Masuk
"Kuatkan hatimu Laura, jangan mundur. Lagipula hanya satu malam saja, dan setelah ini adikmu akan selamat."
Tak hentinya gadis cantik yang memakai dress maroon itu bergumam, guna menguatkan dirinya sendiri, karena sebenarnya disisi hatinya yang lain ia ingin melarikan diri. Ia terpaksa mengambil jalan ini, demi keselamatan adiknya. Jalan yang mungkin akan merenggut hidupnya. Lift yang dinaiki Laura akhirnya tiba di lantai 10, tempat yang ditujunya. Dengan gugup, Laura melangkah mencari nomor kamar disetiap pintu yang cocok dengan nomor kamar dari pria yang sudah membayarnya untuk semalam itu. Tiba-tiba saja ditengah perjalanan, seorang lelaki bertubuh tegap, berpakaian serba hitam berjalan menghampirinya. Laura tersentak kaget melihat sosok itu. "Apa kau orangnya Madam Brenda?" tanya lelaki bertubuh tegap itu pada Laura. "Be-benar Tuan, maaf...Tuan siapa ya?" tanya Laura gelagapan. "Mari ikut saya, Tuan saya sudah menunggu!" ujar lelaki itu tanpa menjawab pertanyaan Laura, wajahnya terlihat datar dan suaranya juga tegas. Ia pun mengikuti langkah lelaki itu, hingga akhirnya mereka sampai di kamar paling ujung, lorong tersebut. Kamar 1010. "Masuk!" ujar lelaki itu pada Laura. Ia membukakan pintu untuk Laura. Kemudian gadis pun melangkah masuk ke dalam sana dengan perasaan gelisah. Jantungnya berdegup kencang. Laura bisa mendengar dengan jelas, bagaimana suara pintu ruangan itu tertutup. Disinilah detak jantung Laura jadi berdebar 10 kali lipat dari biasanya. 'Gelap?' kata Laura dalam hatinya saat ia melihat kamar itu tanpa penerangan. Ia bingung mau berjalan kemana, sebab ia merasa tidak melihat siapapun di sana. Sampai ia melihat siluet seseorang pria yang baru saja masuk dari pintu balkon dan sekarang pria itu sudah berada didekat ranjang. Tubuhnya tinggi dan tegap, tidak seperti yang digambarkan oleh Madam Brenda kalau lelaki yang ingin tidur dengannya adalah bos besar dan dalam pikiran Laura, bos besar mungkin bertubuh gemuk, sudah tua, tidak tegap atletis seperti ini. Dari siluetnya saja sudah berbeda. "Kemari." Laura tersentak kaget saat mendengar suara bariton rendah milik pria itu, sesaat jantungnya berhenti berdetak. Rupanya pria itu menyadari kehadirannya. Namun, ia kembali ditampar oleh kenyataan bahwa sekarang ia tidak bisa mundur, semua demi adiknya. Gadis itu melangkah mendekat ke arahnya, hingga dalam beberapa detik kemudian mereka sudah saling berhadapan. Mata berwarna dark grey itu menatap Laura dengan tajam. Meskipun Laura belum bisa melihat wajah pria itu seluruhnya, tapi ia yakin bahwa pria ini adalah pria tampan dan masih muda. "Kau hanya wanita bayaran. Tapi kenapa hargamu sangat mahal. Apa skillmu sangat hebat?" Lelaki itu menarik dagu Laura dan sebelah tangannya lagi menarik pinggangnya. Sehingga tubuh mereka saling menempel, namun masih berjarak dengan pakaian yang masih menempel ditubuh mereka masing-masing. Laura tersentak dan refleks menahan napas. Bisa ia rasakan suhu tubuh lelaki ini tidak normal. "Bagaimana kemampuanmu di atas ranjang, sampai aku harus mengeluarkan 500 ribu dollar?" desis pria itu dengan nafas memburu. Laura dapat merasakan aroma menyengat dari bibir pria