LOGIN"Bagaimana Paman?""Hmm, apanya Baby?"Freya menghela napas dalam. Berusaha tenang dan tetap mengeluarkan jurus rayuan yang menjadi kelemahan sang suami."Kondisimu sudah lebih baik?" tanya Diego lembut. "Apa yang kamu rasakan sekarang? Selain merindukan aku."Ia menatap manik mata Freya yang memancarkan pendar kehangatan begitu memikat.Sorot mata yang sarat akan kepasrahan dan kelembutan itu seketika membakar habis seluruh sisa logika di kepala sang Naga.Gairah yang semula terpendam rapat kini meledak hebat, menguasai jalan pikirannya."Aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya ...." bisik Freya mendayu, jemari lentiknya mengusap rahang tegap Diego dengan gerakan sangat perlahan."Aku melihatnya seperti itu," kekeh Diego mesum."Paman ...." rengek Freya. "Jawab aku dulu ... maukah Paman mendengarkanku?"Bukannya menjawab dengan kata-kata, Diego justru merengkuh pinggang ramping Freya secara posesif, menarik tubuh molek itu hingga menempel tanpa jarak pada dada bidangnya."Aku tid
Jauh dari heningnya hutan. Yoss dan Bayu masih berjuang menemukan titik terang keberadaan Zhue."Rumahnya di sini, alamatnya sesuai dengan yang diberikan oleh tukang sapu itu .... " Yoss dan Bayu bergegas ke rumah pemilik toko.Setelah mendatangi kediaman pemilik toko kelontong tua tersebut dan memohon izin dengan sangat sopan, mereka berhasil mengakses serta menyalin rekaman CCTV yang mengarah ke lorong jalan pintas.Di dalam rekaman video berdurasi singkat dan sangat jelas itu, tampak sebuah mobil hitam menghentikan lajunya.Jelas bukan Zhue yang memasukkan racun, gadis muda itu justru menjadi korban penculikan dua orang pria asing berbadan tegap yang secara paksa menyeret tubuh Zhue yang sudah terkulai lemas akibat efek gas beracun dari dalam mobil Yenzing, lalu memindahkan ke mobil mereka.Video itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Zhue adalah korban penculikan, bukan pelaku sabotase."Kita punya buktinya, Yoss!" seru Bayu bersemangat langsung mencabut flashdisk dari komput
"Gadis lemah dan kelaparan seperti dia pasti akan mencari tempat aman untuk berlindung. Dia pasti ada di gubuk itu!" desis anak buah Kevin menatap ke arah gubuk tua di depannya."Ayo kita ke sana!"Buk! Buk! Buk!Suara gedoran keras bergema menghantam pintu kayu gubuk yang rapuh, diselingi umpatan-umpatan kasar yang membuat bulu kuduk berdiri."Dobrak saja pintunya!" teriak pria bernada garang.Sebelum kayu pintu itu hancur berantakan akibat hantaman sepatu laras, Nenek Diana dengan tenang menarik sel slot besi dan membuka pintu lebar-lebar.Angin malam yang dingin menusuk langsung menyapu ruangan, membawa serta aroma mesiu yang menyengat.Di ambang pintu, berdiri tiga orang anak buah Kevin berbadan kekar dengan senjata api di genggaman.Wajah-wajah brutal mereka dipenuhi peluh, menatap sengit ke arah wanita tua yang berdiri gemetar di hadapan mereka."Ada apa ini, Nak? Kenapa malam-malam begini berteriak dan membawa senjata di depan rumah Nenek?" tanya Nenek Diana dengan suara be
Sang nenek tersenyum menatap ke arah Zhue. Selama tinggal di hutan, untuk pertama kali ia didatangi seorang tamu, apalagi tamu ini gadis muda yang cantik. Meski kondisi Zhue sangat memprihatinkan seperti habis dikeroyok massa."Habiskan makanannya, kalau kurang, Nenek akan memasak pasta lagi. Kebetulan stok pasta di rumah ini cukup banyak."Zhue hanya mengangguk sedikit. Perutnya terasa sangat lapar hingga membuatnya tak sanggup berbicara."Uuh!"Seteguk air hangat dan beberapa suap pasta hangat itu perlahan mengembalikan tenaga Zhue yang sempat terkuras habis.Setelah menghabiskan sisa makanan di piring, Zhue meletakkan gelas kayu itu perlahan.Tangannya yang lecet masih terasa perih, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar.Gadis itu menatap nenek tua yang sedang merajut kain di sudut meja dengan tenang."Nenek .
Jauh dari keramaian kota, seorang gadis muda sedang berjuang untuk hidupnya seorang diri di selimuti ketakutan yang menghancurkan kewarasannya."Aku takut ... Ibu, tolong selamatkan anakmu." Zhue menahan napas di dalam kegelapan rongga pohon raksasa itu.Suasana hutan lambat laun kembali menghening, menyisakan gesekan dedaunan yang ditiup angin malam dan derik jangkrik yang bersahut-sahutan.Suara letusan senjata api serta teriakan kasar anak buah Kevin perlahan menjauh dan menghilang di balik bukit.Setelah memastikan situasi aman, Zhue perlahan merangkak keluar dari lubang pohon.Tubuhnya gemetar hebat, rasa perih akibat gigitan semut ganas dan sengatan luka-luka di kulitnya masih menyengat tajam."Aku ... aku harus terus berjalan," ucap Zhue pada dirinya sendiri dengan suara parau yang hampir tak terdengar.Dengan pergelangan kaki k
"Di dekat sini tempatnya." Yoss membuka sabuk pengaman di pinggang dan mendorong pintu. "Ayo turun!" ajaknya pada Bayu yang duduk di jok samping."Hmm." Bayu membuka pintu dan segera keluar dari mobil. Ia mengamati sekitar, mencari jejak-jejak kecelakaan mobil yang dikendarai Yenzing."Bukan di titik ini," kata Yoss menggeleng pelan. "Di mana?" Bayu mengerutkan kening. "Aku lupa, ingatanku tidak sebagus dirimu.""Di sebelah sana." Yoss menunjuk ke depan. "Ikuti aku.""Hmmm."Keduanya melangkah mendekati lokasi sebenarnya.Yoss dan Bayu menghentikan langkah tepat di lokasi tempat mobil Yenzing menghantam dinding pembatas dari beton.Berbekal instruksi rahasia dan jaminan perlindungan dari Freya, kedua pengawal itu menyisir area sekitar tanpa berani membuang waktu sedikit pun."Kita mulai dari mana, Yoss?" tanya Bayu mengedarkan pandangan ke sepanjang trotoar yang mulai sepi."CCTV lalu lintas kota," sahut Yoss mantap, memajukan posisinya. "Seseorang menculik Nona Zhue saat situasi s
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak







