LOGIN"Ayolah Sayang, jangan menolak terus. Aku yakin milikku sama besar seperti Diego. Kamu akan menikmatinya juga," kekeh Zhang.Freya mendengus marah. "Jangan mendekat! Bajingan!" jeritnya dengan napas memburu."Jangan sok jual mahal denganku!" Zhang mulai tersulut emosi. Matanya memerah pekat.Melihat itu otak Freya mulai berputar cepat di tengah kepanikan yang membakar dada.Melawan secara fisik dengan kedua tangan terikat jelas membawanya pada kekalahan. Ia harus menggunakan cara lain ... berpura-pura tunduk dan menyerahkan diri untuk mengulur waktu. Ya, itu pasti bisa, pikir Freya.Lalu ia menghentikan perlawanan mendadak. Memejamkan mata sejenak, menelan ludah, lalu mengembus napas panjang.Saat ia membuka mata, sorot matanya yang tadi penuh kebencian perlahan melunak, digantikan oleh tatapan redup yang tampak pasrah."Tunggu ...." bi
"A-aku di mana?" Freya melenguh pelan sambil memegangi kepalanya yang mendadak terasa sakit luar biasa, bagai dihantam benda tumpul.Ia menyapu pandang ke sekeliling. Matanya langsung membulat lebar saat menyadari kalau dirinya sedang berada di dalam sebuah kamar yang tampak asing."Tempat apa ini?" gumam Freya bingung.Seingatnya, ia sedang berada dalam perjalanan menuju hotel yang disepakati sebagai tempat janji temu dengan Zhang.Namun di tengah perjalanan, mobil yang ditumpanginya mendadak mogok di area sepi, lalu setelah itu pandangannya gelap dan ia tidak mengingat apa-apa lagi."Tidak mungkin!" Freya mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya, tetapi betapa terkejutnya ia saat menyadari kedua tangannya sudah terikat kuat di sisi ranjang. "Tolong! Lepaskan aku!" teriak Freya histeris, menyadari bahaya besar sedang mengancam.Ruangan itu benar-
BANG!Suara ledakan susulan membahana sangat kencang. Getaran hebat itu membuat air danau terguncang dahsyat, bahkan tubuh Jackie terlempar ke tepi danau hingga tak sadarkan diri.Dalam alam bawah sadarnya, Jackie melihat Yenzing dan Zhue tidak terselamatkan. Mereka berdua tewas dan arwah mereka melayang ke udara sambil melambaikan tangan ke arahnya."Yenzing, Zhue ... maafkan aku. Aku tidak punya nyali untuk menyelamatkan kalian. Aku sungguh menyesal, maaf ... semoga kalian damai di surga. Tolong jangan hantui aku. Aku tahu aku pecundang, aku tahu itu!"Jackie menangis tersedu-sedu di dalam pingsannya, menyesali ketidakmampuannya menyelamatkan nyawa Yenzing dan Zhue. Namun, jika ia tetap bertahan di sana pun, ia tidak bisa melakukan apa-apa.Kejadian ini mengingatkan Jackie pada peristiwa saat Dante membutuhkan donor darah. Lagi-lagi ia gagal memberikan yang terbaik untuk orang yang dikenal.Namun, ketika kesadarannya mulai kembali, Jackie mendengar suara familiar memanggil nam
Duar!Suara ledakan dahsyat menggema dari arah lantai bawah. Getaran kencang merambat hingga nyaris melempar tubuh Yenzing dan Jackie ke lantai."Diego benar-benar akan meledakkan tempat ini?" Mata Jackie membelalak panik.Sementara itu, Yenzing tetap berusaha keras menghantamkan tubuhnya ke pintu baja yang terkunci rapat.Bruk! Bruk!Mata Yenzing menyempit. Berkali-kali ia meringis kesakitan sambil memegang bahunya yang terus dihantamkan ke pintu baja.Melihat perjuangan itu, Jackie hanya bisa menghela napas panjang."Zhue! Bertahanlah di dalam!" ucap Yenzing lirih.Segala cara dilakukan Yenzing, tetapi pintu tebal itu tidak bergerak sedikit pun. Cucuran keringat membasahi wajahnya hingga pakaian yang ia kenakan basah kuyup.Jackie yang sempat tersungkur akibat guncangan bom langsung bangkit berdiri. "Percuma! Kita harus mencari kuncinya untuk membuka pintu ini, tapi waktu kita hampir habis. Sepertinya Tuanmu sudah benar-benar murka dan berniat meratakan seluruh markas Zhang!"
Brak!Pintu baja itu didobrak dari dalam oleh Diego. Para pengawal yang berjaga di luar terperanjat."Tidak mungkin!""Kepung dia!""Jangan biarkan dia pergi dari sini!"Lima orang bersenjata langsung mengarahkan moncong pistol ke arah Diego.Salah satu dari mereka melirik ke dalam ruangan dan melihat Fu terbaring tak bernyawa dengan leher yang patah.Kelima penjaga itu masih tak percaya. Diego, yang tadi sudah tak berdaya disetrum di kursi listrik, mampu melepaskan ikatan baja dan membunuh tangan kanan Zhang.Dengan tenang, Diego melangkah keluar."Berhenti, atau ...!"Dor! Dor! Dor!Lima tembakan melesat kilat. Kelima penjaga itu roboh tewas sebelum sempat menarik pelatuk.Diego menyusuri koridor bawah tanah yang remang-remang menuju tangga keluar.Di perjalanan, ia mengisi amunisi senapan laras panjang yang dirampasnya dari anak buah Zhang.Saat tiba di lantai atas, suasana tampak lengang. Zhang mungkin mengira Diego sudah sekarat sehingga tidak perlu penjagaan ketat."C
"Tembak saja!""Dua orang di sana terlihat mencurigakan. Jangan-jangan mereka penyusup.""Siapkan senjata! Tembak!""Tunggu! Jangan gegabah! Bagaimana kalau mereka hanya nelayan biasa?"Para anak buah Zhang saling berdebat. Senjata di tangan mereka mulai diturunkan saat melihat kedatangan Fu, tangan kanan Zhang."Kita amati dulu. Kalau benar mereka hanya nelayan, mereka bukan ancaman. Kalau kita asal tembak, warga setempat bisa mendatangi tempat ini dan memicu masalah baru!" tegas Fu."Baik!""Bubar!"Puluhan anak buah Zhang yang menjaga tepi pulau kembali berpencar mengawasi sekitar."Jangan lepas pengawasan! Walau terlihat seperti nelayan, kita tidak boleh lengah!" perintah Fu."Baik!"Di tengah danau, rakit yang ditumpangi Jackie dan Yenzing nyaris terbalik akibat kepanikan mereka.Namun, mereka mulai bernapas lega saat melihat moncong senjata tak lagi terarah pada mereka."Sepertinya anak buah Zhang mengira kita nelayan biasa," bisik Jackie.Yenzing mengembus napas panja
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me







