Beranda / Mafia / Kesayangan Tuan Mafia / Bab 5. Klien Besar?

Share

Bab 5. Klien Besar?

Penulis: Davian
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 11:57:22

Pintu ruangan itu tertutup rapat, menimbulkan bunyi yang keras, tepat begitu Laura keluar dari sana. Laura terdiam dengan mata berkaca-kaca memandangi pintu itu. Lebih tepatnya, gelisah karena tawaran dari Aslan.

'Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Ini sepertinya bukan pilihan' kata Laura dalam hatinya. Baginya, apa yang Aslan tawarkan tidak membuatnya harus memilih, tapi sudah ditetapkan.

"Nona, Tuan meminta saya mengantar Nona," kata Rick seraya menghampiri Laura.

"Saya bisa kembali sendiri, Tuan. Terima kasih atas tawarannya," ucap gadis itu menolak dengan sopan.

Rick mendesah berat, kemudian ia berkata. "Saya tidak bisa melawan perintah Tuan. Saya akan tetap mengantar Nona."

"Tapi saya—"

"Kalau Nona masih ada rasa kemanusiaan kepada saya. Tolong jangan menolak Nona."

Rick memotong ucapan Laura dengan tegas. Sehingga Laura pun menurut dengan tawaran Rick. Lagipula hanya diantar saja, tidak ada niat macam-macam.

Laura meminta Rick mengantarnya ke rumah sakit, tempat di mana adiknya berada. Rick mematuhinya.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan gedung rumah sakit besar itu. Laura menatap gedung rumah sakit dengan sendu. Ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

"Tuan, maaf. Sebelum Tuan pergi saya ingin bertanya."

Rick menghentikan langkahnya, saat Laura berbicara kepadanya. "Silahkan."

"Apa yang terjadi jika saya menolak tawaran Tuan anda?" tanya Laura.

"Maka Tuan saya akan melakukan hal yang membuat anda menyesal seumur hidup, Nona."

Laura terdiam, tapi kedua matanya menunjukkan ketakutan. Ia menatap Rick dengan bingung.

"Saya bukan menakuti Nona, tapi Tuan saya tidak sebaik itu untuk memberikan tawaran kepada orang lain. Namun, Tuan saya juga, bisa sejahat itu pada orang yang menolak tawaran darinya."

Setelah percakapan singkat itu, Rick pergi dari sana. Meninggalkan Laura yang masih berdiri mematung di sana dengan kebingungan, kegelisahan yang luar biasa.

"Tidak. Aku tidak harus menerima tawaran gila itu. Dia pasti tidak serius dengan kata-katanya dan aku pasti akan dapat uang, meskipun bukan darinya," gumam Laura sembari menyeka sisa-sisa air matanya.

Laura percaya, kalau Aslan tidak akan melakukan apa yang dikatakannya. Ia juga akan berusaha untuk mencari uangnya lebih dulu dan pasti akan mendapatkannya.

Namun, sebelum itu, ia akan mengunjungi dokter rumah sakit dan membicarakan masalah adiknya. Pertemuan dengan dokter yang menangani adiknya itu, rupanya berakhir tidak baik.

"Saya sudah berikan Nona tenggat waktu yang sangat banyak. Bahkan Nona belum membayar biaya perawatan adik Nona yang sebelumnya."

"Tolong berikan lagi keringanan Dok, saya janji akan—"

"Pihak rumah sakit, sudah memberikan banyak keringanan untuk Nona dan adik Nona. Biaya sebelumnya pun dicicil, bukan? Tapi Nona bahkan tidak bisa melunasinya. Hanya terus berjanji dan berjanji."

Gadis itu menahan tangis, mendengar kata-kata dokter kepadanya. Ia merasa bersalah, tertunduk malu, karena memang benar selama ini pihak rumah sakit sudah memberikan keringanan padanya dan Alisha.

Bahkan selama ini, Laura rela putus kuliah dan bekerja paruh waktu, demi biaya pengobatan adiknya. Namun, semua itu tak pernah cukup, karena biayanya amat besar.

"Pihak rumah sakit menunggu semua pembayaran dilunasi sebelum jam 8 malam. Kalau belum dilunasi juga, pihak rumah sakit terpaksa membatalkan operasi adik Nona dan mengeluarkannya dari rumah sakit."

Laura tersentak kaget mendengar ucapan tegas sang dokter yang diiringi kemarahan. Ia pun memohon seraya mengatupkan kedua tangannya di dada. Demi nyawa adiknya. "Dokter, tolong jangan lakukan itu. Saya akan lakukan apapun untuk adik saya. Kalau adik saya tidak dioperasi, dia tidak bisa selamat."

"Kalau begitu selesaikan semuanya jam 8 malam. Itu pun kalau Nona masih menyayangi nyawa adik Nona."

Dokter itu langsung melangkahkan kaki, meninggalkan Laura setelah mengatakannya.

