LOGIN"Selain penjudi, pemabuk, kau juga Ayah yang kejam ya? Kau mau menjual putrimu?" tanya pria bernama Hans itu dengan dingin, sorot matanya tajam pada Andreas. Pria yang sudah dibuat babak belur itu.
Andreas tampak ketakutan, tapi ia tetap memberanikan diri untuk bicara demi menyelamatkan nyawanya sendiri. "I-iya, kalau itu bisa membayar semua hutangku pada Tuan Luca, akan saya lakukan. Putri saya cantik, dia pintar memasak, dia juga tidak akan menyusahkan Tuan Luca. Pastinya ...dia bisa jadi partner ranjang yang baik." "Kau pikir Tuanku mau dengan putrimu? Tuanku ingin nyawamu, bukan wanita jalang!" sentak Hans seraya menahan dada Andreas dengan kakinya. Sehingga pria itu tak bisa bergerak. "Ugghh." Tubuh Andreas seperti remuk, ia bahkan tak bisa mengangkat jarinya dan kesulitan bicara. Kembali, Hans dan anak buahnya memukuli Andreas tanpa ampun. "Ampun Tuan .... Ampuni nyawa saya ...," lirih Andreas kesakitan. Ia memohon ampun pada Hans dan empat orang pria yang memukulinya. "Seharusnya kau berpikir dahulu sebelum berhutang, Andreas!" seru Hans. Tiba-tiba saja Hans berhenti memukuli Andreas, saat ia melihat tuan besarnya datang. Sorot mata dingin berwarna dark grey itu membuat semua orang terdiam. Pria yang dipanggil tuan Luca ini sangat berwibawa dan ditakuti. "Tuan, Anda sudah datang!" sambut Hans dengan hormat. "Habisi dia," ucap Aslan datar seakan nyawa bukan apa-apa baginya. Pria yang dipanggil Tuan Luca. Tak lain adalah Aslan Moretz Luca. "Setelah dia mati. Pastikan kematiannya tidak sia-sia. Berikan dia pada binatang peliharaanku, Ron," katanya lagi dengan tegas. "Baik, Tuan!" kata Hans patuh. "Tuan! Ampun, Tuan! Tolong!" teriak Andreas sekuat tenaga, ia tidak mau mati. Andreas kembali dipukuli, mulutnya mengeluarkan darah. Ia tak bisa melawan. Aslan dan anak buahnya hanya melihat dengan santai. Sampai akhirnya, atensi Aslan tertuju pada selembar foto yang tanpa sengaja keluar dari jaket Andreas. Foto seorang wanita cantik, masih muda, matanya berwarna hazel dan tidak asing. Aslan pun menyuruh ajudan, tangan kanannya, Rick untuk mengambil foto tersebut. "Ini fotonya, Tuan!" Rick menyerahkan foto itu pada Aslan. "Wanita ini sepertinya tidak asing, Tuan," sambungnya lagi saat melihat foto wanita cantik itu. Sementara Aslan, memandangi foto itu dengan intens. Bayangan semalam yang panas kembali muncul di benaknya. Ia ingat siapa wanita ini. "Kalian, hentikan!" ujar Aslan pada Hans dan anak buahnya yang lain, agar berhenti memukuli Andreas. Mereka patuh dan langsung berhenti. Tak lama kemudian, Aslan mendekati Andreas sambil membawa foto wanita itu ditangannya. Ia sedikit berjongkok, menatap Andreas yang tak berdaya di atas tanah. "Siapa wanita ini?" tanya Aslan seraya mengajukan foto tersebut kepada Andreas. "Pu-putri saya, Tuan. Namanya Laura. Saya akan jual putri saya pada Tuan, ta-tapi semua hutang saya lunas," jawabnya terbata. "Putrimu?" katanya pelan, tapi penuh penekanan. Aslan terdiam beberapa saat, pandangannya tertuju pada foto wanita yang sudah memuaskannya semalam. "Aku menginginkannya." Hans, Rick dan anak buah Aslan yang lain tercengang mendengar kata-kata Aslan pada Andreas. Pasalnya, bos mereka tidak pernah tertarik pada perempuan