Beranda / Mafia / Kesayangan Tuan Mafia / Bab 3. Aku menginginkannya

Share

Bab 3. Aku menginginkannya

Penulis: Davian
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-01 10:34:17

"Selain penjudi, pemabuk, kau juga Ayah yang kejam ya? Kau mau menjual putrimu?" tanya pria bernama Hans itu dengan dingin, sorot matanya tajam pada Andreas. Pria yang sudah dibuat babak belur itu.

Andreas tampak ketakutan, tapi ia tetap memberanikan diri untuk bicara demi menyelamatkan nyawanya sendiri. "I-iya, kalau itu bisa membayar semua hutangku pada Tuan Luca, akan saya lakukan. Putri saya cantik, dia pintar memasak, dia juga tidak akan menyusahkan Tuan Luca. Pastinya ...dia bisa jadi partner ranjang yang baik."

"Kau pikir Tuanku mau dengan putrimu? Tuanku ingin nyawamu, bukan wanita jalang!" sentak Hans seraya menahan dada Andreas dengan kakinya. Sehingga pria itu tak bisa bergerak.

"Ugghh."

Tubuh Andreas seperti remuk, ia bahkan tak bisa mengangkat jarinya dan kesulitan bicara. Kembali, Hans dan anak buahnya memukuli Andreas tanpa ampun.

"Ampun Tuan .... Ampuni nyawa saya ...," lirih Andreas kesakitan. Ia memohon ampun pada Hans dan empat orang pria yang memukulinya.

"Seharusnya kau berpikir dahulu sebelum berhutang, Andreas!" seru Hans.

Tiba-tiba saja Hans berhenti memukuli Andreas, saat ia melihat tuan besarnya datang. Sorot mata dingin berwarna dark grey itu membuat semua orang terdiam. Pria yang dipanggil tuan Luca ini sangat berwibawa dan ditakuti.

"Tuan, Anda sudah datang!" sambut Hans dengan hormat.

"Habisi dia," ucap Aslan datar seakan nyawa bukan apa-apa baginya. Pria yang dipanggil Tuan Luca. Tak lain adalah Aslan Moretz Luca.

"Setelah dia mati. Pastikan kematiannya tidak sia-sia. Berikan dia pada binatang peliharaanku, Ron," katanya lagi dengan tegas.

"Baik, Tuan!" kata Hans patuh.

"Tuan! Ampun, Tuan! Tolong!" teriak Andreas sekuat tenaga, ia tidak mau mati.

Andreas kembali dipukuli, mulutnya mengeluarkan darah. Ia tak bisa melawan. Aslan dan anak buahnya hanya melihat dengan santai. Sampai akhirnya, atensi Aslan tertuju pada selembar foto yang tanpa sengaja keluar dari jaket Andreas.

Foto seorang wanita cantik, masih muda, matanya berwarna hazel dan tidak asing. Aslan pun menyuruh ajudan, tangan kanannya, Rick untuk mengambil foto tersebut.

"Ini fotonya, Tuan!" Rick menyerahkan foto itu pada Aslan. "Wanita ini sepertinya tidak asing, Tuan," sambungnya lagi saat melihat foto wanita cantik itu.

Sementara Aslan, memandangi foto itu dengan intens. Bayangan semalam yang panas kembali muncul di benaknya. Ia ingat siapa wanita ini.

"Kalian, hentikan!" ujar Aslan pada Hans dan anak buahnya yang lain, agar berhenti memukuli Andreas.

Mereka patuh dan langsung berhenti. Tak lama kemudian, Aslan mendekati Andreas sambil membawa foto wanita itu ditangannya. Ia sedikit berjongkok, menatap Andreas yang tak berdaya di atas tanah.

"Siapa wanita ini?" tanya Aslan seraya mengajukan foto tersebut kepada Andreas.

"Pu-putri saya, Tuan. Namanya Laura. Saya akan jual putri saya pada Tuan, ta-tapi semua hutang saya lunas," jawabnya terbata.

"Putrimu?" katanya pelan, tapi penuh penekanan.

Aslan terdiam beberapa saat, pandangannya tertuju pada foto wanita yang sudah memuaskannya semalam.

"Aku menginginkannya."

Hans, Rick dan anak buah Aslan yang lain tercengang mendengar kata-kata Aslan pada Andreas. Pasalnya, bos mereka tidak pernah tertarik pada perempuan manapun. Banyak yang ingin menjual anak atau saudara perempuan mereka kepadanya, tapi Aslan sama sekali tidak tertarik. Sedangkan Andreas tersenyum, merasa kalau nyawanya akan selamat setelah menjual Laura.

"Ja-jadi Tuan mau? Hutang saya lunas kan, Tuan?" Mata Andreas berbinar-binar. Seperti ada harapan hidup.

"Iya. Rick akan menjemputnya malam ini."

"Sungguh, Tuan?"

"Kalau kau tidak bisa membuat putrimu diam, maka aku akan menghabisimu detik itu juga!"

Andreas tersenyum senang, ia merasa bersyukur nyawanya sudah selamat. "Tuan, kalau bisa. Saya minta lagi 100 ribu dollar untuk—"

BUKH!

Aslan menendang wajah Andreas sampai giginya patah. "Jangan menguji kesabaranku, ketika aku sedang baik hati."

Andreas langsung menganggukkan kepalanya. Ia tidak bisa bernegosiasi dengan Aslan. Pria itu bukan orang yang bisa diajak negosiasi. Nyawanya selamat saja, sudah untung.

"Bawa dia ke rumah sakit. Anggap saja kompensasi," kata Aslan memerintah pada Hans agar Andreas dibawa ke rumah sakit.

***

Setelah mencari ayahnya ke club Golden. Laura tidak menemukannya di sana dan kabarnya, ayahnya dilarikan ke rumah sakit, usai dipukuli oleh pemilik club. Laura pun pergi ke rumah sakit tempat ayahnya dibawa, yang kebetulan rumah sakit itu tempat adiknya dirawat juga.

Laura menatap ayahnya yang terbaring di atas ranjang, tak berdaya, dengan tajam. Ia bahkan tak iba melihat ayahnya terluka parah. Gigi-gigi depannya patah. Kata dokter, beberapa tulang rusuk ayahnya patah. Sekarang yang dirasakan Laura adalah kekecewaan dan kemarahan.

"Aku pikir Ayah sudah berubah. Ternyata aku salah," desah Laura kecewa. "Ayah masih judi? Minum-minuman keras dan, ayah masih suka main perempuan, kan?" ucap Laura emosi. Namun, kedua matanya berkaca-kaca.

Andreas tampak kesal, karena Laura bicara dengan nada tinggi kepadanya. "Hey! Ayahmu baru saja selamat dari ambang kematian dan kau malah marah-marah pada Ayah?"

"Itu karena Ayah menghabiskan uang yang seharusnya untuk Alisha! Ayah tidak memikirkan bagaimana nasib Alisha, dia harus dioperasi nanti malam dan dia tidak bisa menunggu. Ayah tega. Demi kesenangan Ayah ...Ayah membuatku menjual diri pada pria asing dan uangnya Ayah pakai untuk diri sendiri."

Wanita itu tak bisa menahan lagi tangis kekecewaan dan kemarahannya. Beban dipundaknya seakan terasa berat. Ia sudah menyerahkan miliknya yang paling berharga, tapi ayahnya malah menyia-nyiakan uang itu untuk kesenangan.

"Lima ratus ribu dollar , Ayah ... uang itu tak sedikit, tapi sangat banyak dan kau menghabiskannya dalam waktu satu jam?" sarkasnya. "Hebat ... dan aku percaya padamu, Ayah. Sekarang bagaimana nasib Alisha? Dia tidak bisa operasi."

Tak tahan lagi dengan kemarahan Laura padanya, Andreas akhirnya meledak. Meskipun sakit, ia masih bisa meledak. "CUKUP ANAK SIALAN! BERANI SEKALI KAU MEMBENTAKKU!"

"Ayah benar-benar jahat. Ayah tidak peduli pada nyawa Alisha! Hanya peduli pada diri ayah sendiri."

"Cukup! Jangan bicara lagi. Aku sedang sakit dan kau malah membuatku pusing, hah?" desis Andreas.

Bicara dengan ayahnya, hanya percuma yang ia dapat. Uang itu pun takkan kembali. Sekarang ia berada di depan ruang rawat Alisha, melihat adiknya yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri karena sakit kanker paru-parunya yang kambuh itu. Harusnya Alisha dioperasi pengangkatan tumor malam ini, tapi entah apakah operasinya bisa dilakukan atau tidak? Karena Laura tak punya uang.

"Apa lagi yang harus aku jual? Harga diriku bahkan sudah ku jual. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" gumam Laura sambil menahan tangis, melihat adiknya di dalam sana.

Tiba-tiba saja ada dua orang pria yang menghampiri dan memegang tangannya erat. Laura terkejut. "Hey! Siapa kalian?"

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 65. Bukan Siapa-siapa

    Rick berdiri di pintu, menunduk dalam. Air mata pria besar itu juga jatuh. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Laura yang hancur, memeluk jasad adiknya yang baru saja melindunginya dengan nyawa.Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Alisha untuk terakhir kalinya, seolah ingin mengabadikan setiap detail di memorinya.“Kakak janji, Sha.” bisiknya. “Kakak akan jaga keponakanmu baik-baik. Kakak akan cerita ke dia tentang bibinya yang paling baik sedunia. Tentang bibinya yang pemberani, yang rela berkorban untuk kakaknya. Dan kakak… kakak akan cari keadilan untukmu. Untuk orang yang udah berani menyentuhmu. Untuk orang yang sudah merebut nyawamu. Kakak janji.”Ia mengecup kening Alisha dengan berlinang air mata. Ia tidak bisa berhenti menangis.Perlahan, ia bangkit. Tubuhnya goyah, tapi ia tetap mencoba bertahan. Ia menatap petugas kamar jenazah.“Saya sudah selesai. Tolong…urus semuanya."Petugas itu mengangguk hormat."Saya akan mengurus pemakaman

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 64. Tanpa Cahaya

    Dunia Laura berhenti berputar.Kata-kata dokter itu masuk ke telinganya, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya. Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak benar.“Apa…apa maksud Dokter?”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Seperti anak kecil yang berpura-pura tidak mengerti agar kenyataan pahit tidak jadi diucapkan.Dokter itu menatapnya dengan mata penuh simpati. Seorang perawat di belakangnya sudah menunduk, menahan tangis. Mereka sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk, tapi tak pernah benar-benar terbiasa melihat keluarga yang hancur.“Nona… saya turut berduka. Adik Nona sudah meninggal dunia. Tim kami sudah berusaha, tapi lukanya terlalu parah. Maaf.”Laura merasa napasnya terenggut paksa dari dalam paru-parunya. Kepalanya berputar, pandangannya mulai mengabur. Telinganya berdengung hebat, suara di sekitarnya terdengar seperti dari dalam terowongan panjang.“Tidak…”Satu kata. Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya yang gemetar.“Tidak… tidak, Dok. Maksud Dokter… adik saya…

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 63. Duka Laura

    Mereka berlari ke arah pintu belakang. Namun salah satu penculik yang masih setengah sadar mengambil pistol yang terjatuh.Ia mulai membidik dan mengarahkannya pada Laura.“Berhenti!” teriaknya.Laura menoleh, tubuhnya membeku seketika. Saat suara tembakan memekakkan telinganya.Laura merasa tubuhnya didorong keras.“KAKAK!"Laura jatuh ke lantai, namun ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun menoleh.Alisha berdiri di depannya beberapa detik, lalu tubuhnya perlahan melemah. Darah merembes dari sisi perutnya.“Alisha…” suara Laura bergetar. Ia menyadari kalau Alisha menolongnya dari tembakan itu.Tubuh adiknya ambruk ke pelukannya dengan kondisi perut yang berlumuran darah.“Tidak… tidak… tidak!” Laura menjerit histeris, tangisnya mulai pecah. "Alisha!"Rick segera menembak balik, melumpuhkan pelaku. Namun, semuanya terasa terlambat, ketika ia melihat Laura memeluk Alisha yang terkulai lemah di tangannya.“Bertahan, Sayang… tolong bertahan…” tangisnya pecah.Alisha tersenyum lemah,

