Beranda / Mafia / Kesayangan Tuan Mafia / Bab 6. Pria Hidung Belang

Share

Bab 6. Pria Hidung Belang

Penulis: Davian
last update Tanggal publikasi: 2026-01-14 17:28:33

"Merry, kamar siapa ini? Dan pekerjaan apa yang harus aku lakukan di sini?" Laura tampak kebingungan, begitu ia sampai di depan kamar hotel bersama dengan Merry.

Itu semua karena Merry sebelumnya tidak mengatakan apa yang harus ia lakukan di sini dan kamar siapa ini?

Merry memegang kedua bahu Laura. Ia lalu berkata. "Jangan banyak tanya Lau. Kau mau uang kan? Kau tinggal masuk ke dalam, temui klien besar itu dan lakukan apa pun yang ia mau. Maka dia akan memberikan apapun untukmu. Dia klien yang baik, asal kau menurut."

"Tapi pekerjaannya bagaimana? Dia mau menyuruhku apa?" tanya wanita itu dengan wajah polosnya yang tampak menunjukkan kebingungan.

Merry terdiam sejenak, kemudian berkata. "Yah ... paling hanya menyiapkan minuman, makanan. Seperti pekerjaan pelayan."

Bibir Laura tersenyum tipis, ada kelegaan dimatanya saat mendengar jawaban Merry. "Pekerjaan pelayan ya? Jadi tidak macam-macam."

"Benar. Sekarang masuk dan temani dia. Paling dia minta ditemani 2 jam," kata Merry seraya mendorong-dorong tubuh Laura ke depan pintu kamar nomor 505 itu.

Laura menganggukkan kepalanya dengan polos. Tanpa tahu apa yang akan ia hadapi di dalam sana. Sementara Merry tersenyum menyeringai saat melihat Laura sudah benar-benar masuk ke dalam kamar tersebut.

"Dasar bodoh."

Merry pun melangkah pergi meninggalkan kamar hotel tersebut dan ia berpapasan dengan dua orang pria bertubuh besar, tak jauh dari sana.

"Nona Merry."

Merry tersenyum membalas sapaan dua pria bertubuh besar tersebut. "Kalian lebih baik berjaga di depan kamar saja. Ini pertama kalinya bagi temanku melayani Tuan Federico ... takutnya dia kabur.'"

"Baik, Nona."

Kedua pria itu pun kini berjaga di depan kamar tempat Laura dan bos mereka berada.

Sementara itu, Laura yang sudah masuk ke dalam kamar hotel, tampak gugup. Apa lagi saat ia melihat seorang pria gemuk yang duduk di atas sofa sambil menyesap nikotinnya.

Pria itu menangkap kehadiran Laura dan menatapnya dengan kedua mata berbinar-binar. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang menyeramkan untuk Laura.

"Kau temannya Merry, ya?"tanya pria itu dengan suara beratnya.

Laura menganggukkan kepalanya. "Iya, Tuan."

"Merry benar. Kau sangat cantik. Jauh berkali-kali lipat cantiknya dari Merry," kata pria gemuk itu yang membuat Laura merinding, sampai meneguk ludah. Namun, ia tetap berusaha mempertahankan ketenangannya.

"Kau tahu apa tugasmu, kan?"

Laura kembali mengangguk dengan polos. Frederico pun menyuruh Laura mendekat dan menuangkan minuman dari dalam botol ke dalam gelas kecil di sana. Laura menurut saja, karena permintaan Frederico masih wajar. Mungkin benar, Frederico hanya minta dilayani sebagai pelayan, bukan macam-macam.

Namun, saat pria itu mulai mengusap paha mulusnya dengan gerakan sensual. Laura mulai tidak nyaman. Ia langsung menghindar.

"Mau mulai sekarang atau nanti, Baby?" tanya Frederico seraya menatap Laura dengan tatapan yang panas. "Jujur saja, aku sudah tidak tahan melihat wajahmu yang cantik, dan tubuhmu itu," ucapnya lagi sambil menjilat bibirnya sendiri hingga basah. Adegan yang tampak menjijikkan di mata Laura.