***

Menyerah dan pasrah bukanlah sifat Laura. Ia mencoba berbagai macam cara untuk mendapatkan uang itu, salah satu caranya adalah mencari pinjaman. Tak peduli saat itu sedang ada hujan deras,petir menggelegar, Laura tetap berusaha mencari penyelamat yang akan membantunya menyelamatkan Alisha.

Rumah demi rumah teman-temannya ia datangi dengan terburu-buru seolah sedang dikejar malaikat maut, pintu demi pintu ia ketuk, demi mencari uang tersebut. Namun, siapa juga yang akan percaya meminjamkan uang segitu banyak padanya. Mengingat ia hanya memiliki pekerjaan paruh waktu dengan gaji tak seberapa. Lalu jaminan apa yang ia punya? Ia bahkan tidak punya rumah dan tempat tinggal pun, masih menyewa.

Tanpa terasa sang surya sudah berganti menjadi malam yang gelap tanpa bintang. Diiringi derasnya air hujan yang menusuk kulit, tapi Laura tak peduli akan hal itu.

"Laura? Ada apa?" ucap seorang wanita bernama Merry yang baru saja membukakan pintu untuknya. Merry adalah teman baik Laura.

"Mer, aku perlu bicara denganmu," pinta Laura dengan wajah memelas.

Lantas, Merry pun mempersilahkan Laura yang tubuhnya sudah mulai menggigil itu untuk masuk ke dalam rumah sewaannya. Merry memberikan baju hangat serta minuman untuk Laura.

"Jadi ada apa kau kemari Laura? Apa ini masalah Alisha?"

Merry langsung bisa menebak apa tujuan Laura datang kemari dengan keadaan seperti ini, pastilah karena adiknya. Benar saja dugaannya.

"Kau butuh berapa Lau?" tanya Merry seraya menatap wajah Laura.

"Lima ratus ribu dollar."

"Apa? Lima ratus ribu dollar?" teriak Merry yang kaget mendengar nominal yang disebutkan oleh Laura. Jumlah yang tak sedikit.

"Iya. Apa kau punya uang sebanyak itu? Kalau perlu, aku akan menjual ginjal, jantung atau bahkan hatiku untuk mendapatkan uang itu Mer. Tapi aku perlu uangnya secepatnya, aku mohon," ucap Laura yang sudah putus asa.

"Lau, aku bukannya tidak mau meminjamkanmu uang. Tapi, aku tidak punya uang sebanyak itu," jelas Vanya dengan kening berkerut.

"Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah mencari pinjaman kesana-kemari, aku...aku bahkan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya sekarang. Alisha harus dioperasi nanti malam dan sekarang dia masih tidak sadarkan diri di rumah sakit," gumam Laura dengan mata berkaca-kaca, gadis itu sangat gelisah memikirkan nasib adiknya.

"Lau...apa benar kau rela melakukan apapun untuk mendapatkan uang itu?"

"Iya Mer, tentu akan aku lakukan apapun. Apa kau punya cara agar bisa mendapatkan uang lebih cepat?".

"Aku ada cara, tapi... harga yang harus kau bayar mungkin sangat mahal." Merry terdengar menghela nafas panjang, dia menatap Laura dengan lekat.

"Maksudmu apa Mer?"

"Baiklah, kau gantikan aku malam ini, dan kau bisa dapatkan uang itu dengan cepat. Ini klien besar, Laura. Kau harus menyenangkannya!"

Laura tidak mengerti apa maksud Merry. Namun, Merry langsung bergerak cepat. Ia mendandani Laura, memakaikan Laura dress berwarna hitam. Kemudian Laura dibawa ke sebuah kamar hotel.

Bersambung....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 5. Klien Besar?

    Pintu ruangan itu tertutup rapat, menimbulkan bunyi yang keras, tepat begitu Laura keluar dari sana. Laura terdiam dengan mata berkaca-kaca memandangi pintu itu. Lebih tepatnya, gelisah karena tawaran dari Aslan.'Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Ini sepertinya bukan pilihan' kata Laura dalam hatinya. Baginya, apa yang Aslan tawarkan tidak membuatnya harus memilih, tapi sudah ditetapkan."Nona, Tuan meminta saya mengantar Nona," kata Rick seraya menghampiri Laura."Saya bisa kembali sendiri, Tuan. Terima kasih atas tawarannya," ucap gadis itu menolak dengan sopan.Rick mendesah berat, kemudian ia berkata. "Saya tidak bisa melawan perintah Tuan. Saya akan tetap mengantar Nona.""Tapi saya—""Kalau Nona masih ada rasa kemanusiaan kepada saya. Tolong jangan menolak Nona."Rick memotong ucapan Laura dengan tegas. Sehingga Laura pun menurut dengan tawaran Rick. Lagipula hanya diantar saja, tidak ada niat macam-macam.Laura meminta Rick mengantarnya ke rumah sakit, tempat di mana adiknya bera