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 62. Diculik Lagi

    Ia menyentuh perutnya yang masih rata. “Dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah bayangan pria yang mungkin telah menghancurkan keluarga kita.”Air mata Alisha jatuh. “Kak, aku takut.”“Aku juga,” bisik Laura jujur. “Tapi lebih takut lagi kalau kita tetap di sini.”***Di sebuah kamar hotel mewah, Aslan berdiri memandang jendela kaca tinggi. Kota berkilau di bawahnya.Sonya mendekat dari belakang, memeluknya.“Kau masih memikirkannya, ya?”Aslan tidak menjawab.Ia merasa kosong. Bahkan saat Sonya menyentuhnya, pikirannya tetap pada Laura, pada wajahnya yang penuh air mata.Sonya memutar tubuh Aslan menghadapnya. “Lihat aku Sayang."Tatapan mereka bertemu. Mata Sonya dipenuhi keinginan dan ambisi. Ia sudah lama menginginkan ini. Menginginkan Aslan sebagai seorang pria. Ia ingin dicintai sepenuhnya oleh pria ini.“Kau tidak sendirian malam ini,” bisiknya.Kali ini Aslan tidak mundur, kekacauan hatinya, alkohol dan minuman yang dicampur sesuatu oleh Sonya, membuatnya tak puny

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 61. Klub Malam

    "Aku memang bukan orang baik seperti yang kau pikirkan."Aslan menatapnya. Matanya, Laura tidak bisa membaca apa yang ada di sana. Tapi untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang basah di sudut mata pria itu.Mustahil.Aslan tidak mungkin menangis."Kau boleh membenciku," bisik Aslan akhirnya. "Tapi kau tidak akan pergi dari sini. Kau dan anak itu... kau milikku.""AKU BUKAN MILIK SIAPA PUN!""Kau mengandung anakku.""Dan aku akan membesarkannya tanpa kau! Aku akan memberitahunya bahwa ayahnya adalah monster pembunuh!" Laura berteriak, suaranya serak dan pecah.Untuk sesaat, Aslan terlihat seperti baru saja ditampar. Tapi ekspresi itu cepat sirna, digantikan oleh topeng dinginnya yang biasa."Terserah kau mau berpikir apa tentangku. Tapi kau tetap di sini. Kau tidak akan pergi kemana-mana."Ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Bunyi kunci diputar dari luar membuat Laura tersentak. Ia berlari ke pintu, mengguncang-guncang gagangnya dengan panik."TIDAK! BUKA PINTU! ASLAN! BUKA PINTU!"Ti

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 60. Iblis Menyamar

    "Aish ..." geram Laura saat ia melihat Rick dan beberapa pengawal berjaga di depan ruangan Aslan. Itu artinya dia tidak bisa masuk ke dalam sana dan mengambil amplop yang ada didalamnya."Aku bisa saja membujuk Pak Rick untuk masuk ke dalam sana. Tapi aku tidak mau dia berada dalam masalah lagi karena aku," gumam Laura yang terpaksa berbalik arah dan mengurungkan niatnya untuk ke ruang kerja Aslan.Dua jam kemudian, Laura mendengar mobil masuk ke garasi. Ia berlari ke jendela, melihat Alisha turun dari mobil sekolah dengan seragam basah kena hujan. Adiknya menoleh ke arah kamar Laura, dan untuk sesaat, Laura melihat sesuatu yang aneh di wajah Alisha.Alisha tersenyum. Tapi senyum itu berbeda. Seperti ada kode rahasia di baliknya.Laura menunggu dengan tidak sabar.Setelah berganti pakaian, Alisha mengetuk pintu kamar Laura. Begitu masuk, ia langsung memeluk kakaknya erat-erat. Pelukan yang lebih lama dari biasanya."Kak," bisik Alisha di telinga Laura. "Aku harus bicara sesuatu. Tapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status