Se connecterDua tangan besar itu mencengkeram lengan Laura tanpa peringatan. Gadis itu tersentak kaget, refleks berusaha menarik diri, tetapi tenaga kedua pria itu terlalu kuat.
“Lepaskan aku!” teriak Laura panik. "Hey, siapa kalian?" Pertanyaan Laura tak digubris oleh mereka berdua. Koridor rumah sakit yang semula ramai mendadak terasa mencekam. Beberapa perawat yang melintas hanya melirik sekilas, lalu menundukkan kepala dan mempercepat langkah seolah tak melihat apa-apa. Seorang pria yang duduk di bangku tunggu bahkan berdiri dan menjauh. Tidak ada satu pun yang berani menolong Laura. Entah karena wajah dingin dua pria itu, atau aura mengancam yang mereka bawa. Laura memberontak, menendang dan memukul sebisanya. “Tolong! Lapor polisi! Kenapa kalian diam saja?" Gadis itu bingung. "Ada apa ini?" gumam Laura pelan. Orang-orang disekitarnya malah diam. Salah satu pria mendekat ke telinganya. “Diam kalau kau ingin tetap hidup.” Kalimat itu membuat tubuh Laura melemas seketika. Tenggorokannya tercekat. Dengan kasar, ia diseret keluar dari rumah sakit. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Pikirannya hanya tertuju pada Alisha, adiknya yang terbaring lemah dan membutuhkan operasi malam ini. Di depan rumah sakit, sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu. Pintu belakang dibuka, dan Laura didorong masuk tanpa ampun. Pintu tertutup rapat, mobil langsung melaju meninggalkan tempat itu. Laura terengah, napasnya memburu. Tangannya gemetar, dadanya sesak. Ia menatap ke depan dan seketika tubuhnya menegang. Rick, ia mengenali wajah itu. Meski tak tahu namanya. Pria itu duduk dengan tenang di kursi depan. Pria yang semalam mengantarnya. Pria yang membawanya pada Aslan. “Kau…” suara Laura bergetar. “Kenapa saya dibawa seperti ini?” Rick menoleh sekilas melalui kaca spion. Tatapannya dingin, datar. “Tuanku ingin bertemu denganmu.” “Tu-tuan, yang semalam?” Laura membelalakkan mata. “Kenapa? Saya sudah melakukan apa yang dia mau. Itu hanya satu malam." Rick tidak segera menjawab. “Kau akan baik-baik saja selama kau menurut, Nona." Jawaban itu sama sekali tidak menenangkan. Laura memeluk dirinya sendiri. Mobil melaju semakin jauh, meninggalkan rumah sakit, meninggalkan Alisha. Rasa bersalah dan takut menekan dadanya bersamaan. Mobil berhenti di depan sebuah mansion besar di sudut kota. Bangunannya menjulang, didominasi warna putih gading, tampak indah sekaligus dingin. Gerbang besi tinggi terbuka perlahan. Beberapa pria bertubuh besar berjaga di depan, sorot mata mereka tajam dan waspada. Laura menelan ludah. Tempat itu sama sekali tidak terasa seperti rumah. Rick menggenggam lengan Laura dan membawanya masuk. Gadis itu berjalan tertatih, kakinya terasa lemas. Interior mansion begitu mewah, lantai marmer mengilap, lampu gantung kristal, dan ruangan luas yang terasa kosong. Semua keindahan itu justru membuat Laura merasa kecil dan tak berdaya. Tertekan. Rick menghentikannya di depan sebuah pintu cokelat besar. “Masuk,” katanya singkat. Laura ragu, tapi akhirnya melangkah masuk. Pintu itu menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang membuat jantungnya berdegup kencang. Di dalam ruangan itu, hanya ada dua orang. Dirinya dan pria yang semalam membayarnya. Pria itu berdiri membelakanginya, posturnya