LOGINTiga hari kemudian, Laura dan Jayden pamit pergi. Mereka sudah membereskan semua urusan di Marseille , dibantu oleh Aslan. Hujan turun tipis-tipis saat mereka berdiri di teras rumah Julian. Aslan menunggu di dalam mobil hitam di depan pagar, mesin menyala, siap membawa mereka ke kehidupan baru.Julian jongkok di depan Jayden. "Kau ingat kata-kata Paman, kan? Be a good boy."Jayden menangis. Bocah itu memeluk Julian erat-erat. "Paman ayo ikut saja!"Aslan melihat putranya begitu dekat dengan Julian dan itu membuat hatinya cemburu. Tapi ia bisa apa? "Paman tidak bisa ikut. Paman punya pekerjaan di sini.""Tapi aku pasti akan merindukan Paman. Mommy juga," kata Jayden parau. "Paman juga akan rindu. Tapi nanti kita bisa telepon-teleponan, ya? Janji?"Jayden mengangguk sambil terisak. Julian berdiri, menatap Laura.Selamat jalan, Laura, ucapnya tanpa suara, hanya gerakan bibir.Laura tersenyum getir. "Terima kasih untuk semuanya, Kak Julian.""Pergilah sebelum hujannya besar."Laura men
Sementara itu, Aslan dan Laura masih duduk di dermaga. Piring-piring kosong sudah disisihkan. Kini mereka hanya duduk berdampingan, kaki menjuntai di tepi dermaga, memandang kapal-kapal nelayan yang mulai berlabuh."Aku sudah bicara dengan pengacaraku," kata Aslan memecah kesunyian. "Proses perceraianku dengan dia hampir selesai. Tinggal tanda tangan."Laura mengangguk tanpa berkata apa-apa."Dan aku sudah siapkan rumah untuk kita di kawasan perumahan yang aman. Satpam 24 jam, kamera keamanan di setiap sudut. Jayden bisa pindah sekolah ke sana. Ada taman bermain yang bagus.""Kau sudah merencanakan semuanya, ya?" Laura tersenyum getir."Karena aku tidak mau kehilangan kalian lagi."Laura menoleh ke arah Aslan. Lelaki itu tampak berbeda dari yang ia kenal dulu. Dulu Aslan adalah pria ambisius yang selalu mengejar kekuasaan, yang rela mengorbankan apa pun demi posisi. Kini ada kelembutan di matanya. Atau mungkin itu hanya ilusi? Mungkin Aslan tetap sama, hanya saja Laura sekarang lebih
Matahari sore mulai menggantung rendah di ufuk barat, menebarkan cahaya jingga ke seluruh permukaan dermaga kecil tempat Laura dan Aslan duduk berdampingan. Aroma laut bercampur dengan wangi seafood yang baru saja mereka pesan dari pedagang kaki lima di sekitar pelabuhan.Aslan mengupas kulit udang dengan gerakan yang terampil—terbiasa dengan kemewahan, namun tangannya tetap lincah melakukan hal sederhana seperti ini. Ia menyodorkan udang yang sudah bersih ke mulut Laura. Hal yang tak pernah ia lakukan pada siapapun, kecuali pada Laura."Buka," katanya dengan nada memerintah tapi penuh kasih.Laura tersenyum malu. "A-aku bisa makan sendiri.""Aku tahu. Tapi biarkan aku melakukan ini. Untuk mengobati kepergianmu selama hampir 7 tahun ini."Laura akhirnya membuka mulut, membiarkan Aslan menyuapinya. Rasa udang goreng tepung itu terasa biasa saja, tapi ada manis yang berbeda di lidahnya. Mungkin karena perhatian, mungkin karena rasa bersalah yang mulai luruh, atau mungkin karena ia akhir
Laura tak menjawab. Bukan karena ia tidak punya suara, tetapi karena ada ribuan pertanyaan yang berputar di kepalanya seperti angin puyuh. Di satu sisi, ia tahu Aslan benar. Keselamatan Jayden adalah segalanya. Di sisi lain, meninggalkan Julian terasa seperti mengkhianati seseorang yang telah hadir saat ia tidak punya siapa-siapa.Julian bukan sekadar tetangga baik hati yang suka mengantarkan makanan setiap malam Minggu. Julian adalah sosok yang menemani Jayden belajar membaca ketika Laura sibuk, Julian selalu menjaganya juga seperti seorang kakak baginya. Julian yang membawa mobilnya ke bengkel ketika mogok di tengah hujan. Julian yang tidak pernah menanyakan masa lalunya, tidak pernah memaksa cerita tentang hatinya.Namun, Julian juga bukan miliknya. Mereka tidak pernah berkomitmen. Akan tetapi, saat Laura tahu kalau Julian ada rasa padanya, mengapa seberat ini?Aslan seolah membaca kegalauan Laura. Lelaki itu mendekat, meraih dagu Laura dengan dua jarinya, menatap wajahnya yang ter
