Short
Satu Keluarga Berlima, Aku Urutan ke-Enam

Satu Keluarga Berlima, Aku Urutan ke-Enam

By:  LindyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah nenek meninggal, ayah dan ibu menjemputku dari kampung ke kota. Saat itulah aku baru tahu, aku punya adik perempuan yang usianya cuma selisih satu tahun dariku. Ibu memintaku mengalah dalam segala hal karena aku seorang kakak. Aku mengangguk pelan. Aku sadar betul, di rumah ini posisiku ada di urutan keempat. Beberapa waktu kemudian, Hadyan lahir. Posisiku pun merosot dari urutan keempat menjadi kelima. Sampai akhirnya liburan semester dua tahun kedua kuliah tiba, aku pulang dari kampus. Rupanya rumah sudah berganti kunci pintu pintar, mereka semua lupa memberitahuku. Sambil memegang ponsel yang mati kehabisan baterai, aku menunggu sejak jam dua siang sampai jam sepuluh malam. Mereka akhirnya pulang membawa koper sambil tertawa dan asyik menceritakan pengalaman seru selama liburan. Mereka berempat memakai kaus seragam yang sama, hanya lupa membelikan satu untukku. Saat mendaftarkan sidik jariku, ayah berdecak kesal. "Akun admin cuma ada lima, nggak bisa nambah lagi." Ibu menyahut santai, "Ya udah, bikin akun tamu aja buat dia. Nanti tinggal kasih izin akses kalau dia lagi pulang." Melihatku termenung, Hadyan menjelaskan sambil bergurau. "Kak Arunika daftarin cetak hidung si Kiko. Katanya Kiko juga anggota keluarga penting di rumah ini, jadi udah nggak ada jatah tempat lagi buat kamu!" Di rumah berisi lima orang ini, anjing menempati posisi kelima, aku posisi keenam. Malam itu juga, aku mengisi formulir pendaftaran proyek rahasia di daerah perbatasan. Bagaimanapun juga, begitu waktunya habis, seorang tamu memang sudah seharusnya pamit pergi.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Dita, kamu kali ini mau berapa hari di rumah?"

Ayah menunduk, sibuk mengoperasikan izin akses tamu di aplikasi ponselnya.

"Akun tamu paling lama cuma bisa diatur seminggu. Ayah aturin akses seminggu dulu, ya. Nanti kalau udah kedaluwarsa, ingat minta perpanjang ke Ayah."

Ibu menarik tanganku, lalu menempelkannya ke sensor sidik jari.

Setelah dicoba tiga jari tangan kanan berturut-turut, semuanya gagal terdeteksi.

Ibu mulai tidak sabar, "Kok cuma kamu yang ribet gini? Arunika sama Hadyan sekali coba langsung berhasil."

Dari tiga anak di rumah ini, nama kedua adikku dipilihkan ayah dan ibu dengan membuka buku silsilah keluarga, semuanya memiliki makna.

Cuma namaku yang dicari asal-asalan dari kamus oleh nenek yang buta huruf, cuma nama sembarang.

Mereka memanggilku dengan nama lengkap, sedangkan adik-adikku dipanggil Arunika dan Hadyan.

Ibu menyuruhku mengganti dengan jempol kiri, tapi hasilnya tetap saja gagal.

Dia melepaskan tanganku.

"Bikin susah aja, kamu urus sendiri deh."

Aku mengangkat tangan, menatap telapak tanganku sendiri.

Sebelum usia 10 tahun, aku tinggal bersama nenek di kampung.

Kondisi tubuh nenek tidak begitu sehat, jadi banyak pekerjaan yang mau tidak mau harus kukerjakan sendiri.

Selain sekolah, sehari-harinya aku harus bantu pekerjaan tani seperti mencangkul tanah, menyabit rumput, dan memberi makan peliharaan.

Setelah nenek meninggal, ayah dan ibu menjemputku kembali ke rumah di kota.

Sebagai seorang kakak, aku harus membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci piring, mengelap meja, mengepel lantai, hingga tanganku terus-menerus terendam cairan pembersih.

Entah sidik jariku sudah terkikis rata, atau karena kapalan sehingga tidak bisa terdeteksi.

"Jangan melamun aja."

Ayah mendesakku, "Kalau sampai gagal terdeteksi, kami nggak ada waktu buat bukain pintu buat kamu."

"Nanti kalau nggak bisa masuk rumah, jangan malah bilang kami yang menguncimu di luar."

Aku mengeluarkan tisu, mengusap keringat di telapak tangan, lalu menekan jari kuat-kuat ke sensor.

Setelah bunyi "tiing", kunci pintu pintar itu mengeluarkan nada mekanis, "Tamu berhasil terdaftar."

Ayah menyimpan ponselnya, lalu berbalik menuju ruang tamu.

Tidak jauh dari situ, mereka sedang memeriksa oleh-oleh yang dibeli selama perjalanan.

Teh untuk klien ayah.

Camilan khas untuk rekan kerja ibu.

Pajangan untuk Om dan Tante.

Hampir separuh koper terisi penuh, tapi anehnya tidak ada satu pun barang untukku.

Dengan suara serak aku bertanya, "Kalian main ke mana aja?"

Kenapa cuma aku yang tidak tahu?

Tidak ada yang menjawab.

Arunika melihat-lihat foto di ponsel sambil bersandar pada ibu dan tertawa terkekeh-kekeh.

"Bu, lihat deh foto keluarga kita yang ini, hasilnya lucu banget."

Ayah ikut mendekat untuk melihat, "Iya, bagus juga. Gaya foto yang diusulin Arunika ini memang kreatif."

Foto yang tidak ada akunya, tapi mereka sebut sebagai foto keluarga.

Hadyan mengernyitkan hidung, mengibaskan tangan di depan hidungnya, lalu menoleh menatapku.

"Oh iya Kak, tadi aku mau ingatkan, mending Kakak cepat-cepat mandi deh. Badan Kakak udah bau banget, apa Kakak nggak cium sendiri?"

"Kok Kakak malah lebih jorok dari aku yang cowok?"

Ibu ikut menyahut.

"Iya tuh, kamu mandi yang bersih. Jangan bawa kebiasaan jorok dari nenekmu itu ke rumah ini."

Di tengah teriknya bulan Juli, aku menunggu mereka di lorong bangunan yang tanpa pendingin ruangan selama lebih dari delapan jam.

Tubuhku basah kuyup oleh keringat, sampai helaian rambut menempel di wajah dan leher karena kepanasan.

Tapi, aku tidak berani pergi, takut berpapasan dan melewatkan mereka.

Mereka tidak bertanya apakah aku kepanasan, tidak bertanya apakah aku kelaparan, mereka hanya bilang kalau aku agak bau.

Aku berbalik, berjalan menuju kamar mandi.

Ponsel di saku bergetar, ada pesan pengingat dari dosen pembimbing.

[Proyek rahasia ini punya syarat khusus. Begitu bergabung, kamu nggak bisa berhubungan sama dunia luar. Apa keluarga di rumah udah setuju?]

Aku membalasnya, [Terima kasih, Bu. Aku akan membicarakannya sama keluarga.]

Padahal aku tidak akan melakukannya.

Kepergian atau menetapnya seorang tamu, cukup ditentukan oleh tamu itu sendiri.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status