Masuk"Hah! Dasar sok tahu! Lihat apa yang sudah kamu lakukan tadi? Kita semua hampir saja ketahuan!"Pria bertubuh kecil terus menggerutu sepanjang perjalanan. Tak henti-hentinya menyudutkan Troy yang dianggap terlalu berani mengambil resiko besar yang bisa membongkar identitas mereka.Pria bertato di samping mengangguk setuju. Menatap sinis ke arah Troy melalui kaca spion tengah."Untung saja aksi nekatmu tadi tidak terendus oleh pengawal Diego Foster. Andai saja sampai terbongkar .... "Troy yang sejak tadi menyandarkan tubuh dengan santai di jok belakang mendadak bereaksi.Memajukan tubuh ke depan, Troy lalu mencengkeram erat kerah kemeja pria bertato itu dari belakang."Kita lihat saja nanti! Kalian berdua akan tahu apa yang sebenarnya sudah aku lakukan!" desis Troy dingin dan tajam.Kedua pria itu mendadak bisu, saling melempar pandang penuh ketakutan sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke jalan raya.Aura yang dipancarkan Troy sukses membungkam mereka seketika. Sejak pertama k
Troy semakin mendekat. Pria berkacamata yang mengenakan kaos oblong lusuh itu melangkah santai menghampiri mobil Yenzing dengan raut wajah ramah."Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Troy, berpura-pura menjadi warga lokal yang berniat baik.Dari penampilannya, Troy memang terlihat sangat ramah dan kalem, jauh dari kesan penjahat atau anggota komplotan berbahaya.Namun, entah mengapa Zhue yang duduk di kursi belakang menatap pria itu dengan penuh rasa curiga dan kewaspadaan tinggi.Jemari Zhue mengepal pelan, matanya menyipit sinis memperhatikan setiap gerak-gerik Troy.Sementara di samping, Freya tampak sangat cemas karena perjalanan mereka menuju mansion tertunda cukup lama."Yenzing, bagaimana? Apa kita bisa secepatnya pulang sekarang? Apa mobil ini mengalami kerusakan yang serius?" tanya Freya dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.Yenzing menoleh sedikit, memutar kepala pelan. "Sepertinya tidak ada masalah besar pada mesin mobil ini, Nona. Tapi kita harus menunggu k
Mengikuti peringatan dari sang kekasih, Yenzing tetap bergeming di tempat duduknya.Matanya terus memperhatikan pergerakan mobil di belakang mereka melalui kaca spion tengah dengan sangat waspada.Tak lama kemudian, mobil pengawal pribadi yang sejak tadi mengekor di belakang ikut menepi dan memberhentikan kendaraan mereka.Para pengawal bertubuh tegap itu bergegas turun dengan siaga."Ada apa ini?" seru salah satu pengawal dengan suara lantang seraya menatap tajam mobil tua ringkih yang baru saja menabrak bagian belakang mobil Yenzing."Keluar! Cepat keluar sekarang juga!" teriak anak buah Diego dengan emosi meluap.Namun, laki-laki yang duduk di balik kemudi mobil tua itu hanya membeku, terlihat ketakutan setengah mati di dalam kabin.Tiga orang anak buah Diego langsung mengitari dan mengepung mobil tua tersebut dari berbagai sisi, sementara tiga pengawal lain melangkah cepat untuk memeriksa keadaan penumpang di dalam mobil Yenzing."Anda tidak apa-apa, Nyonya Freya?" tanya sala
"Kak," panggil Zhue pelan.Freya menoleh, tersenyum manis, dan langsung melepas pelukan hangat Diego.Ia berdiri, mengacuhkan suaminya begitu saja dan berjalan mendekati Zhue dengan langkah cepat.Melihat sikap dingin istrinya, Diego hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah. Dalam hati, timbul kekhawatiran wanita itu akan membencinya lagi sama seperti saat Freya kehilangan ingatan dulu."Ada apa, Zhue?" tanya Freya lembut pada gadis muda itu."Aku ingin pulang ke mansion sekarang, Kak. Apa Kak Freya tetap akan di sini, atau ....""Aku ikut bersamamu pulang!" potong Freya cepat.Zhue menyunggingkan senyum lega. "Kalau begitu, ayo kita pulang bersama, Kak.""Hm," angguk Freya mantap.Mendengar istrinya akan pergi meninggalkan rumah sakit, Diego langsung melangkah tergesa-gesa menghampiri. "Baby, kamu ingin pulang? Sekarang?"Freya memutar tubuh, menatap tajam ke manik mata sang suami. "Ya, aku pulang sekarang. Aku tahu kamu tidak bisa ikut pulang ke mansion. Jadi, urus saja
Laura melirik sinis ke arah Freya yang kini duduk santai di atas sofa. Seolah tak ada orang lain di kamar VIP itu.Sementara, Diego tampak fokus mengusap dada Jegar untuk menenangkan balita yang tangisannya mulai mereda tersebut."Saya akan mengusahakan kesembuhan Jegar, asal dia mau dirawat intensif di rumah sakit ini sampai kondisinya benar-benar stabil," ujar Laura penuh perhatian pada Diego."Ya, lakukan apa saja yang terbaik untuk Jegar. Berapapun biayanya, aku yang akan menanggung semuanya," balas Diego."Kalau masalah biaya, pihak rumah sakit sama sekali tidak khawatir karena yang kami rawat adalah putra dari Tuan Diego Foster. Anda tenang saja, segala fasilitas terbaik yang dibutuhkan Jegar pasti akan disanggupi oleh kami."Diego mengangguk pelan. Lalu tatapan matanya beralih pada Freya.Di depannya, Laura terus memutar otak mencari topik perbincangan agar bisa lebih lama berduaan dengan Diego di kamar rawat itu, meski ia harus menahan rasa risih melihat keberadaan Freya.
Jemari lentik Freya bergerak lincah di atas layar ponsel, membalas pesan masuk dari Thomas.Freya [Hai, Thomas. Kabarku baik-baik saja. Aku sengaja menghubungimu karena ingin meminta bantuanmu untuk memeriksa kondisi anak dari temanku. Jujur, aku sangat meragukan vonis Dokter di sini yang menurutku terlalu berlebihan dan janggal. Tapi sayangnya, suamiku langsung percaya begitu saja pada vonis tersebut]Thomas [Oke, aku akan membantumu. Bisa kamu beritahu gejalanya lebih spesifik? Tolong kirimkan juga dokumen rekam medis, riwayat pasien, dan rekaman video kondisi fisik anak itu, agar aku bisa mempelajarinya lebih dulu sebelum melakukan pemeriksaan langsung]Freya [Baik, akan aku kirim secepatnya. Tapi ngomong-ngomong, apa kamu tidak keberatan datang langsung ke Atalia? Bukannya kamu sedang di Lebanon?]Thomas [Kebetulan, sudah beberapa minggu ini aku ada di Atalia. Tepatnya bertugas di rumah sakit baru milik keluarga Fox. Aku diminta langsung oleh direksi keluarganya untuk membantu
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s







