Beranda / Mafia / Kesayangan Tuan Mafia / Bab 7. Merasakan Tubuhmu

Share

Bab 7. Merasakan Tubuhmu

Penulis: Davian
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 22:13:00

"Kau sudah menolakku. Kau pikir aku mau menolongmu?" tanyanya dingin. Pria itu adalah Aslan dan Laura meminta tolong padanya

"Tuan 1010, tolong saya. Jangan pergi begitu saja!" teriak Laura memohon, saat Aslan berjalan melewatinya begitu saja. Laura pikir, Aslan mungkin kecewa padanya.

"TUAN! SAYA AKAN MELAKUKAN APA SAJA ASAL TUAN MAU MENOLONG SAYA!" teriak Laura lagi yang seketika membuat Aslan dan Rick berhenti berjalan.

Aslan kembali mendekati Laura, sebelum kedua pria itu menyeretnya lagi. Hanya dengan satu tatapan saja dari mata elang milik Aslan, kedua pria bertubuh besar itu terdiam.

"Aku bisa menolongmu dari mereka, tapi... kau harus setuju dengan persyaratanku!" Aslan tersenyum menyeringai.

Laura menelan ludahnya sendiri. Tapi ia tak punya pilihan lain.

"Ka-katakan dulu! Kesepakatan apa yang akan kita buat?" tanya Laura tergagap. Tangannya sudah basah dan licin oleh keringat dingin, karena rasa takut pada dirinya.

"Aku akan katakan, setelah kau mengatakan setuju."

Sebagai seorang pria dari dunia bawah dan pengusaha, Aslan sangat mementingkan dengan yang namanya transaksi dan negosiasi. Namun, di dalam dunia gelap, maupun dunia bisnis, pasti ada sesuatu yang licik. Aslan adalah definisi dari licik.

Setiap ada orang yang melakukan kesepakatan dengannya, pasti ia lah pihak yang paling diuntungkan. Orang seperti Julian tak mau rugi, apalagi dia sudah pernah membeli Laura seharga satu juta dolar. Gadis yang pertama kali merenggut malam pertamanya, disaat tak ada wanita lain yang berhasil memikatnya sampai seperti ini. Laura punya daya tarik.

"Tuan aku mohon—" Laura memelas.

Aslan berdecak. "Kalian bawa dia. Pastikan bos kalian mengurungnya," ucap Aslan memerintah seperti bossy pada dua orang anak buah Frederico itu.

"Baik, Tuan Luca!" jawab kedua orang pria itu bersamaan. Mereka pun kembali menyeret Laura, menuju ke arah lift yang jelas tujuannya adalah lantai atas.

"TUAN! TOLONG!" teriak Laura panik, ia hampir menangis.

Tangan dan kakinya meronta-ronta, tapi semua itu percuma. Sementara Aslan hanya menatap datar kepergian dua orang pria itu yang menyeret Laura.

"Tuan, bukankah kita ke sini untuk menyelamatkannya?" bisik Rick pada tuannya itu. "Nona itu sudah meminta tolong pada anda, Tuan," sambungnya lagi.

Aslan tersenyum sangat tipis, kemudian berkata. "Dia harus memohon lebih keras lagi."

Rick terdiam, ia seakan paham apa yang ada dipikiran tuannya ini. Sementara di sisi lain, Laura sudah diseret ke depan lift dan saat itulah ia mulai terdesak keadaan.

"Tuan! Saya setuju, saya akan melakukan apapun yang anda mau. Tapi tolong saya," ujar Laura dengan keras.

Tanpa semua orang sadari, Aslan tersenyum menyeringai. Matanya tampak menunjukkan kelicikan, seakan berkata bahwa mangsanya sudah terkena jebakannya. Aslan pun membalikkan badannya dan melihat ke arah Laura serta dua anak buah Frederico itu.

Ia berjalan mendekat dengan langkah tegap ke arah Laura.

"Kyaak!" Laura memekik kaget saat tubuhnya ditarik ke dalam dekapan hangat Aslan. Dengan mudahnya Aslan menarik dirinya dari kedua pria bertubuh besar itu dan Laura bertanya-tanya mengapa kedua pria ini tampak takut pada Aslan.

Namun, disisi lain, bisa ia rasakan jantungnya berdegup kencang, ketika ia berada dalam jarak sedekat ini dengan Aslan, pria yang sudah merenggut hak suami masa depannya ini.

Aroma maskulin milik pria itu, entah kenapa malah membuatnya nyaman. Padahal Laura sendiri belum tahu apakah lelaki ini adalah malaikat penolong atau malah sesuatu yang lain?

"Kalian pergilah. Wanita ini akan bersamaku," ucap Aslan tegas, penuh penekanan.

Salah satu bawahan Frederico pun bicara dengan gugup. "Ta-tapi Tuan. Tuan Frederic—"

"Dia akan mati kalau berani membawa wanita milikku. Katakan padanya," kata Aslan dingin.

Wanita milikku? Kata-kata itu membuat Laura merasa dilindungi dan merasa aman. Tapi juga membuat jantungnya berdebar, karena saat ini ia masih berada di dalam dekapan Aslan.

"Kalian tidak dengar apa kata Tuan Luca?!" Bentak Rick pada kedua pria yang berdiri mematung seperti orang bodoh dan linglung itu.

"Ba-baik, Tuan."

Kedua anak buah Frederico ketakutan, mereka pun masuk ke dalam lift, kemudian kotak besi itu membawa mereka kembali ke lantai atas.

Tak lama setelah anak buah Frederico pergi. Laura menjauh dari Aslan, melepaskan pelukan pria itu dan bernapas lega. "Syukurlah. Syukurlah Tuhan, terimakasih Tuhan."

"Salah."

"Huh?" Laura mendongak menatap Aslan dengan polos. Ia tak tahu apa yang salah.

"Kau harusnya berterimakasih padaku, bukan pada Tuhan."

Wanita itu langsung paham apa maksudnya. "I-iya, terima kasih. Kalau begitu saya akan pergi. Selamat tinggal!"

Dengan polosnya, Laura membalikkan tubuh, berniat pergi dari sana setelah pamit. Namun, Aslan tidak membiarkan itu terjadi. Ia menarik rambut panjang Laura dan seketika menghentikan langkah wanita itu.

"Aakhh! Aduh sakit ..." Laura meringis kesakitan.

Aslan menjambaknya. Benar-benar dijambak.

"Kau benar-benar tak tahu diri. Aku sudah menolongmu dan kau ingin melupakan janjimu?" desis Aslan kesal, sambil menarik rambut Laura semakin keras.

"Sa-saya ..."

"Ikut aku kalau mau adik dan ayahmu selamat," ucap Aslan seraya menarik rambut Laura, hingga tubuh wanita itu terseret bersama dengan langkahnya.

"Baik. Saya akan ikut dengan Tuan. Tapi lepaskan dulu tangan Tuan dari rambut saya. Ini sakit," pinta Laura sambil menahan sakit.

Aslan melepas tangannya dari rambut Laura, kali ini ia menggantinya dengan genggaman pada tangan Laura.

"Tuan, saya tidak akan kabur. Tuan tidak perlu seperti ini," kata Laura gugup. Ia terlihat tak nyaman dengan sentuhan dan genggaman tangan Aslan.

Aslan menatap Laura dengan pandangan dingin. "Kita sudah melakukan hal yang lebih dari ini. Aku sudah pernah merasakan tubuhmu. Kenapa hanya dengan genggaman tangan saja, kau malah gugup?"

Seketika wajah Laura memerah mendengarnya, bak kepiting rebus. Tampak jelas merah itu di kulit putihnya. Ia melirik ke arah Rick yang berdiri dibelakang Aslan, takutnya pria itu tertawa karena ucapan Aslan yang vulgar. Akan tetapi, Rick si orang kepercayaan Aslan, hanya diam dengan tatapan datar dan tubuh tegapnya seperti robot. Seakan tak peduli kata-kata tuannya pada Laura.

Sedangkan Laura, ia malu.

"Tuan benar-benar tidak tahu malu," gerutu Laura dengan menundukkan kepalanya. Tak berani menatap Aslan.

"Lalu kau malu?"

"Tentu saja. Apa Tuan tidak malu membicarakan hal itu? Atau, mungkin Tuan sudah sering melakukannya dengan wanita lain. Jadi Tuan tidak merasa malu sama sekali," tutur Laura yang sontak saja membuat rahang Aslan mengeras mendengarnya.

Tatapan Aslan yang semula biasa saja, berubah jadi tajam. Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun, sampai mereka berada di dalam mobil. Laura jadi takut dengan diamnya Aslan.

"Tu-tuan, kita mau ke mana? Saya mau bertemu adik saya."

Lagi-lagi tak ada jawaban, hanya hening di sana.

"Laki-laki ini benar-benar tak tertebak." Pikirnya dalam hati.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 65. Bukan Siapa-siapa

    Rick berdiri di pintu, menunduk dalam. Air mata pria besar itu juga jatuh. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Laura yang hancur, memeluk jasad adiknya yang baru saja melindunginya dengan nyawa.Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Alisha untuk terakhir kalinya, seolah ingin mengabadikan setiap detail di memorinya.“Kakak janji, Sha.” bisiknya. “Kakak akan jaga keponakanmu baik-baik. Kakak akan cerita ke dia tentang bibinya yang paling baik sedunia. Tentang bibinya yang pemberani, yang rela berkorban untuk kakaknya. Dan kakak… kakak akan cari keadilan untukmu. Untuk orang yang udah berani menyentuhmu. Untuk orang yang sudah merebut nyawamu. Kakak janji.”Ia mengecup kening Alisha dengan berlinang air mata. Ia tidak bisa berhenti menangis.Perlahan, ia bangkit. Tubuhnya goyah, tapi ia tetap mencoba bertahan. Ia menatap petugas kamar jenazah.“Saya sudah selesai. Tolong…urus semuanya."Petugas itu mengangguk hormat."Saya akan mengurus pemakaman

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 64. Tanpa Cahaya

    Dunia Laura berhenti berputar.Kata-kata dokter itu masuk ke telinganya, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya. Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak benar.“Apa…apa maksud Dokter?”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Seperti anak kecil yang berpura-pura tidak mengerti agar kenyataan pahit tidak jadi diucapkan.Dokter itu menatapnya dengan mata penuh simpati. Seorang perawat di belakangnya sudah menunduk, menahan tangis. Mereka sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk, tapi tak pernah benar-benar terbiasa melihat keluarga yang hancur.“Nona… saya turut berduka. Adik Nona sudah meninggal dunia. Tim kami sudah berusaha, tapi lukanya terlalu parah. Maaf.”Laura merasa napasnya terenggut paksa dari dalam paru-parunya. Kepalanya berputar, pandangannya mulai mengabur. Telinganya berdengung hebat, suara di sekitarnya terdengar seperti dari dalam terowongan panjang.“Tidak…”Satu kata. Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya yang gemetar.“Tidak… tidak, Dok. Maksud Dokter… adik saya…

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 63. Duka Laura

    Mereka berlari ke arah pintu belakang. Namun salah satu penculik yang masih setengah sadar mengambil pistol yang terjatuh.Ia mulai membidik dan mengarahkannya pada Laura.“Berhenti!” teriaknya.Laura menoleh, tubuhnya membeku seketika. Saat suara tembakan memekakkan telinganya.Laura merasa tubuhnya didorong keras.“KAKAK!"Laura jatuh ke lantai, namun ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun menoleh.Alisha berdiri di depannya beberapa detik, lalu tubuhnya perlahan melemah. Darah merembes dari sisi perutnya.“Alisha…” suara Laura bergetar. Ia menyadari kalau Alisha menolongnya dari tembakan itu.Tubuh adiknya ambruk ke pelukannya dengan kondisi perut yang berlumuran darah.“Tidak… tidak… tidak!” Laura menjerit histeris, tangisnya mulai pecah. "Alisha!"Rick segera menembak balik, melumpuhkan pelaku. Namun, semuanya terasa terlambat, ketika ia melihat Laura memeluk Alisha yang terkulai lemah di tangannya.“Bertahan, Sayang… tolong bertahan…” tangisnya pecah.Alisha tersenyum lemah,

