Partager

Bab 5

Auteur: Anonima
"Sherly sudah bilang kalau dia takut gonggongan anjing. Bukankah sudah benar kalau Ibu membawa anjing itu pergi?"

"Cuma seekor anjing, apa mungkin bisa lebih penting dibanding anak dalam kandungannya? Bisa nggak kamu bersikap lebih dewasa sedikit?"

Tamparan itu membuat kepala Regina berdengung hebat.

Di tengah suara telinganya yang berdenging, Regina tiba-tiba teringat. Dahulu, ketika dia dipersulit Bu Linda, Papin akan menjulurkan lidah kecilnya yang hangat dan menjilat pipinya untuk membuatnya tersenyum.

Regina menutupi wajahnya, merasa linglung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ini pertama kalinya Rafael memukulnya dan itu juga demi wanita lain.

Air mata Sherly membasahi bulu matanya. Dia memegangi perutnya sambil tersengal-sengal, sehingga membuat Rafael merasa begitu iba.

Namun, saat menoleh menatap untuk Regina, pria itu langsung berkata dengan nada bicara yang keras.

"Aku katakan sekali lagi, anak dalam kandungannya itu sangat penting. Kalau kamu nggak bisa melahirkan, harus ada orang lain yang melahirkan untukku."

Saat menuruni tangga, pandangan Regina menjadi kabur karena tertutup air mata. Sementara itu, suara guntur yang memekakkan telinga menggelegar di sekelilingnya.

Rasa perih yang berdenyut di tangannya, membuat Regina kembali tersadar.

Regina pun menyambar jaket dan kunci mobil, bersiap untuk berkendara menuju rumah sakit.

Siapa sangka, di garasi, dia berpapasan dengan Rafael yang sedang menggendong Sherly.

Saat melihat Regina, Rafael sempat terpaku sejenak.

"Mau ke mana kamu?"

Regina menjawab tanpa ekspresi, "Ke rumah sakit."

Tatapan mata Rafael tertuju sejenak pada tangan kanan Regina yang terbalut penuh oleh perban.

"Gara-gara tamparanmu tadi, sepertinya kandungan Sherly agak terganggu. Dia juga harus ke rumah sakit, ikutlah bersama kami."

Menyadari tangannya mungkin tidak akan sanggup menyetir dengan baik, Regina pun duduk terdiam di kursi belakang.

Kursi penumpang depan sudah bukan lagi miliknya. Sementara itu, Sherly yang sedang hamil besar ingin duduk di tempat yang lebih lega.

Akhirnya, kedua wanita itu duduk bersama di kursi belakang.

Vila itu terletak di area pegunungan. Di tengah kabut tipis dan tirai hujan yang tak berujung, Rafael memacu mobilnya dengan begitu cepat.

"Sherly, tahan sebentar lagi ya. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."

Regina memalingkan wajahnya, seakan tidak menyadari semua itu.

Sambil menyetir, Rafael sesekali tetap memperhatikan gerak-gerik Sherly di kursi belakang.

Tepat saat Rafael menolehkan kepala, sebuah mobil sport melaju kencang di tikungan dan datang menyongsong dari arah depan.

Dalam sekejap mata, Rafael membanting setir dengan keras.

Dia menjauhkan Sherly dari bahaya, tetapi membiarkan sisi tempat Regina duduk menghantam keras kendaraan dari arah berlawanan.

Organ dalam tubuh Regina terasa seperti dijungkirbalikkan. Di tengah kekuatan benturan yang luar biasa itu, Regina terlempar keluar melalui jendela mobil yang hancur.

Tempat di mana kecelakaan itu terjadi tampak porak-poranda.

Aroma segar air hujan bercampur dengan bau bensin dan dinginnya logam yang keras.

Dengan tubuh bersimbah darah, Regina tergeletak di permukaan jalan yang dingin di kejauhan. Dia menyaksikan Rafael dan pengemudi mobil dari arah berlawanan itu berusaha sekuat tenaga menarik Sherly keluar dari mobil.

"Pak, aku akan pergi menolong gadis di sebelah sana."

Pengemudi lawan baru saja hendak berlari ke arah Regina, ketika lengannya ditarik oleh Rafael.

