مشاركة

Bab 6

مؤلف: Anonima
Saat kembali terbangun, Regina lagi-lagi melihat dokter unit gawat darurat itu.

"Dokter, bagaimana dengan tanganku?"

Dokter tersebut sedang mengatur infus untuknya. Mendengar pertanyaan itu, sorot matanya yang terlihat di balik masker menunjukkan gurat kepasrahan.

"Bu Regina, aku sudah pernah katakan sebelumnya. Kamu harus benar-benar menjaga tanganmu dengan baik …."

Bicara sampai di situ, dokter itu pun menghela napas panjang.

"Lukamu terkena zat iritasi, yang sejak awal sudah menyebabkan peradangan dan pembengkakan. Ditambah lagi dengan benturan dari kecelakaan mobil kali ini, membuat tulangmu bergeser. Akan sangat sulit bagi tanganmu untuk kembali pulih."

Regina tertegun menatap dokter itu. Sesaat kemudian, dia meringkuk di balik selimut dan menangis hingga seluruh tubuhnya gemetar.

Dokter itu tidak tahu bagaimana harus menghiburnya. Jadi, dia hanya bisa berkata pelan, "Tapi Bu Regina, bukannya nggak ada kabar baik. Kamu sangat beruntung. Janin dalam kandunganmu selamat, tanpa kurang suatu apa pun dalam kecelakaan ini."

Dia adalah dokter unit gawat darurat. Dia tidak tahu jika Regina sama sekali tidak berniat untuk mempertahankan anak itu.

Tangan Regina mengusap perut bagian bawahnya. Di sana, ada sebuah kehidupan kecil milik dirinya dan Rafael.

Namun, ini bukan lagi hal yang diinginkan oleh Regina.

Jika Regina bisa memilih, dia jauh lebih menginginkan tangan kanannya kembali utuh seperti semula.

Regina masih ingin mengejar impiannya, meskipun tanpa Rafael di sisinya.

Perawat datang membawakan makanan untuknya. Akan tetapi, Regina sama sekali tidak memiliki nafsu makan.

Dokter pun membujuknya, "Bu Regina, makanlah dengan baik, agar kamu punya tenaga untuk pulih."

Regina tidak ingin menolak niat baik dokter itu. Dia pun menundukkan kepala dan memaksakan diri untuk menyesap sup itu.

"Apa sup ini nggak dikasih garam?" tanya Regina bingung.

Perawat itu menengadah dengan heran. "Nggak, kok. Meski sup ini ringan, bukan berarti nggak ada rasanya sama sekali."

Seketika, bagaikan ada petir yang menyambar tepat di kepala Regina.

Dengan panik, Regina mengambil sayuran. Pada saat itulah, Regina menyadari jika sayuran apa pun yang masuk ke mulutnya terasa hambar seperti mengunyah lilin. Dia tidak bisa merasakan rasa apa pun.

Indra perasanya sudah hilang.

Regina mencengkeram tangan dokter itu dengan putus asa dan bicaranya mulai meracau tak keruan.

"Aku, aku nggak bisa merasakan rasa apa pun. Aku nggak boleh begini. Ini nggak mungkin …. Aku ini kepala koki …."

Dokter buru-buru mengatur pemeriksaan lagi untuk Regina.

"Bu Regina, tampaknya benturan dari kecelakaan mobil ini berdampak pada sarafmu, sehingga indra perasamu mengalami mati rasa untuk sementara waktu."

Regina membuka mulutnya, berusaha keras menahan air matanya.

"Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sembuh?"

"Mungkin sehari sampai dua hari, mungkin bertahun-tahun, atau mungkin …."

Dokter itu tidak melanjutkan kata-katanya. Namun, Regina menangkap makna yang tersirat. Mungkin, dirinya tidak akan pernah sembuh lagi.

Kepada siapa dia harus menyalahkan semua ini?

Haruskah dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mengusir Sherly lebih awal saat wanita itu muncul?

Atau, haruskah dia menyalahkan Rafael, yang di ambang hidup dan mati, justru mencampakkannya dan memilih untuk berdiri di sisi Sherly?

Tiba-tiba, Regina merasa seperti menemukan secercah harapan.

Dia menarik tangan dokter itu dan buru-buru bertanya, "Sebelum aku masuk ke sini, apa ada seorang wanita yang juga mengalami kecelakaan mobil? Dia ditemani seorang pria yang berusia sekitar 30 tahun?"

Dokter itu mengangguk. "Ada. Mereka menginap di kamar VIP, di lantai paling atas."