Wanita itu langsung mengerti ke arah mana pembicaraannya. Ia pun berdiri tegap di depan Frederico. "Maaf Tuan. Saya di sini hanya menemani Tuan sebagai pelayan, bukan yang lain."

Tiba-tiba saja pria itu mendekap tubuh Laura tanpa aba-aba. Mendudukkan Laura di atas pangkuannya.

"Lepaskan saya, Tuan!" seru Laura panik.

"Baby, jangan malu-malu begitu dan layani aku. Aku tahu kalau kau menginginkannya juga!"

Lidah si pria gemuk itu menjilat leher Elena, dan membuat gadis Itu bergidik ngeri dibuatnya.

"LEPAS!"

Lengan pria itu juga meremas sesuatu milik Laura dengan gemas. Laura benar-benar tidak tahan lagi dengan pelecehan ini, akhirnya ia pun melawan. Sebab, pria ini sama sekali tidak bisa diajak bicara.

Dengan gerakan cepat, Laura menggerakan sikutnya ke belakang dan mengenai perut Frederico.

"AKHH! BRENGSEK!" Frederico langsung meringis kesakitan memegang perut buncitnya.

"Ini semua karena kau, yang tidak bisa diajak bicara baik-baik!" ujar Laura yang lalu menendang bagian privasi pria itu dengan lututnya. Entah dari mana ia dapat keberanian seperti ini.

"Aaakkhh! Fuck!"

Frederico langsung terjengkang ke atas sofa sambil meringis kesakitan, pastinya ia merasa ngilu dengan apa yang dilakukan wanita itu.

"Wanita rendahan! Beraninya kau—"

Pria itu berusaha untuk berteriak, akan tetapi ia sangat kesakitan dibawah sana dan membuatnya kesulitan walau sekedar bicara.

Saat inilah , Laura memanfaatkan pria yang sedang lemah itu, dengan melarikan diri dari sana. Dengan cepat Laura membuka handle pintunya, tapi rupanya, perjalanan untuk melarikan diri dari sana tidaklah mudah. Sebab, didepan pintu tersebut, ada dua orang pria yang menjaganya.

"Bagaimana ini?" gumam Laura gelisah. Ia malah berdiri mematung dengan bingung. Hingga salah kedua bodyguard itu menyadari kehadirannya.

"Hey! Kenapa kau keluar dari kamar Tuan?" teriak seorang bodyguard seraya menunjukkan jarinya ke arah gadis itu.

"I-itu ... telah terjadi sesuatu pada bos kalian. Aku rasa bagian itunya tak bisa berdiri," ceplos Laura yang memasang raut wajah serius dan khawatir. "Ini adalah masalah yang serius, kalian harus melihat keadaan Bos kalian dan segera memanggil dokter," sambungnya lagi dengan cepat. Membuat kedua pria itu ikut panik.

"APA?"

Kedua bodyguard yang khawatir dengan keadaan Tuan mereka pun, langsung berhambur masuk ke dalam kamar dan Laura langsung berlari pergi dari sana, ia berusaha untuk pergi sejauh mungkin.

"Tuan, apa Tuan baik-baik saja?"

"Katanya itu mu tidak bisa berdiri, ya?"

Mereka berdua terkejut melihat tuan mereka yang tampak kesakitan dengan posisi tengkurap di atas sofa.

"Wanita jalang itu! Cepat kalian kejar dia... bawa padaku dalam keadaan hidup!" Titah Frederico kepada anak buahnya dengan wajah murka. Ia mengumpat, akan menguliti Laura hidup-hidup, kalau wanita itu tertangkap.

Dua bodyguard itu mengejar Laura atas perintah bos mereka.

Sementara itu, Laura baru keluar dari lift. Ia melepas heelsnya agar lebih mudah berlari, meskipun kedua kakinya saat ini bertelanjang. Namun, kedua pria itu ternyata sangat cepat mengejarnya.

"Oh, tidak!"

"Hey berhenti kau!"

"Berhenti disana atau kau mati, nona!" teriak salah seorang bodyguard dengan marah, sambil berlari mengejar Laura.

Sialnya, saat Laura sedang berlari, ia tak fokus dan malah tersandung kaki kursi, lalu terjatuh.

"Auw."

Saat itulah kedua bodyguard Frederico langsung menangkap Laura, memegang kedua tangan wanita itu. "Ahh! Lepaskan! Lepaskan aku!"

"Tuan sudah menunggumu, Nona. Dia sangat marah," bisik salah satu bodyguard itu ke telinga Laura.

"Lepaskan aku!" teriak Laura sambil memberontak. Akan tetapi, tenaganya tidak cukup kuat melawan mereka berdua.

Hingga akhirnya ia melihat seseorang yang menjadi secercah harapan baginya saat ini. "Tuan di kamar 1010! Tolong aku!" teriak Laura pada lelaki bertubuh tinggi yang berdiri tak jauh darinya dan menatapnya dingin.

Lelaki itu lalu mendekatinya, dan aneh, kedua bodyguard Frederico langsung terdiam melihat kehadirannya.

"Kau minta bantuan padaku, setelah kau menolakku?"

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 136. Malam Pertama

    Prosesi pernikahan Laura dan Aslan berjalan dengan lancar di gereja. Siangnya mereka langsung menuju ke tempat resepsi pernikahan yang diadakan dipinggir pantai. Dengan tema outdoor. Tema impian Laura, dan Aslan mewujudkannya.Laura tampak cantik dengan dress berwarna navy selutut. Aslan juga tampak gagah dan keren dengan jas setelan navynya yang senada dengan gaun Laura.Para tamu hadir di sana memberikan ucapan selamat pada Aslan dan Laura. Terutama para rekan bisnis Aslan."Kau sangat cantik, Laura."Laura tersentak kaget saat ia melihat seseorang yang ia rindukan baru saja datang. Kedua matanya tak berkedip melihat orang itu."Kak Julian!"Matanya berbinar-binar melihat sosok Julian mendekat ke arahnya. Julian memakai kemeja berwarna hitam dan celana bahan yang merupakan ciri khasnya. Namun, Julian tak datang sendirian. Ia datang bersama seorang wanita berambut pendek yang memiliki senyuman manis disampingnya. Laura melihat itu.Julian memeluk Laura, seperti memeluk adik perempuan

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 135. Selamat! Menuju Ending

    Sean melangkah mendekat. Ia meraih dagu Laura, memutar wajah calon pengantin itu ke kiri dan kanan. "Sayang sekali harus mati muda. Tapi kau salah memilih pria."Lalu ia menoleh ke arah anak buahnya. "Sudah beri tahu Aslan lokasinya?""Sudah, Bos. Mereka pasti sudah dalam perjalanan.""Bagus. Aku ingin show yang indah. Persiapkan kamera. Aku ingin merekam wajah Aslan saat dia melihat wanitanya jatuh dari ketinggian."Laura menelan ludah. Ia melihat ke bawah. Gedung ini menjulang entah berapa puluh lantai. Mobil-mobil di bawah tampak sekecil mainan. Jika tali itu dipotong, jika tubuhnya terlepas dari tiang... tidak ada harapan.Aslan... panggilnya dalam hati. Aku tahu kau akan datang.Aslan dan timnya tiba di bawah gedung Wira Mustika dalam waktu 18 menit. Mereka tidak datang dengan gegap gempita. Mobil-mobil hitam parkir di tiga titik buta. Anak buah Aslan bergerak seperti bayangan, menyisir setiap sudut.Hans melaporkan, "Pak, lift tidak berfungsi. Tangga darurat hanya satu-satunya a

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 134. Penculikan

    Laura jatuh ke dalam pelukan pria bertopeng itu. Tubuhnya lemas tak berdaya. Gaun putihnya yang indah kini hanya menjadi kain yang membungkus tubuh pingsannya. Dua pria lain dengan sigap masuk ke ruang rias. Mereka mengenakan seragam petugas keamanan gereja, seragam palsu yang berhasil menembus sistem penjagaan Aslan."Ganti bajunya. Cepat!" perintah pemimpin mereka, seorang pria berbadan tegap dengan bekas luka di lehernya.Dalam hitungan detik, Laura yang tak sadarkan diri itu dipakaikan pakaian kusir gereja. Sementara tiga pria itu membawanya keluar melalui pintu belakang. Mereka berjalan santai, berpura-pura menggotong petugas yang pingsan karena kelelahan. Sebuah trik kotor yang berhasil membodohi dua anak buah Aslan yang berjaga di lorong belakang."Ada apa dengan dia?" tanya salah satu anak buah Aslan, curiga."Dia kepanasan. Kami bawakan ke ruang istirahat," jawab pria bertopeng dengan tenang.Mereka lolos. Mobil hitam tanpa pelat sudah menunggu di luar pagar gereja. Laura dib