"Istriku sedang hamil, selamatkan dia dulu."

Mobil pria itu tidak mengalami kerusakan parah. Mereka berdua pun segera menggendong Sherly masuk ke dalam mobil tersebut dan memacunya dengan kencang menuju rumah sakit.

Air hujan yang dingin jatuh dari langit, menghujam pipi Regina hingga terasa perih.

"Tolong aku …."

Suara minta tolong yang menyerupai bisikan itu pun lenyap bersama embusan angin dan hujan, menyatu dalam kabut pegunungan.

Regina terbaring di tanah tanpa daya, merasakan darah dan kehangatan perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya.

Regina menyesal. Menyesal karena setelah orang tuanya meninggal dunia, dia menjadikan Rafael sebagai satu-satunya tumpuan hidupnya.

Rafael boleh saja tidak lagi mencintainya. Namun, jika cinta sudah sirna, setidaknya seharusnya masih ada rasa kemanusiaan.

Siapa sangka, kasih sayang dan kebersamaan selama bertahun-tahun itu di mata Rafael hanya bagaikan asap yang berlalu begitu saja.

Tepat pada detik sebelum kehilangan kesadarannya, Regina sama sekali tidak bisa mengingat kembali, pada momen yang manakah sebenarnya dia jatuh cinta pada Rafael.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 21

    Sekembalinya ke tanah air, Rafael tidak menjalani kehidupan yang tenang, seperti yang dibayangkan Bu Linda.Demi menyelamatkan dirinya dan ibunya saat itu, sebagian besar aset keluarga sudah dijual. Bahkan, vila tempat Rafael tinggal bersama Regina juga ikut dilelang.Akibatnya, Rafael terpaksa pindah ke sebuah apartemen kecil bersama ibunya.Pemegang saham hotel lainnya yang mengetahui jika Rafael sedang mengalami kesulitan arus kas, mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka sengaja membeli saham miliknya dengan harga rendah dan mengucilkannya dari jajaran manajemen.Tanpa kehadiran Regina yang memegang kendali, para koki utama di hotel tersebut mulai berkhianat. Perintah yang dikeluarkan Rafael juga sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan kertas tanpa arti.Kehidupan dan pekerjaan benar-benar membuat Rafael kewalahan.Rafael menjadi pemarah, menderita insomnia, bahkan mulai kecanduan alkohol.Bu Linda sama sekali tidak bisa membantu. Setiap hari, yang dia lakukan hanyal

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 20

    Seminggu kemudian, Bu Linda menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mencapai negara tersebut. Dengan bantuan pengacara, Bu Linda akhirnya berhasil menemui putranya yang kini tampak berjanggut dan kurus kering hingga pipinya cekung itu.Setelah memahami duduk perkaranya, Bu Linda pun mengamuk di kantor polisi."Regina itu benar-benar pembawa sial! Bertahun-tahun dia nggak bisa memberimu anak laki-laki, malah membuatmu berurusan dengan perempuan jalang seperti Sherly! Dasar wanita mandul, beraninya sekarang dia pilih-pilih padamu. Benar-benar nggak tahu diri!"Rafael membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Matanya dipenuhi penyesalan dan duka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain."Bu, berhentilah bicara."Bu Linda dan pengacara sibuk berdiskusi sendiri, seakan tidak mendengar perkataan putranya."Pak Pengacara, kalau kita minta Regina mengeluarkan surat pernyataan pengampunan untuk Rafael, apa dia bisa bebas dari masalah ini?"Pengacara itu mengangguk. "Itu juga tergantung

