แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Anonima
Malam itu, setelah pintu ruang perawatan Sherly tertutup, pintu tersebut tidak pernah terbuka lagi.

Rafael tidak kunjung keluar dari sana.

Regina menunggu dari malam hingga dini hari, sampai akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk diam-diam membuka pintu itu sedikit.

Regina melihat Rafael sedang mendekap Sherly dalam pelukannya, menciumnya dalam-dalam, sementara jemarinya menyelinap di antara helaian rambut hitam legam wanita itu.

"Kak Rafael, jangan …. Hati-hati dengan bayinya."

Suara serak Rafael terdengar lirih.

"Sayang, sudah tahu nggak boleh, kamu masih saja menggodaku."

Sherly menundukkan matanya, seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan.

"Kak Rafael, bagaimana kalau Kakak pergi menemui Kak Regina saja? Aku dan bayi ini akan menunggumu kembali ke sini."

Akan tetapi, Rafael seakan sudah ketagihan. Dia mendekap Sherly erat-erat dan enggan melepaskannya.

"Tenang saja, dia selalu kuat dan nggak akan terjadi apa-apa padanya. Aku akan menemuinya nanti. Sekarang, aku cuma ingin bersamamu."

Kata-kata manis itu terasa lebih tajam dibanding serpihan kaca saat kecelakaan, menusuk Regina yang berada di luar pintu hingga hancur tak bersisa.

Pagi harinya, saat Rafael keluar dari ruang perawatan, dia melihat Regina yang duduk di lorong dengan mata kosong.

Pria itu mengerutkan kening. "Kenapa kamu masih ada di sini?"

Regina menengadah dan menatap Rafael. Matanya tampak tenang, tanpa riak emosi sedikit pun.

"Rafael, aku nggak akan lagi menghalangi Sherly untuk melahirkan bayinya. Aku juga nggak akan melarangmu untuk tetap menjaganya di sisimu. Aku cuma punya satu permintaan, tolong carikan dokter terbaik untukku, sembuhkan tangan dan indra perasaku."

Rafael sudah terbiasa dengan Regina yang setiap beberapa hari sekali selalu meributkan Sherly dan bayi dalam kandungannya.

Melihat Regina yang tiba-tiba berkompromi sampai sejauh ini, rasa puas yang aneh muncul di dadanya dan suasana hati Rafael pun langsung membaik.

Benar saja, pada akhirnya Regina hanyalah seorang wanita. Saat menghadapi masalah, Regina hanya bisa merendah dan datang memohon padanya.

Wanita itu tidak bisa hidup tanpanya dan Regina juga bukan orang yang mampu melakukan segalanya.

"Baiklah, kalau begitu kamu urus dia baik-baik. Aku akan membantumu mencarikan dokter."

Perawat di ruang perawatan Sherly diusir dan Regina pun menjadi pelayan pribadi Sherly.

Regina tidak membantah sepatah kata pun mengenai hal ini.

Selama tangan dan indra perasanya bisa sembuh, dia tidak peduli dengan penghinaan kecil di depan matanya ini.

Sementara itu, Sherly tampak merasa sangat bersalah.

"Kak Regina, Kak Rafael cuma terlalu mencemaskan bayi dalam kandunganku. Dia nggak percaya pada orang lain, makanya dia meminta kamu sendiri yang menjagaku. Kamu jangan sampai tersinggung, ya …. Oh iya, bisakah kamu membantuku mengambilkan sebaskom air untuk merendam kakiku?"

Tanpa suara, Regina pergi mengambilkan sebaskom air untuk Sherly.

Tengah malam, saat Regina hampir tertidur di kursi, dia dibangunkan oleh Sherly.

"Kak Regina, perutku agak lapar. Bayinya pasti ingin makan sesuatu. Makanan di rumah sakit nggak enak. Pulanglah dan buatkan makanan untukku."

Regina pun terpaksa pulang untuk memasak.

Saat Regina selesai memasak dan kembali ke rumah sakit, Rafael menatapnya dengan ekspresi kesal.

"Bukankah aku sudah menyuruhmu tetap di sini untuk menjaga Sherly? Kenapa kamu malah pergi? Jangan lupa, kamulah yang memohon padaku untuk mencarikan dokter."

Dengan tidak berdaya, Regina menggoyangkan termos di tangannya.

"Dia ingin makan. Aku terpaksa pulang memasakkan makanan untuknya."

Rafael sama sekali tidak menerima alasan itu.

"Dulu, kamu memasak sangat cepat. Kenapa kali ini lama sekali?"

"Berhentilah menyudutkannya, mengerti? Jangan lupa, kamulah yang memohon padaku untuk mencarikan dokter."