manapun. Banyak yang ingin menjual anak atau saudara perempuan mereka kepadanya, tapi Aslan sama sekali tidak tertarik. Sedangkan Andreas tersenyum, merasa kalau nyawanya akan selamat setelah menjual Laura. "Ja-jadi Tuan mau? Hutang saya lunas kan, Tuan?" Mata Andreas berbinar-binar. Seperti ada harapan hidup. "Iya. Rick akan menjemputnya malam ini." "Sungguh, Tuan?" "Kalau kau tidak bisa membuat putrimu diam, maka aku akan menghabisimu detik itu juga!" Andreas tersenyum senang, ia merasa bersyukur nyawanya sudah selamat. "Tuan, kalau bisa. Saya minta lagi 100 ribu dollar untuk—" BUKH! Aslan menendang wajah Andreas sampai giginya patah. "Jangan menguji kesabaranku, ketika aku sedang baik hati." Andreas langsung menganggukkan kepalanya. Ia tidak bisa bernegosiasi dengan Aslan. Pria itu bukan orang yang bisa diajak negosiasi. Nyawanya selamat saja, sudah untung. "Bawa dia ke rumah sakit. Anggap saja kompensasi," kata Aslan memerintah pada Hans agar Andreas dibawa ke rumah sakit. *** Setelah mencari ayahnya ke club Golden. Laura tidak menemukannya di sana dan kabarnya, ayahnya dilarikan ke rumah sakit, usai dipukuli oleh pemilik club. Laura pun pergi ke rumah sakit tempat ayahnya dibawa, yang kebetulan rumah sakit itu tempat adiknya dirawat juga. Laura menatap ayahnya yang terbaring di atas ranjang, tak berdaya, dengan tajam. Ia bahkan tak iba melihat ayahnya terluka parah. Gigi-gigi depannya patah. Kata dokter, beberapa tulang rusuk ayahnya patah. Sekarang yang dirasakan Laura adalah kekecewaan dan kemarahan. "Aku pikir Ayah sudah berubah. Ternyata aku salah," desah Laura kecewa. "Ayah masih judi? Minum-minuman keras dan, ayah masih suka main perempuan, kan?" ucap Laura emosi. Namun, kedua matanya berkaca-kaca. Andreas tampak kesal, karena Laura bicara dengan nada tinggi kepadanya. "Hey! Ayahmu baru saja selamat dari ambang kematian dan kau malah marah-marah pada Ayah?" "Itu karena Ayah menghabiskan uang yang seharusnya untuk Alisha! Ayah tidak memikirkan bagaimana nasib Alisha, dia harus dioperasi nanti malam dan dia tidak bisa menunggu. Ayah tega. Demi kesenangan Ayah ...Ayah membuatku menjual diri pada pria asing dan uangnya Ayah pakai untuk diri sendiri." Wanita itu tak bisa menahan lagi tangis kekecewaan dan kemarahannya. Beban dipundaknya seakan terasa berat. Ia sudah menyerahkan miliknya yang paling berharga, tapi ayahnya malah menyia-nyiakan uang itu untuk kesenangan. "Lima ratus ribu dollar , Ayah ... uang itu tak sedikit, tapi sangat banyak dan kau menghabiskannya dalam waktu satu jam?" sarkasnya. "Hebat ... dan aku percaya padamu, Ayah. Sekarang bagaimana nasib Alisha? Dia tidak bisa operasi." Tak tahan lagi dengan kemarahan Laura padanya, Andreas akhirnya meledak. Meskipun sakit, ia masih bisa meledak. "CUKUP ANAK SIALAN! BERANI SEKALI KAU MEMBENTAKKU!" "Ayah benar-benar jahat. Ayah tidak peduli pada nyawa Alisha! Hanya peduli pada diri ayah sendiri." "Cukup! Jangan bicara lagi. Aku sedang sakit dan kau malah membuatku pusing, hah?" desis Andreas. Bicara dengan ayahnya, hanya percuma yang ia dapat. Uang itu pun takkan kembali. Sekarang ia berada di depan ruang rawat Alisha, melihat adiknya yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri karena sakit kanker paru-parunya yang kambuh itu. Harusnya Alisha dioperasi pengangkatan tumor malam ini, tapi entah apakah operasinya bisa dilakukan atau tidak? Karena Laura tak punya uang. "Apa lagi yang harus aku jual? Harga diriku bahkan sudah ku jual. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" gumam Laura sambil menahan tangis, melihat adiknya di dalam sana. Tiba-tiba saja ada dua orang pria yang menghampiri dan memegang tangannya erat. Laura terkejut. "Hey! Siapa kalian?" Bersambung...Prosesi pernikahan Laura dan Aslan berjalan dengan lancar di gereja. Siangnya mereka langsung menuju ke tempat resepsi pernikahan yang diadakan dipinggir pantai. Dengan tema outdoor. Tema impian Laura, dan Aslan mewujudkannya.Laura tampak cantik dengan dress berwarna navy selutut. Aslan juga tampak gagah dan keren dengan jas setelan navynya yang senada dengan gaun Laura.Para tamu hadir di sana memberikan ucapan selamat pada Aslan dan Laura. Terutama para rekan bisnis Aslan."Kau sangat cantik, Laura."Laura tersentak kaget saat ia melihat seseorang yang ia rindukan baru saja datang. Kedua matanya tak berkedip melihat orang itu."Kak Julian!"Matanya berbinar-binar melihat sosok Julian mendekat ke arahnya. Julian memakai kemeja berwarna hitam dan celana bahan yang merupakan ciri khasnya. Namun, Julian tak datang sendirian. Ia datang bersama seorang wanita berambut pendek yang memiliki senyuman manis disampingnya. Laura melihat itu.Julian memeluk Laura, seperti memeluk adik perempuan
Sean melangkah mendekat. Ia meraih dagu Laura, memutar wajah calon pengantin itu ke kiri dan kanan. "Sayang sekali harus mati muda. Tapi kau salah memilih pria."Lalu ia menoleh ke arah anak buahnya. "Sudah beri tahu Aslan lokasinya?""Sudah, Bos. Mereka pasti sudah dalam perjalanan.""Bagus. Aku ingin show yang indah. Persiapkan kamera. Aku ingin merekam wajah Aslan saat dia melihat wanitanya jatuh dari ketinggian."Laura menelan ludah. Ia melihat ke bawah. Gedung ini menjulang entah berapa puluh lantai. Mobil-mobil di bawah tampak sekecil mainan. Jika tali itu dipotong, jika tubuhnya terlepas dari tiang... tidak ada harapan.Aslan... panggilnya dalam hati. Aku tahu kau akan datang.Aslan dan timnya tiba di bawah gedung Wira Mustika dalam waktu 18 menit. Mereka tidak datang dengan gegap gempita. Mobil-mobil hitam parkir di tiga titik buta. Anak buah Aslan bergerak seperti bayangan, menyisir setiap sudut.Hans melaporkan, "Pak, lift tidak berfungsi. Tangga darurat hanya satu-satunya a
Laura jatuh ke dalam pelukan pria bertopeng itu. Tubuhnya lemas tak berdaya. Gaun putihnya yang indah kini hanya menjadi kain yang membungkus tubuh pingsannya. Dua pria lain dengan sigap masuk ke ruang rias. Mereka mengenakan seragam petugas keamanan gereja, seragam palsu yang berhasil menembus sistem penjagaan Aslan."Ganti bajunya. Cepat!" perintah pemimpin mereka, seorang pria berbadan tegap dengan bekas luka di lehernya.Dalam hitungan detik, Laura yang tak sadarkan diri itu dipakaikan pakaian kusir gereja. Sementara tiga pria itu membawanya keluar melalui pintu belakang. Mereka berjalan santai, berpura-pura menggotong petugas yang pingsan karena kelelahan. Sebuah trik kotor yang berhasil membodohi dua anak buah Aslan yang berjaga di lorong belakang."Ada apa dengan dia?" tanya salah satu anak buah Aslan, curiga."Dia kepanasan. Kami bawakan ke ruang istirahat," jawab pria bertopeng dengan tenang.Mereka lolos. Mobil hitam tanpa pelat sudah menunggu di luar pagar gereja. Laura dib
