Masuk"Kembali ke markas!" perintah Kevin dingin pada anak buahnya.
"Baik, Tuan!"
Tak butuh waktu lama, Kevin langsung menghubungi Laura untuk menyampaikan kabar gembira yang baru saja diterima.
Telepon itu langsung diangkat oleh sang dokter dengan nada ketus. "Ada apa? Aku sudah mengatakan berkali-kali untuk tidak menghubungi saat aku sedang berada di rumah sakit. Kevin!"
"Santai, Cantik," kekeh Kevin dari bali
"Kembali ke markas!" perintah Kevin dingin pada anak buahnya."Baik, Tuan!"Tak butuh waktu lama, Kevin langsung menghubungi Laura untuk menyampaikan kabar gembira yang baru saja diterima.Telepon itu langsung diangkat oleh sang dokter dengan nada ketus. "Ada apa? Aku sudah mengatakan berkali-kali untuk tidak menghubungi saat aku sedang berada di rumah sakit. Kevin!""Santai, Cantik," kekeh Kevin dari balik telepon, terdengar begitu percaya diri."Santai? Mana bisa aku santai? Bagaimana kalau Diego curiga?""Apa kamu tidak ingin mendengar kabar terbaru dari gadis itu?"Mata Laura berbinar, raut wajahnya seketika berubah serius. "Kabar apa? Apa kalian berhasil menangkapnya dan membunuhnya? Jangan lupa buang jasadnya sejauh mungkin, kalau bisa beri saja ke hewan buas agar tubuhnya habis dimakan!""Ya, persis seper
"Mungkin ke arah sana! Di sana ada sungai. Kemungkinan dia mencari sungai!" seru anak buah Kevin menunjuk ke arah tebing."Ayo cepat bergerak!"Beberapa dari mereka sudah mulai kelelahan, tetapi demi menjalankan missi dan menghindari amukan Kevin, mereka nekat menerjang rimbunnya hutan belantara."Ini dia sungainya!"Di tengah lebatnya pepohonan hutan yang kian gelap, rombongan anak buah Kevin berkumpul di dekat muara sungai kecil dengan napas tersengal-sengal.Peluh bercampur tanah kering mengotoris wajah-wajah garang mereka. Penyisiran yang berlangsung berjam-jam itu sama sekali tidak membuahkan hasil.Zhue seolah lenyap ditelan bumi!"Sialan! Jalang itu benar-benar hilang tanpa jejak!" umpat Frank salah satu preman bertubuh jangkung sambil membanting senjatanya ke tanah."Kita sudah mengitari hutan ini sampai kaki
Yoss dan Bayu mendekat dengan gerakan sangat perlahan agar tidak mengejutkan Zhue yang masih trauma."Nona Zhue .... ""Kalian siapa?" panik Zhue."Sstttt! Kami bukan penjahat. Saya Yoss, Anda ingat kan?"Mata Zhue yang rabun karena hawa dingin yang nyaris membekukan tubuhnya, mulai melihat wajah pria itu."Saya dan mereka adalah orang suruhan Nyonya Freya."Dengan suara lembut dan menunjukkan identitas mereka sebagai utusan Freya, mereka berhasil menenangkan Zhue yang sempat panik."Tolong bawa aku pergi," isak Zhue.Tanpa membuang waktu, Zhue langsung dievakuasi secara diam-diam menuju safe house rahasia milik Diego di luar kota, memastikan pergerakan tersebut sama sekali tidak terendus oleh pihak Kevin maupun Laura.*Di tempat berbeda, Diego baru saja membawa Freya kembal
"Ke arah hutan!"Pesan singkat berpola sandi rahasia bergetar di layar ponsel Yoss, menandakan bahwa dua regu pasukan elit arahan langsung Diego telah tiba di titik kumpul luar kawasan hutan.Bayu yang mengintip dari balik semak belukar mengembus napas panjang dengan raut lega yang tak tertutupi."Bantuan dari Tuan Diego sudah sampai, Yoss," bisik Bayu penuh semangat."Ya, sudah terlihat." Yoss mengangguk kecil."Langkah Nyonya Freya benar-benar luar biasa. Sekarang kita punya kekuatan penuh untuk merangsek masuk.""Jangan jemawa dulu, Bay," tegur Yoss seraya mengokang senjatanya perlahan.Bayu menggerakkan kepalanya, menoleh ke belakang. "Semakin dekat," kekehnya senang."Kita harus menyusun strategi infiltrasi senyap. Target kita adalah menyelamatkan Nona Zhue dalam keadaan hidup, bukan memicu perang terbuka yang
"Percayalah Paman, Laura itu jahat. Dia dalang dari semua ini, dan kemungkinan ada yang membantunya memuluskan semua rencana busuknya itu. Juga tentang Jegar. Kita tidak pernah tahu dia anak siapa, bahkan Pak Bernad sekalipun."Ruang VIP rumah sakit itu seketika diliputi keheningan yang mencekam.Napas Diego memburu, urat-urat lehernya menonjol tajam seiring amarah yang mendidih di dalam dada.Pria tegap itu mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih, berniat membanting ponsel di genggaman."Laura ...." geram Diego dengan suara serak yang memancarkan aura membunuh. "Wanita iblis itu berani membohongiku! Aku akan menghancurkannya detik ini juga!"Diego bergerak hendak menyibak selimut dan bangkit dari ranjang, namun Freya dengan cepat menahan lengan suaminya."Paman, tenanglah!" bisik Freya tegas, menatap manik mata Diego lekat-lekat.
"Bagaimana Paman?""Hmm, apanya Baby?"Freya menghela napas dalam. Berusaha tenang dan tetap mengeluarkan jurus rayuan yang menjadi kelemahan sang suami."Kondisimu sudah lebih baik?" tanya Diego lembut. "Apa yang kamu rasakan sekarang? Selain merindukan aku."Ia menatap manik mata Freya yang memancarkan pendar kehangatan begitu memikat.Sorot mata yang sarat akan kepasrahan dan kelembutan itu seketika membakar habis seluruh sisa logika di kepala sang Naga.Gairah yang semula terpendam rapat kini meledak hebat, menguasai jalan pikirannya."Aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya ...." bisik Freya mendayu, jemari lentiknya mengusap rahang tegap Diego dengan gerakan sangat perlahan."Aku melihatnya seperti itu," kekeh Diego mesum."Paman ...." rengek Freya. "Jawab aku dulu ... maukah Paman mendengarkanku?"Bukannya menjawab dengan kata-kata, Diego justru merengkuh pinggang ramping Freya secara posesif, menarik tubuh molek itu hingga menempel tanpa jarak pada dada bidangnya."Aku tid
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat







