LOGINPintu ruangan itu tertutup rapat, menimbulkan bunyi yang keras, tepat begitu Laura keluar dari sana. Laura terdiam dengan mata berkaca-kaca memandangi pintu itu. Lebih tepatnya, gelisah karena tawaran dari Aslan.
'Ya Tuhan, aku harus bagaimana? Ini sepertinya bukan pilihan' kata Laura dalam hatinya. Baginya, apa yang Aslan tawarkan tidak membuatnya harus memilih, tapi sudah ditetapkan. "Nona, Tuan meminta saya mengantar Nona," kata Rick seraya menghampiri Laura. "Saya bisa kembali sendiri, Tuan. Terima kasih atas tawarannya," ucap gadis itu menolak dengan sopan. Rick mendesah berat, kemudian ia berkata. "Saya tidak bisa melawan perintah Tuan. Saya akan tetap mengantar Nona." "Tapi saya—" "Kalau Nona masih ada rasa kemanusiaan kepada saya. Tolong jangan menolak Nona." Rick memotong ucapan Laura dengan tegas. Sehingga Laura pun menurut dengan tawaran Rick. Lagipula hanya diantar saja, tidak ada niat macam-macam. Laura meminta Rick mengantarnya ke rumah sakit, tempat di mana adiknya berada. Rick mematuhinya. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan gedung rumah sakit besar itu. Laura menatap gedung rumah sakit dengan sendu. Ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya. "Tuan, maaf. Sebelum Tuan pergi saya ingin bertanya." Rick menghentikan langkahnya, saat Laura berbicara kepadanya. "Silahkan." "Apa yang terjadi jika saya menolak tawaran Tuan anda?" tanya Laura. "Maka Tuan saya akan melakukan hal yang membuat anda menyesal seumur hidup, Nona." Laura terdiam, tapi kedua matanya menunjukkan ketakutan. Ia menatap Rick dengan bingung. "Saya bukan menakuti Nona, tapi Tuan saya tidak sebaik itu untuk memberikan tawaran kepada orang lain. Namun, Tuan saya juga, bisa sejahat itu pada orang yang menolak tawaran darinya." Setelah percakapan singkat itu, Rick pergi dari sana. Meninggalkan Laura yang masih berdiri mematung di sana dengan kebingungan, kegelisahan yang luar biasa. "Tidak. Aku tidak harus menerima tawaran gila itu. Dia pasti tidak serius dengan kata-katanya dan aku pasti akan dapat uang, meskipun bukan darinya," gumam Laura sembari menyeka sisa-sisa air matanya. Laura percaya, kalau Aslan tidak akan melakukan apa yang dikatakannya. Ia juga akan berusaha untuk mencari uangnya lebih dulu dan pasti akan mendapatkannya. Namun, sebelum itu, ia akan mengunjungi dokter rumah sakit dan membicarakan masalah adiknya. Pertemuan dengan dokter yang menangani adiknya itu, rupanya berakhir tidak baik. "Saya sudah berikan Nona tenggat waktu yang sangat banyak. Bahkan Nona belum membayar biaya perawatan adik Nona yang sebelumnya." "Tolong berikan lagi keringanan Dok, saya janji akan—" "Pihak rumah sakit, sudah memberikan banyak keringanan untuk Nona dan adik Nona. Biaya sebelumnya pun dicicil, bukan? Tapi Nona bahkan tidak bisa melunasinya. Hanya terus berjanji dan berjanji." Gadis itu menahan tangis, mendengar kata-kata dokter kepadanya. Ia merasa bersalah, tertunduk malu, karena memang benar selama ini pihak rumah sakit sudah memberikan keringanan padanya dan Alisha. Bahkan selama ini, Laura rela putus kuliah dan bekerja paruh waktu, demi biaya pengobatan adiknya. Namun, semua itu tak pernah cukup, karena biayanya amat besar. "Pihak rumah sakit menunggu semua pembayaran dilunasi sebelum jam 8 malam. Kalau belum dilunasi juga, pihak rumah sakit terpaksa membatalkan operasi adik Nona dan mengeluarkannya dari rumah sakit." Laura tersentak kaget mendengar ucapan tegas sang dokter yang diiringi kemarahan. Ia pun memohon seraya mengatupkan kedua tangannya di dada. Demi nyawa adiknya. "Dokter, tolong jangan lakukan itu. Saya akan lakukan apapun untuk adik saya. Kalau adik saya tidak dioperasi, dia tidak bisa selamat." "Kalau begitu selesaikan semuanya jam 8 malam. Itu pun kalau Nona masih menyayangi nyawa adik Nona." Dokter itu langsung melangkahkan kaki, meninggalkan Laura setelah mengatakannya. *** Menyerah dan pasrah bukanlah sifat Laura. Ia mencoba berbagai macam cara untuk mendapatkan uang itu, salah satu caranya adalah mencari pinjaman. Tak peduli saat itu sedang ada hujan deras,petir menggelegar, Laura tetap berusaha mencari penyelamat yang akan membantunya menyelamatkan Alisha. Rumah demi rumah teman-temannya ia datangi dengan terburu-buru seolah sedang dikejar malaikat maut, pintu demi pintu ia ketuk, demi mencari uang tersebut. Namun, siapa juga yang akan percaya meminjamkan uang segitu banyak padanya. Mengingat ia hanya memiliki pekerjaan paruh waktu dengan gaji tak seberapa. Lalu jaminan apa yang ia punya? Ia bahkan tidak punya rumah dan tempat tinggal pun, masih menyewa. Tanpa terasa sang surya sudah berganti menjadi malam yang gelap tanpa bintang. Diiringi derasnya air hujan yang menusuk kulit, tapi Laura tak peduli akan hal itu. "Laura? Ada apa?" ucap seorang wanita bernama Merry yang baru saja membukakan pintu untuknya. Merry adalah teman baik Laura. "Mer, aku perlu bicara denganmu," pinta Laura dengan wajah memelas. Lantas, Merry pun mempersilahkan Laura yang tubuhnya sudah mulai menggigil itu untuk masuk ke dalam rumah sewaannya. Merry memberikan baju hangat serta minuman untuk Laura. "Jadi ada apa kau kemari Laura? Apa ini masalah Alisha?" Merry langsung bisa menebak apa tujuan Laura datang kemari dengan keadaan seperti ini, pastilah karena adiknya. Benar saja dugaannya. "Kau butuh berapa Lau?" tanya Merry seraya menatap wajah Laura. "Lima ratus ribu dollar." "Apa? Lima ratus ribu dollar?" teriak Merry yang kaget mendengar nominal yang disebutkan oleh Laura. Jumlah yang tak sedikit. "Iya. Apa kau punya uang sebanyak itu? Kalau perlu, aku akan menjual ginjal, jantung atau bahkan hatiku untuk mendapatkan uang itu Mer. Tapi aku perlu uangnya secepatnya, aku mohon," ucap Laura yang sudah putus asa. "Lau, aku bukannya tidak mau meminjamkanmu uang. Tapi, aku tidak punya uang sebanyak itu," jelas Vanya dengan kening berkerut. "Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah mencari pinjaman kesana-kemari, aku...aku bahkan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya sekarang. Alisha harus dioperasi nanti malam dan sekarang dia masih tidak sadarkan diri di rumah sakit," gumam Laura dengan mata berkaca-kaca, gadis itu sangat gelisah memikirkan nasib adiknya. "Lau...apa benar kau rela melakukan apapun untuk mendapatkan uang itu?" "Iya Mer, tentu akan aku lakukan apapun. Apa kau punya cara agar bisa mendapatkan uang lebih cepat?". "Aku ada cara, tapi... harga yang harus kau bayar mungkin sangat mahal." Merry terdengar menghela nafas panjang, dia menatap Laura dengan lekat. "Maksudmu apa Mer?" "Baiklah, kau gantikan aku malam ini, dan kau bisa dapatkan uang itu dengan cepat. Ini klien besar, Laura. Kau harus menyenangkannya!" Laura tidak mengerti apa maksud Merry. Namun, Merry langsung bergerak cepat. Ia mendandani Laura, memakaikan Laura dress berwarna hitam. Kemudian Laura dibawa ke sebuah kamar hotel. Bersambung....Rick berdiri di pintu, menunduk dalam. Air mata pria besar itu juga jatuh. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Laura yang hancur, memeluk jasad adiknya yang baru saja melindunginya dengan nyawa.Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Alisha untuk terakhir kalinya, seolah ingin mengabadikan setiap detail di memorinya.“Kakak janji, Sha.” bisiknya. “Kakak akan jaga keponakanmu baik-baik. Kakak akan cerita ke dia tentang bibinya yang paling baik sedunia. Tentang bibinya yang pemberani, yang rela berkorban untuk kakaknya. Dan kakak… kakak akan cari keadilan untukmu. Untuk orang yang udah berani menyentuhmu. Untuk orang yang sudah merebut nyawamu. Kakak janji.”Ia mengecup kening Alisha dengan berlinang air mata. Ia tidak bisa berhenti menangis.Perlahan, ia bangkit. Tubuhnya goyah, tapi ia tetap mencoba bertahan. Ia menatap petugas kamar jenazah.“Saya sudah selesai. Tolong…urus semuanya."Petugas itu mengangguk hormat."Saya akan mengurus pemakaman
Dunia Laura berhenti berputar.Kata-kata dokter itu masuk ke telinganya, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya. Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak benar.“Apa…apa maksud Dokter?”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Seperti anak kecil yang berpura-pura tidak mengerti agar kenyataan pahit tidak jadi diucapkan.Dokter itu menatapnya dengan mata penuh simpati. Seorang perawat di belakangnya sudah menunduk, menahan tangis. Mereka sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk, tapi tak pernah benar-benar terbiasa melihat keluarga yang hancur.“Nona… saya turut berduka. Adik Nona sudah meninggal dunia. Tim kami sudah berusaha, tapi lukanya terlalu parah. Maaf.”Laura merasa napasnya terenggut paksa dari dalam paru-parunya. Kepalanya berputar, pandangannya mulai mengabur. Telinganya berdengung hebat, suara di sekitarnya terdengar seperti dari dalam terowongan panjang.“Tidak…”Satu kata. Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya yang gemetar.“Tidak… tidak, Dok. Maksud Dokter… adik saya…
