Beranda / Mafia / Kesayangan Tuan Mafia / Bab 4. Pilihan Berat

Share

Bab 4. Pilihan Berat

Penulis: Davian
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 08:29:40

Dua tangan besar itu mencengkeram lengan Laura tanpa peringatan. Gadis itu tersentak kaget, refleks berusaha menarik diri, tetapi tenaga kedua pria itu terlalu kuat.

“Lepaskan aku!” teriak Laura panik. "Hey, siapa kalian?" Pertanyaan Laura tak digubris oleh mereka berdua.

Koridor rumah sakit yang semula ramai mendadak terasa mencekam. Beberapa perawat yang melintas hanya melirik sekilas, lalu menundukkan kepala dan mempercepat langkah seolah tak melihat apa-apa. Seorang pria yang duduk di bangku tunggu bahkan berdiri dan menjauh. Tidak ada satu pun yang berani menolong Laura. Entah karena wajah dingin dua pria itu, atau aura mengancam yang mereka bawa.

Laura memberontak, menendang dan memukul sebisanya. “Tolong! Lapor polisi! Kenapa kalian diam saja?" Gadis itu bingung.

"Ada apa ini?" gumam Laura pelan. Orang-orang disekitarnya malah diam.

Salah satu pria mendekat ke telinganya. “Diam kalau kau ingin tetap hidup.”

Kalimat itu membuat tubuh Laura melemas seketika. Tenggorokannya tercekat. Dengan kasar, ia diseret keluar dari rumah sakit. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. Pikirannya hanya tertuju pada Alisha, adiknya yang terbaring lemah dan membutuhkan operasi malam ini.

Di depan rumah sakit, sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu. Pintu belakang dibuka, dan Laura didorong masuk tanpa ampun. Pintu tertutup rapat, mobil langsung melaju meninggalkan tempat itu.

Laura terengah, napasnya memburu. Tangannya gemetar, dadanya sesak. Ia menatap ke depan dan seketika tubuhnya menegang.

Rick, ia mengenali wajah itu. Meski tak tahu namanya.

Pria itu duduk dengan tenang di kursi depan. Pria yang semalam mengantarnya. Pria yang membawanya pada Aslan.

“Kau…” suara Laura bergetar. “Kenapa saya dibawa seperti ini?”

Rick menoleh sekilas melalui kaca spion. Tatapannya dingin, datar. “Tuanku ingin bertemu denganmu.”

“Tu-tuan, yang semalam?” Laura membelalakkan mata. “Kenapa? Saya sudah melakukan apa yang dia mau. Itu hanya satu malam."

Rick tidak segera menjawab. “Kau akan baik-baik saja selama kau menurut, Nona."

Jawaban itu sama sekali tidak menenangkan. Laura memeluk dirinya sendiri. Mobil melaju semakin jauh, meninggalkan rumah sakit, meninggalkan Alisha. Rasa bersalah dan takut menekan dadanya bersamaan.

Mobil berhenti di depan sebuah mansion besar di sudut kota. Bangunannya menjulang, didominasi warna putih gading, tampak indah sekaligus dingin. Gerbang besi tinggi terbuka perlahan. Beberapa pria bertubuh besar berjaga di depan, sorot mata mereka tajam dan waspada.

Laura menelan ludah. Tempat itu sama sekali tidak terasa seperti rumah.

Rick menggenggam lengan Laura dan membawanya masuk. Gadis itu berjalan tertatih, kakinya terasa lemas. Interior mansion begitu mewah, lantai marmer mengilap, lampu gantung kristal, dan ruangan luas yang terasa kosong. Semua keindahan itu justru membuat Laura merasa kecil dan tak berdaya. Tertekan.

Rick menghentikannya di depan sebuah pintu cokelat besar. “Masuk,” katanya singkat.

Laura ragu, tapi akhirnya melangkah masuk. Pintu itu menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang membuat jantungnya berdegup kencang.

Di dalam ruangan itu, hanya ada dua orang. Dirinya dan pria yang semalam membayarnya.

Pria itu berdiri membelakanginya, posturnya tegap, auranya begitu menekan. Laura refleks menundukkan kepala. Ia merasa napasnya menjadi lebih pendek.

