LOGINSuasana di ruangan pribadi Dian—sebuah ruangan semi-basement yang ia sulap menjadi markas komando rahasianya di gedung Baskara Group—tampak tenang namun mencekam. Hanya ada suara detak jam dinding mewah dan pendar cahaya dari deretan monitor yang menampilkan pergerakan saham serta berita nasional yang masih memajang wajah Darmono.
Dian bersandar di kursi kulitnya, memutar-mutar sebuah pulpen emas di jemarinya yang lentur. Ponsel di atas meja bergetar berulang kali, menampilkan nama"Halo Elian, bagaimana kejutan siang ini?" tanya Antonio melalui sambungan telepon, suaranya terdengar berat dan tenang, seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan. "Jadi... ini semua ulahmu?" tanya Elian balik, suaranya masih menyiratkan ketidakpercayaan. Elian menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menatap tumpukan laporan masuk yang menyatakan bahwa musuh-musuhnya sedang kocar-kacir. Ia tidak habis pikir pria yang selama ini menjadi ayah angkat bagi putranya itu akan bertindak sejauh ini. Antonio telah menjadi perisai yang terlalu kuat, menghancurkan Jacob Wijaya tanpa menyisakan debu sedikit pun. "Kamu bermain kotor, kan? Aku bisa-bisa dibunuh Saka kalau dia tahu kamu melakukan semua ini demi menyelamatkan perusahaanku," celetuk Elian, mencoba mencairkan ketegangan di hatinya. "Demi ayah kandung dari anak yang sudah kubesarkan sejak usia setahun. Walau kalian tidak terlalu dekat, kalau dia tahu kau hancur, d
Zen berdiri di depan deretan layar monitor di apartemennya yang kumuh dan bau mie instan. Tangannya yang kurus menari-nari di atas keyboard dengan kecepatan yang mengerikan."Jacob, Jacob... kamu pikir uang bisa membeli loyalitas?" gumam Zen sembari menyesap kopi dinginnya.Ia baru saja mengirimkan sebuah email anonim ke Sefa. Isinya adalah undangan eksklusif untuk bergabung dengan konsorsium luar negeri yang sebenarnya tidak ada. Zen tahu, Sefa yang ambisius pasti akan langsung menggigit umpan itu tanpa bertanya pada kakaknya."Satu klik, dan seluruh kerajaanmu akan menjadi milikku... oh, maksudku, milik Antonio," tawa Zen serak.Ia kemudian membuka folder foto Sefa—wanita yang dulu menghinanya. Zen mengusap layar monitor dengan ujung jarinya yang kasar."Hancurkan kakaknya dulu, baru kita jemput bidadarinya. Antonio terlalu kaku untuk mengerti betapa indahnya skenario ini," ucap Zen pada diri sendiri.Tiba-tiba, ponselnya
"Pa, Papa mau ke mana malam-malam begini?" tanya Saka tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi di ruang tengah."Cari angin sebentar," jawab Antonio singkat sembari merapikan kerah jaket kulitnya."Oh ya, Pa... aku mau bilang, Sabtu ini aku berencana mengajak Karin jalan," tambah Saka, kali ini menoleh dengan rona harap-harap cemas."Memangnya dia mau?" Tanya nya. Seingatnya, Karin selalu menolak putranya untuk mendekat. "Belum tahu, sih. Tapi kalau aku coba bicara lagi, mana tahu nanti dikasih kesempatan, kan?" Jawab Saja, jujur dia ragu, tapi dia yakin akan berusaha mendekati Karin bagaimanapun caranya. Antonio hanya mengangguk sekali sebagai respons. Saka tahu ada sesuatu yang sedang berputar di balik sikap tenang ayahnya, namun selama nyawa sang papa tidak terancam, Saka memilih untuk tidak terlalu memikirkan. Baginya, Antonio adalah benteng yang tak tergoyahkan.Sesampainya di sebuah sudut kota yang sepi dan tersembunyi, Antonio menyerahkan sebuah amplop cokelat be
