Partager

Bab 8

Auteur: Anonima
"Aku …."

Regina mendadak kelu, tidak mampu berkata-kata.

Dia tidak tahu dari mana Rafael mendengar kabar itu. Regina juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskan alasannya menyembunyikan keberadaan anak tersebut dari Rafael.

Rafael mencengkeram tangan kanan Regina yang terluka. Regina mengerutkan bahunya menahan sakit.

Dengan suara terisak, dia berkata, "Kamu dan Sherly sudah punya anak. Apa kamu masih akan peduli dengan anak yang ada di perutku ini?"

"Kalau dia lahir, bagaimana aku harus menjelaskan kepadanya kalau ayahnya punya istri lain, juga punya anak lain."

"Bicara apa kamu?"

Rafael membentak keras, "Kamu jelas tahu betapa aku mendambakan anak kandungku sendiri. Kamu hamil, tapi menolak memberitahuku, itu karena kamu merasa bersalah! Anak ini bukan anakku, kan?"

Di samping mereka, Sherly mulai menghasut dengan nada yang seolah-olah membujuk.

"Kak Regina, saat aku pergi ke bagian kebidanan untuk pemeriksaan, aku nggak sengaja melihat laporan medismu. Kehamilanmu harusnya terjadi dalam dua bulan terakhir ini. Tapi, selama dua bulan ini, Kak Rafael selalu bersamaku."

"Apa mungkin waktu mabuk, kamu nggak sengaja berhubungan dengan orang lain? Katakan saja, Kak Rafael pasti akan memaafkanmu."

Malam itu memang ada yang mabuk, tetapi bukan Regina, melainkan Rafael.

Saat itu, dalam keadaan mabuk, Rafael mengira jika Regina adalah Sherly.

Regina masih ingat betul bagaimana ciuman Rafael yang beraroma alkohol mendarat di lehernya, sementara mulutnya terus menggumamkan nama Sherly.

Kira-kira sejak saat itulah, Regina menyadari jika hati Rafael tidak akan pernah bisa kembali seperti dahulu lagi.

Bahkan, setelah mengandung, Regina juga tidak pernah terpikir untuk mempertahankannya.

Regina menahan air matanya dan menatap Rafael, lalu berkata dengan tenang, "Itu anakmu. Malam itu setelah kamu mabuk, sopir mengantarmu kembali ke vila dan kamu bersamaku."

Akan tetapi, Rafael sama sekali tidak mau percaya.

"Tapi, keesokan paginya aku nggak melihatmu."

Regina membela diri. "Itu karena keesokan paginya ada tamu yang memesan masakan Negara Anora buatanku. Jadi, aku sudah pergi ke hotel sejak pagi buta."

Sherly menghela napas panjang, begitu halus hingga nyaris tidak terdengar.

"Bagaimana bisa begitu kebetulan? Di dapur belakang ada begitu banyak laki-laki. Pasti mereka yang sudah merundungmu, 'kan?"

"Kak Regina, katakan yang sejujurnya. Kak Rafael pasti akan membantumu menuntut keadilan."

Tiap kali Sherly mengucapkan satu kalimat, kemarahan Rafael bertambah dua kali lipat.

Hingga akhirnya, rasa cemburu dan amarah benar-benar membutakan akal sehat Rafael.

"Karena ini bukan anakku, maka gugurkan saja."

Rafael mencengkeram tangan Regina, lalu menyeretnya hingga ke ruang bersalin.

Regina memukul Rafael sekuat tenaga, tetapi tidak berdaya untuk melepaskan diri.

Regina memang sempat ingin menggugurkan anak ini. Namun, tidak pernah sekalipun dia membayangkan hal itu akan dilakukan melalui paksaan dari ayah anak itu sendiri.

Dia tidak melakukan kesalahan apa pun, lantas mengapa dia harus menanggung nama buruk seperti ini?

"Rafael, ini anakmu! Kamu akan menyesal!"

Rafael tidak memedulikan kata-kata itu. Dia memerintahkan orang untuk mengikat Regina di atas meja operasi. Suaranya saat membujuk Regina untuk menggugurkan kandungan terdengar bagaikan bisikan iblis.

"Regina, jadilah anak penurut. Karena kamu bisa hamil sekarang, itu artinya kamu masih bisa melahirkan lagi nanti. Gugurkan anak ini. Ke depannya, kita akan punya anak kita sendiri."

Tidak, dia dan Rafael tidak akan pernah memiliki anak lagi ….

Saat kembali terbangun, perut bagian bawah Regina terasa begitu sakit.

Rafael yang berada tidak jauh darinya itu tampaknya belum menyadari jika pengaruh obat bius Regina sudah hilang, sehingga dia berbicara di telepon dengan temannya tanpa rasa sungkan sedikit pun.

"Kak Rafael, kamu benar-benar menyuruh Regina menggugurkan anak itu? Anak itu sebenarnya anakmu atau bukan?"

Nada bicara Rafael terdengar acuh tak acuh.

"Entahlah. Tapi karena nggak ada jaminan seratus persen kalau itu anakku, lebih baik nggak ada saja. Lagian, masih ada anak dari Sherly."

"Selain itu, kalau Regina bisa hamil yang pertama, dia pasti bisa hamil untuk kedua kalinya."

Regina berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam, merasa sekujur punggungnya mendadak dingin karena ngeri.

"Benar juga."

Orang di ujung telepon itu tertawa terbahak-bahak, "Selamat Kak Rafael, akhirnya kamu bisa menikmati kebahagiaan memiliki dua wanita sekaligus."

Rafael terkekeh pelan, nada bicaranya menyiratkan rasa puas.

"Aku berencana membawa Sherly ke Daerah Rabel untuk menjaga kandungannya. Di sana sinar mataharinya hangat, anak itu pasti akan menyukainya."

"Sedangkan untuk Regina, biarkan saja dia di sini untuk beristirahat dengan tenang."

Di tengah ucapan selamat dari sahabatnya, Rafael menutup teleponnya.

Regina yang berbaring di tempat tidur sambil memejamkan mata, mendengar suara sepatu kulit berhenti di samping ranjangnya.

Tangannya yang tersembunyi di balik selimut tanpa sadar mencengkeram kuat, sementara dia berusaha mengatur napasnya sepelan mungkin.

Tampaknya karena melihat Regina tidak memberikan reaksi apa pun, Rafael merasa bosan dan berbalik untuk melangkah keluar dari ruang perawatan.

Begitu suara langkah sepatu kulit Rafael perlahan menjauh, air mata Regina akhirnya mengalir dari sudut matanya dan membasahi rambut di pelipisnya.

Jika suatu hari nanti Rafael menyadari bahwa yang dia bunuh adalah darah dagingnya sendiri, apakah dia akan menyesal?

Regina tidak tahu pasti, karena bagaimanapun, dia sudah tidak lagi mengenali sosok Rafael yang sekarang sudah berubah total itu.

Keesokan harinya, dua pasien di rumah sakit itu mengurus prosedur kepulangan mereka secara bergantian.

Pagi itu, pasien terhormat di kamar VIP lantai teratas berangkat ke Daerah Rabel menggunakan pesawat jet pribadi.

Sore harinya, Regina membungkus dirinya rapat-rapat dengan jaket tebal dan pergi ke bandara.

Di atas kepala, sebuah pesawat meninggalkan jejak putih yang indah di langit.

Seorang teman mengiriminya sebuah tangkapan layar. Itu adalah unggahan di media sosial milik Sherly.

Di dalam foto itu, jemari panjang seorang pria menggenggam tangan kecil seorang wanita, meninggalkan dua bekas cetakan tangan, satu besar dan satu kecil, di atas hamparan pasir pantai.

Keterangan fotonya berbunyi: [Menanti kehadiranmu.]

Regina mematikan ponselnya, lalu langsung membuangnya ke tempat sampah.

Dia membungkus dirinya rapat-rapat dengan selimut, sementara awak kabin dengan hati-hati mendorong kursi rodanya untuk naik ke pesawat.

Hilangnya sebuah nyawa akan disertai dengan awal dari kehidupan yang lain.

Regina tahu, dia akan menyambut kelahirannya kembali.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 21

    Sekembalinya ke tanah air, Rafael tidak menjalani kehidupan yang tenang, seperti yang dibayangkan Bu Linda.Demi menyelamatkan dirinya dan ibunya saat itu, sebagian besar aset keluarga sudah dijual. Bahkan, vila tempat Rafael tinggal bersama Regina juga ikut dilelang.Akibatnya, Rafael terpaksa pindah ke sebuah apartemen kecil bersama ibunya.Pemegang saham hotel lainnya yang mengetahui jika Rafael sedang mengalami kesulitan arus kas, mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka sengaja membeli saham miliknya dengan harga rendah dan mengucilkannya dari jajaran manajemen.Tanpa kehadiran Regina yang memegang kendali, para koki utama di hotel tersebut mulai berkhianat. Perintah yang dikeluarkan Rafael juga sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan kertas tanpa arti.Kehidupan dan pekerjaan benar-benar membuat Rafael kewalahan.Rafael menjadi pemarah, menderita insomnia, bahkan mulai kecanduan alkohol.Bu Linda sama sekali tidak bisa membantu. Setiap hari, yang dia lakukan hanyal

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 20

    Seminggu kemudian, Bu Linda menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mencapai negara tersebut. Dengan bantuan pengacara, Bu Linda akhirnya berhasil menemui putranya yang kini tampak berjanggut dan kurus kering hingga pipinya cekung itu.Setelah memahami duduk perkaranya, Bu Linda pun mengamuk di kantor polisi."Regina itu benar-benar pembawa sial! Bertahun-tahun dia nggak bisa memberimu anak laki-laki, malah membuatmu berurusan dengan perempuan jalang seperti Sherly! Dasar wanita mandul, beraninya sekarang dia pilih-pilih padamu. Benar-benar nggak tahu diri!"Rafael membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Matanya dipenuhi penyesalan dan duka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain."Bu, berhentilah bicara."Bu Linda dan pengacara sibuk berdiskusi sendiri, seakan tidak mendengar perkataan putranya."Pak Pengacara, kalau kita minta Regina mengeluarkan surat pernyataan pengampunan untuk Rafael, apa dia bisa bebas dari masalah ini?"Pengacara itu mengangguk. "Itu juga tergantung