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 4. Pilihan Berat

    Dua tangan besar itu mencengkeram lengan Laura tanpa peringatan. Gadis itu tersentak kaget, refleks berusaha menarik diri, tetapi tenaga kedua pria itu terlalu kuat.“Lepaskan aku!” teriak Laura panik. "Hey, siapa kalian?" Pertanyaan Laura tak digubris oleh mereka berdua.Koridor rumah sakit yang semula ramai mendadak terasa mencekam. Beberapa perawat yang melintas hanya melirik sekilas, lalu menundukkan kepala dan mempercepat langkah seolah tak melihat apa-apa. Seorang pria yang duduk di bangku tunggu bahkan berdiri dan menjauh. Tidak ada satu pun yang berani menolong Laura. Entah karena wajah dingin dua pria itu, atau aura mengancam yang mereka bawa.Laura memberontak, menendang dan memukul sebisanya. “Tolong! Lapor polisi! Kenapa kalian diam saja?" Gadis itu bingung."Ada apa ini?" gumam Laura pelan. Orang-orang disekitarnya malah diam.Salah satu pria mendekat ke telinganya. “Diam kalau kau ingin tetap hidup.”Kalimat itu membuat tubuh Laura melemas seketika. Tenggorokannya tercek

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 3. Aku menginginkannya

    "Selain penjudi, pemabuk, kau juga Ayah yang kejam ya? Kau mau menjual putrimu?" tanya pria bernama Hans itu dengan dingin, sorot matanya tajam pada Andreas. Pria yang sudah dibuat babak belur itu.Andreas tampak ketakutan, tapi ia tetap memberanikan diri untuk bicara demi menyelamatkan nyawanya sendiri. "I-iya, kalau itu bisa membayar semua hutangku pada Tuan Luca, akan saya lakukan. Putri saya cantik, dia pintar memasak, dia juga tidak akan menyusahkan Tuan Luca. Pastinya ...dia bisa jadi partner ranjang yang baik.""Kau pikir Tuanku mau dengan putrimu? Tuanku ingin nyawamu, bukan wanita jalang!" sentak Hans seraya menahan dada Andreas dengan kakinya. Sehingga pria itu tak bisa bergerak."Ugghh." Tubuh Andreas seperti remuk, ia bahkan tak bisa mengangkat jarinya dan kesulitan bicara. Kembali, Hans dan anak buahnya memukuli Andreas tanpa ampun."Ampun Tuan .... Ampuni nyawa saya ...," lirih Andreas kesakitan. Ia memohon ampun pada Hans dan empat orang pria yang memukulinya."Seharu

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 2. Dijual Ayah

    "Ampun Tuan... saya... mohon... istirahat dulu sebentar," ucap Laura yang sudah kelelahan dengan serangan bertubi-tubi dari lelaki ini. Wajahnya penuh keringat, tubuh polosnya juga sama. Tampak mengkilat, karena kelelahan. Setiap kali Laura memohon berhenti untuk beristirahat, lelaki itu malah menggempurnya terus tanpa henti. Sampai akhirnya tak tahu berapa lama adegan panas itu terjadi, dua kali Laura pingsan, karena tidak kuat dengan serangannya. Dan setiap ia kembali membuka mata, lelaki itu kembali menggaulinya. Benar ucapan lelaki itu, bahwa Laura akan hancur karena apa yang dilakukannya. Pukul 6 pagi, lelaki itu bangun dari tidurnya lebih dulu. Wajah tampannya terlihat jelas, karena ada cahaya mentari yang menyinarinya dan ia masih muda. Usianya mungkin sekitar awal 30 tahunan, ia masih terlalu muda untuk dipanggil bos besar. "Sialan! Lihat saja, aku akan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berani mencampuri minumanku dengan obat gila itu!" Lelaki itu memegang k

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 1. Malam Panas

    "Kuatkan hatimu Laura, jangan mundur. Lagipula hanya satu malam saja, dan setelah ini adikmu akan selamat."Tak hentinya gadis cantik yang memakai dress maroon itu bergumam, guna menguatkan dirinya sendiri, karena sebenarnya disisi hatinya yang lain ia ingin melarikan diri. Ia terpaksa mengambil jalan ini, demi keselamatan adiknya. Jalan yang mungkin akan merenggut hidupnya.Lift yang dinaiki Laura akhirnya tiba di lantai 10, tempat yang ditujunya. Dengan gugup, Laura melangkah mencari nomor kamar disetiap pintu yang cocok dengan nomor kamar dari pria yang sudah membayarnya untuk semalam itu.Tiba-tiba saja ditengah perjalanan, seorang lelaki bertubuh tegap, berpakaian serba hitam berjalan menghampirinya. Laura tersentak kaget melihat sosok itu."Apa kau orangnya Madam Brenda?" tanya lelaki bertubuh tegap itu pada Laura."Be-benar Tuan, maaf...Tuan siapa ya?" tanya Laura gelagapan."Mari ikut saya, Tuan saya sudah menunggu!" ujar lelaki itu tanpa menjawab pertanyaan Laura, wajahnya te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status