"Itu Rinjani, bukan? Kenapa dia terburu-buru kaya gitu ya?" Tatap Nabila heran.Pikirannya tentang Maya beralih, Nabila segera memutar langkah, mengikuti Rinjani hingga ke depan pintu ruangan kerja Boy. Ia berdiri di sana, mengamati dari ambang pintu yang sedikit terbuka."Boy..." panggil Rinjani. Boy tersentak hebat, hampir saja menjatuhkan pensil sketsanya karena sedang asyik melamunkan pertemuannya dengan Maya tadi."Eh, lo! Ya ampun, Rin! Ketuk dulu kenapa? Gue sudah tua, kalau jantungan bagaimana? Ih!" gerutu Boy kesal, meski tangannya segera merapikan kursi untuk Rinjani. Ia menangkap kegelisahan yang sangat nyata di mata wanita itu. "Ada apa, Sayang? Lo lagi berantem sama Elian?" tanya Boy, nadanya kini berubah lembut dan penuh perhatian.Rinjani pun menceritakan semuanya tanpa sisa. Boy manggut-manggut paham. Ia mengenal siapa Jacob—si pengusaha bertangan besi yang punya reputasi mampu menjatuhkan siapa pun dengan cara apa pun. Sudah tak terhitung berapa banyak pengusaha
Begitu Boy melangkah memasuki studionya yang sibuk, matanya langsung terkunci pada sosok wanita yang duduk tenang di antara hiruk-pikuk asisten dan manekin. Wanita itu adalah Maya—sosok yang belasan tahun lalu ia perjuangkan mati-matian, namun akhirnya ia lepaskan karena sadar diri bahwa dulu ia bukanlah siapa-siapa."Mas Boy sudah datang? Maaf ya, kalau kedatanganku mengganggu waktu mas," ujar Maya sopan sembari berdiri menyambutnya.Mata Maya menatap Boy yang hanya membalas dengan senyum tipis yang dipaksakan. Meski sofa di ruangan itu cukup lebar dan empuk, Boy justru memilih menarik kursi kerja lain untuk duduk dengan jarak yang cukup jauh. Di sana, Maya paham; ada sebuah jarak tak kasat mata yang kini mustahil untuk ia kendalikan. Boy bukan lagi miliknya, Boy adalah suami Nabila."Tentu saja gue datang... eh, maksudku, aku datang," celetuk Boy kikuk, lidahnya hampir terpeleset menggunakan gaya bahasa kasarnya.Maya tertawa kecil mendengar perubahan diksi pria di depannya. "Ti
Jacob hanya tertawa kecil melihat adik kecilnya yang dulu manis kini tumbuh begitu penuh ambisi. Ia tidak merasa heran mengapa mendiang orang tua mereka mempercayakan perusahaan sebesar ini pada Sefa.Sebagai kakak, Jacob terus mendukung meski di sudut hatinya ia tahu semua ini salah. Didikan keras telah menempa Sefa menjadi wanita tanpa rasa, dan Jacob yakin perasaan adiknya pada Elian bukanlah cinta, melainkan murni ambisi untuk menaklukkan. Namun, ia tidak peduli. Jacob hanya ingin Sefa bahagia; hanya Sefa satu-satunya keluarga yang ia punya setelah kedua orang tua mereka tiada lima tahun silam."Selamat bersenang-senang, Adikku," ujar Jacob sebelum melangkahkan kaki keluar dengan tenang.**"Arka! Sudah Papa bilang, muka kamu itu sudah seperti pantat ayam, tahu tidak? Ngga banget dilihat! Masih banyak cewek lain di dunia ini, kenapa harus Sonya?" geram Boy.Sekalipun sedang menasihati, pria pesolek yang selalu tampil necis itu tetap tidak bisa meninggikan suaranya pada putra s
Ponsel Elian di atas nakas bergetar hebat tepat setelah ia merebahkan diri di samping Rinjani. Layarnya menyala, menampilkan nama "Darmono".Elian menghela napas, ia tahu jika pria itu menelpon di jam seperti ini, artinya ada sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi oleh jalur hukum bi
"Om, Tante, maaf... tapi Maya nggak ada di sini. Dia tadi bilang ada urusan darurat di kantor Elian," jawab Boy dengan suara yang diusahakan tetap tenang."Bohong! Kamu sembunyikan di mana anak saya? Katakan!" Bu Santi melangkah maju, telunjuknya hampir menyentuh wajah Boy. "Dasar, kamu ini... pec
Siang itu, di sebuah butik kelas atas tempat para sosialita berkumpul, sebuah rekaman suara dan foto-foto Boy yang sengaja diambil dari sudut yang salah mulai tersebar di grup-grup WhatsApp."Loh, itu si Boy kan? Desainer yang katanya 'main' sama laki? Kok bisa ya, dia jalan sama cewek cantik gitu
"Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya da