itu yang cukup dekat dengan hidung mancungnya. Ia juga merasakan bahwa suhu tubuh pria itu panas dan nafasnya terengah, ia semakin yakin, bahwa lelaki ini sedang tidak baik-baik saja. "Tuan, se-sepertinya anda sedang tidak sehat..." Laura memberanikan diri menyentuh dahi lelaki itu. "Shit!" umpat lelaki itu dengan nafas yang naik turun, tanpa aba-aba ia langsung menerkam bibir Laura tanpa permisi, menuntut dan tidak sabaran. "Hmphh..." Laura yang tidak siap dengan ciuman pertamanya itu, hampir kehabisan nafas oleh serangan lelaki asing ini. Ia baru pertama kali mengalaminya dan ia syok. Terlebih saat lelaki ini menggiring Laura ke atas ranjang dan menjatuhkannya disana. "Aaahhh ..." 'Ya Tuhan, semoga ini tidak menyakitkan' kata Laura dalam hatinya, sembari menahan tangis, karena mungkin setelah ini dia bukan seorang gadis lagi melainkan seorang wanita. Ia akan menyerahkan raganya pada lelaki asing yang sudah membelinya ini. 'Ini demi Alisha, aku harus tahan' Gadis itu bergumam dalam hati, saat pria yang tidak dikenalnya ini, mulai melucuti satu persatu pakaian yang menempel ditubuhnya. Laura tampak pasrah, karena ini adalah pilihan yang ia ambil sendiri. 'Maafkan aku, maaf untuk suami masa depanku, ini hakmu. Karena hakmu sudah direnggut oleh lelaki lain' Lelaki itu terus mencumbu Laura dengan intim, bagian atas gadis itu sudah dipastikan tak luput dari jamahan bibirnya. Sedangkan Laura, hanya bisa pasrah, ia menerima semua perlakuan lelaki ini padanya. "Aahhh... aahh... Tu-tuan..." Suara aneh mulai keluar dari bibir mungil Laura, memicu buncahan aneh di dalam diri lelaki itu menjadi semakin menggebu. Hingga ia semakin rakus menikmati bagian tubuh milik Laura yang sudah tanpa penghalangnya. Mata dark grey itu menatap Laura dengan intens, seperti orang yang sedang kelaparan dan kehausan. Napasnya semakin tidak teratur, meski dalam kondisi yang hampir kehilangan kendali, ia dapat melihat kecantikan Laura dibalik remang-remang kegelapan. Kembali, Laura merasakan bibirnya dihabisi oleh lelaki ini. Namun, Laura hanya diam, menerima, mengikuti ritme yang diciptakan oleh keadaan. Ia tidak melawan. Meski tangannya sudah mengepal, mencengkram kain seprai berwarna putih itu. Menunjukkan bahwa ia ada niat untuk melawan, tapi ia tahan. "Balas!" ujar lelaki itu kesal, karena Laura tidak membalasnya. Laura tersentak kaget kala mendengarnya. Ia masih berusaha menarik oksigen kembali ke dalam paru-parunya, karena aksi lelaki itu barusan. Bibirnya sampai kebas. "Sa-saya tidak bisa." "What?" Kening lelaki itu berkerut bingung mendengar jawaban Laura. "Sa-saya, i-itu, i-ini ..." Kepala lelaki itu berdenyut semakin sakit, rasa panas ditubuhnya semakin menggebu-gebu. Tak tahan lagi, ia pun kembali melakukan aktivitasnya. Nalurinya berkata, ia harus menghabisi wanita yang ada dibawah kuasanya. Wanita yang sudah ia bayar untuk menuntaskan segalanya malam ini. Gara-gara minuman dicampur sesuatu yang sudah meracuni tubuhnya. Dengan gerakan cepat, tidak sabaran, ia melepaskan pakaian wanita itu. Ia membuang dress yang dipakai Laura ke sembarang arah, dan kini gadis itu terlihat polos. Wajah Laura memerah, ia malu, aibnya terbuka dan rasanya ingin menutupi tubuhnya yang sudah polos, ini pertama kalinya ia berpenampilan seperti ini dihadapan seseorang. Ia menggigit bibirnya sendiri. Malu, gelisah. 