tegap, auranya begitu menekan. Laura refleks menundukkan kepala. Ia merasa napasnya menjadi lebih pendek. “Duduk,” perintah Aslan datar. Laura menuruti, duduk di ujung sofa. Tangannya saling menggenggam erat untuk menahan gemetar. Ia mengumpulkan keberanian, meski dadanya berdebar hebat. “Apa yang salah, Tuan?” tanya Laura akhirnya, suaranya pelan namun jelas. “Kenapa Tuan memanggil saya ke sini? Semalam, saya rasa sudah selesai." Aslan berbalik. Tatapan abu-abu gelap itu langsung mengunci Laura. Gadis itu refleks ingin menunduk lagi, tetapi ia memaksa dirinya bertahan. “Aku kurang puas,” jawab Aslan dingin. “Aku ingin mengulanginya." Laura terkejut. Tubuhnya menegang. “A-apa maksudnya, Tuan?" Satu kata itu keluar begitu saja, jujur, tanpa dipikir panjang. "Kejadian semalam," jawab Aslan singkat. “Saya tidak akan melakukan pekerjaan itu lagi,” lanjut Laura, kali ini lebih tegas meski suaranya bergetar. “Cukup sekali, Tuan." Sudut bibir Aslan terangkat sedikit, bukan senyum hangat, melainkan senyum yang membuat bulu kuduk Laura berdiri. “Mulai sekarang,” ucap Aslan sambil melangkah mendekat, “kau akan menjadi wanitaku. Kau akan tinggal di rumah ini.” Laura berdiri spontan. “Tidak! Saya mau pergi!” Ia berlari ke arah pintu, tetapi suara Aslan menghentikannya. “Kau tidak bisa pergi.” Laura membeku, tapi sorot matanya menatap tajam ke arah Aslan. “Ayahmu,” lanjut Aslan tenang, “sudah menjualmu padaku.” Kata-kata itu seperti petir yang menyambar. Laura berbalik perlahan, wajahnya pucat. “Apa maksud Tuan?” bisiknya. “Hutang-hutangnya lunas dengan dirimu,” jawab Aslan. “Mulai hari ini, kau milikku.” Air mata Laura jatuh. Dadanya terasa sakit. “Itu tidak mungkin. Saya tidak mau!" Aslan mendekat. Auranya semakin terasa menekan. “Kenyataan tidak peduli kau siap atau tidak. Kau harus mau." Laura mengepalkan tangan. Meski takut, ada amarah yang mendidih di dadanya. “Selain penjudi dan pemabuk,” kata Laura dengan suara bergetar tapi berani, “ayah saya juga ayah yang kejam. Menjual putrinya sendiri." Aslan menatapnya lama. Wajahnya tetap datar, sulit dibaca. “Kau boleh membencinya,” ucap Aslan akhirnya. “Tapi kau harus tetap di sini.” Laura menggeleng. “Kalau saya menolak?” Aslan melangkah semakin dekat hingga jarak mereka hampir tak ada. Laura menahan napas. “Kalau kau menolak,” ucap Aslan rendah dan dingin, “nasib adik dan ayahmu akan sangat bergantung pada suasana hatiku.” "Tapi itu urusan saya dengan anda, Tuan. Saya tidak mau terlibat," kata gadis itu tegas. Aslan tersenyum menyeringai, ia berjalan mendekat Laura dan kini ada dihadapannya. "Kau tidak mau terlibat? Apa kau yakin?" Laura terdiam tanpa ekspresi, tapi matanya menunjukkan ketakutan. "Walaupun ku beri kau uang 200 ribu lagi?" tanya Aslan. Gadis itu menjawab dengan ragu."Saya tidak mau." "Kalau begitu, kau mau nyawa adikmu tak selamat? Dia butuh uang untuk operasi, kan?" tanya Aslan lagi. Kata uang untuk operasi itu membuat hati Laura terhenyak. Operasi adiknya. Malam ini juga harus dilakukan dan ia tidak punya uang untuk membiayai operasi Alisha. "Pikirkan baik-baik. Kau tinggal di sini, nyawa adikmu selamat. Atau, kau pergi dari sini ...lalu ayah dan adikmu, berakhir. Pilihan ada ditanganmu dan aku tidak akan memaksa," tutur Aslan dengan dingin. Ia paling anti memohon pada