Regina melangkah terhuyung-huyung, berlari menuju lantai paling atas rumah sakit, hingga akhirnya dia menemukan Rafael yang sedang merokok di luar ruang perawatan VIP.

"Rafael, aku tahu kamu bisa menemukan dokter terbaik. Tolong bantu aku. Tanganku terluka dan indra perasaku juga hilang."

Tercium aroma campuran antara tembakau dan parfum yang tidak dikenal di tubuh Rafael. Baunya begitu menyengat, hingga membuat kepala Regina terasa pening dan berat.

Namun, pria ini adalah satu-satunya harapan terakhir Regina dan Regina tidak ingin melepaskannya.

Rafael mengerutkan keningnya, hampir tak kentara. "Ada apa dengan indra perasamu?"

Bibir Regina gemetar saat dia mengulang kembali kata-kata dokter tadi kepada Rafael, tanpa menyadari kerutan di dahi pria itu yang makin dalam.

Tangannya terluka, bahkan indra perasanya juga hilang. Hotel mana yang mau mempekerjakan kepala koki seperti ini?

Terlebih lagi, sebagai seorang wanita, dia bahkan tidak bisa melahirkan anak ….

Dahulu, Regina adalah sosok yang ceria dan tangguh. Dia akan menciptakan resep masakan baru untuk merebut kembali pelanggan, saat Rafael diremehkan oleh rekan sejawatnya. Regina akan mengurus jamuan besar dengan sempurna, sehingga Rafael tidak perlu merasa khawatir.

Regina akan mencintainya, memahaminya dan bahkan selalu mengalah demi Rafael.

Rafael sama sekali tidak ingin melihat wanita di hadapannya ini, wanita dengan wajah pucat pasi, rambut berantakan dan tampak histeris.

Ini bukanlah Regina yang ada dalam ingatannya, bukan sosok yang dia cintai.

Rafael bahkan tidak memiliki kesabaran untuk mendengarkan seluruh perkataan Regina, karena dia mendengar suara rintihan kesakitan Sherly dari dalam ruang perawatan.

"Kak Rafael, kamu di mana?"

"Aku di sini."

Rafael menepis tangan Regina yang sedang mencengkeramnya.

"Nanti saja kita bicara, aku mau lihat kondisi Sherly dulu."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 21

    Sekembalinya ke tanah air, Rafael tidak menjalani kehidupan yang tenang, seperti yang dibayangkan Bu Linda.Demi menyelamatkan dirinya dan ibunya saat itu, sebagian besar aset keluarga sudah dijual. Bahkan, vila tempat Rafael tinggal bersama Regina juga ikut dilelang.Akibatnya, Rafael terpaksa pindah ke sebuah apartemen kecil bersama ibunya.Pemegang saham hotel lainnya yang mengetahui jika Rafael sedang mengalami kesulitan arus kas, mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka sengaja membeli saham miliknya dengan harga rendah dan mengucilkannya dari jajaran manajemen.Tanpa kehadiran Regina yang memegang kendali, para koki utama di hotel tersebut mulai berkhianat. Perintah yang dikeluarkan Rafael juga sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan kertas tanpa arti.Kehidupan dan pekerjaan benar-benar membuat Rafael kewalahan.Rafael menjadi pemarah, menderita insomnia, bahkan mulai kecanduan alkohol.Bu Linda sama sekali tidak bisa membantu. Setiap hari, yang dia lakukan hanyal

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 20

    Seminggu kemudian, Bu Linda menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mencapai negara tersebut. Dengan bantuan pengacara, Bu Linda akhirnya berhasil menemui putranya yang kini tampak berjanggut dan kurus kering hingga pipinya cekung itu.Setelah memahami duduk perkaranya, Bu Linda pun mengamuk di kantor polisi."Regina itu benar-benar pembawa sial! Bertahun-tahun dia nggak bisa memberimu anak laki-laki, malah membuatmu berurusan dengan perempuan jalang seperti Sherly! Dasar wanita mandul, beraninya sekarang dia pilih-pilih padamu. Benar-benar nggak tahu diri!"Rafael membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Matanya dipenuhi penyesalan dan duka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain."Bu, berhentilah bicara."Bu Linda dan pengacara sibuk berdiskusi sendiri, seakan tidak mendengar perkataan putranya."Pak Pengacara, kalau kita minta Regina mengeluarkan surat pernyataan pengampunan untuk Rafael, apa dia bisa bebas dari masalah ini?"Pengacara itu mengangguk. "Itu juga tergantung