Pria itu seakan sudah lama melupakan luka di tangan Regina. Dia merebut termos dari tangan Regina dan melangkah masuk ke ruang perawatan dengan wajah masam.

Regina merasa sangat lelah. Dia terpaksa pergi ke toilet di lorong untuk sekadar membasuh wajahnya dengan air. Namun, setelah keluar, dia justru mendengar suara tawa ejekan dari para perawat.

"Kalian sudah dengar belum? Bu Regina yang sibuk ke sana kemari menyiapkan teh, mengambilkan air dan memasak sup ini, ternyata adalah kekasih resmi Pak Rafael."

"Apa? Jadi yang terbaring di dalam kamar dengan perut besar itu selingkuhannya?"

"Kurang lebih begitu. Menyuruh kekasih resmi menjaga selingkuhan, benar-benar kejadian langka."

"Halah, orangnya sendiri saja mau, apa gunanya orang lain berkomentar? Menjadi 'istri sah', tapi sampai begini, benar-benar memalukan."

Baru saja keluar dari toilet, saat Regina hendak turun kembali ke ruang perawatannya sendiri, pintu kamar Sherly tiba-tiba didorong terbuka dengan keras.

"Regina, cepat masuk ke sini!"

Regina terlonjak kaget.

Dia tidak tahu kesalahan apa yang sudah dilakukannya, sehingga dia hanya bisa menelan ludah dan melangkah masuk dengan perlahan.

Baru saja menginjakkan kaki di dalam ruang perawatan, Regina langsung ditarik paksa oleh Rafael.

Regina teringat akan tamparan Rafael yang pernah mendarat di wajahnya, sehingga secara refleks dia mengangkat tangan untuk melindungi wajahnya sendiri.

Rafael tampak tertegun sejenak. Kilatan rasa iba yang muncul di matanya dalam sekejap seakan hanyalah ilusi Regina belaka.

Pintu kamar terbanting keras di belakang Regina. Tatapan mata Rafael yang mengarah kepadanya begitu dingin dan mengerikan, seolah pria itu hendak menerkamnya pada detik berikutnya.

"Kamu hamil? Anak haram siapa itu?"

Mata Regina langsung terbelalak. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 21

    Sekembalinya ke tanah air, Rafael tidak menjalani kehidupan yang tenang, seperti yang dibayangkan Bu Linda.Demi menyelamatkan dirinya dan ibunya saat itu, sebagian besar aset keluarga sudah dijual. Bahkan, vila tempat Rafael tinggal bersama Regina juga ikut dilelang.Akibatnya, Rafael terpaksa pindah ke sebuah apartemen kecil bersama ibunya.Pemegang saham hotel lainnya yang mengetahui jika Rafael sedang mengalami kesulitan arus kas, mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka sengaja membeli saham miliknya dengan harga rendah dan mengucilkannya dari jajaran manajemen.Tanpa kehadiran Regina yang memegang kendali, para koki utama di hotel tersebut mulai berkhianat. Perintah yang dikeluarkan Rafael juga sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan kertas tanpa arti.Kehidupan dan pekerjaan benar-benar membuat Rafael kewalahan.Rafael menjadi pemarah, menderita insomnia, bahkan mulai kecanduan alkohol.Bu Linda sama sekali tidak bisa membantu. Setiap hari, yang dia lakukan hanyal

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 20

    Seminggu kemudian, Bu Linda menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mencapai negara tersebut. Dengan bantuan pengacara, Bu Linda akhirnya berhasil menemui putranya yang kini tampak berjanggut dan kurus kering hingga pipinya cekung itu.Setelah memahami duduk perkaranya, Bu Linda pun mengamuk di kantor polisi."Regina itu benar-benar pembawa sial! Bertahun-tahun dia nggak bisa memberimu anak laki-laki, malah membuatmu berurusan dengan perempuan jalang seperti Sherly! Dasar wanita mandul, beraninya sekarang dia pilih-pilih padamu. Benar-benar nggak tahu diri!"Rafael membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Matanya dipenuhi penyesalan dan duka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain."Bu, berhentilah bicara."Bu Linda dan pengacara sibuk berdiskusi sendiri, seakan tidak mendengar perkataan putranya."Pak Pengacara, kalau kita minta Regina mengeluarkan surat pernyataan pengampunan untuk Rafael, apa dia bisa bebas dari masalah ini?"Pengacara itu mengangguk. "Itu juga tergantung