orang lain. Tidak akan pernah ia lakukan itu, meski ia menginginkan wanita dihadapannya ini. Ia hanya memberi pilihan. Sementara itu, Laura masih terdiam ditempatnya sembari menelan salivanya sendiri. Tangannya terkepal erat disamping tubuh. "Pergilah," desis Aslan kesal. "Hah?" Laura tercekat mendengarnya. "Pergilah. Ku beri waktu sampai malam. Kalau kau datang kemari sebelum jam 8 malam, artinya kau setuju dengan tawaranku. Lewat jam itu, aku tak akan membantumu. Kematian di depan mata," tegas lelaki bertubuh tinggi dan berwajah tampan, tapi dingin itu, kepada Laura. "Tu-tuan ..." lirih Laura dengan kedua mata yang penuh kebingungan. Bersambung...Prosesi pernikahan Laura dan Aslan berjalan dengan lancar di gereja. Siangnya mereka langsung menuju ke tempat resepsi pernikahan yang diadakan dipinggir pantai. Dengan tema outdoor. Tema impian Laura, dan Aslan mewujudkannya.Laura tampak cantik dengan dress berwarna navy selutut. Aslan juga tampak gagah dan keren dengan jas setelan navynya yang senada dengan gaun Laura.Para tamu hadir di sana memberikan ucapan selamat pada Aslan dan Laura. Terutama para rekan bisnis Aslan."Kau sangat cantik, Laura."Laura tersentak kaget saat ia melihat seseorang yang ia rindukan baru saja datang. Kedua matanya tak berkedip melihat orang itu."Kak Julian!"Matanya berbinar-binar melihat sosok Julian mendekat ke arahnya. Julian memakai kemeja berwarna hitam dan celana bahan yang merupakan ciri khasnya. Namun, Julian tak datang sendirian. Ia datang bersama seorang wanita berambut pendek yang memiliki senyuman manis disampingnya. Laura melihat itu.Julian memeluk Laura, seperti memeluk adik perempuan
Sean melangkah mendekat. Ia meraih dagu Laura, memutar wajah calon pengantin itu ke kiri dan kanan. "Sayang sekali harus mati muda. Tapi kau salah memilih pria."Lalu ia menoleh ke arah anak buahnya. "Sudah beri tahu Aslan lokasinya?""Sudah, Bos. Mereka pasti sudah dalam perjalanan.""Bagus. Aku ingin show yang indah. Persiapkan kamera. Aku ingin merekam wajah Aslan saat dia melihat wanitanya jatuh dari ketinggian."Laura menelan ludah. Ia melihat ke bawah. Gedung ini menjulang entah berapa puluh lantai. Mobil-mobil di bawah tampak sekecil mainan. Jika tali itu dipotong, jika tubuhnya terlepas dari tiang... tidak ada harapan.Aslan... panggilnya dalam hati. Aku tahu kau akan datang.Aslan dan timnya tiba di bawah gedung Wira Mustika dalam waktu 18 menit. Mereka tidak datang dengan gegap gempita. Mobil-mobil hitam parkir di tiga titik buta. Anak buah Aslan bergerak seperti bayangan, menyisir setiap sudut.Hans melaporkan, "Pak, lift tidak berfungsi. Tangga darurat hanya satu-satunya a
Laura jatuh ke dalam pelukan pria bertopeng itu. Tubuhnya lemas tak berdaya. Gaun putihnya yang indah kini hanya menjadi kain yang membungkus tubuh pingsannya. Dua pria lain dengan sigap masuk ke ruang rias. Mereka mengenakan seragam petugas keamanan gereja, seragam palsu yang berhasil menembus sistem penjagaan Aslan."Ganti bajunya. Cepat!" perintah pemimpin mereka, seorang pria berbadan tegap dengan bekas luka di lehernya.Dalam hitungan detik, Laura yang tak sadarkan diri itu dipakaikan pakaian kusir gereja. Sementara tiga pria itu membawanya keluar melalui pintu belakang. Mereka berjalan santai, berpura-pura menggotong petugas yang pingsan karena kelelahan. Sebuah trik kotor yang berhasil membodohi dua anak buah Aslan yang berjaga di lorong belakang."Ada apa dengan dia?" tanya salah satu anak buah Aslan, curiga."Dia kepanasan. Kami bawakan ke ruang istirahat," jawab pria bertopeng dengan tenang.Mereka lolos. Mobil hitam tanpa pelat sudah menunggu di luar pagar gereja. Laura dib
"Lihat mommymu, bukankah dia cantik sekali?"Mariana memuji kecantikan Laura yang tampak lebih bersinar saat memakai gaun putih yang sudah disiapkan perancang terkenal untuknya. Mariana yang menyiapkan semuanya.Ya, Laura sangat cantik. Kulit putihnya bak porselen itu dan gaun putih mode Sabrina yang melekat ditubuhnya, membuat Laura cantik seperti bidadari.Maria dan Jayden menatap kagum pada Laura. Mereka bertepuk tangan memberikan pujian yang perfect untuk Laura."Mommy wanita paling cantik di dunia, Grandma. Dan Grand ma juga, hehe." Kekeh Jayden seraya melihat ke arah omanya. Jayden tidak bohong.Neneknya yang rambutnya sudah memutih itu, masih tampak cantik dan awet muda. Fashionnya pun tak ketinggalan zaman. Tidak ada yang akan menyangka kalau Maria sudah berusia hampir 70 tahun.Jalannya masih tegap, wajahnya tidak terlihat keriput. Hanya rambutnya yang tampak memutih."Terima kasih. Tapi gaun ini? Apa tidak sedikit terbuka ya?" ucap Laura melihat belahan dadanya saat memakai
Mereka bertiga turun ke ruang makan. Maria sudah duduk di sana dengan senyum lebar. Wanita tua itu tampak berseri-seri. Begitu melihat Laura dan Aslan datang bergandengan tangan, matanya langsung berkaca-kaca."Anak-anakku ..." bisik Maria haru. "Kalian sangat serasi."Setelah sarapan bersama, Maria menggenggam tangan Laura dan Aslan. "Aku sudah bicara dengan pengacara keluarga. Pernikahan kalian akan kita laksanakan akhir bulan ini. Dua minggu lagi. Aku sudah siapkan segalanya."Laura terkejut mendengar keputusan nenek calon suaminya itu. "Dua minggu? Tinggal dua minggu lagi?""Kenapa? Apa kau keberatan, Sayang?" tanya Aslan khawatir.Laura menggeleng cepat. "Bukan begitu. Aku hanya ... terharu. Rasanya seperti mimpi dan ini terlalu cepat.""Tidak ada yang terlalu cepat untuk hari yang baik, Laura," kata Maria sambil tersenyum.Jayden yang mendengar kabar itu langsung berteriak kegirangan. "Hore! Mommy dan daddy akhirny
Laura tertawa kecil mendengar jawaban Aslan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena haru. Pria yang dulu ia kenal sebagai sosok dingin, menyeramkan dan penuh perhitungan, kini berdiri di hadapannya dengan hati yang terbuka. Ia meletakkan tangan di atas punggung tangan Aslan, merasakan hangat yang menyebar dari sentuhan itu."Makan dulu, Sayang," ucap Aslan lembut, menarik Laura dari lamunannya.Mereka menikmati makan malam di bawah sinar bulan. Sesekali Aslan menyuapi Laura, sesekali mereka tertawa bersama mengenang kenangan lama. Obrolan mengalir ringan, dari masa lalu yang pahit hingga mimpi-mimpi tentang masa depan. Laura bercerita tentang bagaimana ia membesarkan Jayden sendirian, tentang malam-malam ketika ia menangis karena merindukan sosok Aslan meskipun ia berusaha membencinya. Aslan mendengarkan dengan seksama, sesekali menggenggam erat tangan Laura seolah takut kehilangannya lagi."Maafkan aku," bisik Aslan untuk kesekian kalinya. "Aku janji tidak akan meningg







