LOGINSetelah nenek meninggal, ayah dan ibu menjemputku dari kampung ke kota. Saat itulah aku baru tahu, aku punya adik perempuan yang usianya cuma selisih satu tahun dariku. Ibu memintaku mengalah dalam segala hal karena aku seorang kakak. Aku mengangguk pelan. Aku sadar betul, di rumah ini posisiku ada di urutan keempat. Beberapa waktu kemudian, Hadyan lahir. Posisiku pun merosot dari urutan keempat menjadi kelima. Sampai akhirnya liburan semester dua tahun kedua kuliah tiba, aku pulang dari kampus. Rupanya rumah sudah berganti kunci pintu pintar, mereka semua lupa memberitahuku. Sambil memegang ponsel yang mati kehabisan baterai, aku menunggu sejak jam dua siang sampai jam sepuluh malam. Mereka akhirnya pulang membawa koper sambil tertawa dan asyik menceritakan pengalaman seru selama liburan. Mereka berempat memakai kaus seragam yang sama, hanya lupa membelikan satu untukku. Saat mendaftarkan sidik jariku, ayah berdecak kesal. "Akun admin cuma ada lima, nggak bisa nambah lagi." Ibu menyahut santai, "Ya udah, bikin akun tamu aja buat dia. Nanti tinggal kasih izin akses kalau dia lagi pulang." Melihatku termenung, Hadyan menjelaskan sambil bergurau. "Kak Arunika daftarin cetak hidung si Kiko. Katanya Kiko juga anggota keluarga penting di rumah ini, jadi udah nggak ada jatah tempat lagi buat kamu!" Di rumah berisi lima orang ini, anjing menempati posisi kelima, aku posisi keenam. Malam itu juga, aku mengisi formulir pendaftaran proyek rahasia di daerah perbatasan. Bagaimanapun juga, begitu waktunya habis, seorang tamu memang sudah seharusnya pamit pergi.
View MoreMalam harinya, ponsel di atas meja bergetar, layarnya menyala menampilkan nomor telepon Hadyan.Begitu kuangkat, dia tanpa basa-basi langsung membentak, "Kak, Kak Arunika bilang Kakak nyuruh kami jangan ganggu Kakak lagi nanti-nanti, maksud Kakak apa sih?""Ayah sama ibu kangen sama Kakak, masa Kakak nggak mau pulang ke rumah sama sekali?""Sekarang ayah sama ibu di rumah udah tua, Kakak malah sembunyi jauh-jauh, Kakak ini masih bagian dari keluarga apa nggak sih?"Aku menggenggam ponsel, berjalan mendekati jendela.Di bawah gedung, daun-daun pohon kenari berguguran memenuhi tanah."Hadyan."Aku memanggil namanya."Waktu aku kuliah, uang sakuku cuma 1 juta sebulan, sedangkan kamu waktu itu beli sepatu aja harganya sampai jutaan.""Kamu mencuri uangku buat beli kaset gim, ayah sama ibu bela kamu, bilang kamu masih kecil.""Semua kejadian ini, kamu udah lupa?"Dia tersedak, butuh beberapa saat sebelum akhirnya bergumam, "Itu ... itu 'kan kejadian dulu.""Ayah sama ibu sekarang udah tua,
Hari saat aku kembali ke kampus untuk mengurus administrasi kelulusan, cuacanya sangat cerah.Sambil mengapit ijazah, aku pergi ke kantor fakultas untuk menandatangani perjanjian program akselerasi magister-doktor.Dosen pembimbing bilang, pihak pangkalan sudah mengajukan permohonan. Begitu aku lulus doktor nanti, aku bisa langsung kembali ke tim proyek dan posisi ketua penanggung jawab topik penelitian sudah disiapkan untukku.Saat keluar dari gedung administrasi, aku melihat Arunika sedang bersandar di samping tembok.Dia terlihat jauh lebih dewasa, mengenakan setelan baju kerja dan pemerah bibir yang terpoles rapi."Kak."Dia menyambutku, tersenyum agak canggung."Selamat ya, aku udah dengar cerita dari ayah sama ibu, pahlawan besar."Aku mengangguk pelan, tidak bersuara.Dia mengikutiku berjalan menuju asrama, sepatu hak tingginya berbunyi tergesa-gesa di atas jalan setapak berbatu."Kak, beberapa tahun ini kamu beneran nggak pulang sama sekali, kamu tahu nggak rumah sekarang berub
Waktu berlalu cepat, tidak terasa tiga tahun sudah berlalu.Proyek berhasil diselesaikan dengan sukses, aku ikut tim dosen pembimbing kembali ke Kota Bagari.Pada hari acara penghargaan proyek, gedung aula dipenuhi banyak orang.Saat medali diserahkan ke tanganku, sorot lampu terasa agak menyilaukan mata.Di bawah panggung duduk seluruh anggota tim proyek, dosen pembimbing bertepuk tangan, Kak Lina tersenyum bahkan lebih senang dariku.Medali itu terasa berat, di atasnya terukir nama proyek dan juga namaku.Saat foto bersama, dosen pembimbing sengaja menarikku ke tengah, tangannya yang besar menepuk bahuku, "Dita, penerbangan perdana kali ini sukses, kelompok datamu itu kuncinya."Kak Lina tersenyum di samping, mengacungkan jempol padaku diam-diam.Aku menundukkan mata, menatap medali di dadaku.Ini sepenuhnya milikku seorang.Selesai acara, ada teman kuliah yang menghampiri, katanya ada titipan pesan dari kerabat tetangga di kampung halaman."Orang tuamu tahu kamu berprestasi, mereka
Pemeriksaan ulang data memasuki putaran ketiga.Jam dua dini hari, hanya terdengar suara dengung mesin server di ruang komputer.Aku menatap layar di depanku, memindai baris demi baris parameter komposisi bahan pendorong.Senior menepuk bahuku, "Tidur dulu sana, matamu udah merah banget tuh."Aku menggeleng, ujung jariku berhenti di salah satu dari empat angka di belakang koma. Nilainya beda tipis sekali dari nilai teori, sehingga pada pemeriksaan biasa akan langsung terlewatkan.Tapi, aku merasa ada yang tidak beres.Aku mengeluarkan seluruh catatan asli eksperimen terkait dalam setengah tahun terakhir, lalu mencocokkannya lembar demi lembar.Suara lembaran kertas yang dibalik terdengar sangat jelas di tengah keheningan.Kak Lina tidak bersuara, hanya meletakkan termos miliknya di dekat tanganku, isinya air madu hangat.Sampai langit timur mulai memutih, aku akhirnya menemukan sumber kesalahannya.Saat memasukkan koefisien pergeseran suhu rendah dari salah satu sensor, angka terakhirn






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.