“Duduk,” perintah Aslan datar.

Laura menuruti, duduk di ujung sofa. Tangannya saling menggenggam erat untuk menahan gemetar. Ia mengumpulkan keberanian, meski dadanya berdebar hebat.

“Apa yang salah, Tuan?” tanya Laura akhirnya, suaranya pelan namun jelas. “Kenapa Tuan memanggil saya ke sini? Semalam, saya rasa sudah selesai."

Aslan berbalik. Tatapan abu-abu gelap itu langsung mengunci Laura. Gadis itu refleks ingin menunduk lagi, tetapi ia memaksa dirinya bertahan.

“Aku kurang puas,” jawab Aslan dingin. “Aku ingin mengulanginya."

Laura terkejut. Tubuhnya menegang. “A-apa maksudnya, Tuan?"

Satu kata itu keluar begitu saja, jujur, tanpa dipikir panjang.

"Kejadian semalam," jawab Aslan singkat.

“Saya tidak akan melakukan pekerjaan itu lagi,” lanjut Laura, kali ini lebih tegas meski suaranya bergetar. “Cukup sekali, Tuan."

Sudut bibir Aslan terangkat sedikit, bukan senyum hangat, melainkan senyum yang membuat bulu kuduk Laura berdiri.

“Mulai sekarang,” ucap Aslan sambil melangkah mendekat, “kau akan menjadi wanitaku. Kau akan tinggal di rumah ini.”

Laura berdiri spontan. “Tidak! Saya mau pergi!”

Ia berlari ke arah pintu, tetapi suara Aslan menghentikannya.

“Kau tidak bisa pergi.”

Laura membeku, tapi sorot matanya menatap tajam ke arah Aslan.

“Ayahmu,” lanjut Aslan tenang, “sudah menjualmu padaku.”

Kata-kata itu seperti petir yang menyambar. Laura berbalik perlahan, wajahnya pucat.

“Apa maksud Tuan?” bisiknya.

“Hutang-hutangnya lunas dengan dirimu,” jawab Aslan. “Mulai hari ini, kau milikku.”

Air mata Laura jatuh. Dadanya terasa sakit. “Itu tidak mungkin. Saya tidak mau!"

Aslan mendekat. Auranya semakin terasa menekan. “Kenyataan tidak peduli kau siap atau tidak. Kau harus mau."

Laura mengepalkan tangan. Meski takut, ada amarah yang mendidih di dadanya.

“Selain penjudi dan pemabuk,” kata Laura dengan suara bergetar tapi berani, “ayah saya juga ayah yang kejam. Menjual putrinya sendiri."

Aslan menatapnya lama. Wajahnya tetap datar, sulit dibaca.

“Kau boleh membencinya,” ucap Aslan akhirnya. “Tapi kau harus tetap di sini.”

Laura menggeleng. “Kalau saya menolak?”

Aslan melangkah semakin dekat hingga jarak mereka hampir tak ada. Laura menahan napas.

“Kalau kau menolak,” ucap Aslan rendah dan dingin, “nasib adik dan ayahmu akan sangat bergantung pada suasana hatiku.”

"Tapi itu urusan saya dengan anda, Tuan. Saya tidak mau terlibat," kata gadis itu tegas.

Aslan tersenyum menyeringai, ia berjalan mendekat Laura dan kini ada dihadapannya. "Kau tidak mau terlibat? Apa kau yakin?"

Laura terdiam tanpa ekspresi, tapi matanya menunjukkan ketakutan.

"Walaupun ku beri kau uang 200 ribu lagi?" tanya Aslan.

Gadis itu menjawab dengan ragu."Saya tidak mau."

"Kalau begitu, kau mau nyawa adikmu tak selamat? Dia butuh uang untuk operasi, kan?" tanya Aslan lagi.

Kata uang untuk operasi itu membuat hati Laura terhenyak. Operasi adiknya. Malam ini juga harus dilakukan dan ia tidak punya uang untuk membiayai operasi Alisha.

"Pikirkan baik-baik. Kau tinggal di sini, nyawa adikmu selamat. Atau, kau pergi dari sini ...lalu ayah dan adikmu, berakhir. Pilihan ada ditanganmu dan aku tidak akan memaksa," tutur Aslan dengan dingin.

Ia paling anti memohon pada orang lain. Tidak akan pernah ia lakukan itu, meski ia menginginkan wanita dihadapannya ini. Ia hanya memberi pilihan.

Sementara itu, Laura masih terdiam ditempatnya sembari menelan salivanya sendiri. Tangannya terkepal erat disamping tubuh.

"Pergilah," desis Aslan kesal.

"Hah?" Laura tercekat mendengarnya.

"Pergilah. Ku beri waktu sampai malam. Kalau kau datang kemari sebelum jam 8 malam, artinya kau setuju dengan tawaranku. Lewat jam itu, aku tak akan membantumu. Kematian di depan mata," tegas lelaki bertubuh tinggi dan berwajah tampan, tapi dingin itu, kepada Laura.

"Tu-tuan ..." lirih Laura dengan kedua mata yang penuh kebingungan.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 65. Bukan Siapa-siapa

    Rick berdiri di pintu, menunduk dalam. Air mata pria besar itu juga jatuh. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Laura yang hancur, memeluk jasad adiknya yang baru saja melindunginya dengan nyawa.Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Alisha untuk terakhir kalinya, seolah ingin mengabadikan setiap detail di memorinya.“Kakak janji, Sha.” bisiknya. “Kakak akan jaga keponakanmu baik-baik. Kakak akan cerita ke dia tentang bibinya yang paling baik sedunia. Tentang bibinya yang pemberani, yang rela berkorban untuk kakaknya. Dan kakak… kakak akan cari keadilan untukmu. Untuk orang yang udah berani menyentuhmu. Untuk orang yang sudah merebut nyawamu. Kakak janji.”Ia mengecup kening Alisha dengan berlinang air mata. Ia tidak bisa berhenti menangis.Perlahan, ia bangkit. Tubuhnya goyah, tapi ia tetap mencoba bertahan. Ia menatap petugas kamar jenazah.“Saya sudah selesai. Tolong…urus semuanya."Petugas itu mengangguk hormat."Saya akan mengurus pemakaman

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 64. Tanpa Cahaya

    Dunia Laura berhenti berputar.Kata-kata dokter itu masuk ke telinganya, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya. Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak benar.“Apa…apa maksud Dokter?”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Seperti anak kecil yang berpura-pura tidak mengerti agar kenyataan pahit tidak jadi diucapkan.Dokter itu menatapnya dengan mata penuh simpati. Seorang perawat di belakangnya sudah menunduk, menahan tangis. Mereka sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk, tapi tak pernah benar-benar terbiasa melihat keluarga yang hancur.“Nona… saya turut berduka. Adik Nona sudah meninggal dunia. Tim kami sudah berusaha, tapi lukanya terlalu parah. Maaf.”Laura merasa napasnya terenggut paksa dari dalam paru-parunya. Kepalanya berputar, pandangannya mulai mengabur. Telinganya berdengung hebat, suara di sekitarnya terdengar seperti dari dalam terowongan panjang.“Tidak…”Satu kata. Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya yang gemetar.“Tidak… tidak, Dok. Maksud Dokter… adik saya…

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 63. Duka Laura

    Mereka berlari ke arah pintu belakang. Namun salah satu penculik yang masih setengah sadar mengambil pistol yang terjatuh.Ia mulai membidik dan mengarahkannya pada Laura.“Berhenti!” teriaknya.Laura menoleh, tubuhnya membeku seketika. Saat suara tembakan memekakkan telinganya.Laura merasa tubuhnya didorong keras.“KAKAK!"Laura jatuh ke lantai, namun ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun menoleh.Alisha berdiri di depannya beberapa detik, lalu tubuhnya perlahan melemah. Darah merembes dari sisi perutnya.“Alisha…” suara Laura bergetar. Ia menyadari kalau Alisha menolongnya dari tembakan itu.Tubuh adiknya ambruk ke pelukannya dengan kondisi perut yang berlumuran darah.“Tidak… tidak… tidak!” Laura menjerit histeris, tangisnya mulai pecah. "Alisha!"Rick segera menembak balik, melumpuhkan pelaku. Namun, semuanya terasa terlambat, ketika ia melihat Laura memeluk Alisha yang terkulai lemah di tangannya.“Bertahan, Sayang… tolong bertahan…” tangisnya pecah.Alisha tersenyum lemah,