'Alisha, ini demi dia' Laura menahan tangisnya sekuat mungkin, karena pada detik berikutnya lelaki itu sudah menyerangnya. Tanpa peduli tangisan dan apa yang ia alami, karena ini pertama kalinya ia merasakannya. "Kenapa kau sangat sempit?" Bersambung...Prosesi pernikahan Laura dan Aslan berjalan dengan lancar di gereja. Siangnya mereka langsung menuju ke tempat resepsi pernikahan yang diadakan dipinggir pantai. Dengan tema outdoor. Tema impian Laura, dan Aslan mewujudkannya.Laura tampak cantik dengan dress berwarna navy selutut. Aslan juga tampak gagah dan keren dengan jas setelan navynya yang senada dengan gaun Laura.Para tamu hadir di sana memberikan ucapan selamat pada Aslan dan Laura. Terutama para rekan bisnis Aslan."Kau sangat cantik, Laura."Laura tersentak kaget saat ia melihat seseorang yang ia rindukan baru saja datang. Kedua matanya tak berkedip melihat orang itu."Kak Julian!"Matanya berbinar-binar melihat sosok Julian mendekat ke arahnya. Julian memakai kemeja berwarna hitam dan celana bahan yang merupakan ciri khasnya. Namun, Julian tak datang sendirian. Ia datang bersama seorang wanita berambut pendek yang memiliki senyuman manis disampingnya. Laura melihat itu.Julian memeluk Laura, seperti memeluk adik perempuan
Sean melangkah mendekat. Ia meraih dagu Laura, memutar wajah calon pengantin itu ke kiri dan kanan. "Sayang sekali harus mati muda. Tapi kau salah memilih pria."Lalu ia menoleh ke arah anak buahnya. "Sudah beri tahu Aslan lokasinya?""Sudah, Bos. Mereka pasti sudah dalam perjalanan.""Bagus. Aku ingin show yang indah. Persiapkan kamera. Aku ingin merekam wajah Aslan saat dia melihat wanitanya jatuh dari ketinggian."Laura menelan ludah. Ia melihat ke bawah. Gedung ini menjulang entah berapa puluh lantai. Mobil-mobil di bawah tampak sekecil mainan. Jika tali itu dipotong, jika tubuhnya terlepas dari tiang... tidak ada harapan.Aslan... panggilnya dalam hati. Aku tahu kau akan datang.Aslan dan timnya tiba di bawah gedung Wira Mustika dalam waktu 18 menit. Mereka tidak datang dengan gegap gempita. Mobil-mobil hitam parkir di tiga titik buta. Anak buah Aslan bergerak seperti bayangan, menyisir setiap sudut.Hans melaporkan, "Pak, lift tidak berfungsi. Tangga darurat hanya satu-satunya a
Laura jatuh ke dalam pelukan pria bertopeng itu. Tubuhnya lemas tak berdaya. Gaun putihnya yang indah kini hanya menjadi kain yang membungkus tubuh pingsannya. Dua pria lain dengan sigap masuk ke ruang rias. Mereka mengenakan seragam petugas keamanan gereja, seragam palsu yang berhasil menembus sistem penjagaan Aslan."Ganti bajunya. Cepat!" perintah pemimpin mereka, seorang pria berbadan tegap dengan bekas luka di lehernya.Dalam hitungan detik, Laura yang tak sadarkan diri itu dipakaikan pakaian kusir gereja. Sementara tiga pria itu membawanya keluar melalui pintu belakang. Mereka berjalan santai, berpura-pura menggotong petugas yang pingsan karena kelelahan. Sebuah trik kotor yang berhasil membodohi dua anak buah Aslan yang berjaga di lorong belakang."Ada apa dengan dia?" tanya salah satu anak buah Aslan, curiga."Dia kepanasan. Kami bawakan ke ruang istirahat," jawab pria bertopeng dengan tenang.Mereka lolos. Mobil hitam tanpa pelat sudah menunggu di luar pagar gereja. Laura dib
"Lihat mommymu, bukankah dia cantik sekali?"Mariana memuji kecantikan Laura yang tampak lebih bersinar saat memakai gaun putih yang sudah disiapkan perancang terkenal untuknya. Mariana yang menyiapkan semuanya.Ya, Laura sangat cantik. Kulit putihnya bak porselen itu dan gaun putih mode Sabrina yang melekat ditubuhnya, membuat Laura cantik seperti bidadari.Maria dan Jayden menatap kagum pada Laura. Mereka bertepuk tangan memberikan pujian yang perfect untuk Laura."Mommy wanita paling cantik di dunia, Grandma. Dan Grand ma juga, hehe." Kekeh Jayden seraya melihat ke arah omanya. Jayden tidak bohong.Neneknya yang rambutnya sudah memutih itu, masih tampak cantik dan awet muda. Fashionnya pun tak ketinggalan zaman. Tidak ada yang akan menyangka kalau Maria sudah berusia hampir 70 tahun.Jalannya masih tegap, wajahnya tidak terlihat keriput. Hanya rambutnya yang tampak memutih."Terima kasih. Tapi gaun ini? Apa tidak sedikit terbuka ya?" ucap Laura melihat belahan dadanya saat memakai
Mereka bertiga turun ke ruang makan. Maria sudah duduk di sana dengan senyum lebar. Wanita tua itu tampak berseri-seri. Begitu melihat Laura dan Aslan datang bergandengan tangan, matanya langsung berkaca-kaca."Anak-anakku ..." bisik Maria haru. "Kalian sangat serasi."Setelah sarapan bersama, Maria menggenggam tangan Laura dan Aslan. "Aku sudah bicara dengan pengacara keluarga. Pernikahan kalian akan kita laksanakan akhir bulan ini. Dua minggu lagi. Aku sudah siapkan segalanya."Laura terkejut mendengar keputusan nenek calon suaminya itu. "Dua minggu? Tinggal dua minggu lagi?""Kenapa? Apa kau keberatan, Sayang?" tanya Aslan khawatir.Laura menggeleng cepat. "Bukan begitu. Aku hanya ... terharu. Rasanya seperti mimpi dan ini terlalu cepat.""Tidak ada yang terlalu cepat untuk hari yang baik, Laura," kata Maria sambil tersenyum.Jayden yang mendengar kabar itu langsung berteriak kegirangan. "Hore! Mommy dan daddy akhirny
Laura tertawa kecil mendengar jawaban Aslan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena haru. Pria yang dulu ia kenal sebagai sosok dingin, menyeramkan dan penuh perhitungan, kini berdiri di hadapannya dengan hati yang terbuka. Ia meletakkan tangan di atas punggung tangan Aslan, merasakan hangat yang menyebar dari sentuhan itu."Makan dulu, Sayang," ucap Aslan lembut, menarik Laura dari lamunannya.Mereka menikmati makan malam di bawah sinar bulan. Sesekali Aslan menyuapi Laura, sesekali mereka tertawa bersama mengenang kenangan lama. Obrolan mengalir ringan, dari masa lalu yang pahit hingga mimpi-mimpi tentang masa depan. Laura bercerita tentang bagaimana ia membesarkan Jayden sendirian, tentang malam-malam ketika ia menangis karena merindukan sosok Aslan meskipun ia berusaha membencinya. Aslan mendengarkan dengan seksama, sesekali menggenggam erat tangan Laura seolah takut kehilangannya lagi."Maafkan aku," bisik Aslan untuk kesekian kalinya. "Aku janji tidak akan meningg