Mereka berlari ke arah pintu belakang. Namun salah satu penculik yang masih setengah sadar mengambil pistol yang terjatuh.Ia mulai membidik dan mengarahkannya pada Laura.“Berhenti!” teriaknya.Laura menoleh, tubuhnya membeku seketika. Saat suara tembakan memekakkan telinganya.Laura merasa tubuhnya didorong keras.“KAKAK!"Laura jatuh ke lantai, namun ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun menoleh.Alisha berdiri di depannya beberapa detik, lalu tubuhnya perlahan melemah. Darah merembes dari sisi perutnya.“Alisha…” suara Laura bergetar. Ia menyadari kalau Alisha menolongnya dari tembakan itu.Tubuh adiknya ambruk ke pelukannya dengan kondisi perut yang berlumuran darah.“Tidak… tidak… tidak!” Laura menjerit histeris, tangisnya mulai pecah. "Alisha!"Rick segera menembak balik, melumpuhkan pelaku. Namun, semuanya terasa terlambat, ketika ia melihat Laura memeluk Alisha yang terkulai lemah di tangannya.“Bertahan, Sayang… tolong bertahan…” tangisnya pecah.Alisha tersenyum lemah,
Ia menyentuh perutnya yang masih rata. “Dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah bayangan pria yang mungkin telah menghancurkan keluarga kita.”Air mata Alisha jatuh. “Kak, aku takut.”“Aku juga,” bisik Laura jujur. “Tapi lebih takut lagi kalau kita tetap di sini.”***Di sebuah kamar hotel mewah, Aslan berdiri memandang jendela kaca tinggi. Kota berkilau di bawahnya.Sonya mendekat dari belakang, memeluknya.“Kau masih memikirkannya, ya?”Aslan tidak menjawab.Ia merasa kosong. Bahkan saat Sonya menyentuhnya, pikirannya tetap pada Laura, pada wajahnya yang penuh air mata.Sonya memutar tubuh Aslan menghadapnya. “Lihat aku Sayang."Tatapan mereka bertemu. Mata Sonya dipenuhi keinginan dan ambisi. Ia sudah lama menginginkan ini. Menginginkan Aslan sebagai seorang pria. Ia ingin dicintai sepenuhnya oleh pria ini.“Kau tidak sendirian malam ini,” bisiknya.Kali ini Aslan tidak mundur, kekacauan hatinya, alkohol dan minuman yang dicampur sesuatu oleh Sonya, membuatnya tak puny
"Aku memang bukan orang baik seperti yang kau pikirkan."Aslan menatapnya. Matanya, Laura tidak bisa membaca apa yang ada di sana. Tapi untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang basah di sudut mata pria itu.Mustahil.Aslan tidak mungkin menangis."Kau boleh membenciku," bisik Aslan akhirnya. "Tapi kau tidak akan pergi dari sini. Kau dan anak itu... kau milikku.""AKU BUKAN MILIK SIAPA PUN!""Kau mengandung anakku.""Dan aku akan membesarkannya tanpa kau! Aku akan memberitahunya bahwa ayahnya adalah monster pembunuh!" Laura berteriak, suaranya serak dan pecah.Untuk sesaat, Aslan terlihat seperti baru saja ditampar. Tapi ekspresi itu cepat sirna, digantikan oleh topeng dinginnya yang biasa."Terserah kau mau berpikir apa tentangku. Tapi kau tetap di sini. Kau tidak akan pergi kemana-mana."Ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Bunyi kunci diputar dari luar membuat Laura tersentak. Ia berlari ke pintu, mengguncang-guncang gagangnya dengan panik."TIDAK! BUKA PINTU! ASLAN! BUKA PINTU!"Ti
"Aish ..." geram Laura saat ia melihat Rick dan beberapa pengawal berjaga di depan ruangan Aslan. Itu artinya dia tidak bisa masuk ke dalam sana dan mengambil amplop yang ada didalamnya."Aku bisa saja membujuk Pak Rick untuk masuk ke dalam sana. Tapi aku tidak mau dia berada dalam masalah lagi karena aku," gumam Laura yang terpaksa berbalik arah dan mengurungkan niatnya untuk ke ruang kerja Aslan.Dua jam kemudian, Laura mendengar mobil masuk ke garasi. Ia berlari ke jendela, melihat Alisha turun dari mobil sekolah dengan seragam basah kena hujan. Adiknya menoleh ke arah kamar Laura, dan untuk sesaat, Laura melihat sesuatu yang aneh di wajah Alisha.Alisha tersenyum. Tapi senyum itu berbeda. Seperti ada kode rahasia di baliknya.Laura menunggu dengan tidak sabar.Setelah berganti pakaian, Alisha mengetuk pintu kamar Laura. Begitu masuk, ia langsung memeluk kakaknya erat-erat. Pelukan yang lebih lama dari biasanya."Kak," bisik Alisha di telinga Laura. "Aku harus bicara sesuatu. Tapi







