แชร์

Bab 2. Dijual Ayah

ผู้เขียน: Davian
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-30 10:34:54

"Ampun Tuan... saya... mohon... istirahat dulu sebentar," ucap Laura yang sudah kelelahan dengan serangan bertubi-tubi dari lelaki ini. Wajahnya penuh keringat, tubuh polosnya juga sama. Tampak mengkilat, karena kelelahan.

Setiap kali Laura memohon berhenti untuk beristirahat, lelaki itu malah menggempurnya terus tanpa henti. Sampai akhirnya tak tahu berapa lama adegan panas itu terjadi, dua kali Laura pingsan, karena tidak kuat dengan serangannya. Dan setiap ia kembali membuka mata, lelaki itu kembali menggaulinya. Benar ucapan lelaki itu, bahwa Laura akan hancur karena apa yang dilakukannya.

Pukul 6 pagi, lelaki itu bangun dari tidurnya lebih dulu. Wajah tampannya terlihat jelas, karena ada cahaya mentari yang menyinarinya dan ia masih muda. Usianya mungkin sekitar awal 30 tahunan, ia masih terlalu muda untuk dipanggil bos besar.

"Sialan! Lihat saja, aku akan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berani mencampuri minumanku dengan obat gila itu!"

Lelaki itu memegang kepalanya yang terasa sangat berat, ia bersumpah akan membalas orang yang sudah membuatnya kehilangan kendali semalam.

"Tidak ada ampun!" umpatnya lagi.

Ketika ia akan beranjak dari ranjang itu, tanpa sengaja atensinya tertuju pada seorang wanita yang sedang tertidur pulas, tepat di sampingnya.

Wanita cantik, lugu, yang menghabiskan malam panas dengannya. Ia menelisik tubuh wanita itu yang penuh dengan bekas kemerahan yang diciptakannya.

Begitu banyak, entah berapa banyaknya. Bahkan ada beberapa tanda merah yang diukir lelaki itu pada bagian-bagian tubuh Laura yang tidak terlihat. Semalam benar-benar luar biasa untuk lelaki itu yang baru saja melepas keperjakaannya.

"Tidak salah si Brenda berani memasang harga mahal, rupanya kau masih belum tersentuh," gumam pria itu dengan wajah datarnya, tanpa mengalihkan atensinya sedikitpun dari wajah Laura yang masih tidur pulas. Wajah Laura tampak pucat, rambut panjangnya yang berwarna coklat menjuntai indah walau tampak acak-acakan di atas bantal dan ranjang. Tapi hal itu, tidak mengurangi kecantikan Laura yang sederhana.

Ya, tadi malam Laura memang masih bersegel, tapi setelah lelaki tampan itu menidurinya, Laura sudah tersentuh.

Lama menatap Laura, dengan tatapan yang sulit di artikan. Sebuah getaran dari ponsel membuat atensinya teralihkan.

"Ada apa?"

"Tuan, anda harus ke sini sekarang. Andreas membuat masalah dan tidak mau membayar hutangnya lagi," jelas seseorang dari sebrang sana.

Tanpa memikirkan apa-apa lagi, lelaki itu menutup telpon secara sepihak dengan wajah memerah. Ia lngsung menyambar pakaiannya yang berserakan dilantai dan memakainya. Ia langsung keluar dari kamar hotel itu dengan terburu-buru. Bahkan ia tidak sempat membersihkan diri, dan berpikir untuk membersihkan dirinya nanti.

***

Sementara itu, Laura sudah terbangun seorang diri di sana. Ia sekarang berada di dalam kamar mandi hotel, sedang mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari keran shower.

Bayangan semalam terlintas di kepalanya, begitu pula terasa dengan rasa sakitnya. Wajah wanita itu basah, bersamaan dengan air mata yang mengalir dari kedua bola matanya. Menyadarkannya, kalau ia sudah menyerahkan miliknya yang berharga pada orang asing. Seharga 500 ribu dollar.

Malam itu sudah merenggut semuanya.

"Jangan kau sesali semuanya Laura ... ini demi adikmu dan kau tidak boleh menyesal!" ujar gadis itu pada dirinya sendiri, ia berusaha untuk berhenti menangis dan bersikap seperti biasa.

"Setelah ini, lupakan semuanya. Karena semuanya hanya mimpi buruk semalam, dan aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi."

Usai membersihkan tubuhnya di kamar mandi, Laura terlihat kebingungan saat akan memakai pakaian, karena semalam pakaiannya sudah terkoyak habis akibat ulah pria itu.

Ia pun menemukan ada jaket dan celana kebesaran di sana. Entah milik siapa, tapi ia pakai saja, karena tak ada pilihan lain.

Laura keluar dari hotel tersebut. Di sepanjang perjalanan, tatapan mata orang-orang tak lepas darinya. Itu karena penampilannya yang tampak berantakan. Celana kedodoran, jaket kebesaran dan rambut yang masih basah, acak-acakan. Namun, ia berusaha tidak mempedulikan tatapan orang-orang itu.

Ponselnya bergetar di saku jaket dan Laura mengambilnya. Ia melihat sebuah pesan masuk di sana, dari pihak rumah sakit.

[Saya ingin menginfokan bahwa biaya rumah sakit saudari Alisha Gabriella Moretti belum dilunasi. Kami tidak bisa melakukan operasi nanti malam sebelum Nona menyelesaikan pembayarannya. Kami tunggu sampai jam 11.00 siang]

Jantung Laura kontan berhenti sesaat, usai melihat pesan tersebut.

"Kenapa bisa belum dibayar? Aku kan sudah berpesan pada Ayah untuk langsung membayarnya saat uang dari madam Brenda sudah diberikan. Apa uangnya belum diberikan pada Ayah?"

Lantas, Laura pun langsung pergi ke tempat hiburan malam milik madam Brenda. Tempat ayah tirinya, membawa Laura semalam. Demi mendapatkan uang untuk biaya operasi Alisha.

Ia pun mencoba menghubungi ayahnya, tapi tak dijawab. Akhirnya ia pergi ke klub malam madam Brenda untuk memastikannya.

"Ayah tidak mungkin berbohong soal uang dan nyawa Alisha. Pasti madam Brenda belum memberikan uangnya."

Sesampainya di sana, ia melihat madam Brenda yang sedang duduk santai sambil menyesap secangkir kopi. Ditemani beberapa bodyguardnya.

"Oh sayangku. Kenapa kau ke sini lagi? Apa kau mau main lagi seperti semalam?" tanya Madam Brenda dengan senyuman tipis di bibirnya.

"Saya ke sini untuk menagih uang saya."

Madam Brenda mengerutkan keningnya, matanya menyipit. "Uang apa?"

"Uang semalam. Lima ratus ribu dollar. Hasil kerja, saya," ucap Laura tegas, tapi malu saat menyebut hasil kerja.

Wanita yang bermake up tebal itu langsung menegakkan posisinya dan menatap Laura dengan lekat. "Apa maksudmu?"

"Uang. Madam belum memberikannya pada ayah saya, kan?" tuduh Laura padanya, karena ia percaya pada ayahnya.

Madam Brenda tertawa kecil. "Kenapa kamu menuduhku, Sayang? Ayahmu sudah mengambilnya semalam. Apa dia tidak mengatakannya padamu?"

Laura terkejut, kedua matanya terbuka lebar tanpa berkedip menatap wanita dihadapannya ini. Hatinya bertanya-tanya, apa ayahnya benar sudah mengambil uang tersebut? Lantas, kenapa uangnya tidak langsung dibayarkan kepada pihak rumah sakit.

"Kalau kau tidak percaya. Aku punya rekaman, di mana semalam ayahmu si Andreas mengambil uangnya."

"Tunjukkan pada saya, Madam!" ujar Laura kemudian.

Salah satu anak buah Brenda menunjukkan video rekaman pada Laura. Di sana Laura melihat kalau ayahnya sudah menandatangani surat pengambilan uang dan mengambil uangnya juga dalam bentuk cek. Ayahnya terlihat senang menerima uang itu.

"Ayahmu langsung pergi bermain judi di club Golden setelah menerima uangnya," sambung madam Brenda yang semakin membuat wajah Laura merah padam. Tangannya mengepal disisi tubuh.

