登入"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu, Dokter Freya?" Lionel menatap Freya lekat, menyadari ada beban yang dipikirkan oleh teman kuliahnya.Saat masih berkuliah, Freya berteman cukup akrab dengan Lionel, salah satu mahasiswa terpintar yang berhasil mendapatkan beasiswa hingga jenjang S2.Freya hanya tersenyum kecil sambil menggeleng, berusaha menyembunyikan keluh kesahnya."Kalau kamu butuh bantuan atau sekedar teman curhat, kamu bisa menghubungi aku. Nomor teleponku masih yang lama," lanjut Lionel menawarkan bantuan."Iya, terima kasih," ucap Freya sambil menghela napas dalam. "Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu bekerja di rumah sakit ini?" tanyanya.Lionel tersenyum. "Sebenarnya aku tidak bekerja di rumah sakit ini. Apa kamu lupa? Aku ini Dokter Bedah di rumah sakit sebelah."Kening Freya berkerut dalam. "Lalu, kenapa kamu ada di sini?" Ia menoleh ke kiri dan kanan, memperhatikan sekitar."Aku di sini mengantar Kakak iparku yang melahirkan. Kebetulan suaminya, sedang bek
Setibanya di rumah sakit bersalin terbesar di Atalia, Freya berjalan cepat menuju meja administrasi.Dengan napas terengah-engah, ia menatap petugas di depannya lalu mengatakan. "Selamat malam, Sus. Saya ingin mengecek data rekam medis persalinan pada tahun 2001," ujar Freya, mencoba menstabilkan suara yang hampir habis. "Saya butuh konfirmasi apa benar pada tahun itu, seorang wanita bernama Giani pernah melahirkan bayi perempuan di rumah sakit ini?""Maaf Bu, untuk membuka rekam medis pada tahun itu, prosedurnya harus melalui persetujuan manajemen, kepala rekam medis, atau Ibu harus membawa surat kuasa kalau itu bukan atas nama Ibu sendiri."Freya menghela napas panjang. "Saya sangat paham prosedurnya, Sus. Saya sendiri adalah Dokter Kandungan di klinik Cahaya. Justru karena ini menyangkut asal-usul kelahiran saya sendiri, saya harus memastikannya sekarang."Ia memajukan tubuhnya sedikit. "Saya hanya minta Anda mengecek apa ada rekam medis persalinan atas nama Ibu Giani di tahun 20
"Paman!" panggil Freya lirih.Santoso memilih diam membisu. Ia memutar tubuhnya, lalu melangkah menuju pintu."Kenapa Paman diam?" tanya Freya dengan suara meninggi.Santoso menghela napas panjang. Menghentikan langkah sejenak, lalu mengatakan, "Kedua orang tuamu yang sekarang adalah orang tua kandungmu, Nak."Setelah mengatakan itu, ia langsung melangkah ke luar dari apartemen, meninggalkan Freya yang terpaku dalam kebingungan dan rasa tidak percaya."Bohong!" desis Freya. "Aku yakin kalian semua merahasiakan sesuatu dariku! Aku akan mencari tahu sendiri."Freya memutar tubuh dengan cepat, melangkah mendekati sofa. Tanpa membuang waktu, ia meraih tas di atas meja lalu bergegas ke luar dari apartemen.***Restoran mewah khusus kalangan elite dibooking langsung oleh Diego untuk memanjakan lidah para klien pentingnya di acara makan malam kali ini.Suara tawa orang-orang berduit menggema, memenuhi ruangan bernuansa eksklusif itu.Namun, ada yang tidak biasa malam ini. Diego lebih
"Aku tidak akan menjauhi Paman Diego. Aku mencintai dia, dan aku percaya dia juga memiliki perasaan yang sama!" ucap Freya dengan suara lantang dan tatapan tajam ke arah Santoso.Pria paruh baya itu menghela napas panjang, menahan diri agar tidak emosi menghadapi wanita muda di depannya. "Diego bukan pria yang baik. Papi bicara seperti ini karena Papi sangat tahu sifat dan watak dia, Freya. Lagipula, usia kalian berbeda jauh. Kamu lebih pantas menjadi anaknya daripada pendamping hidupnya. Tolong, jangan keras kepala. Akhiri semua ini, Nak!"Freya menggeleng tegas. "Maaf Paman, aku bukan anakmu, dan aku sudah dewasa. Aku berhak memilih siapa yang terbaik untukku. Dan laki-laki yang Paman sebut tidak baik itu, dia selalu membuatku nyaman setiap kali aku berada di sisinya. Berbeda dengan anak Paman. Dani jahat! Dia tega mengkhianati aku dan menipuku dengan cincin berlian palsu. Bahkan apartemen ini, hanya disewa sampai pernikahan tiba. Dia berniat membuangku begitu saja dan menikahi s
Tanpa sadar senyuman tipis merekah di bibir Diego saat membayangkan ia memiliki darah daging yang lahir dari rahim Freya."Aku menginginkan sebelas anak darimu, Baby," gumam Diego, sambil menatap layar ponsel yang menampilkan wajah cantik wanitanya.Hingga mobil mewah itu tiba di tujuan, sisa senyuman yang jarang terlihat itu masih membekas di wajah sang Penguasa.Ekspresi langka tersebut langsung tertangkap oleh mata Elang para bodyguard. Yenzing tahu betul Tuan Besar-nya sedang jatuh cinta pada seorang wanita."Sepertinya suasana hati Tuan Besar sedang bagus hari ini."Bisik-bisik para anak buah Diego di barisan belakang. Mengawal ketat langkah kaki Diego menuju gedung pencakar langit.***Di apartemen, baru saja menjatuhkan tubuh di atas sofa, Freya terhenyak kaget saat mendengar suara bel berbunyi."Paman Diego?" Freya langsung menggeleng, menepis pemikiran itu. "Tidak mungkin dia datang. Yang ada di dalam pikiran laki-laki itu hanya bisnis dan uang. Wanita hanya dijadikan h
Pertanyaan yang meluncur dari mulut Freya hanya dianggap angin lalu oleh Diego. Seolah tak ingin terjebak dalam pembicaraan yang melibatkan perasaan.Di saat Freya masih menunggu jawaban, Diego malah fokus pada pergulatan mereka. Mempercepat ritme permainan, menjelajahi setiap jengkal kulit mulus Freya dengan ujung lidahnya."Uhg! Ahhh!" Diego mendesah kencang, menghentakkan pinggul dengan cepat saat merasakan inti tubuh Freya semakin menjepit.Hingga puncak pelepasan itu tiba. Suara erangan Diego pecah memenuhi setiap sudut ruangan.Pinggulnya disentakkan ke depan dengan satu dorongan yang teramat dalam, menahan posisi di sana saat cairan hangat dan kental menyembur hebat, membanjiri liang kenikmatan Freya."Ugh!" Deru napas mereka terdengar memburu dengan dada turun-naik tak beraturan.Setelah pergulatan liar itu selesai, suasana ruangan seketika menjadi hening. Sangking heningnya, Freya bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.Freya menatap Diego lekat, kembali mengatakan,
"Ugh!" Sebuah geraman halus lolos dari bibir Diego, menjadi tanda bahwa gairahnya sudah membumbung hingga ke puncak.Pria itu menundukkan wajah, kembali menghujani bibir, rahang, hingga leher jenjang Freya dengan kecupan-kecupan panas yang menuntut, membuat Freya semakin terkunci dan benar-benar ta
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat







