LOGIN"Merry, kamar siapa ini? Dan pekerjaan apa yang harus aku lakukan di sini?" Laura tampak kebingungan, begitu ia sampai di depan kamar hotel bersama dengan Merry.
Itu semua karena Merry sebelumnya tidak mengatakan apa yang harus ia lakukan di sini dan kamar siapa ini? Merry memegang kedua bahu Laura. Ia lalu berkata. "Jangan banyak tanya Lau. Kau mau uang kan? Kau tinggal masuk ke dalam, temui klien besar itu dan lakukan apa pun yang ia mau. Maka dia akan memberikan apapun untukmu. Dia klien yang baik, asal kau menurut." "Tapi pekerjaannya bagaimana? Dia mau menyuruhku apa?" tanya wanita itu dengan wajah polosnya yang tampak menunjukkan kebingungan. Merry terdiam sejenak, kemudian berkata. "Yah ... paling hanya menyiapkan minuman, makanan. Seperti pekerjaan pelayan." Bibir Laura tersenyum tipis, ada kelegaan dimatanya saat mendengar jawaban Merry. "Pekerjaan pelayan ya? Jadi tidak macam-macam." "Benar. Sekarang masuk dan temani dia. Paling dia minta ditemani 2 jam," kata Merry seraya mendorong-dorong tubuh Laura ke depan pintu kamar nomor 505 itu. Laura menganggukkan kepalanya dengan polos. Tanpa tahu apa yang akan ia hadapi di dalam sana. Sementara Merry tersenyum menyeringai saat melihat Laura sudah benar-benar masuk ke dalam kamar tersebut. "Dasar bodoh." Merry pun melangkah pergi meninggalkan kamar hotel tersebut dan ia berpapasan dengan dua orang pria bertubuh besar, tak jauh dari sana. "Nona Merry." Merry tersenyum membalas sapaan dua pria bertubuh besar tersebut. "Kalian lebih baik berjaga di depan kamar saja. Ini pertama kalinya bagi temanku melayani Tuan Federico ... takutnya dia kabur.'" "Baik, Nona." Kedua pria itu pun kini berjaga di depan kamar tempat Laura dan bos mereka berada. Sementara itu, Laura yang sudah masuk ke dalam kamar hotel, tampak gugup. Apa lagi saat ia melihat seorang pria gemuk yang duduk di atas sofa sambil menyesap nikotinnya. Pria itu menangkap kehadiran Laura dan menatapnya dengan kedua mata berbinar-binar. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang menyeramkan untuk Laura. "Kau temannya Merry, ya?"tanya pria itu dengan suara beratnya. Laura menganggukkan kepalanya. "Iya, Tuan." "Merry benar. Kau sangat cantik. Jauh berkali-kali lipat cantiknya dari Merry," kata pria gemuk itu yang membuat Laura merinding, sampai meneguk ludah. Namun, ia tetap berusaha mempertahankan ketenangannya. "Kau tahu apa tugasmu, kan?" Laura kembali mengangguk dengan polos. Frederico pun menyuruh Laura mendekat dan menuangkan minuman dari dalam botol ke dalam gelas kecil di sana. Laura menurut saja, karena permintaan Frederico masih wajar. Mungkin benar, Frederico hanya minta dilayani sebagai pelayan, bukan macam-macam. Namun, saat pria itu mulai mengusap paha mulusnya dengan gerakan sensual. Laura mulai tidak nyaman. Ia langsung menghindar. "Mau mulai sekarang atau nanti, Baby?" tanya Frederico seraya menatap Laura dengan tatapan yang panas. "Jujur saja, aku sudah tidak tahan melihat wajahmu yang cantik, dan tubuhmu itu," ucapnya lagi sambil menjilat bibirnya sendiri hingga basah. Adegan yang tampak menjijikkan di mata Laura. Wanita itu langsung mengerti ke arah mana pembicaraannya. Ia pun berdiri tegap di depan Frederico. "Maaf Tuan. Saya di sini hanya menemani Tuan sebagai pelayan, bukan yang lain." Tiba-tiba saja pria itu mendekap tubuh Laura tanpa aba-aba. Mendudukkan Laura di atas pangkuannya. "Lepaskan saya, Tuan!" seru Laura panik. "Baby, jangan malu-malu begitu dan layani aku. Aku tahu kalau kau menginginkannya juga!" Lidah si pria gemuk itu menjilat leher Elena, dan membuat gadis Itu bergidik ngeri dibuatnya. "LEPAS!" Lengan pria itu juga meremas sesuatu milik Laura dengan gemas. Laura benar-benar tidak tahan lagi dengan pelecehan ini, akhirnya ia pun melawan. Sebab, pria ini sama sekali tidak bisa diajak bicara. Dengan gerakan cepat, Laura menggerakan sikutnya ke belakang dan mengenai perut Frederico. "AKHH! BRENGSEK!" Frederico langsung meringis kesakitan memegang perut buncitnya. "Ini semua karena kau, yang tidak bisa diajak bicara baik-baik!" ujar Laura yang lalu menendang bagian privasi pria itu dengan lututnya. Entah dari mana ia dapat keberanian seperti ini. "Aaakkhh! Fuck!" Frederico langsung terjengkang ke atas sofa sambil meringis kesakitan, pastinya ia merasa ngilu dengan apa yang dilakukan wanita itu. "Wanita rendahan! Beraninya kau—" Pria itu berusaha untuk berteriak, akan tetapi ia sangat kesakitan dibawah sana dan membuatnya kesulitan walau sekedar bicara. Saat inilah , Laura memanfaatkan pria yang sedang lemah itu, dengan melarikan diri dari sana. Dengan cepat Laura membuka handle pintunya, tapi rupanya, perjalanan untuk melarikan diri dari sana tidaklah mudah. Sebab, didepan pintu tersebut, ada dua orang pria yang menjaganya. "Bagaimana ini?" gumam Laura gelisah. Ia malah berdiri mematung dengan bingung. Hingga salah kedua bodyguard itu menyadari kehadirannya. "Hey! Kenapa kau keluar dari kamar Tuan?" teriak seorang bodyguard seraya menunjukkan jarinya ke arah gadis itu. "I-itu ... telah terjadi sesuatu pada bos kalian. Aku rasa bagian itunya tak bisa berdiri," ceplos Laura yang memasang raut wajah serius dan khawatir. "Ini adalah masalah yang serius, kalian harus melihat keadaan Bos kalian dan segera memanggil dokter," sambungnya lagi dengan cepat. Membuat kedua pria itu ikut panik. "APA?" Kedua bodyguard yang khawatir dengan keadaan Tuan mereka pun, langsung berhambur masuk ke dalam kamar dan Laura langsung berlari pergi dari sana, ia berusaha untuk pergi sejauh mungkin. "Tuan, apa Tuan baik-baik saja?" "Katanya itu mu tidak bisa berdiri, ya?" Mereka berdua terkejut melihat tuan mereka yang tampak kesakitan dengan posisi tengkurap di atas sofa. "Wanita jalang itu! Cepat kalian kejar dia... bawa padaku dalam keadaan hidup!" Titah Frederico kepada anak buahnya dengan wajah murka. Ia mengumpat, akan menguliti Laura hidup-hidup, kalau wanita itu tertangkap. Dua bodyguard itu mengejar Laura atas perintah bos mereka. Sementara itu, Laura baru keluar dari lift. Ia melepas heelsnya agar lebih mudah berlari, meskipun kedua kakinya saat ini bertelanjang. Namun, kedua pria itu ternyata sangat cepat mengejarnya. "Oh, tidak!" "Hey berhenti kau!" "Berhenti disana atau kau mati, nona!" teriak salah seorang bodyguard dengan marah, sambil berlari mengejar Laura. Sialnya, saat Laura sedang berlari, ia tak fokus dan malah tersandung kaki kursi, lalu terjatuh. "Auw." Saat itulah kedua bodyguard Frederico langsung menangkap Laura, memegang kedua tangan wanita itu. "Ahh! Lepaskan! Lepaskan aku!" "Tuan sudah menunggumu, Nona. Dia sangat marah," bisik salah satu bodyguard itu ke telinga Laura. "Lepaskan aku!" teriak Laura sambil memberontak. Akan tetapi, tenaganya tidak cukup kuat melawan mereka berdua. Hingga akhirnya ia melihat seseorang yang menjadi secercah harapan baginya saat ini. "Tuan di kamar 1010! Tolong aku!" teriak Laura pada lelaki bertubuh tinggi yang berdiri tak jauh darinya dan menatapnya dingin. Lelaki itu lalu mendekatinya, dan aneh, kedua bodyguard Frederico langsung terdiam melihat kehadirannya. "Kau minta bantuan padaku, setelah kau menolakku?" Bersambung...Rick berdiri di pintu, menunduk dalam. Air mata pria besar itu juga jatuh. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depannya. Laura yang hancur, memeluk jasad adiknya yang baru saja melindunginya dengan nyawa.Beberapa saat kemudian, Laura mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Alisha untuk terakhir kalinya, seolah ingin mengabadikan setiap detail di memorinya.“Kakak janji, Sha.” bisiknya. “Kakak akan jaga keponakanmu baik-baik. Kakak akan cerita ke dia tentang bibinya yang paling baik sedunia. Tentang bibinya yang pemberani, yang rela berkorban untuk kakaknya. Dan kakak… kakak akan cari keadilan untukmu. Untuk orang yang udah berani menyentuhmu. Untuk orang yang sudah merebut nyawamu. Kakak janji.”Ia mengecup kening Alisha dengan berlinang air mata. Ia tidak bisa berhenti menangis.Perlahan, ia bangkit. Tubuhnya goyah, tapi ia tetap mencoba bertahan. Ia menatap petugas kamar jenazah.“Saya sudah selesai. Tolong…urus semuanya."Petugas itu mengangguk hormat."Saya akan mengurus pemakaman
Dunia Laura berhenti berputar.Kata-kata dokter itu masuk ke telinganya, tapi otaknya menolak untuk memprosesnya. Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak benar.“Apa…apa maksud Dokter?”Suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Seperti anak kecil yang berpura-pura tidak mengerti agar kenyataan pahit tidak jadi diucapkan.Dokter itu menatapnya dengan mata penuh simpati. Seorang perawat di belakangnya sudah menunduk, menahan tangis. Mereka sudah terbiasa menyampaikan kabar buruk, tapi tak pernah benar-benar terbiasa melihat keluarga yang hancur.“Nona… saya turut berduka. Adik Nona sudah meninggal dunia. Tim kami sudah berusaha, tapi lukanya terlalu parah. Maaf.”Laura merasa napasnya terenggut paksa dari dalam paru-parunya. Kepalanya berputar, pandangannya mulai mengabur. Telinganya berdengung hebat, suara di sekitarnya terdengar seperti dari dalam terowongan panjang.“Tidak…”Satu kata. Hanya satu kata yang mampu keluar dari bibirnya yang gemetar.“Tidak… tidak, Dok. Maksud Dokter… adik saya…
Mereka berlari ke arah pintu belakang. Namun salah satu penculik yang masih setengah sadar mengambil pistol yang terjatuh.Ia mulai membidik dan mengarahkannya pada Laura.“Berhenti!” teriaknya.Laura menoleh, tubuhnya membeku seketika. Saat suara tembakan memekakkan telinganya.Laura merasa tubuhnya didorong keras.“KAKAK!"Laura jatuh ke lantai, namun ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Ia pun menoleh.Alisha berdiri di depannya beberapa detik, lalu tubuhnya perlahan melemah. Darah merembes dari sisi perutnya.“Alisha…” suara Laura bergetar. Ia menyadari kalau Alisha menolongnya dari tembakan itu.Tubuh adiknya ambruk ke pelukannya dengan kondisi perut yang berlumuran darah.“Tidak… tidak… tidak!” Laura menjerit histeris, tangisnya mulai pecah. "Alisha!"Rick segera menembak balik, melumpuhkan pelaku. Namun, semuanya terasa terlambat, ketika ia melihat Laura memeluk Alisha yang terkulai lemah di tangannya.“Bertahan, Sayang… tolong bertahan…” tangisnya pecah.Alisha tersenyum lemah,
Ia menyentuh perutnya yang masih rata. “Dan aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di bawah bayangan pria yang mungkin telah menghancurkan keluarga kita.”Air mata Alisha jatuh. “Kak, aku takut.”“Aku juga,” bisik Laura jujur. “Tapi lebih takut lagi kalau kita tetap di sini.”***Di sebuah kamar hotel mewah, Aslan berdiri memandang jendela kaca tinggi. Kota berkilau di bawahnya.Sonya mendekat dari belakang, memeluknya.“Kau masih memikirkannya, ya?”Aslan tidak menjawab.Ia merasa kosong. Bahkan saat Sonya menyentuhnya, pikirannya tetap pada Laura, pada wajahnya yang penuh air mata.Sonya memutar tubuh Aslan menghadapnya. “Lihat aku Sayang."Tatapan mereka bertemu. Mata Sonya dipenuhi keinginan dan ambisi. Ia sudah lama menginginkan ini. Menginginkan Aslan sebagai seorang pria. Ia ingin dicintai sepenuhnya oleh pria ini.“Kau tidak sendirian malam ini,” bisiknya.Kali ini Aslan tidak mundur, kekacauan hatinya, alkohol dan minuman yang dicampur sesuatu oleh Sonya, membuatnya tak puny
"Aku memang bukan orang baik seperti yang kau pikirkan."Aslan menatapnya. Matanya, Laura tidak bisa membaca apa yang ada di sana. Tapi untuk sesaat, ia melihat sesuatu yang basah di sudut mata pria itu.Mustahil.Aslan tidak mungkin menangis."Kau boleh membenciku," bisik Aslan akhirnya. "Tapi kau tidak akan pergi dari sini. Kau dan anak itu... kau milikku.""AKU BUKAN MILIK SIAPA PUN!""Kau mengandung anakku.""Dan aku akan membesarkannya tanpa kau! Aku akan memberitahunya bahwa ayahnya adalah monster pembunuh!" Laura berteriak, suaranya serak dan pecah.Untuk sesaat, Aslan terlihat seperti baru saja ditampar. Tapi ekspresi itu cepat sirna, digantikan oleh topeng dinginnya yang biasa."Terserah kau mau berpikir apa tentangku. Tapi kau tetap di sini. Kau tidak akan pergi kemana-mana."Ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Bunyi kunci diputar dari luar membuat Laura tersentak. Ia berlari ke pintu, mengguncang-guncang gagangnya dengan panik."TIDAK! BUKA PINTU! ASLAN! BUKA PINTU!"Ti
"Aish ..." geram Laura saat ia melihat Rick dan beberapa pengawal berjaga di depan ruangan Aslan. Itu artinya dia tidak bisa masuk ke dalam sana dan mengambil amplop yang ada didalamnya."Aku bisa saja membujuk Pak Rick untuk masuk ke dalam sana. Tapi aku tidak mau dia berada dalam masalah lagi karena aku," gumam Laura yang terpaksa berbalik arah dan mengurungkan niatnya untuk ke ruang kerja Aslan.Dua jam kemudian, Laura mendengar mobil masuk ke garasi. Ia berlari ke jendela, melihat Alisha turun dari mobil sekolah dengan seragam basah kena hujan. Adiknya menoleh ke arah kamar Laura, dan untuk sesaat, Laura melihat sesuatu yang aneh di wajah Alisha.Alisha tersenyum. Tapi senyum itu berbeda. Seperti ada kode rahasia di baliknya.Laura menunggu dengan tidak sabar.Setelah berganti pakaian, Alisha mengetuk pintu kamar Laura. Begitu masuk, ia langsung memeluk kakaknya erat-erat. Pelukan yang lebih lama dari biasanya."Kak," bisik Alisha di telinga Laura. "Aku harus bicara sesuatu. Tapi