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 19

    "Sherly memang bodoh, dungu dan gila hormat. Tapi, kalau kamu nggak membiarkannya, apa mungkin dia bisa menyakitiku berkali-kali?""Sosok yang aku benci selama ini bukanlah dia, melainkan dirimu.""Kamu sendiri yang mengubur hubungan kita selama delapan tahun. Kamu bahkan begitu mudah memercayai orang lain hingga mengirim anak tunggal kita ke liang lahat."Regina tidak sanggup membiarkan dirinya dan anaknya menanggung noda kehinaan seperti itu. Dia juga tidak bisa memaafkan Rafael."Kamu membenciku?"Rafael berdiri mematung di tempatnya, merasa linglung dan kehilangan arah.Menyadari emosi Regina yang makin meluap, Dylan pun dengan tenang mengusap punggung Regina dengan lembut.Regina tampak seperti baru tersadar, lalu merendahkan suaranya, "Lama-kelamaan, tiap kali memikirkanmu, aku merasa mual, sampai-sampai aku merasa terlalu malas untuk kembali membencimu."Kata-kata Regina bagaikan anak panah tajam yang terus-menerus menghujam jantung Rafael."Regina, jangan seperti ini. Aku tahu

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 18

    Pria muda itu sangatlah peka. Tak lama kemudian, dia menyadari keberadaan Rafael.Dylan pun menarik kembali pandangannya, lalu berkata dengan lembut, "Ada toko teh susu lokal yang baru buka di sebelah. Kamu mau? Biar aku belikan untukmu."Regina yang sedang asyik menyantap daging panggang, mengangguk dengan gembira."Boleh, aku mau taro boba."Dylan tersenyum sambil bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia tak lupa mengacak pelan rambut Regina yang halus dengan penuh kasih sayang.Setelah keluar, Dylan terlihat seperti tidak sengaja berjalan melewati Rafael."Mari bicara di sana."Rafael sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Regina. Namun, melihat gadis itu sedang makan dengan lahap, dia pun akhirnya tidak tega untuk mengganggu Regina.Kedua pria itu berdiri diam di sudut jalan.Rafael lalu bertanya dengan suara rendah, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Dylan mengedikkan bahu. "Kamu pernah menemani Bu Sherly untuk periksa di rumah sakit. Waktu itu, aku adalah dokter

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 17

    Setelah menerima dua tamparan dari Bu Linda, Sherly akhirnya kembali ke sikapnya yang penurut seperti sebelumnya.Tepat di saat Sherly mengira sikap mengalahnya akan membawanya ke kehidupan tenang yang sudah lama dia nantikan, telepon dari asisten Rafael menghancurkan harapan terakhir Sherly tersebut."Pak Rafael, kami sudah menemukan keberadaan Nyonya."Asisten itu mengirimkan sebuah artikel ulasan kuliner kepada Rafael, yang ditulis atas nama Regina."Artikel ini mengulas sebuah restoran di Kota Zoram. Nyonya harusnya sekarang berada di Negara Solano."Hati Rafael diliputi secercah rasa sukacita yang sudah lama tidak dia rasakan."Pesan tiket pesawat, aku akan segera pergi ke Negara Solano."Dia berutang permintaan maaf pada Regina, juga berutang seluruh sisa hidupnya kepada wanita itu.Saat Rafael hendak melangkah keluar sambil membawa kopernya, dia melihat ibunya masuk dengan penuh amarah."Sherly, keluar kamu sekarang!"Rafael memijat pangkal hidungnya karena sakit kepala."Ibu, a

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 16

    Bu Linda merasa Regina sejak awal memang tidak cocok dengan putranya.Regina sudah bertahun-tahun berada di sisi Rafael, tetapi tetap tidak bisa melahirkan anak, hingga memaksa putranya untuk mencari wanita dari keluarga biasa untuk mengandung anaknya.Sekarang, Regina sudah pergi begitu saja dan Rafael sudah memiliki seorang putra. Wanita dari keluarga terpandang mana yang mau menikah dengan pria seperti itu?Setelah dipikir-pikir, daripada mencari orang lain, lebih baik membiarkan Regina kembali untuk menjadi ibu tiri bagi anak tersebut. Setidaknya, karena dia sendiri tidak bisa melahirkan, Regina hanya perlu mengurus anak yang ada di depan matanya itu.Namun, Bu Linda tidak menyangka jika semua perkataannya itu terdengar jelas oleh Sherly yang kebetulan mengikuti hingga ke depan pintu ruang kerja.Sherly dengan penuh amarah menerjang maju untuk merebut kembali anaknya dari Bu Linda."Kalian benar-benar komplotan orang jahat, kembalikan anakku!"Bu Linda memaki-maki dan menyuruh pemb

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status