"Kau gila," gumam Laura, tapi ia tidak melepaskan pelukan Aslan."Mungkin. Tapi kau menyukainya.""Kau percaya diri sekali. Siapa juga yang suka? Huh!"Aslan tertawa kecil. Getaran tawanya merambat dari dadanya ke pipi Laura yang menempel di sana. "Bukan percaya diri. Aku hanya membaca matamu, little girl. Matamu tidak pernah bisa berbohong."Laura mendongak, menatap mata Aslan. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat ketegasan atau dinginnya mafia di sana. Yang ia lihat hanyalah kehangatan—dan kerentanan yang berusaha disembunyikan."Aslan..." bisiknya.Lelaki itu menurunkan pandangannya ke bibir Laura, lalu kembali ke matanya. "Bolehkah?""Tapi aku belum gosok gigi," katanya polos. Aslan pun tersenyum lalu bertanya lagi. "Boleh kan? Aku juga belum gosok gigi." Laura hanya mengangguk pelan.Aslan menciumnya , lembut, perlahan, seolah Laura terbuat dari kaca yang paling rapuh. Tidak seperti ciuman malam sebelumnya yang singkat dan terburu-buru. Ciuman pagi ini penuh makna. Penuh jan
"Aku tidak punya pilihan!" Sonya meninggikan suara. "Wanita tua itu sudah tahu semuanya. Aslan tahu Viona bukan anaknya sejak awal. Aku tidak bisa kembali ke sana.""Lalu kenapa kau tidak kembali ke keluargamu?" tanya Ron sinis.Sonya menggigit bibirnya. "Mereka... mereka tidak mau menerimaku. Aku sudah tidak berguna bagi mereka."Ron menggelengkan kepala. "Bukan urusanku. Aku tidak mau terlibat. Cari tempat lain."Dengan gerakan nekad, Sonya menarik koper besar yang ia bawa dan meletakkannya di tengah ruangan. Ia kemudian mengambil tas ransel Viona dari pundaknya dan meletakkannya di sofa, sofa yang beberapa menit lalu ia lihat Ron bercinta dengan wanita lain."Aku tidak akan pergi, Ron. Aku dan Viona akan tinggal di sini."Mata Ron melebar. "Kau gila? Apartemen ini milikku!""Dan Viona adalah anakmu. Secara hukum dan biologis, kau berkewajiban menanggung kami berdua," Sonya menatap Ron dengan tatapan penuh tekad. "Kecuali kau mau namanya tercoreng di pengadilan. Tentu keluarga besar
Lelaki berkumis dan memiliki mata yang menyeramkan itu, tampak tidak percaya begitu saja dengan perkataan Ron. Ia tidak mungkin percaya perkataan pria itu dengan mudahnya, itu semua karena Ron adalah sepupu Aslan."Kenapa? Apa kau tidak percaya dengan perkataanku, Tuan Maxime?" tanya Ron saya menat
Aslan dan Rick kembali ke rumah dengan langkah berat. Pencarian singkat mereka di sekitar area parkir tak membuahkan hasil apa pun. Orang yang melempar batu itu lenyap begitu saja, seolah memang sudah menyiapkan jalan kabur sejak awal.“Tidak ada jejak, Tuan,” lapor Rick setelah memastikan seluruh
"Kau serius? Aku harus meminum ini juga?" tanya Aslan ketika ia melihat Laura menyodorkan segelas susu vanila kepadanya. Tak lama setelah ia menghabiskan buburnya. Bubur adalah satu satu makanan yang tak disukai oleh Aslan juga.Aslan melihatnya dengan ekspresi jijik, yang membuat Laura bingung. "K
Pintu diketuk kencang, menimbulkan suara gaduh. Seperti terburu-buru dan ingin didobrak saja. Benar-benar menghancurkan momen itu.Aslan dan Laura sama-sama tersentak. Tubuh mereka yang semula begitu dekat refleks menjauh. Laura langsung menarik napas pendek, wajahnya pucat, sementara Aslan mengump