Ia tidak ingin percaya kalau ayahnya langsung bermain judi, setelah menerima uang hasil menjual keperawanannya. Bukannya pergi ke rumah sakit, membayar biaya perawatan.

"Ayah, kau tidak mungkin tega, kan?" gumam Laura dengan hati yang pedih. Ia pun pergi dari sana, menuju ke Golden club yang dimaksud. Ayahnya mungkin masih berada di sana.

***

Di tempat lain, seorang pria dipukuli habis-habisan di depan sebuah club malam. Tidak ada seorangpun yang menolongnya.

"Sudah berhutang, tidak mau bayar, hah?"

"Sa-saya akan bayar."

"Dengan apa? Tuanku sudah marah padamu, sialan! Kau terus membuat masalah! Hutangmu sudah tak terhingga!" sentak seorang pria dengan marah tepat dihadapan Andreas.

"A-aku punya seorang putri yang cantik. Aku akan jual dia, agar bisa bayar hutang."

Bersambung...

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 136. Malam Pertama

    Prosesi pernikahan Laura dan Aslan berjalan dengan lancar di gereja. Siangnya mereka langsung menuju ke tempat resepsi pernikahan yang diadakan dipinggir pantai. Dengan tema outdoor. Tema impian Laura, dan Aslan mewujudkannya.Laura tampak cantik dengan dress berwarna navy selutut. Aslan juga tampak gagah dan keren dengan jas setelan navynya yang senada dengan gaun Laura.Para tamu hadir di sana memberikan ucapan selamat pada Aslan dan Laura. Terutama para rekan bisnis Aslan."Kau sangat cantik, Laura."Laura tersentak kaget saat ia melihat seseorang yang ia rindukan baru saja datang. Kedua matanya tak berkedip melihat orang itu."Kak Julian!"Matanya berbinar-binar melihat sosok Julian mendekat ke arahnya. Julian memakai kemeja berwarna hitam dan celana bahan yang merupakan ciri khasnya. Namun, Julian tak datang sendirian. Ia datang bersama seorang wanita berambut pendek yang memiliki senyuman manis disampingnya. Laura melihat itu.Julian memeluk Laura, seperti memeluk adik perempuan

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 135. Selamat! Menuju Ending

    Sean melangkah mendekat. Ia meraih dagu Laura, memutar wajah calon pengantin itu ke kiri dan kanan. "Sayang sekali harus mati muda. Tapi kau salah memilih pria."Lalu ia menoleh ke arah anak buahnya. "Sudah beri tahu Aslan lokasinya?""Sudah, Bos. Mereka pasti sudah dalam perjalanan.""Bagus. Aku ingin show yang indah. Persiapkan kamera. Aku ingin merekam wajah Aslan saat dia melihat wanitanya jatuh dari ketinggian."Laura menelan ludah. Ia melihat ke bawah. Gedung ini menjulang entah berapa puluh lantai. Mobil-mobil di bawah tampak sekecil mainan. Jika tali itu dipotong, jika tubuhnya terlepas dari tiang... tidak ada harapan.Aslan... panggilnya dalam hati. Aku tahu kau akan datang.Aslan dan timnya tiba di bawah gedung Wira Mustika dalam waktu 18 menit. Mereka tidak datang dengan gegap gempita. Mobil-mobil hitam parkir di tiga titik buta. Anak buah Aslan bergerak seperti bayangan, menyisir setiap sudut.Hans melaporkan, "Pak, lift tidak berfungsi. Tangga darurat hanya satu-satunya a

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 134. Penculikan

    Laura jatuh ke dalam pelukan pria bertopeng itu. Tubuhnya lemas tak berdaya. Gaun putihnya yang indah kini hanya menjadi kain yang membungkus tubuh pingsannya. Dua pria lain dengan sigap masuk ke ruang rias. Mereka mengenakan seragam petugas keamanan gereja, seragam palsu yang berhasil menembus sistem penjagaan Aslan."Ganti bajunya. Cepat!" perintah pemimpin mereka, seorang pria berbadan tegap dengan bekas luka di lehernya.Dalam hitungan detik, Laura yang tak sadarkan diri itu dipakaikan pakaian kusir gereja. Sementara tiga pria itu membawanya keluar melalui pintu belakang. Mereka berjalan santai, berpura-pura menggotong petugas yang pingsan karena kelelahan. Sebuah trik kotor yang berhasil membodohi dua anak buah Aslan yang berjaga di lorong belakang."Ada apa dengan dia?" tanya salah satu anak buah Aslan, curiga."Dia kepanasan. Kami bawakan ke ruang istirahat," jawab pria bertopeng dengan tenang.Mereka lolos. Mobil hitam tanpa pelat sudah menunggu di luar pagar gereja. Laura dib

