Masuk30Bunyi benturan keras terdengar dari luar bangunan. Reksa terkejut dan spontan menjauh dari Lova yang tengah menangis. Pintu terbuka dan seorang pria masuk sambil memasang raut wajah tegang."Sa, gawat! Ada polisi di luar!" seru Dodi, teman Reksa."Polisi? Kenapa mereka bisa ada di sini?" tanya Reksa sembari berdiri dan bergegas mengenakan pakaiannya. "Enggak tahu gue," balas Dodi. Dia melirik Lova yang masih terisak-isak. "Tinggalin aja dia. Repot bawanya," lanjutnya. Reksa tidak menyahut, karena sedang sibuk memasang sabuk. Dia merunduk guna menyambar sepatu, lalu memandangi Lova. "Jangan sebutkan namaku. Kalau nggak, kamu akan kubunuh!" ancamnya. Reksa menarik koper di belakang pintu dan lari keluar menyusul Dodi. Lova mengerjapkan matanya yang berair, sebelum berusaha menarik tangannya, tetapi gagal.Bunyi pintu didobrak dan suara bentakan seorang pria, mengagetkan Lova. Dia mengumpulkan tenaga dan berteriak semampunya, supaya orang-orang itu bisa mengetahui keberadaannya. S
29Renida berulang kali menelepon Lova, tetapi tidak tersambung. Renida makin cemas kala waktu sudah menunjukkan jam sebelas lewat, sedangkan Lova belum juga pulang.Renida jalan mondar-mandir sepanjang unit apartemen yang disewakan GUNZ buat dirinya dan Lova. Renida akhirnya tidak kuasa lagi menunggu, dan bergegas keluar unit, guna menuju pintu ujung kanan di lorong itu.Renida memencet bel tiga kali. Dia bergumam tidak jelas, sebelum berhenti, sesaat setelah pintu terbuka dan Zalman muncul dengan rambut acak-acakan. "Bang, sorry ganggu, tapi ini urgent banget," tutur Renida."Ada apa, Ren?" tanya Zalman."Kak Lova, tadi dijemput temannya, sekitar jam 7. Tapi sampai sekarang dia belum pulang," terang Renida."Sudah coba ditelepon?" "Sudah puluhan kali dan nggak tersambung." "Man, saha' eta?" tanya Zikria yang keluar dari kamar utama."Renida, Bang. Katanya, Kak Lova nggak balik-balik," papar Zalman yang mengagetkan abangnya."Masuk, Ren," ajak Zikria sembari duduk di kursi. "Lova
28Hari berganti. Udara tepi Kota Brisbane yang masih panas, membuat Lova kegerahan, meskipun mesin penyejuk udara di ruang kerjanya telah dipasang sedingin mungkin. Kian meningkatnya jam, Lova akhirnya menyerah. Dia membuka blazer krem dan hanya mengenakan blouse tanpa lengan. Lova berdiri dan jalan ke toilet guna mengambil wudu, kemudian dia berpindah ke sudut kanan ruangan dan menghamparkan sajadah.Sekian menit berikutnya, beberapa karyawan di lobi, mendengar bunyi mesin mobil berhenti di depan kantor. Lova yang tengah mengaji sambil memakai headset, tidak mendengar suara percakapan orang-orang di luar.Pintu ruang kerja terbuka dan Renida memasuki ruangan tanpa menutup pintu. Dia berjongkok di samping kanan Lova dan memgangi pundak sang bos, yang seketika berhenti mengaji."Kak, ada Bang Zik datang," ucap Renida."Apa?" Lova melepaskan headsetnya. "Ada Bang Zik," ulang Renida yang mengagetkan bosnya."Assalamualaikum," sapa seseorang dari depan pintu. "Waalaikumsalam," jawab k
