LOGIN"Ampun Tuan... saya... mohon... istirahat dulu sebentar," ucap Laura yang sudah kelelahan dengan serangan bertubi-tubi dari lelaki ini. Wajahnya penuh keringat, tubuh polosnya juga sama. Tampak mengkilat, karena kelelahan.
Setiap kali Laura memohon berhenti untuk beristirahat, lelaki itu malah menggempurnya terus tanpa henti. Sampai akhirnya tak tahu berapa lama adegan panas itu terjadi, dua kali Laura pingsan, karena tidak kuat dengan serangannya. Dan setiap ia kembali membuka mata, lelaki itu kembali menggaulinya. Benar ucapan lelaki itu, bahwa Laura akan hancur karena apa yang dilakukannya. Pukul 6 pagi, lelaki itu bangun dari tidurnya lebih dulu. Wajah tampannya terlihat jelas, karena ada cahaya mentari yang menyinarinya dan ia masih muda. Usianya mungkin sekitar awal 30 tahunan, ia masih terlalu muda untuk dipanggil bos besar. "Sialan! Lihat saja, aku akan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berani mencampuri minumanku dengan obat gila itu!" Lelaki itu memegang kepalanya yang terasa sangat berat, ia bersumpah akan membalas orang yang sudah membuatnya kehilangan kendali semalam. "Tidak ada ampun!" umpatnya lagi. Ketika ia akan beranjak dari ranjang itu, tanpa sengaja atensinya tertuju pada seorang wanita yang sedang tertidur pulas, tepat di sampingnya. Wanita cantik, lugu, yang menghabiskan malam panas dengannya. Ia menelisik tubuh wanita itu yang penuh dengan bekas kemerahan yang diciptakannya. Begitu banyak, entah berapa banyaknya. Bahkan ada beberapa tanda merah yang diukir lelaki itu pada bagian-bagian tubuh Laura yang tidak terlihat. Semalam benar-benar luar biasa untuk lelaki itu yang baru saja melepas keperjakaannya. "Tidak salah si Brenda berani memasang harga mahal, rupanya kau masih belum tersentuh," gumam pria itu dengan wajah datarnya, tanpa mengalihkan atensinya sedikitpun dari wajah Laura yang masih tidur pulas. Wajah Laura tampak pucat, rambut panjangnya yang berwarna coklat menjuntai indah walau tampak acak-acakan di atas bantal dan ranjang. Tapi hal itu, tidak mengurangi kecantikan Laura yang sederhana. Ya, tadi malam Laura memang masih bersegel, tapi setelah lelaki tampan itu menidurinya, Laura sudah tersentuh. Lama menatap Laura, dengan tatapan yang sulit di artikan. Sebuah getaran dari ponsel membuat atensinya teralihkan. "Ada apa?" "Tuan, anda harus ke sini sekarang. Andreas membuat masalah dan tidak mau membayar hutangnya lagi," jelas seseorang dari sebrang sana. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, lelaki itu menutup telpon secara sepihak dengan wajah memerah. Ia lngsung menyambar pakaiannya yang berserakan dilantai dan memakainya. Ia langsung keluar dari kamar hotel itu dengan terburu-buru. Bahkan ia tidak sempat membersihkan diri, dan berpikir untuk membersihkan dirinya nanti. *** Sementara itu, Laura sudah terbangun seorang diri di sana. Ia sekarang berada di dalam kamar mandi hotel, sedang mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari keran shower. Bayangan semalam terlintas di kepalanya, begitu pula terasa dengan rasa sakitnya. Wajah wanita itu basah, bersamaan dengan air mata yang mengalir dari kedua bola matanya. Menyadarkannya, kalau ia sudah menyerahkan miliknya yang berharga pada orang asing. Seharga 500 ribu dollar. Malam itu sudah merenggut semuanya. "Jangan kau sesali semuanya Laura ... ini demi adikmu dan kau tidak boleh menyesal!" ujar gadis itu pada dirinya sendiri, ia berusaha untuk berhenti menangis dan bersikap seperti biasa. "Setelah ini, lupakan semuanya. Karena semuanya hanya mimpi buruk semalam, dan aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi." Usai membersihkan tubuhnya di kamar mandi, Laura terlihat kebingungan saat akan memakai pakaian, karena semalam pakaiannya sudah terkoyak habis akibat ulah pria itu. Ia pun menemukan ada jaket dan celana kebesaran di sana. Entah milik siapa, tapi ia pakai saja, karena tak ada pilihan lain. Laura keluar dari hotel tersebut. Di sepanjang perjalanan, tatapan mata orang-orang tak lepas darinya. Itu karena penampilannya yang tampak berantakan. Celana kedodoran, jaket kebesaran dan rambut yang masih basah, acak-acakan. Namun, ia berusaha tidak mempedulikan tatapan orang-orang itu. Ponselnya bergetar di saku jaket dan Laura mengambilnya. Ia melihat sebuah pesan masuk di sana, dari pihak rumah sakit. [Saya ingin menginfokan bahwa biaya rumah sakit saudari Alisha Gabriella Moretti belum dilunasi. Kami tidak bisa melakukan operasi nanti malam sebelum Nona menyelesaikan pembayarannya. Kami tunggu sampai jam 11.00 siang] Jantung Laura kontan berhenti sesaat, usai melihat pesan tersebut. "Kenapa bisa belum dibayar? Aku kan sudah berpesan pada Ayah untuk langsung membayarnya saat uang dari madam Brenda sudah diberikan. Apa uangnya belum diberikan pada Ayah?" Lantas, Laura pun langsung pergi ke tempat hiburan malam milik madam Brenda. Tempat ayah tirinya, membawa Laura semalam. Demi mendapatkan uang untuk biaya operasi Alisha. Ia pun mencoba menghubungi ayahnya, tapi tak dijawab. Akhirnya ia pergi ke klub malam madam Brenda untuk memastikannya. "Ayah tidak mungkin berbohong soal uang dan nyawa Alisha. Pasti madam Brenda belum memberikan uangnya." Sesampainya di sana, ia melihat madam Brenda yang sedang duduk santai sambil menyesap secangkir kopi. Ditemani beberapa bodyguardnya. "Oh sayangku. Kenapa kau ke sini lagi? Apa kau mau main lagi seperti semalam?" tanya Madam Brenda dengan senyuman tipis di bibirnya. "Saya ke sini untuk menagih uang saya." Madam Brenda mengerutkan keningnya, matanya menyipit. "Uang apa?" "Uang semalam. Lima ratus ribu dollar. Hasil kerja, saya," ucap Laura tegas, tapi malu saat menyebut hasil kerja. Wanita yang bermake up tebal itu langsung menegakkan posisinya dan menatap Laura dengan lekat. "Apa maksudmu?" "Uang. Madam belum memberikannya pada ayah saya, kan?" tuduh Laura padanya, karena ia percaya pada ayahnya. Madam Brenda tertawa kecil. "Kenapa kamu menuduhku, Sayang? Ayahmu sudah mengambilnya semalam. Apa dia tidak mengatakannya padamu?" Laura terkejut, kedua matanya terbuka lebar tanpa berkedip menatap wanita dihadapannya ini. Hatinya bertanya-tanya, apa ayahnya benar sudah mengambil uang tersebut? Lantas, kenapa uangnya tidak langsung dibayarkan kepada pihak rumah sakit. "Kalau kau tidak percaya. Aku punya rekaman, di mana semalam ayahmu si Andreas mengambil uangnya." "Tunjukkan pada saya, Madam!" ujar Laura kemudian. Salah satu anak buah Brenda menunjukkan video rekaman pada Laura. Di sana Laura melihat kalau ayahnya sudah menandatangani surat pengambilan uang dan mengambil uangnya juga dalam bentuk cek. Ayahnya terlihat senang menerima uang itu. "Ayahmu langsung pergi bermain judi di club Golden setelah menerima uangnya," sambung madam Brenda yang semakin membuat wajah Laura merah padam. Tangannya mengepal disisi tubuh. Ia tidak ingin percaya kalau