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 19

    "Sherly memang bodoh, dungu dan gila hormat. Tapi, kalau kamu nggak membiarkannya, apa mungkin dia bisa menyakitiku berkali-kali?""Sosok yang aku benci selama ini bukanlah dia, melainkan dirimu.""Kamu sendiri yang mengubur hubungan kita selama delapan tahun. Kamu bahkan begitu mudah memercayai orang lain hingga mengirim anak tunggal kita ke liang lahat."Regina tidak sanggup membiarkan dirinya dan anaknya menanggung noda kehinaan seperti itu. Dia juga tidak bisa memaafkan Rafael."Kamu membenciku?"Rafael berdiri mematung di tempatnya, merasa linglung dan kehilangan arah.Menyadari emosi Regina yang makin meluap, Dylan pun dengan tenang mengusap punggung Regina dengan lembut.Regina tampak seperti baru tersadar, lalu merendahkan suaranya, "Lama-kelamaan, tiap kali memikirkanmu, aku merasa mual, sampai-sampai aku merasa terlalu malas untuk kembali membencimu."Kata-kata Regina bagaikan anak panah tajam yang terus-menerus menghujam jantung Rafael."Regina, jangan seperti ini. Aku tahu

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 18

    Pria muda itu sangatlah peka. Tak lama kemudian, dia menyadari keberadaan Rafael.Dylan pun menarik kembali pandangannya, lalu berkata dengan lembut, "Ada toko teh susu lokal yang baru buka di sebelah. Kamu mau? Biar aku belikan untukmu."Regina yang sedang asyik menyantap daging panggang, mengangguk dengan gembira."Boleh, aku mau taro boba."Dylan tersenyum sambil bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia tak lupa mengacak pelan rambut Regina yang halus dengan penuh kasih sayang.Setelah keluar, Dylan terlihat seperti tidak sengaja berjalan melewati Rafael."Mari bicara di sana."Rafael sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Regina. Namun, melihat gadis itu sedang makan dengan lahap, dia pun akhirnya tidak tega untuk mengganggu Regina.Kedua pria itu berdiri diam di sudut jalan.Rafael lalu bertanya dengan suara rendah, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Dylan mengedikkan bahu. "Kamu pernah menemani Bu Sherly untuk periksa di rumah sakit. Waktu itu, aku adalah dokter

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 17

    Setelah menerima dua tamparan dari Bu Linda, Sherly akhirnya kembali ke sikapnya yang penurut seperti sebelumnya.Tepat di saat Sherly mengira sikap mengalahnya akan membawanya ke kehidupan tenang yang sudah lama dia nantikan, telepon dari asisten Rafael menghancurkan harapan terakhir Sherly tersebut."Pak Rafael, kami sudah menemukan keberadaan Nyonya."Asisten itu mengirimkan sebuah artikel ulasan kuliner kepada Rafael, yang ditulis atas nama Regina."Artikel ini mengulas sebuah restoran di Kota Zoram. Nyonya harusnya sekarang berada di Negara Solano."Hati Rafael diliputi secercah rasa sukacita yang sudah lama tidak dia rasakan."Pesan tiket pesawat, aku akan segera pergi ke Negara Solano."Dia berutang permintaan maaf pada Regina, juga berutang seluruh sisa hidupnya kepada wanita itu.Saat Rafael hendak melangkah keluar sambil membawa kopernya, dia melihat ibunya masuk dengan penuh amarah."Sherly, keluar kamu sekarang!"Rafael memijat pangkal hidungnya karena sakit kepala."Ibu, a

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 16

    Bu Linda merasa Regina sejak awal memang tidak cocok dengan putranya.Regina sudah bertahun-tahun berada di sisi Rafael, tetapi tetap tidak bisa melahirkan anak, hingga memaksa putranya untuk mencari wanita dari keluarga biasa untuk mengandung anaknya.Sekarang, Regina sudah pergi begitu saja dan Rafael sudah memiliki seorang putra. Wanita dari keluarga terpandang mana yang mau menikah dengan pria seperti itu?Setelah dipikir-pikir, daripada mencari orang lain, lebih baik membiarkan Regina kembali untuk menjadi ibu tiri bagi anak tersebut. Setidaknya, karena dia sendiri tidak bisa melahirkan, Regina hanya perlu mengurus anak yang ada di depan matanya itu.Namun, Bu Linda tidak menyangka jika semua perkataannya itu terdengar jelas oleh Sherly yang kebetulan mengikuti hingga ke depan pintu ruang kerja.Sherly dengan penuh amarah menerjang maju untuk merebut kembali anaknya dari Bu Linda."Kalian benar-benar komplotan orang jahat, kembalikan anakku!"Bu Linda memaki-maki dan menyuruh pemb

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status