LOGIN"Apa yang kalian lakukan di dalam ruangan itu?" Suara Bibi Ziang melengking, memecah keheningan koridor. Ia melangkah maju mendekati pelayan bertubuh subur yang sudah siap dengan senjatanya.Mata Bibi Ziang melotot tajam, wajah tuanya memerah menahan amarah yang membuncah.Entah mengapa, sejak insiden penangkapan Bernard kemarin, instingnya yang tajam menangkap ada kejanggalan besar dari tingkah laku kedua orang di hadapannya ini.Terlebih lagi Ray. Pengawal itu makin sering mengawasi pergerakan di dalam mansion, bahkan sudah beberapa kali tertangkap basah mengintai di sekitar kamar utama.Awalnya, Bibi Ziang hanya mengira kalau Ray sedang menjalankan perintah Diego untuk memperketat keamanan. Namun sekarang, asumsi itu musnah, berganti menjadi kecurigaan."Jawab pertanyaan saya!" tegas Bibi Ziang, kini berdiri tegak persis di depan pelayan berbadan subur itu.Bukannya takut, pelayan itu hanya membisu sambil menyunggingkan senyum miring yang mengerikan."Kenapa kamu diam sa ...."
Pagi harinya, tak ada yang berbeda, Freya masih bersemangat menyiapkan sarapan untuk sang suami. Sementara Diego tengah menjaga bayinya yang baru saja dimandikan dan selesai dijemur Bibi Ziang.Saat tengah fokus memasak, tiba-tiba saja pikiran Freya tertuju pada Bernad yang ditahan di ruang bawah tanah."Apa yang membuat pria itu nekad melakukan pengkhianatan? Atau sebenarnya Paman hanya salah paham? Tidak mungkin Pak Bernad melakukan itu tanpa alasan, dan apa mungkin anaknya belum ditemukan? Lalu dimana anaknya sekarang?"Freya bermonolog sendiri. Sebagai seorang Ibu dan orang tua baru, ia merasa tidak tega setiap kali mengingat anak Pak Bernad diculik. Ia tahu bagaimana perasaan orang tuanya sekarang, pasti hancur.Menelan ludah, Freya mengedarkan pandangan ke seluruh ruang dapur. Pagi ini Zhue dan pelayan lain sedang membersihkan kamar Dante, sementara Bibi Ziang ada di kamar utama bersama Diego dan bayinya.Dalam keheningan di dapur, tiba-tiba saja pikiran liar melintas di benak
"Zhue, apa yang terjadi? Aku harus tahu, karena aku juga bagian dari Paman Diego. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada suami dan keluargaku. Tolong katakan, Zhue!" desak Freya dengan suara gemetar menahan cemas.Tidak mungkin kan gadis di depannya terlihat tegang kalau tidak ada yang terjadi? Insting tajam Freya tidak pernah sekalipun meleset.Zhue menggigit bibirnya. Tatapan tajam Freya yang menuntut penjelasan membuat pertahanannya runtuh seketika."Katakan!" Freya meninggikan suaranya."Kak, kamu harus berjanji jangan katakan pada siapapun kalau Kakak tahu ini dariku," bisik Zhue sambil memegang erat kedua tangan Freya, menatap cemas.Freya mengerutkan kening, mengangguk cepat. "Iya, aku janji! Sekarang katakan ada apa, Zhue!"Zhue menarik napas panjang, merendahkan suaranya makin dalam. "Tadi aku melihat Pak Bernard diseret anak buah Tuan Diego menuju ruang bawah tanah. Dia ditahan dan disekap di sana."Mata indah Freya membelalak sempurna, mulutnya ternganga. "Pak
"Apa yang sebenarnya terjadi, Tuan?" tanya Bibi Ziang lembut sambil mendorong pelan pintu ruang kerja Diego.Wanita paruh baya itu melangkah masuk, membawa baki berisi segelas cokelat hangat yang asapnya masih mengepul.Melihat kedatangan wanita tua itu lengkap dengan hidangan di tangannya, Diego menghentikan gerakan jemarinya yang tengah mengetuk meja.Pria itu mengusap pelipis perlahan lalu berdecak pelan, berusaha menyembunyikan kehangatan yang mendadak menyusup ke dadanya."Berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil, Bibi," gumam Diego dengan keluhan manja. "Aku bahkan sudah menjadi kepala keluarga, memiliki Istri dan seorang putra."Bibi Ziang tertawa kecil. Dengan telaten, ia meletakkan segelas cokelat hangat itu ke atas meja, disusul sepiring cemilan manis favorit Diego sejak kecil."Sejauh apa pun waktu berjalan dan mengubah Tuan Muda menjadi sosok yang ditakuti banyak orang, Tuan tetaplah anak kecil di mata Bibi. Begitu juga di mata mendiang Ibu Tuan jika beliau masih
"Bawa dia ke ruang bawah tanah!""Baik Tuan!"Deg!Kedua mata Bernard membulat sempurna saat mendengar perintah dingin dan mematikan yang keluar dari mulut Diego Foster. Dan tatapan tajam sang Naga membuat tubuh Bernad bergetar hebat.Setelah mendengar perintah, dua pengawal berbadan tegap yang sejak tadi berdiri di sekitar sofa langsung maju dan mencengkeram kedua lengan Bernard dengan cengkeraman kuat."P-Pak Diego! A-apa yang Anda lakukan?" teriak Bernard panik. "K-kenapa ini?"Wajahnya seketika pucat pasi bagai mayat, jantungnya berdegup kencang dengan napas yang tertahan mendadak di tenggorokan.Tanpa mengucap sepatah kata pun, Diego bangkit berdiri dari sofa. Pria itu memutar tubuh santai, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang tamu tanpa melirik sedikit pun."Pak Diego!" jerit Bernard histeris saat tubuhnya ditarik paksa menyeret lantai. "Pak Diego, kenapa saya diperlakukan seperti ini? Saya tidak bersalah, Pak! Saya memberikan laporan yang benar tentang keuangan perusaha
"Tuan, Pak Bernard ada di luar gerbang mansion. Dia mengatakan ingin menemui Anda," lapor Yenzing yang baru saja mendapat informasi melalui radio panggil dari Yoss.Diego mengangkat satu tangannya, melihat jam yang melingkar. Sudah pukul sebelas malam, ada urusan segenting apa hingga membuat Bernad datang semalam ini?"Bernad?" Diego mengangkat satu alis tebalnya."Benar Tuan," jawab Yenzing. "Bagaimana Tuan?" tanyanya menunggu intruksi dari Diego."Suruh dia masuk," titah Diego tanpa mengalihkan pandangan."Baik, Tuan." Yenzing memutar tubuh dan melangkah cepat ke luar dari ruang kerja Diego.Setibanya di halaman depan, Yenzing memerintah Ray untuk membukakan pintu gerbang utama dan mengizinkan mobil Bernard masuk.Ray melaksanakan perintah itu. Namun, setelah mobil sedan hitam Bernard melaju perlahan memasuki halaman mansion, Ray sengaja memalingkan wajah, berusaha menghindari kontak mata dengan Bernard.Hingga saat ini, Ray belum menemukan celah sedikit pun untuk membawa bayi D
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat