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 133. Desahan Di Ruang Ganti

    "Lihat mommymu, bukankah dia cantik sekali?"Mariana memuji kecantikan Laura yang tampak lebih bersinar saat memakai gaun putih yang sudah disiapkan perancang terkenal untuknya. Mariana yang menyiapkan semuanya.Ya, Laura sangat cantik. Kulit putihnya bak porselen itu dan gaun putih mode Sabrina yang melekat ditubuhnya, membuat Laura cantik seperti bidadari.Maria dan Jayden menatap kagum pada Laura. Mereka bertepuk tangan memberikan pujian yang perfect untuk Laura."Mommy wanita paling cantik di dunia, Grandma. Dan Grand ma juga, hehe." Kekeh Jayden seraya melihat ke arah omanya. Jayden tidak bohong.Neneknya yang rambutnya sudah memutih itu, masih tampak cantik dan awet muda. Fashionnya pun tak ketinggalan zaman. Tidak ada yang akan menyangka kalau Maria sudah berusia hampir 70 tahun.Jalannya masih tegap, wajahnya tidak terlihat keriput. Hanya rambutnya yang tampak memutih."Terima kasih. Tapi gaun ini? Apa tidak sedikit terbuka ya?" ucap Laura melihat belahan dadanya saat memakai

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 132. Menuju Pernikahan

    Mereka bertiga turun ke ruang makan. Maria sudah duduk di sana dengan senyum lebar. Wanita tua itu tampak berseri-seri. Begitu melihat Laura dan Aslan datang bergandengan tangan, matanya langsung berkaca-kaca."Anak-anakku ..." bisik Maria haru. "Kalian sangat serasi."Setelah sarapan bersama, Maria menggenggam tangan Laura dan Aslan. "Aku sudah bicara dengan pengacara keluarga. Pernikahan kalian akan kita laksanakan akhir bulan ini. Dua minggu lagi. Aku sudah siapkan segalanya."Laura terkejut mendengar keputusan nenek calon suaminya itu. "Dua minggu? Tinggal dua minggu lagi?""Kenapa? Apa kau keberatan, Sayang?" tanya Aslan khawatir.Laura menggeleng cepat. "Bukan begitu. Aku hanya ... terharu. Rasanya seperti mimpi dan ini terlalu cepat.""Tidak ada yang terlalu cepat untuk hari yang baik, Laura," kata Maria sambil tersenyum.Jayden yang mendengar kabar itu langsung berteriak kegirangan. "Hore! Mommy dan daddy akhirny

  • Kesayangan Tuan Mafia   Bab 131. Hangat

    Laura tertawa kecil mendengar jawaban Aslan. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena haru. Pria yang dulu ia kenal sebagai sosok dingin, menyeramkan dan penuh perhitungan, kini berdiri di hadapannya dengan hati yang terbuka. Ia meletakkan tangan di atas punggung tangan Aslan, merasakan hangat yang menyebar dari sentuhan itu."Makan dulu, Sayang," ucap Aslan lembut, menarik Laura dari lamunannya.Mereka menikmati makan malam di bawah sinar bulan. Sesekali Aslan menyuapi Laura, sesekali mereka tertawa bersama mengenang kenangan lama. Obrolan mengalir ringan, dari masa lalu yang pahit hingga mimpi-mimpi tentang masa depan. Laura bercerita tentang bagaimana ia membesarkan Jayden sendirian, tentang malam-malam ketika ia menangis karena merindukan sosok Aslan meskipun ia berusaha membencinya. Aslan mendengarkan dengan seksama, sesekali menggenggam erat tangan Laura seolah takut kehilangannya lagi."Maafkan aku," bisik Aslan untuk kesekian kalinya. "Aku janji tidak akan meningg

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status