ayahnya langsung bermain judi, setelah menerima uang hasil menjual keperawanannya. Bukannya pergi ke rumah sakit, membayar biaya perawatan. "Ayah, kau tidak mungkin tega, kan?" gumam Laura dengan hati yang pedih. Ia pun pergi dari sana, menuju ke Golden club yang dimaksud. Ayahnya mungkin masih berada di sana. *** Di tempat lain, seorang pria dipukuli habis-habisan di depan sebuah club malam. Tidak ada seorangpun yang menolongnya. "Sudah berhutang, tidak mau bayar, hah?" "Sa-saya akan bayar." "Dengan apa? Tuanku sudah marah padamu, sialan! Kau terus membuat masalah! Hutangmu sudah tak terhingga!" sentak seorang pria dengan marah tepat dihadapan Andreas. "A-aku punya seorang putri yang cantik. Aku akan jual dia, agar bisa bayar hutang." Bersambung...Hans berlari menyusuri koridor hotel. Kakinya hampir tersandung karpet tebal dua kali karena terburu-buru. Pikirannya kacau. Alisha meninggal? Gadis kecil yang selalu tersenyum itu? Yang selalu memanggilnya "Pak Hans" dengan suara ceria setiap kali bertemu? Gadis kecil yang selalu memberikan kue manis favoritnya pada Hans. Tidak mungkin."Nona Alisha..." lirih Hans dengan mata berkaca-kaca.Sesampainya di depan kamar hotel Aslan, ia mengetuk pintu dengan keras. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tak ada sahutan. Ia mengetuk lagi, lebih keras, sampai seorang tamu hotel membuka pintu kamar sebelah dan melotot kesal."Heh! Ini masih pagi! Apa kau sudah gila?" Pria di kamar sebelah terlihat marah pada Hans. Namun, Hans mengabaikannya."Tuan! Tuan Luca! Ini Hans! Penting, Tuan!"Beberapa detik berlalu. Lalu terdengar suara gemerisik dari dalam. Kunci pintu diputar. Pintu terbuka sedikit, dan yang muncul adalah wajah Sonya dengan rambut acak-acakan, masih mengenakan gaun malam yang sama seperti k
Rick berdiri di pintu, menunduk dalam. Air mata pria besar itu juga jatuh. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Laura yang hancur, memeluk jasad adiknya yang baru saja melindunginya dengan nyawa.Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Alisha untuk terakhir kalinya, seolah ingin mengabadikan setiap detail di memorinya.“Kakak janji, Sha.” bisiknya. “Kakak akan jaga keponakanmu baik-baik. Kakak akan cerita ke dia tentang bibinya yang paling baik sedunia. Tentang bibinya yang pemberani, yang rela berkorban untuk kakaknya. Dan kakak… kakak akan cari keadilan untukmu. Untuk orang yang udah berani menyentuhmu. Untuk orang yang sudah merebut nyawamu. Kakak janji.”Ia mengecup kening Alisha dengan berlinang air mata. Ia tidak bisa berhenti menangis.Perlahan, ia bangkit. Tubuhnya goyah, tapi ia tetap mencoba bertahan. Ia menatap petugas kamar jenazah.“Saya sudah selesai. Tolong…urus semuanya."Petugas itu mengangguk hormat."Saya akan mengurus pemakaman
Dunia Laura berhenti berputar.Kata-kata dokter itu masuk ke telinganya, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya. Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak benar.“Apa…apa maksud Dokter?”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Seperti anak kecil yang berpura-pura tidak mengerti agar kenyataan pahit tidak jadi diucapkan.Dokter itu menatapnya dengan mata penuh simpati. Seorang perawat di belakangnya sudah menunduk, menahan tangis. Mereka sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk, tapi tak pernah benar-benar terbiasa melihat keluarga yang hancur.“Nona… saya turut berduka. Adik Nona sudah meninggal dunia. Tim kami sudah berusaha, tapi lukanya terlalu parah. Maaf.”Laura merasa napasnya terenggut paksa dari dalam paru-parunya. Kepalanya berputar, pandangannya mulai mengabur. Telinganya berdengung hebat, suara di sekitarnya terdengar seperti dari dalam terowongan panjang.“Tidak…”Satu kata. Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya yang gemetar.“Tidak… tidak, Dok. Maksud Dokter… adik saya…
Mereka berlari ke arah pintu belakang. Namun salah satu penculik yang masih setengah sadar mengambil pistol yang terjatuh.Ia mulai membidik dan mengarahkannya pada Laura.“Berhenti!” teriaknya.Laura menoleh, tubuhnya membeku seketika. Saat suara tembakan memekakkan telinganya.Laura merasa tubuhnya didorong keras.“KAKAK!"Laura jatuh ke lantai, namun ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun menoleh.Alisha berdiri di depannya beberapa detik, lalu tubuhnya perlahan melemah. Darah merembes dari sisi perutnya.“Alisha…” suara Laura bergetar. Ia menyadari kalau Alisha menolongnya dari tembakan itu.Tubuh adiknya ambruk ke pelukannya dengan kondisi perut yang berlumuran darah.“Tidak… tidak… tidak!” Laura menjerit histeris, tangisnya mulai pecah. "Alisha!"Rick segera menembak balik, melumpuhkan pelaku. Namun, semuanya terasa terlambat, ketika ia melihat Laura memeluk Alisha yang terkulai lemah di tangannya.“Bertahan, Sayang… tolong bertahan…” tangisnya pecah.Alisha tersenyum lemah,
Ia menyentuh perutnya yang masih rata. “Dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah bayangan pria yang mungkin telah menghancurkan keluarga kita.”Air mata Alisha jatuh. “Kak, aku takut.”“Aku juga,” bisik Laura jujur. “Tapi lebih takut lagi kalau kita tetap di sini.”***Di sebuah kamar hotel mewah, Aslan berdiri memandang jendela kaca tinggi. Kota berkilau di bawahnya.Sonya mendekat dari belakang, memeluknya.“Kau masih memikirkannya, ya?”Aslan tidak menjawab.Ia merasa kosong. Bahkan saat Sonya menyentuhnya, pikirannya tetap pada Laura, pada wajahnya yang penuh air mata.Sonya memutar tubuh Aslan menghadapnya. “Lihat aku Sayang."Tatapan mereka bertemu. Mata Sonya dipenuhi keinginan dan ambisi. Ia sudah lama menginginkan ini. Menginginkan Aslan sebagai seorang pria. Ia ingin dicintai sepenuhnya oleh pria ini.“Kau tidak sendirian malam ini,” bisiknya.Kali ini Aslan tidak mundur, kekacauan hatinya, alkohol dan minuman yang dicampur sesuatu oleh Sonya, membuatnya tak puny
"Aku memang bukan orang baik seperti yang kau pikirkan."Aslan menatapnya. Matanya, Laura tidak bisa membaca apa yang ada di sana. Tapi untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang basah di sudut mata pria itu.Mustahil.Aslan tidak mungkin menangis."Kau boleh membenciku," bisik Aslan akhirnya. "Tapi kau tidak akan pergi dari sini. Kau dan anak itu... kau milikku.""AKU BUKAN MILIK SIAPA PUN!""Kau mengandung anakku.""Dan aku akan membesarkannya tanpa kau! Aku akan memberitahunya bahwa ayahnya adalah monster pembunuh!" Laura berteriak, suaranya serak dan pecah.Untuk sesaat, Aslan terlihat seperti baru saja ditampar. Tapi ekspresi itu cepat sirna, digantikan oleh topeng dinginnya yang biasa."Terserah kau mau berpikir apa tentangku. Tapi kau tetap di sini. Kau tidak akan pergi kemana-mana."Ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Bunyi kunci diputar dari luar membuat Laura tersentak. Ia berlari ke pintu, mengguncang-guncang gagangnya dengan panik."TIDAK! BUKA PINTU! ASLAN! BUKA PINTU!"Ti