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 133. Desahan Di Ruang Ganti

    "Lihat mommymu, bukankah dia cantik sekali?"Mariana memuji kecantikan Laura yang tampak lebih bersinar saat memakai gaun putih yang sudah disiapkan perancang terkenal untuknya. Mariana yang menyiapkan semuanya.Ya, Laura sangat cantik. Kulit putihnya bak porselen itu dan gaun putih mode Sabrina yang melekat ditubuhnya, membuat Laura cantik seperti bidadari.Maria dan Jayden menatap kagum pada Laura. Mereka bertepuk tangan memberikan pujian yang perfect untuk Laura."Mommy wanita paling cantik di dunia, Grandma. Dan Grand ma juga, hehe." Kekeh Jayden seraya melihat ke arah omanya. Jayden tidak bohong.Neneknya yang rambutnya sudah memutih itu, masih tampak cantik dan awet muda. Fashionnya pun tak ketinggalan zaman. Tidak ada yang akan menyangka kalau Maria sudah berusia hampir 70 tahun.Jalannya masih tegap, wajahnya tidak terlihat keriput. Hanya rambutnya yang tampak memutih."Terima kasih. Tapi gaun ini? Apa tidak sedikit terbuka ya?" ucap Laura melihat belahan dadanya saat memakai

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 132. Menuju Pernikahan

    Mereka bertiga turun ke ruang makan. Maria sudah duduk di sana dengan senyum lebar. Wanita tua itu tampak berseri-seri. Begitu melihat Laura dan Aslan datang bergandengan tangan, matanya langsung berkaca-kaca."Anak-anakku ..." bisik Maria haru. "Kalian sangat serasi."Setelah sarapan bersama, Maria menggenggam tangan Laura dan Aslan. "Aku sudah bicara dengan pengacara keluarga. Pernikahan kalian akan kita laksanakan akhir bulan ini. Dua minggu lagi. Aku sudah siapkan segalanya."Laura terkejut mendengar keputusan nenek calon suaminya itu. "Dua minggu? Tinggal dua minggu lagi?""Kenapa? Apa kau keberatan, Sayang?" tanya Aslan khawatir.Laura menggeleng cepat. "Bukan begitu. Aku hanya ... terharu. Rasanya seperti mimpi dan ini terlalu cepat.""Tidak ada yang terlalu cepat untuk hari yang baik, Laura," kata Maria sambil tersenyum.Jayden yang mendengar kabar itu langsung berteriak kegirangan. "Hore! Mommy dan daddy akhirny

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 131. Hangat

    Laura tertawa kecil mendengar jawaban Aslan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena haru. Pria yang dulu ia kenal sebagai sosok dingin, menyeramkan dan penuh perhitungan, kini berdiri di hadapannya dengan hati yang terbuka. Ia meletakkan tangan di atas punggung tangan Aslan, merasakan hangat yang menyebar dari sentuhan itu."Makan dulu, Sayang," ucap Aslan lembut, menarik Laura dari lamunannya.Mereka menikmati makan malam di bawah sinar bulan. Sesekali Aslan menyuapi Laura, sesekali mereka tertawa bersama mengenang kenangan lama. Obrolan mengalir ringan, dari masa lalu yang pahit hingga mimpi-mimpi tentang masa depan. Laura bercerita tentang bagaimana ia membesarkan Jayden sendirian, tentang malam-malam ketika ia menangis karena merindukan sosok Aslan meskipun ia berusaha membencinya. Aslan mendengarkan dengan seksama, sesekali menggenggam erat tangan Laura seolah takut kehilangannya lagi."Maafkan aku," bisik Aslan untuk kesekian kalinya. "Aku janji tidak akan meningg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status