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 19

    "Sherly memang bodoh, dungu dan gila hormat. Tapi, kalau kamu nggak membiarkannya, apa mungkin dia bisa menyakitiku berkali-kali?""Sosok yang aku benci selama ini bukanlah dia, melainkan dirimu.""Kamu sendiri yang mengubur hubungan kita selama delapan tahun. Kamu bahkan begitu mudah memercayai orang lain hingga mengirim anak tunggal kita ke liang lahat."Regina tidak sanggup membiarkan dirinya dan anaknya menanggung noda kehinaan seperti itu. Dia juga tidak bisa memaafkan Rafael."Kamu membenciku?"Rafael berdiri mematung di tempatnya, merasa linglung dan kehilangan arah.Menyadari emosi Regina yang makin meluap, Dylan pun dengan tenang mengusap punggung Regina dengan lembut.Regina tampak seperti baru tersadar, lalu merendahkan suaranya, "Lama-kelamaan, tiap kali memikirkanmu, aku merasa mual, sampai-sampai aku merasa terlalu malas untuk kembali membencimu."Kata-kata Regina bagaikan anak panah tajam yang terus-menerus menghujam jantung Rafael."Regina, jangan seperti ini. Aku tahu

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 18

    Pria muda itu sangatlah peka. Tak lama kemudian, dia menyadari keberadaan Rafael.Dylan pun menarik kembali pandangannya, lalu berkata dengan lembut, "Ada toko teh susu lokal yang baru buka di sebelah. Kamu mau? Biar aku belikan untukmu."Regina yang sedang asyik menyantap daging panggang, mengangguk dengan gembira."Boleh, aku mau taro boba."Dylan tersenyum sambil bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia tak lupa mengacak pelan rambut Regina yang halus dengan penuh kasih sayang.Setelah keluar, Dylan terlihat seperti tidak sengaja berjalan melewati Rafael."Mari bicara di sana."Rafael sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Regina. Namun, melihat gadis itu sedang makan dengan lahap, dia pun akhirnya tidak tega untuk mengganggu Regina.Kedua pria itu berdiri diam di sudut jalan.Rafael lalu bertanya dengan suara rendah, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Dylan mengedikkan bahu. "Kamu pernah menemani Bu Sherly untuk periksa di rumah sakit. Waktu itu, aku adalah dokter

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 17

    Setelah menerima dua tamparan dari Bu Linda, Sherly akhirnya kembali ke sikapnya yang penurut seperti sebelumnya.Tepat di saat Sherly mengira sikap mengalahnya akan membawanya ke kehidupan tenang yang sudah lama dia nantikan, telepon dari asisten Rafael menghancurkan harapan terakhir Sherly tersebut."Pak Rafael, kami sudah menemukan keberadaan Nyonya."Asisten itu mengirimkan sebuah artikel ulasan kuliner kepada Rafael, yang ditulis atas nama Regina."Artikel ini mengulas sebuah restoran di Kota Zoram. Nyonya harusnya sekarang berada di Negara Solano."Hati Rafael diliputi secercah rasa sukacita yang sudah lama tidak dia rasakan."Pesan tiket pesawat, aku akan segera pergi ke Negara Solano."Dia berutang permintaan maaf pada Regina, juga berutang seluruh sisa hidupnya kepada wanita itu.Saat Rafael hendak melangkah keluar sambil membawa kopernya, dia melihat ibunya masuk dengan penuh amarah."Sherly, keluar kamu sekarang!"Rafael memijat pangkal hidungnya karena sakit kepala."Ibu, a

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 16

    Bu Linda merasa Regina sejak awal memang tidak cocok dengan putranya.Regina sudah bertahun-tahun berada di sisi Rafael, tetapi tetap tidak bisa melahirkan anak, hingga memaksa putranya untuk mencari wanita dari keluarga biasa untuk mengandung anaknya.Sekarang, Regina sudah pergi begitu saja dan Rafael sudah memiliki seorang putra. Wanita dari keluarga terpandang mana yang mau menikah dengan pria seperti itu?Setelah dipikir-pikir, daripada mencari orang lain, lebih baik membiarkan Regina kembali untuk menjadi ibu tiri bagi anak tersebut. Setidaknya, karena dia sendiri tidak bisa melahirkan, Regina hanya perlu mengurus anak yang ada di depan matanya itu.Namun, Bu Linda tidak menyangka jika semua perkataannya itu terdengar jelas oleh Sherly yang kebetulan mengikuti hingga ke depan pintu ruang kerja.Sherly dengan penuh amarah menerjang maju untuk merebut kembali anaknya dari Bu Linda."Kalian benar-benar komplotan orang jahat, kembalikan anakku!"Bu Linda memaki-maki dan menyuruh pemb

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status