INICIAR SESIÓN"Kalau Zhue ditemukan di lautan yang tidak jauh dari pantai ini, ada kemungkinan Yenzing juga berada di sekitar sana," ucap Diego sambil menatap hamparan laut lepas di depannya."Saya sudah memerintah pengawal yang lain untuk menyusuri lautan itu Tuan."Diego mengangguk. "Kalau begitu, kita cari Yenzing di daratan.""Baik Tuan."Ketiga orang itu langsung menyusuri jalan setapak di tepi pantai, menjauh dari kawasan rumah Gama agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut dari warga desa.Di dalam hati Diego, bara kemurkaan dan kekhawatiran bercampur aduk menjadi satu.Memikirkan bagaimana caranya agar Zhue bisa keluar dari cengkeraman keluarga nelayan yang berniat memaksa gadis itu menikah, tetapi ia juga harus memastikan keberadaan Yenzing.Jika Zhue terdampar di pulau ini, bukan hal yang tidak mungkin suaminya juga berhasil menyelamatkan diri ke daratan yang sama, meski hingga kini belum ada jejak yang ditemukan."Kita cari di sebelah sana! Berpencar!" titah Diego."Baik Tuan!"**
"Ini rumahnya."Langkah kaki Diego, Ruth, dan Yoss terhenti tepat di depan rumah panggung kayu sederhana yang berdiri tidak jauh dari pantai.Suasana di sekitar rumah itu tampak sepi, hanya terdengar suara deburan ombak dan desau angin pesisir yang menerpa dedaunan.Diego, yang masih mengenakan caping bambu dan kemeja nelayan usang, mengetuk pintu kayu rumah tersebut dengan pelan.Tok! Tok! Tok!"Permisi!" seru Yoss.Ruth mendekat, ikut mengetuk pintu bersama Tuan Besar-nya."Permisi. Ada orang di dalam?"Tak lama berselang, pintu berderit pelan. Seorang pria paruh baya berwajah ramah, yang kemungkinan Gama membuka pintu hanya setengah.Ia menatap ketiga tamu asing itu dengan kening berkerut. "Kalian siapa? Mau apa pagi-pagi begini ke rumah saya?" tanya Gama dengan nada curiga, memperhatikan penampilan Diego dan dua pria di samping kiri dari atas sampai bawah.Diego membuka caping bambunya sedikit, menampakkan sorot mata tajam yang langsung memancarkan wibawa luar biasa. "Maaf me
"Kalian yakin Zhue ada di sana?" tanya Diego sambil mengamati lautan lepas di depannya."Saya tidak begitu yakin Tuan tapi warga di sana tadi mengatakan ada yang menemukan gadis terapung di atas lautan, kemungkinan korban badai," jelas Ruth.Sementara di sampingnya, Yoss tidak berani memberikan kepastian, ataupun jawaban."Kemungkinan benar itu Zhue," angguk Diego. "Kita harus segera ke sana dan mencari Yenzing juga. Aku yakin Yenzing tidak berada jauh dari tempat Zhue ditemukan.""Semoga saja, Tuan," angguk Ruth.Kapal mereka terus melaju. Langit malam di perairan luar pulau terpencil itu tampak kelam tanpa bintang.Di bawah naungan gelapnya malam, kapal nelayan sewaan yang membawa Diego, Ruth, dan Yoss perlahan merapat ke sudut tersembunyi pantai berbatu.Mereka bertiga telah merombak total penampilan. Mengenakan kemeja kain usang, celana kain longgar, serta topi caping bambu khas nelayan pesisir, ketiganya tampak begitu menyatu dengan kultur lokal, meski aura ketegasan dan sorot ma
Tiga hari berlalu, pencarian Zhue dan Yenzing masih dilakukan dan diperlebar ke seluruh penjuru lautan Atalia."Cari di semua pulau!" seru Ruth.Deru mesin kapal pengawal elit Foster membelah ombak samudra dengan kecepatan stabil, menyusuri garis pantai dari gugusan pulau-pulau kecil di perbatasan teritorial Atalia.Di anjungan kapal, Yoss dan Ruth berdiri bersisian, mengarahkan pandangan tajam ke arah daratan hijau yang mulai tampak di hadapan mereka."Ruth, apa kamu melihat itu?" tunjuk Yoss."Ya, sangat jelas. Kemungkinan ada kehidupan di sana.""Hmmmm. Semoga saja kita mendapatkan titik terang."Setelah berjam-jam melakukan penyisiran tanpa hasil di tengah laut lepas, sebuah pulau berpenghuni dengan bentangan pantai pasir putih yang asri akhirnya terlihat jelas di balik kabut tipis pagi hari."Yoss, lihat itu juga! Di sebelah barat ada perkampungan nelayan kecil dan dermaga kayu," seru Ruth sambil menunjuk ke arah pantai dengan jarinya."Ternyata ada pulau lain di sebelahnya," g
"Kalian boleh membawanya pulang," kata Xiang.Gama dan ZingZing saling menatap, kemudian mengalihkan pandangan mereka pada Zhue yang belum sadarkan diri.Wajah Gama menyiratkan kekhawatiran mendalam, pasalnya mereka berdua tidak memiliki keahlian apapun dibidang medis. Terlebih, istri Gama_ibu kandung ZingZing sudah meninggal dunia satu tahun lalu."Tidak usah membayar. Kalian boleh melunasi pembayaran yang sudah kita sepakati setelah gadis ini benar-benar sembuh," tambah Xiang menenangkan kekhawatiran dua pria di depannya.Gama menghela napas panjang, lalu mengatakan, "Maaf sebelumnya, tapi saya tidak bisa merawat gadis ini. Rumah kami kecil dan kamu tidak memiliki keahlian dalam pengobatan. Kami takut gadis ini justru semakin parah jika dirawat oleh kami."ZingZing mengangguk sependapat dengan ucapan ayahnya. Sementara Xiang justru tersenyum santai. "Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan. Kalian hanya perlu memberikan dia cairan setiap dua jam sekali dan memberikan obat ramuan da
Di tengah lautan tenang setelah badai dahsyat mereda. Tubuh Zhue terlihat terombang-ambing di atas permukaan air.Pakaian selam neoprena yang dikenakannya serta sisa udara di dalam jaket pengapungnya membuat tubuh gadis itu tidak langsung tenggelam ke dasar laut yang gelap.Namun, kondisinya sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi tanpa warna, bibirnya membiru akibat hipotermia parah, dan ia berada dalam ambang batas antara kesadaran dan kematian setelah kehabisan oksigen serta menelan banyak air laut semalam."Benda apa itu?"Seorang pemuda memperhatikan benda yang mengapung tidak jauh dari perahu kayu sederhana milik ayahnya."Ikan? Tidak! Itu bukan ikan, jelas sekali kalau itu benda mengapung," gumam pemuda itu penasaran setengah mati dengan apa yang ia lihat.Di atas perahu usang itu, seorang nelayan tua bernama Gama bersama anak laki-lakinya, ZingZing, tengah menebar jaring di atas permukaan air.ZingZing yang berdiri di pinggir kapal, langsung berlari menghampiri sang ayah y
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak