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 62. Diculik Lagi

    Ia menyentuh perutnya yang masih rata. “Dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah bayangan pria yang mungkin telah menghancurkan keluarga kita.”Air mata Alisha jatuh. “Kak, aku takut.”“Aku juga,” bisik Laura jujur. “Tapi lebih takut lagi kalau kita tetap di sini.”***Di sebuah kamar hotel mewah, Aslan berdiri memandang jendela kaca tinggi. Kota berkilau di bawahnya.Sonya mendekat dari belakang, memeluknya.“Kau masih memikirkannya, ya?”Aslan tidak menjawab.Ia merasa kosong. Bahkan saat Sonya menyentuhnya, pikirannya tetap pada Laura, pada wajahnya yang penuh air mata.Sonya memutar tubuh Aslan menghadapnya. “Lihat aku Sayang."Tatapan mereka bertemu. Mata Sonya dipenuhi keinginan dan ambisi. Ia sudah lama menginginkan ini. Menginginkan Aslan sebagai seorang pria. Ia ingin dicintai sepenuhnya oleh pria ini.“Kau tidak sendirian malam ini,” bisiknya.Kali ini Aslan tidak mundur, kekacauan hatinya, alkohol dan minuman yang dicampur sesuatu oleh Sonya, membuatnya tak puny

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 61. Klub Malam

    "Aku memang bukan orang baik seperti yang kau pikirkan."Aslan menatapnya. Matanya, Laura tidak bisa membaca apa yang ada di sana. Tapi untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang basah di sudut mata pria itu.Mustahil.Aslan tidak mungkin menangis."Kau boleh membenciku," bisik Aslan akhirnya. "Tapi kau tidak akan pergi dari sini. Kau dan anak itu... kau milikku.""AKU BUKAN MILIK SIAPA PUN!""Kau mengandung anakku.""Dan aku akan membesarkannya tanpa kau! Aku akan memberitahunya bahwa ayahnya adalah monster pembunuh!" Laura berteriak, suaranya serak dan pecah.Untuk sesaat, Aslan terlihat seperti baru saja ditampar. Tapi ekspresi itu cepat sirna, digantikan oleh topeng dinginnya yang biasa."Terserah kau mau berpikir apa tentangku. Tapi kau tetap di sini. Kau tidak akan pergi kemana-mana."Ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Bunyi kunci diputar dari luar membuat Laura tersentak. Ia berlari ke pintu, mengguncang-guncang gagangnya dengan panik."TIDAK! BUKA PINTU! ASLAN! BUKA PINTU!"Ti

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 60. Iblis Menyamar

    "Aish ..." geram Laura saat ia melihat Rick dan beberapa pengawal berjaga di depan ruangan Aslan. Itu artinya dia tidak bisa masuk ke dalam sana dan mengambil amplop yang ada didalamnya."Aku bisa saja membujuk Pak Rick untuk masuk ke dalam sana. Tapi aku tidak mau dia berada dalam masalah lagi karena aku," gumam Laura yang terpaksa berbalik arah dan mengurungkan niatnya untuk ke ruang kerja Aslan.Dua jam kemudian, Laura mendengar mobil masuk ke garasi. Ia berlari ke jendela, melihat Alisha turun dari mobil sekolah dengan seragam basah kena hujan. Adiknya menoleh ke arah kamar Laura, dan untuk sesaat, Laura melihat sesuatu yang aneh di wajah Alisha.Alisha tersenyum. Tapi senyum itu berbeda. Seperti ada kode rahasia di baliknya.Laura menunggu dengan tidak sabar.Setelah berganti pakaian, Alisha mengetuk pintu kamar Laura. Begitu masuk, ia langsung memeluk kakaknya erat-erat. Pelukan yang lebih lama dari biasanya."Kak," bisik Alisha di telinga Laura. "Aku harus bicara sesuatu. Tapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status