "Lagi-lagi Mami nggak didengar, ya?!" bentak Lana—yang kini sudah berubah menjadi wanita karier mandiri—kepada putra kecilnya yang super aktif. Lana yang sudah rapi mengenakan setelan kantor modisnya terpaksa harus berlari ke sana kemari di atas high heels-nya, mencoba menangkap sang anak demi mendapatkan sebuah pelukan sebelum berangkat kerja. Namun, bocah lelaki itu lagi-lagi menghindar sambil tertawa cekikikan, sengaja membuat maminya gemas. "Pa... Ma... Lihat anak ini, nakal banget," rengek Lana manja, kembali memunculkan sifat aslinya jika sudah di depan orang tuanya. Elian Baskara yang duduk di sofa panjang hanya tertawa renyah. Wajahnya kini jauh lebih segar, meski gurat-gurat lelah pasca sakit masih tersisa sedikit. Dengan gemas,

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 279 - Lilin kehidupan yang redup

    "Aku janji, Pa..." bisik Eran, menatap lurus ke dalam mata Elian dengan keyakinan penuh. Ia menggenggam tangan Lana, menuntunnya untuk duduk bersama di atas panggung pelaminan yang megah bak singgasana raja.Pesta terus berjalan. Alunan musik romantis mengudara, dansa pertama pengantin baru yang memukau, hingga sesi foto dan bersalaman dengan ratusan tamu undangan yang datang silih berganti. Tak terasa, Elian melewati semua prosesi melelahkan itu begitu saja. Luapan rasa bahagia dan haru melihat putri bungsunya telah sah menjadi seorang istri seolah menjadi obat bius alami, mengubur rasa sakit yang membakar paru-parunya untuk sementara waktu.Di sudut area VIP, Antonio melangkah mendekati Elian. Di samping pria paruh baya itu, Karin ikut tersenyum lega melihat momen sakral tersebut berlalu tanpa ada air mata kesedihan."Kamu hebat, Elian," ujar Antonio, menepuk pundak sahabat lamanya itu dengan tatapan penuh rasa hormat. Sebagai sesama pria tangguh, Antonio tahu berapa besar harga yan

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 278 - Senyuman (palsu) di Pelaminan

    Alunan musik klasik bergema megah di dalam ballroom hotel bintang lima yang didekorasi bak istana dongeng. Ribuan lampu kristal berkilauan, memantulkan kemewahan yang sempurna. Di tengah karpet merah yang membentang menuju panggung pelaminan, Elian Baskara berdiri dengan gagah, mengenakan setelan tuksedo hitam terbaiknya."Selamat buat pernikahan kamu, Sayang. Lihat, cantiknya putri Papa hari ini," bisik Elian, suaranya terdengar sangat lembut di telinga Lana.Tangan Elian yang terasa sedingin es menggandeng erat jemari putrinya. Wajah pria paruh baya itu tampak sangat pucat, kontras dengan kemegahan di sekelilingnya. Namun, ia mati-matian memaksakan sebuah senyuman hangat di bibirnya, menyembunyikan getaran ringan yang terus menjalar di sekujur tubuhnya akibat rasa sakit yang membakar paru-parunya.Di sudut barisan depan, Saka berdiri menatap pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Air matanya tertahan di pelupuk mata. Pemandangan hari ini seketika melempar ingatan Saka ke

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 277 - Waktu

    Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Saka duduk di tepi tempat tidur dengan kepala yang serasa mau pecah. Kamarnya gelap, hanya diterangi kilatan cahaya dari layar ponselnya. Setelah berjam-jam bertarung dengan nuraninya sendiri, tanpa babibu lagi, Saka langsung menekan tombol panggilan untuk menghubungi ibu sambungnya, Rinjani. Ia tahu, di rumah sana, wanita itu pasti sedang terjaga dalam badai air mata yang sama. Panggilan itu diangkat pada nada kedua. Suara Rinjani terdengar begitu parau dan bergetar di seberang telepon, langsung menuntut jawaban setelah Saka membeberkan rencana gilanya bersama Eran tentang obat eksperimental dari Profesor Vance. "Jadi... kemungkinan dia sembuh, itu nol? Dan ini hanya satu-satunya cara kita?" tanya Rinjani dengan suara setelah mungkin agar tidak membangun kan suaminya. "Ma, hanya ini jalan yang aku punya saat ini. Satu-satunya pilihan yang bisa aku dapat dari Papa Antonio," jawab Saka. "Dokter konvensional sudah angkat tangan, Ma. Mereka

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 276 - Secercah Harapan

    "Pa, apa Papa nggak bisa usahain, Pa? Cari di mana pun dokter terbaik di dunia ini buat Papa Elian. Aku mohon, Pa..." Saka memelas saat malam itu memasuki kediaman ayahnya. "Saka, tenangkan dirimu," ucap Antonio, suaranya berat dan tenang. "Kamu kira ini perkara mudah? Kanker stadium akhir bukan musuh di jalanan yang bisa Papa singkirkan dengan senjata atau uang. Bahkan untuk Papa sekalipun, melawan takdir dan penyakit itu bukan hal yang gampang.""Tapi pasti ada jalan kan, Pa?! Papa punya koneksi di seluruh dunia! Papa punya segalanya! Tolong, aku nggak mau kehilangan Papa Elian!" seru Saka frustrasi, air mata kemarahan dan keputusasaan akhirnya lolos dari pelupuk matanya.Antonio terdiam, menatap lurus ke dalam manik mata Saka yang dipenuhi air mata. Di satu sisi, ada secuil rasa iri yang terselip di sudut hati Antonio melihat betapa hancurnya Saka demi pria lain. Namun, di sisi lain, ada rasa hangat yang menyeruak di dadanya. Antonio senang, sangat senang. Akhirnya Saka membuka ha

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 60 - Tunggu aku

    "Sendirian, Nyonya Baskara? Sepertinya tidak. Apa banci itu mengekor di belakangmu, atau dia sedang mengintip dari sudut gelap?" ​Adrian melangkah keluar. Suaranya masih sama—berat, berayun santai, namun membawa getaran yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia memutar-mutar pemantik per

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 59 -

    "Rin, lo tenang dulu ya. Gue mau kasih kabar buruk, dan ini bukan soal lipstik gue yang patah," ucap Boy. ​Rinjani yang sedang memeriksa tumpukan dokumen menoleh, mencoba mencairkan suasana. "Kenapa? Di studio kamu nggak ada cowok gentle yang bisa diajak kencan lagi?" goda Rinjani kecil.​"Adrian.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 55 - Keputusan Final

    Gedung Baskara Group yang biasanya teratur bak simfoni, siang itu berubah menjadi arena pacuan kuda yang kacau. Di lantai paling atas, tepatnya di ruang rapat utama, suasana terasa begitu panas hingga pendingin ruangan seolah tak berfungsi. Dian, dengan setelan kerja Versace berwarna merah menyal

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 57 -

    Rinjani hanya duduk di kursi utama, berusaha keras tidak terlihat gemetar saat puluhan mata menanti jawabannya atas pertanyaan teknis yang bahkan belum sempat ia pelajari. Beruntung, Maya selalu sigap membisikkan kata kunci atau menyodorkan grafik yang tepat.​Setelah pintu tertutup dan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status