"Lihat mommymu, bukankah dia cantik sekali?"Mariana memuji kecantikan Laura yang tampak lebih bersinar saat memakai gaun putih yang sudah disiapkan perancang terkenal untuknya. Mariana yang menyiapkan semuanya.Ya, Laura sangat cantik. Kulit putihnya bak porselen itu dan gaun putih mode Sabrina yang melekat ditubuhnya, membuat Laura cantik seperti bidadari.Maria dan Jayden menatap kagum pada Laura. Mereka bertepuk tangan memberikan pujian yang perfect untuk Laura."Mommy wanita paling cantik di dunia, Grandma. Dan Grand ma juga, hehe." Kekeh Jayden seraya melihat ke arah omanya. Jayden tidak bohong.Neneknya yang rambutnya sudah memutih itu, masih tampak cantik dan awet muda. Fashionnya pun tak ketinggalan zaman. Tidak ada yang akan menyangka kalau Maria sudah berusia hampir 70 tahun.Jalannya masih tegap, wajahnya tidak terlihat keriput. Hanya rambutnya yang tampak memutih."Terima kasih. Tapi gaun ini? Apa tidak sedikit terbuka ya?" ucap Laura melihat belahan dadanya saat memakai
Mereka bertiga turun ke ruang makan. Maria sudah duduk di sana dengan senyum lebar. Wanita tua itu tampak berseri-seri. Begitu melihat Laura dan Aslan datang bergandengan tangan, matanya langsung berkaca-kaca."Anak-anakku ..." bisik Maria haru. "Kalian sangat serasi."Setelah sarapan bersama, Maria menggenggam tangan Laura dan Aslan. "Aku sudah bicara dengan pengacara keluarga. Pernikahan kalian akan kita laksanakan akhir bulan ini. Dua minggu lagi. Aku sudah siapkan segalanya."Laura terkejut mendengar keputusan nenek calon suaminya itu. "Dua minggu? Tinggal dua minggu lagi?""Kenapa? Apa kau keberatan, Sayang?" tanya Aslan khawatir.Laura menggeleng cepat. "Bukan begitu. Aku hanya ... terharu. Rasanya seperti mimpi dan ini terlalu cepat.""Tidak ada yang terlalu cepat untuk hari yang baik, Laura," kata Maria sambil tersenyum.Jayden yang mendengar kabar itu langsung berteriak kegirangan. "Hore! Mommy dan daddy akhirny
Laura tertawa kecil mendengar jawaban Aslan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena haru. Pria yang dulu ia kenal sebagai sosok dingin, menyeramkan dan penuh perhitungan, kini berdiri di hadapannya dengan hati yang terbuka. Ia meletakkan tangan di atas punggung tangan Aslan, merasakan hangat yang menyebar dari sentuhan itu."Makan dulu, Sayang," ucap Aslan lembut, menarik Laura dari lamunannya.Mereka menikmati makan malam di bawah sinar bulan. Sesekali Aslan menyuapi Laura, sesekali mereka tertawa bersama mengenang kenangan lama. Obrolan mengalir ringan, dari masa lalu yang pahit hingga mimpi-mimpi tentang masa depan. Laura bercerita tentang bagaimana ia membesarkan Jayden sendirian, tentang malam-malam ketika ia menangis karena merindukan sosok Aslan meskipun ia berusaha membencinya. Aslan mendengarkan dengan seksama, sesekali menggenggam erat tangan Laura seolah takut kehilangannya lagi."Maafkan aku," bisik Aslan untuk kesekian kalinya. "Aku janji tidak akan meningg