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 19

    "Sherly memang bodoh, dungu dan gila hormat. Tapi, kalau kamu nggak membiarkannya, apa mungkin dia bisa menyakitiku berkali-kali?""Sosok yang aku benci selama ini bukanlah dia, melainkan dirimu.""Kamu sendiri yang mengubur hubungan kita selama delapan tahun. Kamu bahkan begitu mudah memercayai orang lain hingga mengirim anak tunggal kita ke liang lahat."Regina tidak sanggup membiarkan dirinya dan anaknya menanggung noda kehinaan seperti itu. Dia juga tidak bisa memaafkan Rafael."Kamu membenciku?"Rafael berdiri mematung di tempatnya, merasa linglung dan kehilangan arah.Menyadari emosi Regina yang makin meluap, Dylan pun dengan tenang mengusap punggung Regina dengan lembut.Regina tampak seperti baru tersadar, lalu merendahkan suaranya, "Lama-kelamaan, tiap kali memikirkanmu, aku merasa mual, sampai-sampai aku merasa terlalu malas untuk kembali membencimu."Kata-kata Regina bagaikan anak panah tajam yang terus-menerus menghujam jantung Rafael."Regina, jangan seperti ini. Aku tahu

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 18

    Pria muda itu sangatlah peka. Tak lama kemudian, dia menyadari keberadaan Rafael.Dylan pun menarik kembali pandangannya, lalu berkata dengan lembut, "Ada toko teh susu lokal yang baru buka di sebelah. Kamu mau? Biar aku belikan untukmu."Regina yang sedang asyik menyantap daging panggang, mengangguk dengan gembira."Boleh, aku mau taro boba."Dylan tersenyum sambil bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia tak lupa mengacak pelan rambut Regina yang halus dengan penuh kasih sayang.Setelah keluar, Dylan terlihat seperti tidak sengaja berjalan melewati Rafael."Mari bicara di sana."Rafael sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Regina. Namun, melihat gadis itu sedang makan dengan lahap, dia pun akhirnya tidak tega untuk mengganggu Regina.Kedua pria itu berdiri diam di sudut jalan.Rafael lalu bertanya dengan suara rendah, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Dylan mengedikkan bahu. "Kamu pernah menemani Bu Sherly untuk periksa di rumah sakit. Waktu itu, aku adalah dokter

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 17

    Setelah menerima dua tamparan dari Bu Linda, Sherly akhirnya kembali ke sikapnya yang penurut seperti sebelumnya.Tepat di saat Sherly mengira sikap mengalahnya akan membawanya ke kehidupan tenang yang sudah lama dia nantikan, telepon dari asisten Rafael menghancurkan harapan terakhir Sherly tersebut."Pak Rafael, kami sudah menemukan keberadaan Nyonya."Asisten itu mengirimkan sebuah artikel ulasan kuliner kepada Rafael, yang ditulis atas nama Regina."Artikel ini mengulas sebuah restoran di Kota Zoram. Nyonya harusnya sekarang berada di Negara Solano."Hati Rafael diliputi secercah rasa sukacita yang sudah lama tidak dia rasakan."Pesan tiket pesawat, aku akan segera pergi ke Negara Solano."Dia berutang permintaan maaf pada Regina, juga berutang seluruh sisa hidupnya kepada wanita itu.Saat Rafael hendak melangkah keluar sambil membawa kopernya, dia melihat ibunya masuk dengan penuh amarah."Sherly, keluar kamu sekarang!"Rafael memijat pangkal hidungnya karena sakit kepala."Ibu, a

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 16

    Bu Linda merasa Regina sejak awal memang tidak cocok dengan putranya.Regina sudah bertahun-tahun berada di sisi Rafael, tetapi tetap tidak bisa melahirkan anak, hingga memaksa putranya untuk mencari wanita dari keluarga biasa untuk mengandung anaknya.Sekarang, Regina sudah pergi begitu saja dan Rafael sudah memiliki seorang putra. Wanita dari keluarga terpandang mana yang mau menikah dengan pria seperti itu?Setelah dipikir-pikir, daripada mencari orang lain, lebih baik membiarkan Regina kembali untuk menjadi ibu tiri bagi anak tersebut. Setidaknya, karena dia sendiri tidak bisa melahirkan, Regina hanya perlu mengurus anak yang ada di depan matanya itu.Namun, Bu Linda tidak menyangka jika semua perkataannya itu terdengar jelas oleh Sherly yang kebetulan mengikuti hingga ke depan pintu ruang kerja.Sherly dengan penuh amarah menerjang maju untuk merebut kembali anaknya dari Bu Linda."Kalian benar-benar komplotan orang jahat, kembalikan anakku!"Bu Linda memaki-maki dan menyuruh pemb

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status