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 62. Diculik Lagi

    Ia menyentuh perutnya yang masih rata. “Dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah bayangan pria yang mungkin telah menghancurkan keluarga kita.”Air mata Alisha jatuh. “Kak, aku takut.”“Aku juga,” bisik Laura jujur. “Tapi lebih takut lagi kalau kita tetap di sini.”***Di sebuah kamar hotel mewah, Aslan berdiri memandang jendela kaca tinggi. Kota berkilau di bawahnya.Sonya mendekat dari belakang, memeluknya.“Kau masih memikirkannya, ya?”Aslan tidak menjawab.Ia merasa kosong. Bahkan saat Sonya menyentuhnya, pikirannya tetap pada Laura, pada wajahnya yang penuh air mata.Sonya memutar tubuh Aslan menghadapnya. “Lihat aku Sayang."Tatapan mereka bertemu. Mata Sonya dipenuhi keinginan dan ambisi. Ia sudah lama menginginkan ini. Menginginkan Aslan sebagai seorang pria. Ia ingin dicintai sepenuhnya oleh pria ini.“Kau tidak sendirian malam ini,” bisiknya.Kali ini Aslan tidak mundur, kekacauan hatinya, alkohol dan minuman yang dicampur sesuatu oleh Sonya, membuatnya tak puny

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 61. Klub Malam

    "Aku memang bukan orang baik seperti yang kau pikirkan."Aslan menatapnya. Matanya, Laura tidak bisa membaca apa yang ada di sana. Tapi untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang basah di sudut mata pria itu.Mustahil.Aslan tidak mungkin menangis."Kau boleh membenciku," bisik Aslan akhirnya. "Tapi kau tidak akan pergi dari sini. Kau dan anak itu... kau milikku.""AKU BUKAN MILIK SIAPA PUN!""Kau mengandung anakku.""Dan aku akan membesarkannya tanpa kau! Aku akan memberitahunya bahwa ayahnya adalah monster pembunuh!" Laura berteriak, suaranya serak dan pecah.Untuk sesaat, Aslan terlihat seperti baru saja ditampar. Tapi ekspresi itu cepat sirna, digantikan oleh topeng dinginnya yang biasa."Terserah kau mau berpikir apa tentangku. Tapi kau tetap di sini. Kau tidak akan pergi kemana-mana."Ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Bunyi kunci diputar dari luar membuat Laura tersentak. Ia berlari ke pintu, mengguncang-guncang gagangnya dengan panik."TIDAK! BUKA PINTU! ASLAN! BUKA PINTU!"Ti

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 60. Iblis Menyamar

    "Aish ..." geram Laura saat ia melihat Rick dan beberapa pengawal berjaga di depan ruangan Aslan. Itu artinya dia tidak bisa masuk ke dalam sana dan mengambil amplop yang ada didalamnya."Aku bisa saja membujuk Pak Rick untuk masuk ke dalam sana. Tapi aku tidak mau dia berada dalam masalah lagi karena aku," gumam Laura yang terpaksa berbalik arah dan mengurungkan niatnya untuk ke ruang kerja Aslan.Dua jam kemudian, Laura mendengar mobil masuk ke garasi. Ia berlari ke jendela, melihat Alisha turun dari mobil sekolah dengan seragam basah kena hujan. Adiknya menoleh ke arah kamar Laura, dan untuk sesaat, Laura melihat sesuatu yang aneh di wajah Alisha.Alisha tersenyum. Tapi senyum itu berbeda. Seperti ada kode rahasia di baliknya.Laura menunggu dengan tidak sabar.Setelah berganti pakaian, Alisha mengetuk pintu kamar Laura. Begitu masuk, ia langsung memeluk kakaknya erat-erat. Pelukan yang lebih lama dari biasanya."Kak," bisik Alisha di telinga Laura. "Aku harus bicara sesuatu. Tapi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status