27Wirya membaca proposal yang diajukan ketiga juniornya, dengan teliti. Hal serupa juga dilakukan Alvaro, Yoga, dan Zulfi, yang turut berada di ruang rapat kantor GUNZ, di lantai 4 gedung PBK. Wirya menahan diri untuk tidak tersenyum, seusai membayangkan kegiatan yang diajukan dalam proposal di tangannya. Wirya merasa bangga dengan kesigapan ketiga adiknya, yang telah menyerap ilmunya dan Power Rangers lainnya secara maksimal.Wirya meletakkan berkas ke meja. Dia tidak mengatakan apa pun dan hanya menunggu ketiga sahabatnya usai membaca. Wirya memandangi para junior yang terlihat tegang di kursi seberang. "Ini, rencananya kapan mau dilaksanakan?" tanya Alvaro sembari menaruh berkas di meja. "Antara Agustus dan September, Bang," jawab Yusuf."Perkiraan dana segini, cukup?" desak Zulfi."Itu baru perkiraan, Bang. Tapi aku ngarepnya, cukup," terang Jauhari. "Apa sudah ditentukan siapa pengajar dan pelatihnya?" sela Yoga."Pelaksanaannya beda dengan diklat sebelumnya. Akan lebih bany
26Sepasang manusia duduk berdampingan di kursi teras belakang rumah ber-cat abu-abu. Sementara di ruang tengah, empat pria lainnya sedang bermain kartu remi, sembari sekali-sekali berteriak.Keempat ajudan itu ditugaskan Aditya untuk mengawal Zikria dan Asmiratih, demi menjaga nama baik keduanya yang belum resmi menikah. Kenji dan Rishian adalah Adik sepupu Zikria dari sebelah ayahnya. Sedangkan Mahesa dan Herjuno merupakan sepupu Asmiratih, yang juga berasal dari pihak Ayah. "Bang, pulangnya jangan lama-lama. Awal Maret, Abang sudah dinas lagi ke China. Aku kerepotan ngurus detail married," ucap Asmiratih. "Iya. Ke Australia, paling lama 2 minggu. Di China yang mungkin agak lama," jawab Zikria. "Minta tolong siapa, gitu. Biar urusan di China bisa dialihkan." "Ke siapa? Ardi lagi stres berat. Deswin, sibuk ngamen di Eropa. Kimora, lagi bawa drumband perut. Fikri, gantiin tugasku di Australia." "Kenapa nggak Bang Dedi aja yang ke Sydney?" "Dia lagi repot, ibunya bolak-balik mas
25Jalinan waktu terus bertukar. Minggu berganti dengan kecepatan maksimal, hingga bulan pun terlewati. Curah hujan yang kian tinggi, menjadikan panitia pernikahan Gwenyth dan Bazil merasa was-was. Begitu pula dengan kedua calon pengantin tersebut.Pada minggu sebelumnya, resepsi Andara dan Zheung To Mu berlangsung lancar. Meskipun diwarnai hujan pada malam harinya, tetapi tidak mengganggu jalannya pesta, karena acaranya telah usai sebelum magrib.Malam terakhir sebelum akad, Gwenyth menjalani berbagai ritual ala Tionghoa. Gadis berkulit putih itu tidak kuasa menahan tangis, ketika rambutnya disisiri kedua orang tuanya secara bergantian. Tarissa yang membacakan petuah dalam bahasa Mandarin, turut terisak-isak, karena dalamnya makna pada kalimat panjang itu. Selain Tarissa, hampir semua orang di ruang tengah kediaman Wirya, juga ikut terharu. Satu demi satu rangkaian adat dilaksanakan hingga tuntas. Gwenyth menghela napas lega, karena sudah menyelesaikan semua acara sebelum walimahan
06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di
04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita d
03"Dek, jangan begini," pinta Zikria. Asmiratih tidak menyahut, melainkan berpindah ke depan dan kembali mendekap Zikria yang badannya makin tegang. Isakan Asmiratih menjadikan hati Zikria mencelos. Pria itu berdebat dalam hati, sebelum mengangkat kedua tangannya dan balas mendekap gadis yang mas
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T







